Se connecterSaat hidangan terakhir disajikan, Devina dan Julian baru masuk ke dalam rumah dan bibi pengasuh pun segera mengambil tas mereka."Ayah, Ibu, kami sudah pulang."Begitu mendengar suara itu, Maggie dan Easton langsung terdiam dan saling menatap.Maggie meletakkan sumpitnya dan berdiri hendak memberi salam pada kedua orang tua itu, tetapi Devina sudah memotongnya sebelum dia sempat berbicara.Devina mengernyitkan alis dan melirik Maggie sekilas, lalu hampir secara refleks berkata, "Kenapa kamu ada di sini?"Nada bicara Devina benar-benar terdengar tidak ramah.Maggie tertegun di tempat dan wajahnya agak memerah karena merasa malu.Easton berdecak dengan tidak puas dan meletakkan sumpitnya, lalu mengeluarkan dua buku merah baru dari saku dan meletakkannya di atas meja. "Dia pulang ke rumahnya sendiri, apa masih perlu penjelasan?"Hana segera merebut dua buku merah itu, lalu bolak-balik dan terus memuji, "Fotonya bagus sekali, terlihat sangat bahagia dan bersemangat.""Tentu saja, wajah cuc
"Anak baik, kamu pasti sangat menderita selama ini."Maggie cepat-cepat menggeleng, menenangkan Hana yang emosinya sedang meluap. "Nek, aku baik-baik saja kok."Easton menyesap teh, menyilangkan kaki panjangnya, lalu bersandar dengan santai di kursi sambil memandangi nenek dan cucu itu bernostalgia dengan emosional."Memangnya Nenek sesuka itu sama dia?"Hana mengangguk. "Ya, Nenek memang sesuka itu sama Maggie.""Untung saja jodoh kalian belum putus. Dewa memberkati." Hana menyeka air matanya, lalu berbisik kepada Maggie, "Selama kamu pergi bertahun-tahun itu, Easton seperti berubah jadi orang lain. Lebih tenang dan dewasa. Tapi kami semua merasa itu nggak baik. Dia nggak pernah tersenyum, seperti boneka tanpa jiwa.""Ibunya mengatur banyak perjodohan untuknya, tapi satu pun nggak dia datangi. Pikirannya hanya untuk kerja. Dia juga nggak menjaga kesehatannya. Dua tahun lalu saat Tahun Baru, lambungnya sampai berlubang dan harus dirawat di rumah sakit, gara-gara minum alkohol.""Dia me
Maggie mengangkat sedikit kelopak matanya. Pupilnya menyempit. Suaranya pun agak bergetar. "Jangan sentuh, kasih ke aku."Easton meliriknya sekilas, sengaja menggoyang-goyangkan kotak itu.Jantung Maggie berdegup kencang. Seolah-olah yang digenggam Easton bukan kotak itu, melainkan hatinya."Kenapa? Barang penting apa sampai nggak boleh dilihat?"Kalau waktu bisa diputar kembali beberapa jam lalu, Maggie lebih rela benda ini tersebar dan dilihat bergiliran oleh seluruh rekan kerja di Bank Maxi, daripada memasukkannya ke tasnya.Maggie berjinjit, tetapi hanya bisa menyentuh ujung lengan bajunya. Easton sengaja memanfaatkan perbedaan tinggi badan, mengangkat kotak itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.Sudut bibir Easton sedikit terangkat. Dia menggoyang-goyangkan kotak itu dengan santai. "Minta dulu."Maggie memberanikan diri. "Aku mohon, balikkan."Mata Easton hitam pekat dan dalam. Dengan jemarinya yang lincah, dia segera membuka pita dan membuka kotaknya.Lampu jalan remang-remang. Cah
Maggie tahu Easton masih marah padanya, tetapi dia tidak ingin membujuknya. Di pinggir jalan, dia menghentikan sebuah taksi dan menyebutkan alamat tujuan.Kota Jostam gemerlap dan penuh kemewahan. Saat malam tiba dan lampu-lampu mulai menyala, gedung-gedung tinggi di kejauhan berkilau memantulkan cahaya. Jalanan kota tampak ramai bagai mimpi.Maggie bersandar di jendela mobil dan menelepon Owen. Telepon segera diangkat. Nada suara di seberang terdengar terkejut sekaligus senang. "Maggie, sudah malam begini, ada apa?""Kak Owen, rekaman itu ulahmu?" Maggie tak berniat berbasa-basi, langsung ke inti persoalan.Owen terdiam sesaat. "Ya, kamu sudah tahu?""Kenapa?" tanya Maggie pelan. Angin malam musim panas bulan Agustus berdesir di telinganya.Dia merasa bingung, tak mengerti kenapa kakak kelasnya merekam audio itu dan kenapa pula mengirimkannya kepada Easton.Owen menggenggam ponselnya erat, bertanya dengan gugup, "Dia cari masalah denganmu ya?""Kak Owen, bisa jelaskan kenapa kamu mela
Teresa yang bermata tajam langsung meraih tangannya. Suaranya sampai sedikit bergetar. "Ini serius?"Maggie mengikuti arah pandangannya. Cincin berlian merah muda di jari manisnya berkilau di bawah sinar matahari. Berlian utama sepuluh karat itu benar-benar sulit untuk diabaikan.Jari Maggie tanpa sadar sedikit melengkung. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap Teresa dengan mata jernih, lalu tersenyum santai seolah-olah tak peduli. "Hadiah dari teman. Palsu kok. Cuma pakai buat iseng.""Siapa?" Mata Teresa langsung berbinar, seperti mencium gosip besar. "Teman apa? Cowok atau cewek? Easton?"Maggie ragu sejenak, lalu menggeleng. "Bukan dia.""Beberapa hari lalu ada pengusaha kaya dari Gandri yang melelang berlian merah muda tujuh karat, sampai masuk berita. Katanya tingkat kemurniannya biasa saja, tapi warna berlian itu langka, apalagi yang karat besar. Harganya susah ditaksir. Yang tujuh karat itu laku sampai delapan digit."Maggie tersenyum. "Sudah kubilang palsu. Kalau asli, mana m
"Kakak kelasmu itu licik sekali. Katanya dia berharap kamu bahagia, tapi diam-diam mengirim rekaman seperti itu kepadaku, mau mengadu domba hubungan kita."Dengan emosi meluap, Easton merobek pakaiannya, lalu membuka mulut dan menggigit lehernya.Rasa nyeri bercampur kebas menjalar ke seluruh tubuh. Di tengah perlawanan, perut bagian bawah Maggie tiba-tiba berkontraksi. Wajahnya langsung memucat karena sakit.Rasa nyeri yang begitu familier membuat alarm dalam diri Maggie berbunyi keras. Dia mengangkat tangan dan menampar Easton.Easton berhenti. Kesadarannya sedikit kembali. Dengan satu tangan bertumpu di kepala ranjang, wajahnya penuh keterkejutan saat menatap Maggie dalam diam.Tubuh Maggie gemetar tak terkendali. Ujung jarinya dingin. Kontraksi di perutnya tak kunjung reda. Bahkan suaranya ikut bergetar. "Easton, kamu mabuk."Sebenarnya dia ingin berkata bahwa dirinya hamil dan merasa takut, jadi tolong jangan seperti ini.Namun, saat berhadapan dengan sepasang mata hitam legam itu






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
