Julio mendesak semua orang untuk segera masuk ke dalam rumah. Mereka berempat khawatir Felicia akan mengatakan hal buruk tentang mereka di depan ibu mereka. Selain itu, tidak baik juga bicara terlalu lama di luar. Jadi mereka pun bergegas masuk.Setelah Felicia membawa Odelina ke dalam rumah, semua orang menatap Odelina dan merasa Odelina terlihat sangat familiar. Patricia duduk diam di kursi kebesarannya. Kursi di sebelahnya penuh sudah penuh, semuanya anggota keluarga Gatara yang berstatus tinggi.“Odelina, kamu sudah datang.”Patricia berkata dengan sungkan, lalu menyuruh pengurus rumah tangga., “Ambil bangku untuk Bu Odelina.”Odelina mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Saat pengurus rumah tangga membawakan bangku kecil untuknya, dia pun berkata pada Patricia dengan nada menyindir, “Kalau Bu Patricia nggak berniat menjamu tamu, nggak perlu berpura-pura lagi. Aku datang dari jauh, Bu Patricia suruh orang tunggu lama di Blanche Hotel untuk undang aku ke sini. Tapi nggak a
“Odelina.”Felicia berjalan ke depan Odelina dan minta maaf dengan sungguh-sungguh. “Odelina, mamaku sudah tua, agak linglung. Tutur kata dan perbuatannya sedikit keterlaluan. Aku wakili mamaku minta maaf padamu.”Odelina justru berkata, “Masalah ini nggak ada hubungannya dengan Bu Felicia. Bu Patricia nggak perlakukan aku sebagai tamu, aku juga nggak perlu berlama-lama di sini. Selamat tinggal.”Usai berkata, Odelina membawa tim pengawalnya berjalan melewati Felicia dan keluar dari rumah. Patricia sangat marah pada putri kandungnya, juga kesal setengah mati dengan sifat keras Odelina.Saat Patricia pergi ke Kota Mambera untuk menemui Yuna, Yuna mengajukan permintaan padanya. Yaitu mengizinkan Odelina bersaing dengan Felicia, juga memperlakukan Odelina sebagai penerus keluarga Gatara serta memberikan Odelina status serta hak sebagai penerus keluarga Gatara.Bagaimana mungkin Patricia mau memenuhi permintaan Yuna? Patricia tahu Odelina datang ke sini dengan membawa rencana Yuna untuk me
“Malam ini, Odelina bukan hanya tamu terhormat keluarga Gatara. Kami juga ingin memberitahu kalian semua siapa dia, seperti apa statusnya di keluarga kita. Setelah pulang dari sini, semua yang ada di sini harus beritahu orang rumah. Kelak kalau bertemu Odelina di jalan, harus bersikap hormat padanya.”Semua orang spontan melihat ke arah Patricia. Patricia sangat tidak senang dengan putrinya yang mengambil keputusan secara sepihak. Namun, dia juga memahami kalau cepat atau lambat, putri kandungnya itu akan menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam keluarga ini.Mengangkat Odelina dan memberinya status penerus juga merupakan sebuah ujian besar bagI Felicia. Fani tidak berhak bersaing dengan Felicia, tapi Odelina berhak. Patricia berpikir karena putrinya bersedia mengangkat status Odelina dan bersaing secara adil dengan Odelina, maka Patricia akan mengikuti keputusan putrinya itu. Jika Felicia menang, keturunannya juga bisa meneruskan posisi sebagai kepala keluarga dengan percaya diri ta
“Kalau suatu saat kamu butuh bantuan, kamu harus beritahu aku. Aku nggak berani bilang aku bisa lakukan apa pun di Kota Cianter. Seenggaknya aku punya koneksi yang luas, bisa bantu kamu dalam banyak hal. Kamu datang ke sini kali ini untuk berbisnis, kan?”“Tentu saja untuk berbisnis. Untuk apa lagi kalau bukan untuk bisnis? Bu Patricia kira untuk apa aku datang ke sini?” Odelina bertanya balik kepada Patricia.Patricia tertawa pelan. “Aku kira kamu datang untuk kembali ke keluarga Gatara dan ubah nama belakangmu jadi Gatara.”“Aku nggak ganti namaku. Selama darah keluarga Gatara mengalir di dalam tubuhku, aku tetap keturunan keluarga Gatara. Ubah nama atau nggak, itu nggak bisa menghapus fakta kalau aku keturunan kepala keluarga Gatara sebelumnya.”Patricia, “....”Odelina adalah Yuna kedua. Dia selalu mengucapkan kata-kata yang menusuk pada Patricia. Sifat dan kemampuan Yuna sangat mirip dengan kakaknya Patricia, benar-benar seperti pinang dibelah dua. Dengan kata lain, dalam garis ke
Patricia spontan mengerutkan kening ketika mendengar hal itu. Kemudian, dia meletakkan sendok di tangannya. Dia berdiri dan berkata pada anak-anaknya, “Pak Riko datang. Kalian ikut aku keluar sambut Pak Riko.”Patricia tidak kaget Ricky datang ke sini. Karena di belakang Odelina ada keluarga Adhitama dan keluarga Sanjaya. Identitas dan status Ricky membuat orang takut padanya. Namun, kekuatan keluarga Adhitama di Kota Cianter tidak sekuat keluarga Arahan. Patricia takut pada keluarga Arahan.Riko datang tanpa diundang, mungkin karena diajak Ricky untuk mendukung Odelina. Kedatangannya seolah memberi isyarat kepada keluarga Gatara kalau Odelina juga memiliki bekingan di Kota Cianter. Keluarga Arahan adalah bekingan Odelina.Fani seketika menjadi gugup ketika mendengar Riko datang. Dia segera melihat pakaian yang dia kenakan malam ini. Dia tahu ibunya hanya mengundang Odelina, jadi dia pun tidak terlalu memakai gaun, hanya mengenakan pakaian santai. Haruskah dia naik ke atas dan ganti ba
Fani tidak ingin pergi, tapi ibunya juga sudah menyuruhnya. Ditambah lagi ada Riko di sini. Kalau Fani tidak mengantarkan makanan untuk ayahnya di atas, Riko akan beranggapan kalau dia putri yang tidak berbakti.Semua orang di Kota Cianter tahu kalau orang keluarga Gatara lebih menyayangi Fani daripada Felicia. Semua orang bilang kalau orang tuanya pilih kasih, lebih sayang Fani yang notabene hanya seorang putri palsu, malah memperlakukan Felicia si putri kandung dengan buruk.Jika Fani tidak berbakti, maka semua citranya akan hancur. Fani ingin bergantung pada keluarga Gatara, lalu menikah dengan keluarga kaya dan menjadi seorang nyonya. Oleh karena itu, dia harus menjalankan perintah ibunya walau enggan. Dia pun menyiapkan makanan dan minuman untuk ayahnya, lalu membawanya sendiri ke atas.Dania melihat Fani naik ke atas. Dia pun bertukar pandang dengan saudara iparnya. Setelah itu, mereka kembali makan dan minum seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Odelina memperhatikan
“Mamamu sudah tua, sibuk kerja lagi. Dia menghabiskan seluruh waktunya di perusahaan dan memusatkan perhatiannya untuk melatih Felicia. Nggak pernah berikan perhatian pada Papa. Meskipun Papa juga sudah tua, tapi Papa masih sangat sehat. Masih ada kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Dia nggak penuhi tugasnya sebagai seorang istri, tapi juga nggak bolehkan aku jajan di luar.”Entah karena di bawah pengaruh alkohol atau merasa hanya sedang berdua dengan putrinya. Cakra pun meluapkan semua kekesalannya terhadap istrinya. Fani melihat ekspresi sedih sekaligus marah ayahnya. Tanpa sadar dia duduk dan menemani ayahnya minum.Jauh di lubuk hati Fani, dia masih bersimpati dengan ayahnya. Perjamuan di lantai bawah sana berlangsung meriah. Namun ayahnya, harus bersembunyi di kamar dan tidak berani bertemu siapa pun. Hanya karena ayahnya melakukan kesalahan yang pernah dilakukan banyak pria.Semua orang di bawah masih makan, tapi tidak bisa makan dengan nyaman. Terutama karena ada tiga tamu t
Semua orang di sini mengerti jika Ricky dan Rika datang untuk membela Odelina. Mereka memang tidak pernah mendengar bahwa perempuan itu memiliki kemampuan yang hebat. Namun, ada beberapa keluarga besar yang mendukungnya. Adik kandungnya juga merupakan nyonya muda di keluarga Adhitama.Asal Odelina memiliki keberanian yang cukup, dia tidak perlu khawatir kekurangan modal. Keluarga yang ditekan oleh Patricial tetapi memiliki kemampuan itu mulai berpikir untuk mengambil kesempatan di sini.Odelina tertawa dan berkata, “Selama proyeknya bisa menghasilkan uang, aku pasti akan tertarik. Apakah besok Pak Riko bisa kutemui?”Rika menjawab dengan lembut, “Datang saja, aku ada waktu kapan pun.”Ricky berkata dengan penuh arti, “Rika, kamu begitu baik dengan Kak Odelina. Aku bisa cemburu. Waktu aku datang, kamu selalu bilang sibuk dan nggak peduli. Tapi waktu Kak Odelina datang, kamu justru bilang selalu ada waktu.”Rika mendelik dan menjawab, “Aku dan Kak Odelina merasa cocok.”Felicia terkekeh
Yohanna menyudahi percakapan dia dengan teman baiknya dan masuk ke ruang makan. Dua adik dan ibunya sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Di depan mereka sudah tersedia semangkuk sup hangat yang menunggu untuk segera dinikmati. Di tempat duduk yang biasa Yohanna tempati juga sudah tersedia semangkuk sup, sama seperti yang diberikan untuk yang lain, yang disajikan langsung oleh Ronny. Setelah Ronny memanggil Yohanna untuk makan, dia langsung kembali ke dapur karena di dapur masih ada dua lauk lagi yang harus dia masak agar hidangannya lengkap. Seusai makan siang, Yohanna beristirahat sejenak karena sebentar lagi dia harus segera kembali ke kantor. Sejujurnya Ronny juga sedikit lelah, tetapi dia masih harus melayani tunangannya itu, dan baru bisa benar-benar beristirahat ketika Yohanna sudah berangkat kerja. Di malam harinya, jika Yohanna tidak makan di rumah, Ronny diberi kebebasan untuk bekerja atau terus beristirahat karena keluarga Pangestu masih memiliki koki yang lain untuk
“Bawa juga suami kamu biar dia nggak salah paham. Takutnya nanti dia pikir kamu datang ke rumahku untuk selingkuh.” “... oke. Aku bakal ajak dia juga. Aku mau lihat cowok kayak apa sih yang punya suara merdu begitu. Seharusnya nggak jelek, ‘kan?” Setelah sejenak terdiam, Yohanna membalas, “Kayaknya mending kamu nggak usah datang, deh. Takutnya kalau kamu datang dan ketemu dia, kamu bakal menyesal sudah menikah karena kamu sudah nggak bisa lagi ngejar-ngejar cowok ganteng.” “Wah, berarti dia pasti ganteng banget, nih. Aku jadi makin nggak sabar main ke rumah kamu. Bisa bikin kamu ngomong begitu berarti dia pasti punya muka yang menarik. Yohanna, kalau kamu sudah nggak mau pakai koki yang ini lagi, jangan lupa kabari aku, ya. Biar aku yang pakai dia. Selama ada koki ganteng di rumahku, aku nggak bakal pernah kelaparan lagi.” “Untuk sekarang, aku masih bisa makan masakannya dia, masih belum muak. Dia memang dari dulu hobinya memasak. Mungkin di zaman dulu dia sempat hidup jadi koki bu
Masalahnya, dengan harta dan kedudukan yang ketua kelas miliki sekarang pun, jarak antara dia dan Yohanna masih terlalu jauh. Yohanna berpikir sejenak dan menjawab, “Ketua kelas kita mukanya yang kayak gimana? Aku nggak ingat sama sekali.” Ketika masih bersekolah, ada banyak sekali kaum pria yang berusaha mendekati Yohanna, tetapi Yohanna sedikit pun tidak memiliki perasaan terhadap mereka. Jadi setiap hari dia hanya memasang wajah yang kaku dan dingin. Dari situ dia mendapat julukan “Ice Princess”, dan makin sedikit orang yang berani mendekatinya. Karena terlalu banyak pria yang menyukainya, Yohanna tidak ingat seperti apa wajah mereka semua. Itu karena Yohanna tahu, mereka bukanlah pria yang dia inginkan. Jadi tidak aneh jika Yohanna tidak ingat seperti apa paras ketua kelasnya. “... ketua kelas kita itu dianggap sebagai cowok terganteng di kelas. Masa kamu nggak ingat? Kita kan sekelas sama dia selama dua tahun, lho,” ujar Ruth. “Cowok yang sekelas sama aku selama dua tahun kan
“Sebentar lagi kan tahun baru, yang tua-tua setiap hari kerjanya telepon aku minta aku cepat pulang. Makanya sekarang aku sudah pulang.” Setelah Ruth menjawab pertanyaan Yohanna, sekarang gantian giliran dia yang bertanya, “Kamu kan baru pulang dari perjalanan bisnis, masa sudah langsung ke kantor lagi tanpa istirahat? Kamu terlalu keras kerjanya, kan kamu punya banyak adik-adik yang bisa bantu kamu. Bagi saja tugas kamu sebagian ke mereka. Jangan semuanya kamu tanggung sendiri. Nggak perlu bikin capek diri sendiri.” Ruth sangat memedulikan Yohanna. Mereka berdua adalah teman baik, tetapi semenak Yohanna mengambil alih bisnis keluarga, mereka jadi jarang bertemu karena Yohanna terlalu sibuk. Sering kali mereka hanya berhubungan melalui chat untuk tetap menjaga pertemanan. Untung saja mereka adalah teman sekelas sejak SD. dengan pertemanan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun, tentu tidak akan putus hanya karena Yohanna sibuk bekerja. Yohanna juga sering menjalin hubungan kerja
Yohanna harus membahas masalah pendidikan adiknya dengan kedua orang tuanya. Dia hanya punya satu adik kandung, jadi dia akan sangat mementingkan pendidikan adiknya. Sesibuk apa pun pekerjaan Yohanna, dia akan selalu meluangkan waktu untuk bertanya tentang kegiatan belajar adiknya. Apabila Tommy melakukan kesalahan dan malah dimanja oleh orang tuanya, maka Yohanna yang mau tidak mau harus memarahinya. Tidak peduli Tommy menangis atau merengek manja, kalau sampai Yohanna tahu adiknya bersalah, dia akan memberi pelajaran tegas agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Lalu Yohanna juga akan menyuruh Tommy untuk menuliskan apa saja kesalahannya di atas kertas. Apabila orang tua atau om tante juga melindungi Tommy, mereka juga harus ikut menulis kesalahan mereka. Lihat saja siapa yang masih berani melindungi Tommy ketika dia berbuat kenakalan. Namun tentu Yohanna tidak akan menegur jika Tommy melakukan kenakalan kecil yang masih bisa diterima. Sebagai anak kecil, khususnya anak lelaki, waj
Yohanna spontan tersenyum mendengar ucapan manis adik-adiknya. “Berhubung kalian berdua sudah berbaik hati, kalau begitu aku panggil kakak-kakak yang lain untuk pergi belanja bareng. Siapkan dompet kalian, ya. Aku sudah lama nggak pergi belanja, lho. Kalau sudah pergi belanja nanti, apa pun yang aku suka langsung kubeli.” Kedua kakak beradik itu mengangguk, dan Tommy menyahut, “Biasanya Kak Yohanna sibuk kerja, jadi nggak ada salahnya sesekali belanja. Anggap saja waktu untuk bersantai.” Di antara semua anggota keluarga Pangestu, Yohanna memiliki pekerjaan yang paling sibuk dan paling melelahkan. Sejauh yang bisa Tommy ingat, dia tidak pernah satu kali pun melihat kakaknya pergi berbelanja atau pergi berlibur. Setiap hari dia harus bekerja di kantor, menemui klien, dan pergi dinas ke luar kota. Bahkan di akhir pekan pun Yohanna belum bisa bersantai. Terkadang dia masih harus menemani partner bisnis bermain golf, memancing atau berenang. Namun, hanya partner bisnis penting yang bisa
“Oke! Nanti aku beliin Kakak baju baru,” ucap Tommy. Tommy sama sekali tidak kekurangan uang saku. Ketika tahun baru tiba, para orang tua akan memberikan sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam amplop merah. Sebagian yang itu Tommy serahkan kepada ibunya, dan sebagian lagi dia pakai sendiri untuk membeli barang apa pun yang dia inginkan. Dia juga sangat pandai dalam mencatat keuangannya, dia ingat untuk apa saja uangnya dipakai, atau barang-barang apa saja yang dia beli. Yohanna membungkukkan badannya sedikit dan mencubit pipi adiknya. Mata dan alisnya membentuk setengah lingkaran seperti sedang tersenyum. “Kamu belajar yang benar dan harus nurut sama aku saja aku sudah senang. Nggak perlu beliin aku baju baru. Aku punya uang untuk beli baju baru sendiri.” Di lemari baju Yohanna masih banyak baju baru yang bahkan belum sempat dia kenakan. Biasanya dia sehari-hari mengenakan jas kerja, dan hanya mengenakan pakaian santainya di akhir pekan atau ketika sedang beristirahat di rumah. Ibu
Yohanna tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia langsung keluar dari dapur dan duduk kembali ke sofanya semula. Risa tetap memberikan beberapa camilan yang ada dan berkata, “Yohanna, kalau sudah lapar banget, makan saja sedikit. Yang ini nggak terlalu manis. Koki yang biasa tahu kamu nggak suka manis, jadi gulanya dikurangi.” “Selama aku nggak di rumah, dia pasti bikin sesuai sama selera kalian. Aku nggak bisa makan,” balas yohanna. “Nggak terlalu manis pun aku tetap nggak suka.” Bukan hanya perkara tingkat kemanisan saja, tetapi Yohanna memang tidak suka segala jenis dessert yang dibuat oleh kokinya. “Gimana kalau makan biskuit saja?” tanya Risa khawatir seraya menyodorkan bungkusan biskuit kepadanya. “Atau makan buah juga boleh. Di rumah ada buah yang kamu bisa makan. Dijamin masih segar.” “Nggak usah, Ma. Mama duduk saja, nggak perlu kasih aku ini itu. Setengah jam lagi sup yang Ronny buat sudah jadi. Aku tunggu saja.” Yohanna tidak suka makan buah di saat perut kosong. Biasanya di
Ada sih ada saja, tetapi Yohanna tidak tertarik kepada mereka. Yohanna merasa dia punya selera yang cukup tinggi. “Ma, sudahlah, nggak usah bahas beginian lagi. Aku lapar, aku mau lihat apa ada camilan untuk ganjal perut.” Yohanna pun beranjak dari tempat duduknya karena sudah tidak ingin lagi membicarakan topik tentang pernikahan dengan ibunya. “Selama kamu dan Ronny pergi, dessert yang ada di rumah dibuat sama koki yang satu lagi. Dessert buatan dia terlalu manis buat kamu. Kamu pasti nggak bakal suka,” kata Risa. Walau begitu, anggota keluarga lainnya semua pada suka. Hanya Yohanna saja yang tidak suka. Yohanna masih bisa makan dessert buatan Ronny walaupun tidak terlalu banyak. Ronny mengaku dia tidak begitu pandai dalam membuat makanan manis. Risa pernah mencoba dessert buatan Ronny,dan memang tingkat kemanisannya tidak setinggi koki yang biasa, dan tingkat kelembutannya juga sedikit lebih baik. Mungkin karena itu, Yohanna masih bisa menikmati dessert buatan Ronny. Yohanna pu