로그인“Tekanannya turun lagi! Cepat, siapkan ruang tindakan sekarang juga!” suara dokter bergema di koridor rumah sakit, diiringi langkah kaki yang tergesa-gesa.
Riana memegangi dada, berusaha menahan tangis. “Tuhan, jangan biarkan dia kehilangan segalanya.”
Lydia hanya terdiam di kursi rodanya, kedua tangannya saling menggenggam erat. “Dia bahkan belum sempat mendengar kabar apa pun tentang Chase,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Pintu ruang
“Apakah kau siap?” suara lembut itu datang dari balik pintu, disertai ketukan pelan.Althea tersenyum kecil. “Masuklah, Lydia.”Lydia membuka pintu dan mendekat, menatap sahabatnya yang berdiri di depan cermin dengan gaun sederhana berwarna gading. “Aku masih tidak percaya hari ini benar-benar terjadi,” katanya, suaranya bergetar antara haru dan bahagia.“Begitu juga aku,” Althea menjawab pelan, menatap bayangannya sendiri. “Aku tidak menyangka akan menikah lagi… apalagi dengan Daven.”“Dia mencintaimu, Thea. Aku melihatnya setiap kali dia menatapmu.”Althea tertawa kecil. “Kau tahu, dulu aku tak pernah melihat tatapan itu. Tapi sekarang… aku mengerti apa artinya cinta yang tumbuh setelah luka.”Lydia meraih tangannya. “Kau pantas mendapatkannya.”Pintu terbuka lagi. Kate muncul di ambang pintu bersama Riana Miller. “Say
“Jadi… kau benar-benar serius kali ini?” suara Kate Callister terdengar pelan tapi sarat emosi.Daven mengangguk. “Aku tidak pernah seyakini ini sebelumnya, Mom.”Felicia menatapnya tak percaya. “Lamaran? Kau mau melamar Althea? Sekarang?”“Dua hari lagi,” jawab Daven mantap. “Aku ingin melakukannya dengan cara yang sederhana, tapi bermakna.”Kalina menepuk pundaknya dengan senyum kecil. “Kau sadar, ini pertama kalinya kau bicara soal perasaan tanpa keraguan?”Daven tersenyum tipis. “Mungkin karena kali ini bukan tentang aku. Ini tentang dia—dan dua anak kecil yang memanggilku Papa setiap pagi.”Kate terdiam sejenak. “Daven, aku tahu aku bukan orang yang sering menyanjung, tapi aku bangga. Althea wanita baik. Dan anak-anak itu… mereka sudah jadi bagian darimu.”“Terima kasih, Mom,” jawab Daven lembut. “
“Mereka tidur cepat malam ini,” gumam Althea sambil menutup pintu kamar anak-anak pelan.Daven yang duduk di sofa ruang tamu mengangguk. “Josh tadi bilang dia mau kasih gambar bunga ke Daddy Chase besok. Aku bantu warnain.”Althea tersenyum kecil. “Kau sekarang ahli mewarnai juga rupanya.”“Kalau bersaing dengan anak lima tahun, aku masih bisa menang tipis,” jawabnya sambil terkekeh.“Tapi Grace lebih jago,” balas Althea. “Dia suka pakai semua warna dalam satu gambar.”“Itu kreatif namanya,” sahut Daven ringan. “Kau juga begitu dulu waktu pertama kali masak. Semua bumbu masuk.”Althea menatapnya dengan tawa tertahan. “Kau masih ingat itu?”“Bagaimana mungkin aku lupa? Aku makan ayam panggang rasa kecap manis, cabai, dan madu sekaligus. Tapi aku tetap habiskan.”“Karena kau takut aku marah,” tuduh A
“Papa, ini tempat Daddy tidur, kan?”Suara Josh terdengar pelan di antara desir angin sore. Tangannya menggenggam erat bunga lili putih yang tadi ia pilih sendiri.“Iya, Sayang,” jawab Daven lembut. “Ini tempat Daddy beristirahat.”Grace yang digendong Althea menunjuk ke nisan di depan mereka. “Flower… for Daddy?”Althea mengangguk dengan senyum kecil. “Iya, Sayang. Untuk Daddy Chase.”Daven ikut berlutut, meletakkan bunga di atas pusara. “Kita datang untuk bilang kalau kita semua baik-baik saja.”Josh ikut menunduk. “Aku rindu Daddy,” ucapnya lirih. “Tapi Papa bilang, Daddy selalu lihat kita dari langit, kan?”“Iya,” jawab Daven sambil tersenyum tipis. “Daddy selalu melihat kita, dan dia pasti bangga denganmu.”Althea menatap mereka berdua dengan mata berkaca. “Kau anak yang luar biasa, Josh.&rdq
“Bisa tolong ambilkan yang kemasan biru, bukan yang hijau?”“Yang biru harganya lebih mahal, tahu?”“Itu sebabnya aku minta kau yang ambil, agar tidak terlihat aku yang boros.”Daven tertawa pelan, menuruti permintaan Althea dan meletakkan tisu dapur ke dalam troli.“Jika setiap bulan kau mengajakku berbelanja seperti ini, aku akan hafal semua merek di toko ini.”“Memang itu tujuannya,” jawab Althea sambil tersenyum kecil. “Supaya bulan depan kau bisa datang sendiri.”“Dan melewatkan kesempatan untuk berjalan bersamamu? Tidak mungkin.”Ia menuntun troli di samping Althea, langkah mereka perlahan menyusuri lorong yang tenang. Sesekali Daven memperhatikan wajahnya dari samping—terang, sederhana, dan menenangkan.“Aku baru sadar,” katanya pelan, “dulu, saat masih menjadi suamimu, aku tidak pernah ikut kegiatan seperti ini.”
“Papa, cepat! Grace mau jalan sendiri!”Suara Josh bergema dari ruang tamu, diikuti tawa renyah kecil perempuan dua tahun yang sedang berusaha berdiri dengan tangan menggenggam sofa.Daven berlari kecil dari dapur. “Wah, ini benar-benar langkah pertama, ya?”Josh mengangguk bersemangat. “Iya! Lihat, Papa, dia bisa!”Daven jongkok di depan Grace, membuka kedua tangannya. “Ayo, Princess. Coba ke sini. Papa tunggu.”Grace terkikik, melepaskan pegangan, melangkah dengan kaki gemetar—satu langkah, dua langkah—lalu jatuh tepat ke pelukan Daven.Althea yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menatap, senyum kecil terbit di wajahnya. “Kau bahkan berhasil membuatnya berjalan duluan sebelum aku sempat merekamnya.”Daven menoleh, matanya hangat. “Aku akan ulang adegannya kalau perlu.”Josh tertawa. “Papa bisa bikin Grace jalan dua kali!”
“Tapi kau yakin baik-baik saja?” Chase menatap Josh lekat. Sekali lagi memastikan luka Josh benar-benar sudah diobati.“Iya, Uncle Chase,” sahut Josh riang. “Tuan Daven mengobatiku.”Chase menghela lega. Sungguh, jantungnya dibuat tak baik-baik sa
“Kau yakin tak masalah jika aku menitipkan Josh padamu?” tanya Althea, masih dengan wajah cemas. Ini adalah pertama kalinya ia harus melepas putranya di bawah pengawasan orang lain. Andai saja hari ini bukan hari ujian penilaian akhir, sudah pasti ia sendiri yang akan mendampingi Josh
“Apa kegiatanmu selalu sepadat ini?” Nada suara Vanessa terdengar tajam. Ia duduk dengan lengan terlipat di dada, menatap Daven dengan sorot tak suka. Entah sudah berapa kali ia suarakan keberatannya tapi tetap saja, tak mampu mengubah kebiasaan Daven yang gila kerja.Daven men
Karena foto itu juga, mengingatkan Althea akan satu-satunya foto yang ia simpan di dalam dompetnya selama ini—foto dirinya bersama Nenek Evelyn dan Daven saat di taman kecil belakang rumah. Senyum mereka di dalam foto itu tampak tulus dan hangat. Momen singkat yang begitu berarti baginya. "