Share

Bab 14

Penulis: Piemar
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 19:10:28
Sebelum berpamitan, Jingga berbicara serius pada ibunya. “Bu, maaf ya Jingga harus tinggal di kos lagi. Ibu gak apa-apa kan tinggal sama perawat nanti?” ujar Jingga bernada hati-hati, khawatir menyinggung perasaannya.

“Ibu kan dari dulu bilang begitu,” balas Diana sama sekali tidak keberatan. Namun dia diam sesaat, berpikir keras. “Bayar perawat mahal, Gia. bagaimana bisa kamu membayarnya?”

“Tenang saja, Ibu. Serahkan semua sama Jingga,” jawabnya menepuk dadanya dengan ceria. “You can count on
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 21

    Jingga tidak menyangka jika Arjuna bisa semarah itu padanya hanya karena ucapannya. Mungkin beberapa orang tidak suka membahas keluarga dengan orang asing. Sialnya, ia lupa posisinya juga yang merupakan orang asing yang tiba-tiba saja hidup serumah dengan Arjuna. Kemungkinan kedua, Arjuna tidak suka dengan topik yang dibahas oleh Jingga. Topik tersebut terlalu sensitif soalnya.Beberapa menit kemudian, perjalanan kembali hening. Hanya suara halus mesin AC yang terdengar. Namun, Jingga tiba-tiba teringat sesuatu.Gadis itu menoleh ke arah Arjuna yang masih terfokus pada jalannya. Ia mengamatinya agak lama, berusaha memahami apa sih yang sedang dipikirkan oleh pria dingin itu?Berduaan dengannya seperti berduaan dengan dosen killer yang sedang mengoreksi makalah yang ia buat. Atau, mengoreksi hasil k

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 20

    “Kucing persia?” Suara Arjuna terdengar rendah tetapi berhasil membuat nyali Jingga menciut.Gadis bersurai panjang itu beringsut mundur, melihat wajah dingin si pria es batu. Perkara salah kata saja seperti kejatuhan bom.Namun, ketika bibir Arjuna terbuka hendak memuntahkan kata-kata amarah, suara Saraswati mengusik ketegangan tersebut. Wanita itu datang menghampiri mereka.Jingga mengelus dada berkali-kali akhirnya. Gadis itu memang agak sukar mengontrol sikap spontanitasnya.Wanita berparas teduh tersebut mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Mereka akan melihat Raden Widjayakusuma yang sudah bangun.Pria berusia delapan puluh tahunan itu mengalami penyakit komplikasi hingga stroke ringan yang meny

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 19

    “Cukup,” suara Arjuna terdengar tegas. Semua kepala menoleh ke arahnya. Ke dua tangannya mengepal kuat di atas meja makan. Urat-urat hijau di punggung tangannya sampai terlihat. Sementara itu Jingga merasa aura tak sedap menguar dari suami kontraknya. ‘Please, kalian masa berantem sih gara-gara aku. Sebegitu berharganya diriku,’ batin Jingga, sibuk berhalusinasi di tengah situasi genting saat itu. Gadis berambut panjang hitam nan legam itu bergantian melihat suaminya lalu melihat wanita menor yang berada di seberangnya. Wanita bermulut pedas itu menatap Arjuna dengan tatapan yang diselimuti kebencian. “Kamu merasa kan?” sergah Fani dengan melayangkan tatapan tajam ke arah Arjuna. “Saya tahu, kamu memang cerdik. Tapi gak gini juga! Masa pernikahan dijadikan ajang main-main cuma demi—”Ia memang terus berusaha menyudutkan Arjuna dengan berbagai cara. Ambisinya satu yakni ia ingin harta warisan keluarga besar Widjayakusuma jatuh pada suaminya, Chandra. “Fani, cukup! Apapun yang Arjun

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 18

    Tangan kekar Arjuna melingkar tegas melintasi pinggang Jingga, menarik tubuhnya makin merapat tanpa ampun hingga Jingga terkesiap kaget.Tatapan Jingga dan Arjuna bersirobok sesaat. Namun, Jingga berusaha sekuat tenaga mengendalikan keterkejutannya. Ia sadar, di sini ia berperan sebagai istri sah Arjuna. Alih-alih marah, Jingga justru semakin merapatkan tubuhnya pada pinggul Arjuna.Bagai buah simalakama, kini gantian Arjuna yang terkejut. Matanya mengerjap beberapa kali, tak menduga respon agresif itu.“Kenapa Sayang?”Glek Arjuna meringis mendengar sebutan Sayang dari istri kontraknya. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Mengabaikan panggilan menggelikan itu, Arjuna menggamit tangan Jingga menuju meja makan. Di kursi ujung, Senopati menyambut keponakannya dengan senyum sumringah. Bibirnya hendak bersuara tetapi suara seorang wanita keburu menyelanya cepat. “Akhirnya kau datang juga, Arjuna,” seru wanita paruh baya berpenampilan ala sosialita. Gaun yang dipakainya modis dilengk

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 17

    Jari jemari Jingga saling bertaut tak karuan di atas pangkuannya. Ia merasa gugup sekaligus gelisah pada saat yang sama. Hari ini ia akan diperkenalkan oleh Arjuna kepada keluarga besar Widjayakusuma sebagai istri sah Arjuna. Di dalam kabin sebuah mobil SUV mewah yang dikendarai oleh Arjuna, Jingga duduk di kursi depan di sampingnya. Ia menatap nanar ke arah jalan yang mereka lalui. Tidak ada percakapan sama sekali. Hanya ada suara deru mesin mobil yang halus dan suara desau angin berasal dari luar jendela yang terbuka setengahnya. Sementara itu, Arjuna tetap fokus menyetir, seolah kehadiran Jingga di kursi sebelahnya tak berarti apa-apa. Namun, ketika sekilas melirik ke arah kiri, ia baru menyadari keberadaan istrinya di sana. Terbiasa bepergian seorang diri, Arjuna memang lebih sering menikmati perjalanan dalam diam. “Jingga, jangan panggil saya Bapak di depan keluarga.” Suara bariton terdengar tiba-tiba, mengalihkan pikiran intrusif Jingga kala diam. Jingga menoleh ke arah Arj

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 16

    Keesokan harinya, Pagi-pagi sekali Jingga sudah terbangun. Ia berusaha memompa semangat, menepis sejenak bayang-bayang pernikahan kontrak yang kini menjerat hidupnya. Bagaimanapun, ada hal jauh lebih penting yang harus ia prioritaskan ketimbang terus mencemaskan hal yang belum tentu terjadi—termasuk nasib hubungannya dengan Abimana, pria yang masih bertakhta di hatinya. Setelah mandi pagi hari dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, karena baru selesai tamu bulanannya, Jingga keluar kamarnya. Matanya beredar ke segala arah, mencari sosok suami kontraknya. Pukul enam pagi lewat tiga puluh menit. Seharusnya ia sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun, karena ia belum sempat membeli bahan makanan, alhasil ia tidak bisa melakukannya. Ia berencana sarapan di luar saja.Jendela kaca sudah terbuka lebar, membiarkan dersik angin pagi berembus lembut menyingkap tirai vitrase. Dilihat dari suasana penthouse yang hening, sepertinya Arjuna sudah berangkat kerja.Bukankah ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status