Home / Fantasi / Permaisuri yang Terlahir Kembali / Bab 3 : Strategi Kembalinya Ratu

Share

Bab 3 : Strategi Kembalinya Ratu

Author: Yunss
last update Huling Na-update: 2025-10-26 23:07:50

Malam itu, di bawah cahaya lentera yang redup, Dewi duduk di meja kerjanya yang lapuk sambil menulis dengan kuas. Namun yang ia tulis bukanlah puisi atau surat—melainkan diagram strategi yang rapi, lengkap dengan panah dan catatan di pinggirnya. Kebiasaan dari kehidupan lamanya ketika merencanakan kampanye fashion atau strategi bisnis.

Yun Xiang mengintip dari balik bahu tuannya, mencoba memahami tulisan aneh yang penuh dengan kata-kata asing dan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Ini disebut 'mind mapping,'" jelas Dewi tanpa menoleh. "Cara mengorganisir pikiran dan strategi secara visual. Lebih efisien daripada menulis panjang lebar."

"Luar biasa..." gumam Yun Xiang kagum.

Dewi menunjuk ke diagram yang ia buat. "Lihat. Di puncak ada Kaisar Zheng He. Di bawahnya, ada tiga faksi utama: Faksi Selir Lian yang kuat karena dia memiliki telinga kaisar, Faksi para menteri tua yang loyal pada tradisi dan keluarga Jenderal Huiyin, dan Faksi netral yang hanya peduli pada stabilitas negara."

"Strategi Selir Lian sederhana tapi efektif," lanjut Dewi sambil menggambar lingkaran merah. "Dia mengisolasiku, menghancurkan reputasiku, dan memastikan tidak ada yang berani membantuku. Klasik eliminasi kompetitor."

"Lalu bagaimana kita bisa melawannya, Niang niang?" tanya Yun Xiang dengan suara berbisik. "Kita tidak memiliki apa-apa. Tidak ada uang, tidak ada kekuatan, tidak ada sekutu..."

"Justru itu kelebihannya," Dewi tersenyum tipis. "Mereka mengira aku sudah mati secara politik. Tidak ada yang memperhatikanku. Itu memberiku kebebasan untuk bergerak tanpa diawasi."

Dewi menulis tiga poin besar di atas kertasnya:

Fase Satu: Membangun Fondasi

Fase Dua: Menciptakan Nilai

Fase Tiga: Kembali ke Puncak Kekuasaan

"Fase pertama," Dewi mengetuk poin pertama dengan ujung kuasnya. "Aku perlu informasi dan sekutu. Yun Xiang, besok pagi kau harus pergi ke pasar. Gunakan ini." Dewi melepas gelang jade hijau dari tangannya—satu-satunya perhiasan berharga yang masih dimilikinya. "Jual ini, tapi jangan sekaligus. Pecah menjadi beberapa transaksi agar tidak mencurigakan."

"Tapi Niang niang, ini pemberian dari mendiang ibu Anda—"

"Kenangan tidak akan membuatku menang," potong Dewi tegas. "Aku butuh modal. Dengan uang itu, kau akan dapat membeli informasi dari pelayan-pelayan istana yang sering ke pasar. Aku perlu tahu segalanya: siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang bermasalah, urusan apa yang sedang merepotkan kaisar, bahkan gosip kecil tentang Selir Lian."

Yun Xiang mengangguk patuh, meski wajahnya masih khawatir.

"Fase kedua," Dewi melanjutkan. "Aku perlu menciptakan nilai—sesuatu yang membuat kehadiranku dibutuhkan kembali. Di sinilah pengetahuanku dari kehidupan lampau akan berguna."

"Kehidupan... lampau?" Yun Xiang mengerutkan dahi.

Dewi menyadari kesalahannya dan segera meralat. "Maksudku, pengetahuan yang telah aku pelajari diam-diam selama ini."

Ia mengingat kembali masa-masa kejayaannya sebagai desainer. Apa yang membuatnya sukses? Inovasi. Kreativitas. Dan kemampuan membaca tren sebelum orang lain menyadarinya.

"Kaisar Zheng He dikenal sebagai pemimpin yang ambisius," kata Dewi, mengutip dari kenangan Huiyin. "Dia ingin dinasti Chen dikenang sebagai yang terhebat dalam sejarah. Tapi ada masalah—negara sedang menghadapi kekeringan, hasil panen menurun, dan kas negara menipis."

"Benar, Niang niang. Itulah sebabnya banyak proyek pembangunan istana baru dihentikan."

Dewi mengangguk perlahan, otaknya berputar cepat. "Jika aku bisa memberikan solusi untuk masalah-masalah ini, kaisar akan mendengarkanku lagi. Tapi aku tidak bisa langsung menghadapnya—Selir Lian akan memblokir setiap usahaku."

"Lalu?"

"Aku harus menggunakan orang lain sebagai perantara. Seseorang yang kaisar percaya, tapi tidak berada di bawah pengaruh Selir Lian." Dewi berpikir keras. Dari kenangan Huiyin, ia mengingat satu nama. "Menteri Li Wei. Pejabat departemen konstruksi kerajaan. Dia orang tua yang konservatif, loyal pada tradisi, dan... dia dulu mendukung pernikahan kaisar dengan Huiyin."

"Tapi Menteri Li tidak pernah secara terbuka menentang Selir Lian, Niang niang."

"Karena dia bijaksana dan menjaga posisinya. Tipe orang seperti itu yang aku butuhkan—bukan teman fanatik, tapi sekutu rasional yang bisa melihat keuntungan dalam bekerja sama denganku."

Dewi mulai menulis surat di kertas baru. Namun bukan surat biasa—ia menulis rancangan desain irigasi modern yang pernah ia lihat di museum saat masih hidup sebagai Dewi Kusuma. Tentu saja, ia harus menyesuaikan dengan teknologi zaman dinasti ini, menggunakan bahasa yang sesuai agar tidak mencurigakan.

"Ini adalah desain sistem pengairan yang lebih efisien," jelas Dewi sambil menggambar diagram teknis yang detail. "Dengan sistem ini, sawah bisa mendapat air lebih merata bahkan saat musim kering. Aku akan mengirimkannya ke Menteri Li sebagai 'saran anonim dari rakyat biasa yang peduli negara.'"

Yun Xiang menatap diagram rumit itu dengan mata berbinar. "Ini... ini luar biasa, Niang niang! Bagaimana Anda bisa tahu semua ini?"

Dewi tidak menjawab. Ia terus menulis dengan cepat, menambahkan penjelasan detail tentang cara kerja sistem tersebut, material yang dibutuhkan, dan estimasi biaya yang jauh lebih murah dari proyek-proyek pemerintah biasanya.

"Jika Menteri Li menyampaikan ini ke kaisar dan berhasil, dia akan mendapat pujian. Kaisar akan senang. Dan Menteri Li akan penasaran—siapa orang jenius yang memberikan ide ini?" Dewi tersenyum misterius. "Di situlah aku perlahan akan mengungkapkan identitasku, tapi dengan cara yang membuatnya merasa aku adalah aset berharga, bukan suatu ancaman."

"Sangat Brilian..." bisik Yun Xiang.

"Ini baru permulaan," kata Dewi sambil menggulung kertas itu dengan hati-hati. "Besok, kau akan mengirimkan ini ke kediaman Menteri Li. Jangan bilang dari siapa. Biarkan ia mengira ini dari rakyat biasa yang cerdas."

Dewi bangkit dan menatap keluar jendela ke arah istana utama yang gemerlap di kejauhan.

"Selir Lian berpikir dia sudah menang," gumamnya pelan. "Tapi dia tidak tahu bahwa permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, aku yang menulis aturannya."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali   Bab 8 : Era Baru Sang Permaisuri

    Tiga bulan telah berlalu sejak kejatuhan Selir Lian. Istana Chen berubah dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapapun. Dan pusat dari semua perubahan itu adalah Ratu Dewi Huiyin, yang kini tidak lagi tinggal di Istana Dingin yang suram, melainkan di Paviliun Mutiara Timur—kediaman megah yang dulunya ditempati oleh permaisuri-permaisuri agung dalam sejarah dinasti.Pagi itu, Dewi duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh gulungan-gulungan peta, diagram arsitektur, dan laporan dari berbagai departemen pemerintahan. Yun Xiang, yang kini telah diangkat sebagai kepala pelayan istri permaisuri, menuangkan teh dengan senyum bangga."Niang niang, Menteri Li dan timnya sudah menunggu di aula pertemuan," lapor Yun Xiang."Biarkan mereka masuk," kata Dewi tanpa mengangkat kepala dari diagram yang sedang ia pelajari.Menteri Li Wei masuk bersama lima pejabat senior lainnya. Pria tua itu sudah pulih sepenuhnya dari racun yang hampir membunuhnya, bahkan terlihat lebih bersemangat da

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali   Bab 7 : Pengadilan di Aula Agung

    Aula Agung dipenuhi oleh seluruh pejabat tinggi istana, para menteri, dan anggota keluarga kerajaan. Suasananya tegang seperti senar yang akan putus. Di pusat ruangan, Kaisar Zheng He duduk di singgasana dengan wajah keras, tatapannya sulit dibaca.Di sebelah kirinya, Selir Agung Lian Xiu berdiri dengan elegan dalam hanfu ungu gelap, senyuman tipis bermain di bibirnya. Wajahnya menampilkan kesedihan yang sempurna—seperti seorang aktris yang telah berlatih perannya dengan matang."Yang Mulia," kata Lian dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. "Hamba mohon keadilan. Permaisuri telah melampaui batas. Tidak cukup dengan mengklaim prestasi orang lain, kini dia bahkan berusaha membunuh Menteri Li Wei—orang yang dia klaim sebagai saksinya sendiri!"Gumaman persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan yang memihak Selir Lian.Pintu besar Aula Agung terbuka. Dewi melangkah masuk dengan langkah mantap, Yun Xiang mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat. Meskipun lelah setelah menyelam

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali    Bab 6 : Racun dan Intrik

    Fajar belum menyingsing ketika Dewi terbangun oleh suara langkah kaki terburu-buru di luar kamarnya. Instingnya yang diasah oleh pengalaman dua kehidupan langsung menajam. Ada yang tidak beres."Niang niang!" Yun Xiang masuk dengan wajah pucat pasi. "Menteri Li Wei... dia jatuh sakit tiba-tiba tadi malam! Para tabib mengatakan... dia diracun!"Dewi bangkit dengan cepat, pikirannya langsung bekerja. "Tentu saja. Aku seharusnya menduga ini." Ia mengutuk dirinya sendiri—di dunia mode, ia sudah belajar bahwa kompetitor yang terdesak akan melakukan apa saja. Seharusnya ia lebih waspada."Bagaimana kondisinya?""Kritis, Niang niang. Para tabib istana tidak bisa mengidentifikasi racunnya. Mereka bilang... jika tidak menemukan penawarnya dalam dua hari, Menteri Li akan..." Yun Xiang tidak sanggup melanjutkan.Dewi bergegas mengenakan pakaian luarnya. "Kita harus ke sana sekarang.""Tapi Niang niang, kita tidak diizinkan meninggalkan Istana Dingin tanpa izin—""Seorang pria akan mati, Yun Xian

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali   Bab 5 : Pertarungan di Ruang Singgasana

    Paviliun pesta yang tadinya dipenuhi musik dan tawa kini sunyi senyap. Semua mata tertuju pada sosok Ratu Dewi Huiyin yang berdiri dengan tenang di tengah kerumunan, setelah pengungkapan mengejutkan yang baru saja ia lontarkan.Kaisar Zheng He bangkit perlahan dari singgasananya. Wajahnya tidak terbaca—antara terkejut, tidak percaya, dan mungkin... terkesan."Permaisuri," suaranya bergema di seluruh paviliun. "Apa yang baru saja kau katakan? Kau yang mengirimkan semua desain dan saran itu kepada Menteri Li?""Ya, Yang Mulia." Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama dua bulan terakhir, hamba telah mengamati kesulitan negara dari Istana Dingin. Meskipun hamba dikucilkan, hati hamba tetap untuk dinasti Chen dan kesejahteraan rakyat."Selir Lian melompat dari duduknya, wajahnya pucat namun berusaha mempertahankan senyuman. "Yang Mulia, ini pasti kebohongan! Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak pernah keluar dari istana, yang tidak memiliki pendidikan tentang pertania

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali   Bab 4 : Pesta Peony Kembalinya Sang Permaisuri

    Dua bulan berlalu sejak Dewi mengirimkan desain irigasi ke Menteri Li Wei. Strategi pertamanya berhasil melebihi harapan—sistem pengairan yang ia rancang tidak hanya diterapkan, tetapi juga menyelamatkan hasil panen musim gugur. Kaisar Zheng He sangat terkesan hingga menganugerahkan Menteri Li promosi dan hadiah yang melimpah. Namun yang lebih penting, Menteri Li kini penasaran setengah mati tentang siapa dalang jenius di balik desain tersebut. Dewi telah mengirimkan tiga "saran" lagi secara anonim: reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, metode penyimpanan pangan yang tahan lama, dan desain arsitektur paviliun baru yang lebih efisien namun tetap megah. Semuanya sukses besar. Dan semuanya membuat nama Menteri Li melambung tinggi di mata kaisar. "Niang niang, ada kabar!" Yun Xiang berlari masuk ke istana dengan napas terengah-engah. "Kaisar akan mengadakan Pesta Peony—perayaan besar untuk merayakan pemulihan hasil panen! Semua anggota istana diundang, termasuk... Anda." Dewi m

  • Permaisuri yang Terlahir Kembali   Bab 3 : Strategi Kembalinya Ratu

    Malam itu, di bawah cahaya lentera yang redup, Dewi duduk di meja kerjanya yang lapuk sambil menulis dengan kuas. Namun yang ia tulis bukanlah puisi atau surat—melainkan diagram strategi yang rapi, lengkap dengan panah dan catatan di pinggirnya. Kebiasaan dari kehidupan lamanya ketika merencanakan kampanye fashion atau strategi bisnis. Yun Xiang mengintip dari balik bahu tuannya, mencoba memahami tulisan aneh yang penuh dengan kata-kata asing dan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Ini disebut 'mind mapping,'" jelas Dewi tanpa menoleh. "Cara mengorganisir pikiran dan strategi secara visual. Lebih efisien daripada menulis panjang lebar." "Luar biasa..." gumam Yun Xiang kagum. Dewi menunjuk ke diagram yang ia buat. "Lihat. Di puncak ada Kaisar Zheng He. Di bawahnya, ada tiga faksi utama: Faksi Selir Lian yang kuat karena dia memiliki telinga kaisar, Faksi para menteri tua yang loyal pada tradisi dan keluarga Jenderal Huiyin, dan Faksi netral yang hanya peduli pada sta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status