เข้าสู่ระบบKarena foto itu juga, mengingatkan Althea akan satu-satunya foto yang ia simpan di dalam dompetnya selama ini—foto dirinya bersama Nenek Evelyn dan Daven saat di taman kecil belakang rumah. Senyum mereka di dalam foto itu tampak tulus dan hangat. Momen singkat yang begitu berarti baginya. "Terima kasih ... atas kenangan ini," gumamnya lirih.
Ia melipat surat itu rapi, mengikatnya dengan pita kecil, lalu meletakkannya di atas meja rias. Kopernya juga sudah ia rapikan dan pastikan
Seminggu kemudian“Pelan-pelan, Josh. Jangan paksakan kakimu.” Althea memegang erat bahu putranya yang duduk di kursi roda kecil berwarna biru.Josh meringis kecil, lalu tersenyum tipis. “Mom, aku baik-baik saja. Kaki ini cuma patah, kan? Dokter bilang nanti aku bisa jalan lagi. Dokter juga bilang, sudah disambung dengan baik.”Chase yang berdiri di samping, ikut mencondongkan tubuh. “Bisa, tapi butuh waktu dan terapi untuk membuatmu kembali berjalan normal. Tapi tidak memaksakan diri. Kau dengar apa yang Dokter katakan, kan?”Josh mengangguk lesu, lalu melirik kakinya yang terbalut gips putih hingga lutut. “Aku hanya tak sabar untuk bisa berjalan sendiri, Daddy.”Chase memahami keluhan putranya. “Bersabarlah. Oke, Jagoan?”Sudah seminggu sejak Josh dinyatakan selamat dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Meski kakinya patah, ada luka sobek cukup panjang d
“Aku harap pemulihan Josh nantinya berjalan lancar. Apalagi dia sudah melewati masa kritisnya, kan?”Althea mengangguk sebagai respons atau perkataan Kate.Kate tersenyum lega. Wajahnya meski masih terlihat agak pucat tapi sudah jauh lebih bersemangat. Mungkin karena sejak tadi, mereka membicarakan Josh. “Aku ingin melihat Josh ceria lagi. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.”Felicia menepuk tangan ibunya lembut. “Mommy, jangan khawatir. Aku yakin keceriaan Josh cepat kembali. Kita berdoa saja semoga Josh cepat sadar, dan tidak ada permasalahan apa pun setelah operasi yang baru saja anak itu lewati.”“Kau benar.”Althea menarik napas panjang. Meski sejak tadi ia membicarakan Josh pada mereka, ia masih belum memercayai penglihatannya. Serta perasaan asing yang ia rasakan lantaran sikap kedua wanita ini. Entah dia harus bersyukur atau terus memasang sikap waspada. “Apa yang Felicia katakan b
Tepian kota Mighatan, ratusan mil dari rumah sakit Mighatan.Gudang tua itu sunyi, hanya diterangi lampu yang menyala redup. Suasananya terkesan muram dan berbau pengap. Bau besi berkarat bercampur dengan asap cerutu yang masih mengepul di udara. Lingkungan sekitar gedung juga tak terlalu ramai. Jadi saat pria itu datang untuk memastikan keberadaan buruannya, ia tak terlalu takut akan risiko lain.Seperti pagi ini, di saat udara masih terlalu dingin untuk beraktivitas, segerombolan pria bertubuh tegap dan mengenakan seragam hitam, menyeruak masuk. Tanpa suara, seusai dengan hasil pengintaian beberapa waktu belakangan, jika di waktu ini ... si penghuni utama gedung tua masih terlelap.“Aku pastikan kau tak akan mudah membayar semua ini,” tukas seseorang yang melepas kacamata hitamnya. Menatap gedung tua ini dengan seringai sinis. “Pastikan semua yang menghalangi disingkirkan dan sisakan Harold untukku.”“Baik, Tuan Miller.&rdq
“Duduklah di sini, Althea,” kata Felicia sambil melambai semangat. Ia tak menyangka Althea datang berkunjung ke ruang rawat ibunya. Meski ...“Terima kasih.” Althea tersenyum tipis. “Tapi ... Anda baik-baik saja, kan? Apa ada keluhan tersendiri?” Pertanyaan itu Althea tujukan pada Kate yang menjawab dengan gelengan.“Aku baik-baik saja. mungkin tadi hanya merasa pusing sebentar?”“Kau terlalu memaksakan diri, Mom. Perawat yang mendampingimu mengatakan hal itu,” cebik Felicia.“Tak masalah,” tukas Kate. “Aku melakukan ini untuk Josh. Tapi bagaimana keadaannya? Sudah ada perkembangan lebih jauh?”“Sementara ini belum. Tapi masa kritis Josh sudah berlalu hanya tinggal dipindahkan ke ruang rawat jika sudah memungkinkan,” papar Althea.“Syukurlah,” Kate menghela lega. “Aku senang mendengarnya.” Ia berusaha untuk bangun dari reba
Seorang perawat muncul tergesa dari balik pintu, wajahnya cemas. “Ada pihak keluarga Nyonya Kate Callister?”Daven dan Felicia segera berdiri serempak. “Ya, kami,” jawab Felicia cepat, sorot matanya bingung. “Beliau ibu saya.”Perawat menunduk sedikit, suaranya serius. “Nyonya Kate dalam kondisi cukup mengkhawatirkan. Tekanan darah tingginya melonjak drastis setelah mendonorkan darah. Beliau pingsan, dan saat ini sedang mendapat perawatan khusus.”“Apa?!” Daven hampir tak percaya, wajahnya pucat. “Mommy? Dia pingsan?”Felicia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ya Tuhan … Mommy.”Althea membeku di tempat. Ia memandang Daven dan Felicia, hatinya ikut terhimpit rasa bersalah. “Apa ... karena mendonorkan darah untuk Josh? Jadi keadaan Nyonya Kate memburuk?”“Bisa dibilang begitu tapi tepat tepatnya, Nyonya Cal
Dokter itu menatap mereka satu per satu, wajahnya serius. “Operasi penyelamatan Josh berhasil. Donor darah yang datang tepat waktu sangat membantu. Untuk saat ini, kondisinya sudah jauh lebih stabil, tapi—” ia menekankan kata terakhir, membuat semua orang menahan napas, “kami masih membutuhkan tambahan donor agar kondisi Josh tetap bisa dipertahankan.”Althea langsung menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali turun begitu saja. Tapi kali ini, rasanya kelegaan besar datang di hati. Seolah beban berat di tubuhnya terangkat begitu saja. Dan bukan hanya Althea yang merasakan hal itu, Felicia, Daven, dan Chase juga merasakan hal yang sama.Helaan lega terdengar bersamaan dan hal itu membuat dokter yang menangani Josh juga ikut tersenyum lega. Pertaruhannya di meja operasi bersama pasien serta tim dokter lainnya, benar-benar menegangkan.“Oh, Tuhan … terima kasih … terima kasih …” isak Althea. &l
Althea menoleh pelan. “Ini menu yang biasa Daven nikmati di pagi hari.”Vanessa terkekeh kecil. “Oh, manis sekali.” Ia menopang wajahnya dengan kedua tangan, matanya tertuju pada Althea tapi dengan sorot sinis dan merendahkan. “Apa kau sedang memandang remeh k
Althea terpana, pada pemandangan yang ada di depannya.Saat pertama kali ia membuka mata setelah... ah, Althea memilih mengingat semua yang baru saja ia alami, cukup di dalam hatinya saja. Sebagai salah satu kenangan paling indah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ditambah ia mendapatkan
Bohong kalau Althea tak gugup. Ia terbangun karena haus, menyiapkan makan malam ringan karena Daven terlihat lapar dan lelah tapi ... kenapa dia berakhir di sini?Di kamar Daven yang belum pernah ia masuki?“Sial, bagaimana aku bisa segugup ini?” maki Althea dalam hati.
Setelah membereskan beberapa rak dan lemari kecil di kamar, Althea terlelap lantaran kelelahan. Beberapa buku koleksinya tersusun rapi dalam beberapa kotak. Wanita itu memutuskan untuk bersiap, kalau-kalau semuanya sudah tak lagi sesuai rencana.“Ugh!” lenguh Althea yang merasa