INICIAR SESIÓN
“Aku akan menikah lagi,” kata Daven. “Dan aku tak akan mengulangi ucapan ini, termasuk meminta izinmu.” Daven meletakkan cangkir kopinya dengan segera. Ia menyudahi sarapan yang bahkan belum disentuh sepenuhnya.
Althea berdiri mematung di dekat meja makan panjang berlapis marmer putih itu. Jemarinya masih memegang spatula mulai gemetar. Tapi raut wajahnya berusaha dibuat agar tetap tenang. Ia menunduk sejenak, membiarkan kata-kata Daven meresap meski serupa racun yang lambat namun menghancurkan dari dalam.
“Dengan Vanessa?” suaranya nyaris seperti bisikan.
Daven tak menoleh. Ia hanya menarik napas singkat, lalu menjawab dengan dingin, “Ya. Siapa lagi?”
Suaminya, Daven Callyester, menikahinya tanpa cinta. Cintanya habis untuk wanita bernama Vanessa Blake. Bisa dibilang pernikahan Daven dan dirinya, adalah penghalang kisah cinta mereka. Tapi Althea bisa apa jika ini adalah permintaan khusus dari wanita tua yang baik hati dan menyayanginya.
Evelyn Callyester, nenek dari Daven.
Padahal Althea juga tak menginginkan pernikahan ini ada. Dia hanya ingin pemakaman yang layak untuk ibunya. Segala yang telah terjadi, Althea anggap adalah takdirnya. Dia sudah ikhlas merelakan semuanya meski ia sangat bersedih kehilangan ibunya. Tapi Eve tak setuju. Ia meminta cucu kesayangannya, Daven, si penabrak alias orang yang bertanggung jawab penuh atas kematian ibu Althea, untuk menikahi Althea. Selain sebagai bentuk tanggung jawab, Eve berpikir, Althea sebatang kara di dunia ini.
Daven sangat amat terpaksa menerima permintaan neneknya. Ia tak bisa menolak keinginan neneknya itu. Tapi sekarang, pria itu sudah bisa melepaskan diri dari bayang pernikahan yang tak diinginkannya ini. Evelyn Callyster meninggal karena sakit dua minggu lalu. Dan sudah tak ada alasan Daven untuk mempertahankan pernikahannya, kan?
Senyum tipis, nyaris tak terlihat, merekah di bibir Althea—bukan karena bahagia, tapi karena getir yang begitu dalam. Ia mematikan kompor, lalu meletakkan spatula dengan hati-hati. Sekali lagi matanya memejam kuat berusaha menahan gejolak di hati yang sudah terlanjur bergemuruh hebat.
“Aku tidak akan menghalangimu,” katanya akhirnya, suaranya lembut, nyaris terlalu lembut untuk didengar di ruangan seluas itu. “Kita sama-sama tahu, aku tak pernah memiliki tempat di hatimu.”
Daven merespons dengan diam. Ia tak menyangkal, tak membenarkan apa yang Althea katakan. Hanya sorot matanya yang sedikit terganggu saat melihat Althea berjalan perlahan ke arahnya. Untuk sesaat, ia mengira wanita itu akan menangis, memohon, atau menampilkan kesedihan hanya agar Daven menjatuhkan rasa kasihan.
Tapi tidak.
Althea berdiri tegak. Tangannya mengepal di sisi dress yang sederhana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah menghias kepalanya. Manik matanya cokelat terang yang hangat kini matanya menatap lurus tanpa ekspresi. Pada pria yang selama ini hanya menjadi sosok asing di bawah atap yang sama.
Sebenarnya Althea itu cantik, tapi kecantikannya tak mampu menggetarkan hati Daven. Bagi Daven, Althea adalah sosok pengganggu dan orang asing yang dipaksa masuk ke hidupnya. Di saat ia memiliki kesempatan untuk menyingkirkan sang pengganggu, maka itulah yang Daven lakukan.
“Berikan aku satu bulan dari semua waktumu,” ucap Althea dengan tenang. “satu bulan saja ... jadikan aku istrimu yang sesungguhnya.”
Daven menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
“Aku akan pergi, seperti yang kau mau. Setelah kau mengucapkan janji pernikahan dengan kekasihmu,” Sungguh dada Althea terasa nyeri mengucapkan hal ini. “Kau bisa ceraikan aku dan kupastikan, aku tak akan pernah muncul dalam hidupmu lagi. Tapi sebelum itu, izinkan aku merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang istri. Bukan sekadar orang asing yang tinggal di rumahmu.”
Hening.
Lalu, tawa meremehkan keluar dari bibir Daven. Bahkan sampai pria itu mengusap sudut matanya saking tak menyangka, ucapan wanita yang berdiri tak jauh darinya ini sangatlah konyol. Apa dia pikirkan sebenarnya?
Satu bulan? Permintaan itu terdengar begitu menggelikan. Daven pun berjalan ke arah Althea, memperkecil jarak. Tatapan pria itu kini menelusuri wajah Althea seolah berusaha membaca sesuatu yang tersembunyi. Siapa tahu, benar yang ibunya katakan jika Althea menginginkan kekayaan yang keluarganya miliki.
Siapa yang tak mengenal Daven Callyster? CEO Callyster Enterprise yang namanya sering kali masuk dalam jajaran pebisnis muda yang tersohor di Kota Migathan. Banyak orang yang bersaing mendekatinya, termasuk para wanita yang haus akan perhatiannya. Tapi Daven hanya mencintai satu wanita dan itu bukan istrinya. Melainkan wanita lain—Vanessa Blake, model terkenal yang namanya semakin naik daun.
“Kau serius?” Daven bertanya, suara dinginnya dibungkus rasa heran. “Ini bukan drama murahan, Althea.”
Althea mengangguk pelan. “Aku tidak meminta cintamu. Siapalah aku ini yang berhak meminta hal itu, Daven,” wanita itu tertawa miris. “Hanya saja tolong perlakuan aku secara pantas sebagai seorang istri. Makan malam bersamaku. Bicara sepatah dua patah kata setiap harinya. Berikah aku sedikit perhatian, walau palsu.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. Kedua tangannya saling mengepal untuk menguatkan diri. “Setelah itu, aku akan pergi dengan tenang. Kau bebas menikahi siapa pun.”
Daven memicingkan mata, tak tahu apakah harus tertawa lebih keras atau merasa jengkel. Tapi di balik ketidakpercayaannya, ada sesuatu yang menusuk ke dalam sanubarinya. Sebuah permintaan sederhana—terlalu sederhana dan itu yang membuatnya penasaran.
Apa tujuan Althea sebenarnya?
“Kenapa kau tak meminta sesuatu yang jauh lebih masuk akal?”
Althea terdiam, ingin mengalihkan pandangannya dari Daven sangatlah sukar. Manik mata sekelam malam itu menatapnya tanpa jeda. Seolah memberi peringatan jika jangan mengalihkan diri dari pembicaraan yang belum selesai ini.
“Jika kau meminta sejumlah uang, katakan saja. Aku akan mengabulkannya.”
“Tidak,” sahut Althea tanpa gentar. Tekadnya sudah bulat. Ia tak akan mundur. Apa yang sudah ia katakan, tak akan ia tarik lagi.
“Kau benar-benar tidak tahu caranya menyerah, ya?” cibir Daven.
“Aku sudah menyerah, Daven,” Althea menjawab lirih. “Tapi aku hanya ingin satu kenangan yang bisa kuingat seumur hidupku. Sebelum aku pergi selamanya dari hidupmu.”
Tak ada yang bicara lagi di antara mereka.
Kali ini, sorot mata Daven tak lagi tajam. Ia menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Antara bingung, terganggu, dan ... penasaran?
“Aku tak berjanji akan bersikap manis,” katanya akhirnya.
“Aku tidak pernah berharap kau akan mengubah sikapmu,” jawab Althea, masih dengan ketenangannya yang menghancurkan.
Dan dengan itu, kesepakatan tak terucap pun terbentuk.
Satu bulan. Tiga puluh hari bagi Althea untuk menjadi istri seorang Daven Callyster. Keadaan yang seharusnya sudah terjadi setahun lalu. Persis seperti waktu pernikahan mereka tapi sayangnya, Daven menganggap Althea hanyalah orang luar dan pengganggu.
Sebelum segalanya berakhir, Althea harus banyak berucap syukur karena Daven tak menolaknya.
“Hanya satu bulan, Althea,” kata Daven memberi peringatan. “Setelahnya kau harus pergi dari hadapanku.”
“Aku sangat mengerti apa permintaanku, Daven. Kau tak perlu khawatir.”
Daven mencibir dengan sinisnya. “Dan jika kau menginginkan lebih dari apa yang bisa kulakukan, aku tak akan segan mengusirmu.”
Althea mengangguk patuh.
“Jangan pernah mengingkari janjimu, Althea.” Daven sekali lagi menatap Althea dengan tajamnya. “Jika tidak, jangan salahkan aku untuk menghancurkan hidupmu.”
Harold melambaikan tangannya, seakan ingin menunjukkan keramahan. “Lihat, bukankah pemandangan ini menenangkan? Tak ada kebisingan kota, tak ada mata-mata media. Hanya kita ... dan hutan pinus.”Daven menatap ke luar kaca sejenak, lalu kembali menoleh pada pria itu dengan senyum tipis. “Tenang memang. Tapi terkadang ketenangan justru menyembunyikan badai.”Harold tertawa. “Silakan duduk, Tuan Daven. Saya yakin perjalanan Anda ke SunCity pasti melelahkan.”Daven memilih mengabaikan ucapan Harold barusan. Ia mengambil duduk di tempat yang sekiranya leluasa untuk bergerak. Arsen duduk di sisi kiri Daven sementara Andy berdiri tak jauh dari Daven. Ia tetap bersikap waspada dan siaga. Mengamati pergerakan setiap orang yang ada di ruangan ini. Sementara empat pengawal Harold berdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua kegiatan di ruangan ini tanpa berkedip.“Baiklah,” Harold membuka percakapan, menyandarkan tubu
“Sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” gumam Daven sembari terus memerhatikan laju kendaraan yang lebih sering mengambil jalan menjauh dari pusat kota. Meski Daven tak terlalu mengetahui secara luas kota SunCity seperti apa, tapi kota itu tak terlalu besar. Berbeda dengan Mighatan yang memang tercipta sebagai pusat kota dan ekonomi di negara ini.“Saya sudah meminta pengurus apartemen untuk memastikan persediaan kopi Anda, Tuan Daven.”Ucapan Arsen barusan membuat Daven menoleh. Saat itu juga, mereka saling menatap seolah tanpa kata, mereka menyepakati satu hal—ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kali ini. Namun mereka tak bisa bertindak gegabah. Jangan sampai justru membuat mereka tak bisa berkutik atau paling parah, mereka dibuat tak berdaya.“Terima kasih,” sahut Daven berusaha terdengar senatural mungkin. Lewat ekor matanya, Daven bisa memastikan jika mereka diawasi.Mobil akhirnya berhenti setelah menempuh pe
“Weekend yang gagal dihabiskan bersama keluarga,” keluh Arsen begitu masuk ke dalam mobil. Tapi ia tak mungkin mengabaikan perintah Daven untuk mempersiapkan diri ke SunCity. Dan kali ini, kemungkinan mereka menetap di sana untuk waktu yang agak lama.“Kita jemput Tuan Daven di rumah keluarga Callister, Andy,” perintah Arsen pada sopir pribadi Daven yang seharusnya ... sama sepertinya—menikmati waktu libur. “Kau sudah mempersiapkan diri? kemungkinan kita menetap di SunCity agak lama.”“Sudah, Tuan Arsen.”Arsen mengangguk dan duduk dengan nyaman. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman keluarga Callister memakan waktu empat puluh lima sampai satu jam lamanya. Akan Arsen manfaatkan waktu yang ada untuk memeriksa sekali lagi, berkas yang harus dipersiapkan untuk pertemuan dengan Harold di SunCity.Tak butuh waktu lama, mobil SUV mewah milik Daven memasuki area lobby. Dua orang pelayan di rumah Daven seg
“Tidak, Mom,” Daven berkata dengan penuh penegasan. “Mengenai berita itu, sama sekali tidak benar. Aku bisa pastikan itu.”Sungguh, nyeri sekali hatinya mengutarakan kebohongan sebesar ini pada ibunya. Ia takut, ada efek domino yang akan terjadi di saat permasalahan yang terlanjur membesar ini belum selesai. Tidak. Bukan takut, tapi lebih kepada khawatir jika ibunya melakukan tindakan di luar kendalinya.Daven juga tak bisa mengabaikan perlakukan sang ibu pada Althea di masa lalu.“Kau yakin?” tanya Kate dengan mata memicing curiga. “Jangan tutupi sesuatu sepenting ini, Daven.”“Aku bisa pastikan itu, Mom,” kata Daven dengan raut tenang. Ia semakin erat menggenggam tangan ibunya seolah mengatakan dengan penuh ketegasan. “Seharusnya kau bisa menduga jika wartawan pasti menyangkut pautkan hal yang belum tentu kebenarannya.”Kate menghela panjang. Raut penasarannya mulai luntur ta
“Untuk sementara waktu, aku pulang ke rumah ibuku. Jadi, jika ada berkas yang tertinggal di apartemenku, kau bisa mengambilnya segera.”“Baik, Tuan Daven,” kata Arsen dengan patuh. “Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga Anda.”Arsen mengantarkan Daven sampai ke mobil. Untuk kali ini, Daven memintanya pulang. Hal yang sangat berarti bagi Arsen—bisa meluangkan waktu akhir pekan tanpa banyak mengurus pekerjaan. Sungguh, beberapa bula belakangan ia seperti bekerja di bawah kejaran serigala kelaparan. Belum lagi drama yang terjadi di sekitar mereka. Sangat melelahkan dan menguras banyak waktu dan energi.“Kau juga, selamat menikmati akhir pekanmu,” kata Daven sebelum masuk ke dalam mobil. Arsen terlihat membungkuk hormat dan saat Daven sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang, mobil pun bergerak perlahan meninggalkan lobby kantor.Sore harinya, setelah menyelesaikan urusan kantor,
“Bagaimana, Thomas? Sudah sejauh mana persiapan yang diperlukan? Apa kau masih membutuhkan berkas penting?” suara Daven terdengar rendah namun tegas.Di hadapannya, Thomas Harrison—pengacaranya—menutup map cokelat dan meletakkannya di atas meja. “Semuanya sudah cukup, Tuan Daven. Berkas pengajuan gugatan cerai juga sudah resmi diajukan ke pengadilan. Sidang pertama akan dijadwalkan minggu depan. Pihak Vanessa Blake sudah menerima pemberitahuan resmi.”Daven mengangguk sekali. “Bagus. Saya ingin semua berlangsung secepat mungkin. Tanpa celah dan tanpa drama tambahan.”Thomas menatapnya lekat. “Sayangnya, drama yang terjadi sudah terlanjur besar. Banyak spekulasi yang muncul mengenai gugatan ini. Media juga terus mengendus setiap langkah Anda, mencari informasi agar bisa dibocorkan ke masyarakat umum. Dan saya rasa, Vanessa jelas akan menggunakan semua cara untuk memperlambat proses ini.”“Ak







