LOGINSunCity, siang hari selepas pernyataan resmi dari pihak Althea.
“Terima kasih sudah menemaniku tadi, Chase,” kata Althea yang menerima botol minum dari Chase.
Selepas pernyataan resminya di depan puluhan wartawan yang sengaja diundang ke lobby TnC Grup, Althea tak lantas kembali ke rumahnya. Sudah hampir satu minggu sejak berita yang berkaitan dengannya mencuat, Althea dan putranya, Josh, tinggal di rumah kediaman keluarga Miller.
Di sana wanita itu sangat dis
Daven hanya tersenyum tipis, lalu menatap tajam ke arah Harold yang masih terdiam. “Ini baru permulaan. Ingat, Harold—aku tidak pernah melupakan siapa yang mencoba mempermainkanku.”“Tuan Harold!” Seseorang berteriak memanggil dari arah belakang. “Kami sudah mempersiapkan rute pelarian untuk Anda.”Harold tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun berbalik dan berusaha mengambil ancang-ancang agar bisa berlari sekencang mungkin. “Jangan biarkan ada orang yang mengikutiku!’ perintahnya pada keenam pria yang semula mengelilingi Daven.“Seenaknya saja kau!” Arsen melesakkan satu pukulan telak ke arah Harold. Membuat pria itu terhuyung dengan sudut bibir terluka. Namun tindakan Arsen segera dihentikan oleh pengawal bayaran Harold yang langsung sigap membuat perlindungan untuk tuannya.Tak hanya Arsen yang bertindak, tapi Andy juga.Baku hantam di antara mereka tak terelakkan.&ldqu
“Anda ... baik-baik saja, Tuan Daven?” tanya Andy dengan nada khawatir. Langkah mereka terus menyusuri koridor yang sebelumnya dilewati untuk tiba di ruang kerja Harold.“Apa-apaan pertanyaanmu itu, Andy?” Daven tersenyum jenaka. “Akan lebih baik jika jemputan kita tiba tepat waktu.”“Apa maksud Anda, Tuan Daven?” Arsen menoleh dan memberi Daven tatapan bingung. Sejak ia keluar dari ruangan tadi, Arsen berusaha keras untuk menghubungi taksi online agar bisa dijemput. Sayangnya, tak ada satu pun yang merespons. Mungkin karena daerah ini terlalu jauh atau terpencil? Entahlah. Tapi dalam pikiran Arsen, mereka hanya harus segera keluar dari tempat ini.Sesegera mungkin.Langkah baru saja berbelok menuju lobby utama, ketika suara berat seorang pria terdengar di belakangnya. Ah, tidak hanya dari belakang. Ada dua orang lagi yang menghadang langkah mereka di depan.“Berhenti di situ.”Empa
Harold melambaikan tangannya, seakan ingin menunjukkan keramahan. “Lihat, bukankah pemandangan ini menenangkan? Tak ada kebisingan kota, tak ada mata-mata media. Hanya kita ... dan hutan pinus.”Daven menatap ke luar kaca sejenak, lalu kembali menoleh pada pria itu dengan senyum tipis. “Tenang memang. Tapi terkadang ketenangan justru menyembunyikan badai.”Harold tertawa. “Silakan duduk, Tuan Daven. Saya yakin perjalanan Anda ke SunCity pasti melelahkan.”Daven memilih mengabaikan ucapan Harold barusan. Ia mengambil duduk di tempat yang sekiranya leluasa untuk bergerak. Arsen duduk di sisi kiri Daven sementara Andy berdiri tak jauh dari Daven. Ia tetap bersikap waspada dan siaga. Mengamati pergerakan setiap orang yang ada di ruangan ini. Sementara empat pengawal Harold berdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua kegiatan di ruangan ini tanpa berkedip.“Baiklah,” Harold membuka percakapan, menyandarkan tubu
“Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”Ucapan Arsen barusan membuat Daven menoleh. Saat itu juga, mereka saling menatap seolah tanpa kata, mereka menyepakati satu hal—ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini. Namun mereka tak bisa bertindak gegabah. Jangan sampai justru membuat mereka tak bisa berkutik atau paling parah, mereka dibuat tak berdaya.“Terima kasih,” sahut Daven berusaha terdengar senatural mungkin. Lewat ekor matanya, Daven bisa memastikan jika mereka diawasi.Mobil akhirnya berhenti setelah menempuh pe
“Weekend yang gagal dihabiskan bersama keluarga,” keluh Arsen begitu masuk ke dalam mobil. Tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah Daven untuk mempersiapkan diri ke SunCity. Dan kali ini, kemungkinan mereka menetap di sana untuk waktu yang agak lama.“Kita jemput Tuan Daven di rumah keluarga Callister, Andy,” perintah Arsen pada sopir pribadi Daven yang seharusnya ... sama sepertinya—menikmati waktu libur. “Kau sudah mempersiapkan diri? kemungkinan kita menetap di SunCity agak lama.”“Sudah, Tuan Arsen.”Arsen mengangguk dan duduk dengan nyaman. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman keluarga Callister memakan waktu empat puluh lima sampai satu jam lamanya. Akan Arsen manfaatkan waktu yang ada untuk memeriksa sekali lagi, berkas yang harus dipersiapkan untuk pertemuan dengan Harold di SunCity.Tak butuh waktu lama, mobil SUV mewah milik Daven memasuki area lobby. Dua orang pelayan di rumah Daven seg
“Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu pada Althea di masa lalu.“Kau yakin?” tanya Kate dengan mata memicing curiga. “Jangan tutupi sesuatu sepenting ini, Daven.”“Aku bisa pastikan itu, Mom,” kata Daven dengan raut tenang. Ia semakin erat menggenggam tangan ibunya seolah mengatakan dengan penuh ketegasan. “Seharusnya kau bisa menduga jika wartawan pasti menyangkut pautkan hal yang belum tentu kebenarannya.”Kate menghela panjang. Raut penasarannya mulai luntur ta







