LOGINDi seberang sana terdiam sesaat, tetapi suaranya tetap tenang. "Kamu nggak apa-apa?"Lorraine mengiyakan. Lalu, dia melirik lagi bemper belakang yang hancur mengenaskan itu dan segera mengalihkan pandangannya."Tapi kerusakan mobilnya cukup parah. Bagian belakangnya remuk, lampunya juga rusak. Untuk klaim asuransi, perlu tanda tangan dari tiga pihak. Aku bukan pemilik mobilnya, jadi nggak bisa tanda tangan sebagai perwakilan."Di ujung telepon kembali hening. Lorraine merasa gelisah. Dia yakin Derby pasti marah."Sekarang di mana?""Di kantor polisi.""Dua puluh menit."Telepon pun ditutup.Lorraine perlahan menurunkan tangan yang memegang ponsel. Berdiri di samping bagian belakang mobil yang rusak parah, tiba-tiba dia merasa akhir-akhir ini nasibnya memang sedang tidak cocok dengan mobil.Mulai dari menghancurkan Mercedes baru, lalu Mercedes lamanya mengalami kerusakan, dan sekarang mobil Derby juga ikut rusak karena ditabrak ....Dua puluh menit kemudian, Gilga datang dengan tergesa-
Lorraine mengatupkan bibir. Dia berpikir sejenak, lalu tetap menelepon Delvin. Nada sambung terus berbunyi. Namun hingga panggilan berakhir, Delvin tidak mengangkat teleponnya.Siapa lagi yang bisa dia hubungi? Dilla?Hubungan mereka baru saja putus.Alyssa?Gadis itu sudah bekerja mati-matian demi studio. Lorraine juga tidak tega membangunkannya selarut ini dan memintanya datang jauh-jauh ke kantor polisi. Lorraine mengangkat kepala dan menatap polisi wanita itu.Dengan tulus dia bertanya, "Kalau nggak ada yang datang untuk jamin saya, apa yang akan terjadi?"Polisi wanita itu menjawab dengan nada resmi, tetapi ada sedikit rasa iba di matanya."Anda akan tetap ditahan di kantor polisi. Masa penahanan normal adalah tiga hari dan dapat diperpanjang hingga tujuh hari. Kalau ada keadaan khusus, masa penahanan bahkan bisa diperpanjang hingga tiga puluh hari."Mendengar itu, Lorraine menarik napas dalam-dalam. "Bisa nggak saya cari orang untuk menjamin saya besok siang saja?"Polisi wanita
Lorraine tanpa sadar mengangkat lengan untuk melindungi matanya dari cahaya yang menyilaukan. Sebuah Cullinan hitam berhenti dengan mantap di belakang mobilnya.Lampu mobil dimatikan dan pintu mobil terbuka. Derby turun dari mobil. Mantel panjang hitam yang dikenakannya membawa samar-samar aroma alkohol, sepertinya berasal dari jamuan makan yang baru saja dihadirinya.Di bawah cahaya bulan, posturnya tetap tegap, sementara sorot matanya tajam dan tegas. "Baru pulang selarut ini?"Lorraine menggeleng pelan. "Aku malah baru mau keluar."Pikiran Lorraine sedang dipenuhi banyak hal dan pikirannya terasa kacau. Karena itu, dia tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Derby berjalan menuju pintu masuk gedung.Namun siapa sangka, musibah datang berturut-turut. Mobil Lorraine sama sekali tidak mau menyala, seolah-olah sudah mati total. Lorraine mencoba menghidupkannya berulang kali.Tidak berhasil.Dia mengentakkan kaki ke pedal dengan kesal, lalu mengangkat
Lorraine masuk ke dalam mobil dan mengirim pesan kepada Rosabel. Dia mengatakan bahwa urusannya sudah selesai dan Rosabel tidak perlu datang lagi. Setelah meletakkan ponselnya, Lorraine menatap bayangannya sendiri yang terpantul di kaca spion.Matanya merah. Wajahnya pucat pasi. Dia langsung mengangkat lengan bajunya dan mengusap air mata dengan kasar.'Jangan menangis. Delvin tidak pantas mendapatkannya.'....Delvin sedang duduk di sofa sambil menangani dokumen. Vanessa mengenakan celemek dan sibuk memasak di dapur. Keduanya hidup bersama layaknya pasangan suami istri.Vanessa menghidangkan makanan ke meja. Dengan gembira dia memanggil Delvin, "Pak Delvin, makanannya sudah siap."Delvin meletakkan laptopnya, lalu berjalan menuju ruang makan. Dia langsung merangkul pinggang Vanessa dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel ke perutnya. Sebelum duduk makan, mereka terlebih dahulu bertukar ciuman yang panjang dan mesra."Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini."Wajah Vanessa memer
Setelah berkata demikian, Lorraine mengulurkan tangannya. Tandi langsung menggenggam tangan Lorraine. Selama tiga detik penuh, dia tidak melepaskannya. Lorraine menarik tangannya dengan kuat."Pak Tandi, mari duduk dulu. Sebentar lagi teman saya juga akan datang."Tandi langsung duduk. Tubuhnya bersandar santai pada kursi, sementara tatapannya menyapu tubuh Lorraine tanpa sedikit pun rasa sungkan."Sampai-sampai bawa teman juga? Takut aku ngapa-ngapain kamu? Anggap aku bukan orang baik?"Lorraine tersenyum sopan sambil menggeleng. "Tentu bukan begitu. Pak Tandi pintar bercanda ya."Tandi mendengus ringan. "Aku tahu, kamu ingin bertanya kenapa proposal tender dari studiomu ditolak, bukan?"Tanpa memberi kesempatan Lorraine berbicara, Tandi langsung melanjutkan, "Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerja sama dengan stasiun televisi daerah untuk acara sebesar ini. Mana mungkin mereka memercayakannya sama studio yang hanya punya empat karyawan? Kudengar kalian bahkan nggak punya pabrik kemb
Lorraine hampir tersedak oleh ludahnya sendiri. "Jangan bicara sembarangan! Nanti aku marah!"Nisya langsung menjepit bibirnya sendiri dengan kedua tangan.Setelah makan malam, Rosabel datang. Dengan wajah tergesa-gesa, dia menarik Lorraine masuk ke kamar."Ada apa?""Jujur sama aku, kenapa kamu mencari tahu tentang orang yang bertanggung jawab meninjau proposal tender di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan?"Lorraine menjelaskan, "Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerja sama dengan stasiun televisi daerah dan sedang membuka tender untuk studio atau perusahaan kembang api yang akan menangani pertunjukan kembang api malam pergantian tahun.""Proposal tender dari studio kami baru dikirim kurang dari satu jam, tetapi langsung dikembalikan dengan alasan nggak memenuhi syarat. Aku ingin tahu sebenarnya bagian mana yang nggak memenuhi syarat."Ekspresi Rosabel tampak agak buruk. Dia ragu-ragu cukup lama. Akhirnya dia berkata dengan suara pelan, "Hari ini aku makan bersama teman-teman di kelab, d







