공유

Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai
Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai
작가: Major_Canis

[1]

작가: Major_Canis
last update 게시일: 2026-04-07 15:37:13

“Aku akan menikah lagi,” kata Daven. “Dan aku tak akan mengulangi ucapan ini, termasuk meminta izinmu.” Daven meletakkan cangkir kopinya dengan segera. Ia menyudahi sarapan yang bahkan belum disentuh sepenuhnya.

Althea berdiri mematung di dekat meja makan panjang berlapis marmer putih itu. Jemarinya masih memegang spatula mulai gemetar. Tapi raut wajahnya berusaha dibuat agar tetap tenang. Ia menunduk sejenak, membiarkan kata-kata Daven meresap meski serupa racun yang lambat namun menghancurkan dari dalam.

“Dengan Vanessa?” suaranya nyaris seperti bisikan.

Daven tak menoleh. Ia hanya menarik napas singkat, lalu menjawab dengan dingin, “Ya. Siapa lagi?”

Suaminya, Daven Callyester, menikahinya tanpa cinta. Cintanya habis untuk wanita bernama Vanessa Blake. Bisa dibilang pernikahan Daven dan dirinya, adalah penghalang kisah cinta mereka. Tapi Althea bisa apa jika ini adalah permintaan khusus dari wanita tua yang baik hati dan menyayanginya.

Evelyn Callyester, nenek dari Daven.

Padahal Althea juga tak menginginkan pernikahan ini ada. Dia hanya ingin pemakaman yang layak untuk ibunya. Segala yang telah terjadi, Althea anggap adalah takdirnya. Dia sudah ikhlas merelakan semuanya meski ia sangat bersedih kehilangan ibunya. Tapi Eve tak setuju. Ia meminta cucu kesayangannya, Daven, si penabrak alias orang yang bertanggung jawab penuh atas kematian ibu Althea, untuk menikahi Althea. Selain sebagai bentuk tanggung jawab, Eve berpikir, Althea sebatang kara di dunia ini.

Daven sangat amat terpaksa menerima permintaan neneknya. Ia tak bisa menolak keinginan neneknya itu. Tapi sekarang, pria itu sudah bisa melepaskan diri dari bayang pernikahan yang tak diinginkannya ini. Evelyn Callyster meninggal karena sakit dua minggu lalu. Dan sudah tak ada alasan Daven untuk mempertahankan pernikahannya, kan?

Senyum tipis, nyaris tak terlihat, merekah di bibir Althea—bukan karena bahagia, tapi karena getir yang begitu dalam. Ia mematikan kompor, lalu meletakkan spatula dengan hati-hati. Sekali lagi matanya memejam kuat berusaha menahan gejolak di hati yang sudah terlanjur bergemuruh hebat.

“Aku tidak akan menghalangimu,” katanya akhirnya, suaranya lembut, nyaris terlalu lembut untuk didengar di ruangan seluas itu. “Kita sama-sama tahu, aku tak pernah memiliki tempat di hatimu.”

Daven merespons dengan diam. Ia tak menyangkal, tak membenarkan apa yang Althea katakan. Hanya sorot matanya yang sedikit terganggu saat melihat Althea berjalan perlahan ke arahnya. Untuk sesaat, ia mengira wanita itu akan menangis, memohon, atau menampilkan kesedihan hanya agar Daven menjatuhkan rasa kasihan.

Tapi tidak.

Althea berdiri tegak. Tangannya mengepal di sisi dress yang sederhana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah menghias kepalanya. Manik matanya cokelat terang yang hangat kini matanya menatap lurus tanpa ekspresi. Pada pria yang selama ini hanya menjadi sosok asing di bawah atap yang sama.

Sebenarnya Althea itu cantik, tapi kecantikannya tak mampu menggetarkan hati Daven. Bagi Daven, Althea adalah sosok pengganggu dan orang asing yang dipaksa masuk ke hidupnya. Di saat ia memiliki kesempatan untuk menyingkirkan sang pengganggu, maka itulah yang Daven lakukan.

“Berikan aku satu bulan dari semua waktumu,” ucap Althea dengan tenang. “satu bulan saja ... jadikan aku istrimu yang sesungguhnya.”

Daven menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”

“Aku akan pergi, seperti yang kau mau. Setelah kau mengucapkan janji pernikahan dengan kekasihmu,” Sungguh dada Althea terasa nyeri mengucapkan hal ini. “Kau bisa ceraikan aku dan kupastikan, aku tak akan pernah muncul dalam hidupmu lagi. Tapi sebelum itu, izinkan aku merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang istri. Bukan sekadar orang asing yang tinggal di rumahmu.”

Hening.

Lalu, tawa meremehkan keluar dari bibir Daven. Bahkan sampai pria itu mengusap sudut matanya saking tak menyangka, ucapan wanita yang berdiri tak jauh darinya ini sangatlah konyol. Apa dia pikirkan sebenarnya?

Satu bulan? Permintaan itu terdengar begitu menggelikan. Daven pun berjalan ke arah Althea, memperkecil jarak. Tatapan pria itu kini menelusuri wajah Althea seolah berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi. Siapa tahu, benar yang ibunya katakan jika Althea menginginkan kekayaan yang keluarganya miliki.

Siapa yang tak mengenal Daven Callyster? CEO Callyster Enterprise yang namanya sering kali masuk dalam jajaran pebisnis muda yang tersohor di Kota Migathan. Banyak orang yang bersaing mendekatinya, termasuk para wanita yang haus akan perhatiannya. Tapi Daven hanya mencintai satu wanita dan itu bukan istrinya. Melainkan wanita lain—Vanessa Blake, model terkenal yang namanya semakin naik daun.

“Kau serius?” Daven bertanya, suara dinginnya dibungkus rasa heran. “Ini bukan drama murahan, Althea.”

Althea mengangguk pelan. “Aku tidak meminta cintamu. Siapalah aku ini yang berhak meminta hal itu, Daven,” wanita itu tertawa miris. “Hanya saja tolong perlakuan aku secara  pantas sebagai seorang istri. Makan malam bersamaku. Bicara sepatah dua patah kata setiap harinya. Berikah aku sedikit perhatian, walau palsu.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. Kedua tangannya saling mengepal untuk menguatkan diri. “Setelah itu, aku akan pergi dengan tenang. Kau bebas menikahi siapa pun.”

Daven memicingkan mata, tak tahu apakah harus tertawa lebih keras atau merasa jengkel. Tapi di balik ketidakpercayaannya, ada sesuatu yang menusuk ke dalam sanubarinya. Sebuah permintaan sederhana—terlalu sederhana dan itu yang membuatnya penasaran.

Apa tujuan Althea sebenarnya?

“Kenapa kau tak meminta sesuatu yang jauh lebih masuk akal?”

Althea terdiam, ingin mengalihkan pandangannya dari Daven sangatlah sukar. Manik mata sekelam malam itu menatapnya tanpa jeda. Seolah memberi peringatan jika jangan mengalihkan diri dari pembicaraan yang belum selesai ini.

“Jika kau meminta sejumlah uang, katakan saja. Aku akan mengabulkannya.”

“Tidak,” sahut Althea tanpa gentar. Tekadnya sudah bulat. Ia tak akan mundur. Apa yang sudah ia katakan, tak akan ia tarik lagi.

“Kau benar-benar tidak tahu caranya menyerah, ya?” cibir Daven.

“Aku sudah menyerah, Daven,” Althea menjawab lirih. “Tapi aku hanya ingin satu kenangan yang bisa kuingat seumur hidupku. Sebelum aku pergi selamanya dari hidupmu.”

Tak ada yang bicara lagi di antara mereka.

Kali ini, sorot mata Daven tak lagi tajam. Ia menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Antara bingung, terganggu, dan ... penasaran?

“Aku tak berjanji akan bersikap manis,” katanya akhirnya.

“Aku tidak pernah berharap kau akan mengubah sikapmu,” jawab Althea, masih dengan ketenangannya yang menghancurkan.

Dan dengan itu, kesepakatan tak terucap pun terbentuk.

Satu bulan. Tiga puluh hari bagi Althea untuk menjadi istri seorang Daven Callyster. Keadaan yang seharusnya sudah terjadi setahun lalu. Persis seperti waktu pernikahan mereka tapi sayangnya, Daven menganggap Althea hanyalah orang luar dan pengganggu.

Sebelum segalanya berakhir, Althea harus banyak berucap syukur karena Daven tak menolaknya.

“Hanya satu bulan, Althea,” kata Daven memberi peringatan. “Setelahnya kau harus pergi dari hadapanku.”

“Aku sangat mengerti apa permintaanku, Daven. Kau tak perlu khawatir.”

Daven mencibir dengan sinisnya. “Dan jika kau menginginkan lebih dari apa yang bisa kulakukan, aku tak akan segan mengusirmu.”

Althea mengangguk patuh.

“Jangan pernah mengingkari janjimu, Althea.” Daven sekali lagi menatap Althea dengan tajamnya. “Jika tidak, jangan salahkan aku untuk menghancurkan hidupmu.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [7]

    “Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.“Semoga semua orang sudah tertidur.” Begitu harapan Althea saat membuka pintu utama, sedikit berterima kasih pada pelayan yang menyambutnya.Sayangnya ... hal itu tak terjadi.“Pulang juga akhirnya,” suara dingin menyambutnya dari arah ruang duduk.Althea menoleh pelan. Catherine Callister, ibu mertuanya, berdiri dengan segelas wine di tangan. Tatapan matanya menusuk disertai senyumnya yang tajam.“Sendirian?” Catherine mengangkat alis. “Daven tidak pulang bersamamu?”Althea menunduk sedikit, memilih untuk tidak menjawab.“Sudah kuduga,” lanjut Catherine dengan tawa mengejek. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan namun penuh tekanan. “Vanessa ad

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [6] b

    “Kau tidak pernah bertanya,” jawab Althea datar.Daven menggeleng heran. “Kau mengejutkanku.”Althea memilih tak memberi tanggapan apa pun. Baginya, apa yang ia rasa malam ini sangat mewah. Tak pernah ia sangka bisa berdiri di samping suaminya dan bicara sesantai ini. Sungguh, jika ini mimpi, Althea tak ingin segera kembali ke alam nyata.Kendati begitu, Daven kembali diajak berbincang oleh para koleganya. Sementara Althea berdiri bersama istri Duta Besar Jepang dan beberapa tamu wanita lainnya.“Oh, I’m so impressed with your Japanese, Althea-san,” ujar Nyonya Sugimura sambil menepuk pelan tangan Althea. “Kau pasti sudah lama mempelajarinya?”“Saya mulai mempelajarinya sejak tahun pertama kuliah. Awalnya karena saya suka sastra klasik Jepang,” jawab Althea sambil tertawa kecil. “Ternyata sangat menarik dan… menenangkan.”Mereka tertawa bersama, obrolan berl

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [6] a

    Gema tawa dan denting gelas anggur menyambut pasangan itu saat memasuki aula utama Kedutaan Besar Jepang malam itu. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal, orkestra klasik mengalun lembut di sudut ruangan. Daven, dalam setelan hitam Armani yang sempurna, segera menjadi pusat perhatian. Beberapa kolega dan tokoh penting menyapanya lebih dulu, mengulurkan tangan dan sapaan hangat.“Mr. Callister! What a surprise to see you here,” seru salah satu rekan bisnisnya, Pak Edmund, sambil menepuk bahu Daven dengan akrab.“Tuan Edmund,” jawab Daven singkat dengan anggukan kecil, senyum tipis mengiringi suaranya yang tetap datar.Sejak mereka turun dari mobil, Althea merasakan atmosfer yang berbeda. Mungkin karena ini pertama kalinya ia mengikuti Daven menghadiri acara resmi. Bohong rasanya kalau Althea tak gugup. Apalagi sekarang, di saat Daven banyak ditemui oleh koleganya.Meski Althea berdiri di samping Daven, berada di tengah riuh pem

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [5]

    “Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perjanjian mereka.Toh, mereka tak akan pernah bertemu lagi. Anggap saja, Althea sedang bermain di dunia khayalan yang sangat romantis bersama suaminya tercinta. Lalu kembali pada kenyataan jika ia adalah wanita yang ditakdirkan menghabiskan waktu sendirian di dunia.Althea menjalankan perannya dengan tenang, tanpa menuntut balasan apa pun dari suaminya. Selama Daven tak mendorongnya menjauh, wanita itu anggap Daven menerimanya—meski terpaksa. Namun, setiap gerakan tangan Althea, setiap pilihan kata yang wanita itu gunakan, perlahan menorehkan sesuatu yang tak bisa Daven diabaikan.Daven mengangkat alis. “Kau tahu, aku bisa memilih bajuku sendiri.”&

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [4]

    “Kau ... benar-benar kehilangan kewarasanmu?”Althea sangat memahami kenapa sahabatnya mengatakan hal itu dengan wajah terkejut. Dia menceritakan semuanya, meski tanpa air mata, tapi Lydia tahu kekecewaan dan sakit hati yang Althea alami sangat besar. Tak semua rasa sakit yang menghampiri seseorang, bisa diungkapkan dengan air mata.Bisa jadi saking kecewanya luka itu datang menyakiti, sudah tak mampu lagi air mata mengungkapkannya.“Kau bisa mengatakan hal itu semaumu,” kata Althea dengan senyuman tipis. “Tapi kurasa itu adalah satu-satunya kesempatan yang datang ke hidupku.”“Kau memiliki aku, Althea. Kau tak sendirian di dunia ini,” sergah Lydia dengan gusar. “Aku sudah sering mengatakan padamu, keluarga Callyster bukanlah tempat untuk orang sepertimu. Kau terlalu baik ... terlalu lembut untuk dipaksa bertahan di tengah mereka."Althea memandangi cangkir tehnya yang sudah mendingin. Tangannya tetap membungkus cangkir itu, seakan kehangatan yang tertinggal bisa menenangkan gemuruh y

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [3]

    Bohong kalau Althea tak sakit hati. Munafik kalau Althea tak merasa sedih dan kecewa. Tapi ... apa yang bisa ia lakukan untuk menahan semua ini? Bahkan pria yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, justru orang pertama yang paling membuatnya patah hati. Althea tak buta melihat bagaimana Daven yang terang-terangan tak menyembunyikan hubungannya dengan sang kekasih.Meski di depan sang nenek, Daven berkamuflase sebagai sosok suami yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang.“Tuhan,” lirihnya seraya berusaha terpejam. Malam kian larut. Hari esok masih harus Althea hadapi. “Tolong beri aku kemurahan-Mu. Berbaik hatilah sedikit padaku, Tuhan. Beri aku kesempatan untuk mendapatkan keinginanku.”Saat Althea memberi tahu keinginannya, ia tak menyangka jika Daven mengabulkannya. Karena itulah, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.Anak.Althea menginginkan anak. Sebagai teman hidupnya kelak. Seseorang yang bisa ia cintai tanpa syarat. Ses

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status