LOGINAula Agung dipenuhi oleh seluruh pejabat tinggi istana, para menteri, dan anggota keluarga kerajaan. Suasananya tegang seperti senar yang akan putus. Di pusat ruangan, Kaisar Zheng He duduk di singgasana dengan wajah keras, tatapannya sulit dibaca.
Di sebelah kirinya, Selir Agung Lian Xiu berdiri dengan elegan dalam hanfu ungu gelap, senyuman tipis bermain di bibirnya. Wajahnya menampilkan kesedihan yang sempurna—seperti seorang aktris yang telah berlatih perannya dengan matang. "Yang Mulia," kata Lian dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. "Hamba mohon keadilan. Permaisuri telah melampaui batas. Tidak cukup dengan mengklaim prestasi orang lain, kini dia bahkan berusaha membunuh Menteri Li Wei—orang yang dia klaim sebagai saksinya sendiri!" Gumaman persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan yang memihak Selir Lian. Pintu besar Aula Agung terbuka. Dewi melangkah masuk dengan langkah mantap, Yun Xiang mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat. Meskipun lelah setelah menyelamatkan Menteri Li, Dewi tidak menunjukkan kelemahan sedikitpun. Punggungnya tegak, kepalanya terangkat, tatapannya tajam. "Ratu Dewi Huiyin menghadap Yang Mulia Kaisar," katanya dengan suara yang bergema di seluruh aula. "Permaisuri," suara Kaisar dingin seperti es. "Kau dituduh meracuni Menteri Li Wei. Apa yang bisa kau katakan untuk membela dirimu?" "Hamba menyelamatkan Menteri Li, bukan meracuninya," jawab Dewi dengan tegas. "Beliau masih hidup berkat hamba." "Tentu saja Anda akan mengatakan itu!" Selir Lian melangkah maju dengan dramatis. "Anda memberinya racun, lalu berpura-pura menjadi penyelamatnya! Siapa lagi yang memiliki motif untuk menyakiti Menteri Li selain Anda—orang yang desperasi karena kesaksiannya akan mengungkap kebohongan Anda?" Dewi tersenyum dingin. "Selir Lian berargumen dengan sangat baik. Tapi dia lupa satu hal—logika yang sama bisa dibalik. Siapa yang paling diuntungkan jika Menteri Li mati? Bukan aku. Tapi orang yang takut akan kesaksiannya yang membuktikan kebenaranku." "Lancang!" teriak salah satu bangsawan pendukung Selir Lian. "Bagaimana Permaisuri berani menuduh Selir Agung!" "Aku tidak menuduh siapapun," kata Dewi tenang. "Aku hanya menyatakan fakta logis. Mari kita periksa bukti-buktinya." Kaisar mengangkat tangan, menyuruh semua orang diam. "Lanjutkan, Permaisuri." "Pertama," Dewi mengangkat satu jari. "Menteri Li diracuni setelah pesta kemarin malam—tepat setelah aku mengungkap bahwa dialah yang menerima surat-suratku. Timing yang sangat mencurigakan." "Kedua," jari keduanya terangkat. "Racun yang digunakan adalah koktail racun berlapis—sangat langka dan canggih. Bukan sesuatu yang bisa didapat sembarangan orang. Ini memerlukan akses ke apotek istana yang dijaga ketat." Beberapa menteri mulai mengangguk, mengikuti alur argumentasi Dewi. "Ketiga," lanjut Dewi sambil berjalan perlahan di tengah aula. "Pelayan pribadi Menteri Li yang menyiapkan tehnya—dia bekerja untuk keluarga itu selama dua puluh tahun, tapi tiba-tiba menghilang setelah Menteri Li sakit. Seseorang pasti memberinya uang atau ancaman yang sangat besar untuk mengkhianati tuannya." "Ini semua spekulasi!" seru Selir Lian, suaranya mulai kehilangan ketenangan. "Tidak ada bukti—" "Oh, ada bukti," potong Dewi. Ia menoleh ke pintu. "Bawa dia masuk." Pintu terbuka dan dua prajurit menyeret seorang pria paruh baya yang gemetar ketakutan—pelayan yang menghilang. "Paman Wu menemukannya bersembunyi di gudang dekat Istana Dingin," jelas Dewi. "Menarik sekali, kan? Dari sekian banyak tempat di ibukota yang luas ini, dia memilih bersembunyi di area yang paling tidak dijaga—karena semua orang tahu Istana Dingin diabaikan." Kaisar bangkit dari singgasananya. "Pelayan! Katakan yang sebenarnya! Siapa yang menyuruhmu meracuni Menteri Li?" Pelayan itu menangis ketakutan, tubuhnya bergetar. "Ha-hamba... hamba tidak bermaksud... hamba dipaksa... hamba dibayar..." "Siapa yang membayarmu?" bentak Kaisar. "Se-seorang kasim dari... dari istana..." pelayan itu melirik ke arah Selir Lian dengan mata ketakutan, kemudian segera menunduk. "Nama!" perintah Kaisar. "Ka-kasim Liu... yang melayani Selir Agung..." Keheningan total menyelimuti aula. Semua mata beralih ke Selir Lian, yang wajahnya sekarang pucat pasi. "Ini fitnah!" serunya dengan suara tinggi. "Yang Mulia, ini jelas konspirasi! Permaisuri pasti menyuap pelayan ini untuk menuduh hamba!" "Kalau begitu," kata Dewi dengan tenang. "Mari kita panggil Kasim Liu dan tanyai dia langsung. Yang Mulia, hamba mohon izin untuk menggeledah kamar Kasim Liu. Jika dia terlibat, pasti ada bukti—mungkin sisa racun, atau uang bayaran, atau surat perintah." Selir Lian terlihat semakin panik. "Tidak perlu! Ini hanya membuang waktu—" "Kaisar Zheng He mengeluarkan dekrit!" suara Kaisar menggelegar. "Segera tangkap Kasim Liu dan geledah kamarnya! Sekarang!" Para prajurit bergegas keluar. Seluruh aula menunggu dengan napas tertahan. Tidak ada yang berani berbicara. Dewi berdiri dengan tenang, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Selir Lian yang semakin pucat. Sepuluh menit yang terasa seperti selamanya. Kemudian pintu terbuka dengan keras. "Yang Mulia!" seorang komandan prajurit masuk dengan tergesa-gesa. "Kami menemukan Kasim Liu mencoba melarikan diri! Dan kami menemukan ini di kamarnya!" Ia meletakkan sebuah kantong kecil di hadapan kaisar—berisi botol-botol racun, kantung emas, dan sebuah surat. Kaisar membuka surat itu. Wajahnya semakin gelap saat membaca. "Ini... ini tulisan tangan Selir Lian..." "Tidak! Itu dipalsukan! Yang Mulia, percayalah pada hamba!" Selir Lian berlutut dengan air mata mengalir. "Hamba tidak pernah menulis itu! Ini semua rekayasa Permaisuri yang licik!" Dewi melangkah maju. "Yang Mulia, jika tulisan itu palsu, mudah dibuktikan. Suruh Selir Lian menulis kalimat yang sama di hadapan kita semua. Ahli kaligrafi istana bisa membandingkannya." Jebakan sempurna. Jika Selir Lian menolak, dia mengakui bersalah. Jika dia menulis dan tulisannya cocok, dia terbukti bersalah. Selir Lian terdiam, wajahnya seputih kertas. "Lian Xiu," suara Kaisar bergetar—antara marah, sedih, dan kecewa. "Berapa lama kau telah membohongiku?" Air mata Selir Lian kini benar-benar mengalir, tapi bukan lagi air mata palsu. Ini air mata kekalahan. "Yang Mulia... hamba... hamba hanya ingin melindungi posisi hamba... Permaisuri itu ancaman... hamba harus..." "CUKUP!" bentakan Kaisar membuat semua orang tersentak. "Kau tidak hanya meracuni seorang menteri yang setia, kau juga memfitnah permaisuriku! Kau membuatku menjadi kaisar yang bodoh dan tidak adil!" Kaisar menoleh ke Dewi. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia melihat permaisurinya dengan mata yang jernih—bebas dari kabut racun kata-kata Selir Lian. "Dewi Huiyin," katanya pelan. "Aku... aku telah melakukan kesalahan besar padamu." Dewi membungkuk dalam. "Yang Mulia bijaksana. Kebenaran selalu menemukan jalannya." "Selir Agung Lian Xiu," suara Kaisar dingin seperti musim dingin. "Dengan ini aku mencabut gelar Selir Agungmu. Kau akan diasingkan ke biara di pegunungan utara, tanpa hak untuk kembali ke ibukota selamanya. Kasim Liu dan pelayan yang terlibat akan dieksekusi karena pengkhianatan." "Yang Mulia! Tidak! Hamba mohon ampun!" Selir Lian merangkak ke arah kaisar, tapi para prajurit sudah menariknya. "Bawa dia pergi," perintah Kaisar tanpa menatapnya lagi. Ketika Selir Lian diseret keluar dari aula, dia menatap Dewi dengan kebencian murni. "Ini belum berakhir," desisnya. "Kau akan menyesal—" "Sudah berakhir untukmu," kata Dewi dengan tenang. "Di kehidupan lampau, aku kalah karena tidak waspada pada pengkhianatan. Kali ini, aku belajar. Dan aku menang." Pintu tertutup, membawa Selir Lian menuju pengasingannya. Kaisar turun dari singgasananya dan berjalan mendekati Dewi. Di hadapan seluruh istana, ia berlutut di hadapan permaisurinya. "Yang Mulia!" Dewi tersentak, mencoba membantu kaisar berdiri, tapi pria itu menggeleng. "Biarkan semua orang menyaksikan," kata Kaisar dengan suara bergetar. "Biarkan mereka tahu bahwa aku, Kaisar Zheng He, telah melakukan ketidakadilan besar pada permaisuriku sendiri. Dewi Huiyin, bisakah kau memaafkan kebodohan suamimu?" Dewi menatap pria yang pernah mencintainya, yang pernah mengkhianatinya, yang kini berlutut memohon pengampunan. Di kehidupan lamanya, Clarissa tidak pernah meminta maaf. Tidak pernah ada kesempatan untuk closure. Tapi kali ini berbeda. "Hamba memaafkan Yang Mulia," katanya lembut. "Karena hamba percaya Yang Mulia adalah kaisar yang baik, yang hanya sempat tersesat sebentar." Kaisar bangkit dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia meraih tangan Dewi. "Ratu Dewi Huiyin," katanya dengan suara lantang yang bergema di seluruh aula. "Aku mengembalikan semua hakmu sebagai permaisuri. Dari hari ini, tidak ada lagi yang akan berani meremehkanmu. Dan dengan ini, aku mengangkatmu sebagai penasihat khusus kaisar untuk pembangunan dan reformasi negara." Tepuk tangan menggelegar di seluruh aula. Para menteri membungkuk hormat. Dan Dewi, wanita yang pernah dibunuh karena pengkhianatan, yang terlahir kembali di tubuh permaisuri yang dikhianati, kini berdiri tegak sebagai pemenang. Tapi saat semua orang merayakan, Dewi tahu dalam hatinya—ini baru permulaan. Masih banyak yang harus dibangun, diperbaiki, dan diperjuangkan. Dan kali ini, dia tidak akan melakukannya sendirian.Tiga bulan telah berlalu sejak kejatuhan Selir Lian. Istana Chen berubah dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapapun. Dan pusat dari semua perubahan itu adalah Ratu Dewi Huiyin, yang kini tidak lagi tinggal di Istana Dingin yang suram, melainkan di Paviliun Mutiara Timur—kediaman megah yang dulunya ditempati oleh permaisuri-permaisuri agung dalam sejarah dinasti.Pagi itu, Dewi duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh gulungan-gulungan peta, diagram arsitektur, dan laporan dari berbagai departemen pemerintahan. Yun Xiang, yang kini telah diangkat sebagai kepala pelayan istri permaisuri, menuangkan teh dengan senyum bangga."Niang niang, Menteri Li dan timnya sudah menunggu di aula pertemuan," lapor Yun Xiang."Biarkan mereka masuk," kata Dewi tanpa mengangkat kepala dari diagram yang sedang ia pelajari.Menteri Li Wei masuk bersama lima pejabat senior lainnya. Pria tua itu sudah pulih sepenuhnya dari racun yang hampir membunuhnya, bahkan terlihat lebih bersemangat da
Aula Agung dipenuhi oleh seluruh pejabat tinggi istana, para menteri, dan anggota keluarga kerajaan. Suasananya tegang seperti senar yang akan putus. Di pusat ruangan, Kaisar Zheng He duduk di singgasana dengan wajah keras, tatapannya sulit dibaca.Di sebelah kirinya, Selir Agung Lian Xiu berdiri dengan elegan dalam hanfu ungu gelap, senyuman tipis bermain di bibirnya. Wajahnya menampilkan kesedihan yang sempurna—seperti seorang aktris yang telah berlatih perannya dengan matang."Yang Mulia," kata Lian dengan suara bergetar, seolah menahan tangis. "Hamba mohon keadilan. Permaisuri telah melampaui batas. Tidak cukup dengan mengklaim prestasi orang lain, kini dia bahkan berusaha membunuh Menteri Li Wei—orang yang dia klaim sebagai saksinya sendiri!"Gumaman persetujuan terdengar dari beberapa bangsawan yang memihak Selir Lian.Pintu besar Aula Agung terbuka. Dewi melangkah masuk dengan langkah mantap, Yun Xiang mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat. Meskipun lelah setelah menyelam
Fajar belum menyingsing ketika Dewi terbangun oleh suara langkah kaki terburu-buru di luar kamarnya. Instingnya yang diasah oleh pengalaman dua kehidupan langsung menajam. Ada yang tidak beres."Niang niang!" Yun Xiang masuk dengan wajah pucat pasi. "Menteri Li Wei... dia jatuh sakit tiba-tiba tadi malam! Para tabib mengatakan... dia diracun!"Dewi bangkit dengan cepat, pikirannya langsung bekerja. "Tentu saja. Aku seharusnya menduga ini." Ia mengutuk dirinya sendiri—di dunia mode, ia sudah belajar bahwa kompetitor yang terdesak akan melakukan apa saja. Seharusnya ia lebih waspada."Bagaimana kondisinya?""Kritis, Niang niang. Para tabib istana tidak bisa mengidentifikasi racunnya. Mereka bilang... jika tidak menemukan penawarnya dalam dua hari, Menteri Li akan..." Yun Xiang tidak sanggup melanjutkan.Dewi bergegas mengenakan pakaian luarnya. "Kita harus ke sana sekarang.""Tapi Niang niang, kita tidak diizinkan meninggalkan Istana Dingin tanpa izin—""Seorang pria akan mati, Yun Xian
Paviliun pesta yang tadinya dipenuhi musik dan tawa kini sunyi senyap. Semua mata tertuju pada sosok Ratu Dewi Huiyin yang berdiri dengan tenang di tengah kerumunan, setelah pengungkapan mengejutkan yang baru saja ia lontarkan.Kaisar Zheng He bangkit perlahan dari singgasananya. Wajahnya tidak terbaca—antara terkejut, tidak percaya, dan mungkin... terkesan."Permaisuri," suaranya bergema di seluruh paviliun. "Apa yang baru saja kau katakan? Kau yang mengirimkan semua desain dan saran itu kepada Menteri Li?""Ya, Yang Mulia." Dewi tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. "Selama dua bulan terakhir, hamba telah mengamati kesulitan negara dari Istana Dingin. Meskipun hamba dikucilkan, hati hamba tetap untuk dinasti Chen dan kesejahteraan rakyat."Selir Lian melompat dari duduknya, wajahnya pucat namun berusaha mempertahankan senyuman. "Yang Mulia, ini pasti kebohongan! Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak pernah keluar dari istana, yang tidak memiliki pendidikan tentang pertania
Dua bulan berlalu sejak Dewi mengirimkan desain irigasi ke Menteri Li Wei. Strategi pertamanya berhasil melebihi harapan—sistem pengairan yang ia rancang tidak hanya diterapkan, tetapi juga menyelamatkan hasil panen musim gugur. Kaisar Zheng He sangat terkesan hingga menganugerahkan Menteri Li promosi dan hadiah yang melimpah. Namun yang lebih penting, Menteri Li kini penasaran setengah mati tentang siapa dalang jenius di balik desain tersebut. Dewi telah mengirimkan tiga "saran" lagi secara anonim: reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, metode penyimpanan pangan yang tahan lama, dan desain arsitektur paviliun baru yang lebih efisien namun tetap megah. Semuanya sukses besar. Dan semuanya membuat nama Menteri Li melambung tinggi di mata kaisar. "Niang niang, ada kabar!" Yun Xiang berlari masuk ke istana dengan napas terengah-engah. "Kaisar akan mengadakan Pesta Peony—perayaan besar untuk merayakan pemulihan hasil panen! Semua anggota istana diundang, termasuk... Anda." Dewi m
Malam itu, di bawah cahaya lentera yang redup, Dewi duduk di meja kerjanya yang lapuk sambil menulis dengan kuas. Namun yang ia tulis bukanlah puisi atau surat—melainkan diagram strategi yang rapi, lengkap dengan panah dan catatan di pinggirnya. Kebiasaan dari kehidupan lamanya ketika merencanakan kampanye fashion atau strategi bisnis. Yun Xiang mengintip dari balik bahu tuannya, mencoba memahami tulisan aneh yang penuh dengan kata-kata asing dan simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Ini disebut 'mind mapping,'" jelas Dewi tanpa menoleh. "Cara mengorganisir pikiran dan strategi secara visual. Lebih efisien daripada menulis panjang lebar." "Luar biasa..." gumam Yun Xiang kagum. Dewi menunjuk ke diagram yang ia buat. "Lihat. Di puncak ada Kaisar Zheng He. Di bawahnya, ada tiga faksi utama: Faksi Selir Lian yang kuat karena dia memiliki telinga kaisar, Faksi para menteri tua yang loyal pada tradisi dan keluarga Jenderal Huiyin, dan Faksi netral yang hanya peduli pada sta







