Share

Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa
Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa
Penulis: Aku_Ram

Bab 1 Kiriman Foto

Penulis: Aku_Ram
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-10 12:47:49

Gadis yang baru saja selesai mengepel lantai itu mendengus kesal. Ponsel disakunya terus saja berdering. Namun, melihat nomor asing yang sama sekali tak dikenalinya, Lea memilih untuk mengabaikannya.

Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan panggilan telpon melainkan sebuah pesan. Merasa tergelitik, akhirnya gadis cantik itu mengunduh pesan gambar yang diterimanya.

Deg!

“Apa-apaan ini?” batinnya mulai bergemuruh.

Terlihat pria yang tak asing itu duduk bersama seorang gadis seksi. Hanya saja, wajah wanita itu tidak terlihat jelas karena mengarah pada pipi sang pria. Pria yang tak lain kekasihnya.

“Wanita ini cuma berbisik atau lagi nyium Kak Heru sih?!” gumam gadis berambut panjang itu kesal bukan main. Rasanya ingin meroyok wanita itu seperti kertas pembukus roti. Sialnya, sang kekasih malah tersenyum lebar dalam foto itu.

Tanpa pikir panjang, Lea menghubungi Heru. Ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan kekasihnya. Setidaknya, ia tidak boleh berburuk sangka. Lea harus memastikannya lebih dulu demi keutuhan hubungan mereka.

Panggilan pertama, tidak dijawab. Panggilan kedua, telpon Heru sibuk. Panggilan ketiga, masih saja sibuk. Panggilan keempat, ponsel Heru justru tidak aktif dan berada di luar jangkauan.

Lea tak kehabisan akal. Ia segera mengganti seragamnya. Jam kerjanya sudah berakhir. Setelah tiba di apartemen sederhana tempatnya tinggal, ia meminjam ponsel tetangganya yang juga seorang WNI.

Beruntungnya sang tetangga mau berbaik hati meminjamkan ponsel. Namun, Lea harus menerima kenyataan pahit. Yang menyambutnya, justru suara halus dan serak.

“Halo? Halo? Beb, ada yang telpon kamu,” ucap wanita yang menjawab panggilan telpon Heru.

“Ck, aku masih ngantuk, Sayang,” sahut Heru.

Tangan Lea terkepal kuat. Air matanya jatuh begitu saja. Tetesannya mulai berlomba keluar tanpa mampu melawan gravitasi.

Wanita paruh baya tetangga Lea merasakan ada yang tidak beres. Tanpa bertanya, diusap lengan gadis pekerja keras itu. Air matanya yang berderai sudah menjelaskan jika Lea sedang menerima kabar buruk.

Rasanya seluruh sendi tubuhnya mendadak tak mampu bekerja. Lea merasa jika harapan yang telah lama ia pupuk sirna. Kekalutannya beberapa saat lalu mulai jelas.

Heru ... selingkuh.

Menjalani hubungan LDR memang rentan. Lea akui jika ia seringkali merasa takut jika Heru berpaling. Mereka terpisah jarak yang cukup jauh.

Tubuh mungil setinggi 158 cm itu masih membeku di tempatnya. Terbayang akan keputusannya beberapa bulan lalu untuk tetap tinggal dan bekerja di Singapura sambil menyelesaikan pendidikan magisternya.

Tak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pulang. Lea akhirnya memanfaatkan visa pelajar yang tersisa dan menyambungnya dengan visa liburan. Tujuannya untuk menghasilkan uang lebih.

Papanya juga sudah meninggal. Lea cukup tahu diri untuk tidak jadi beban siapapun. Termasuk Heru.

“Ada apa, Nak Lea?” tanya wanita paruh baya itu berempati.

“Saya harus pulang secepatnya ke Indonesia, Bu. Ada sesuatu yang penting. Sebelum itu, saya harus mencari uang lebih banyak agar bisa melunasi biaya sewa dan beli tiket pulang,” ungkap Lea mencoba tersenyum disaat hatinya hancur.

“Tunggu sebentar,” ujar wanita itu yang kemudian mengambil selembar brosur kecil.

Lea menerimanya dan membaca informasi yang tertulis di sana. Pekerjaan darurat dengan upah tertentu asalkan kedua pihak sepakat. Jenis pekerjaan bervariasi tergantung klien yang ditemui dalam platform itu.

“Saya sudah mencobanya dan menemukan seorang terapis wanita yang datang mengobati,” jelas wanita itu lagi.

Lea menerimanya dengan secercah harapan. Semoga bisa mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang cukup mahal. Misinya sekarang adalah pulang ke Indonesia secepatnya.

***

Kata pepatah, usaha tak akan menghianati hasil. Dua pekerjaan dalam sehari membuat Lea mendadak berduit. Kurang dari 24 jam setelah tahu perselingkuhan Heru, Lea lekas mencari pekerjaan di platform Any Work.

Ia bahkan mendapatkan satu gaun mahal dari klien wanita. Lea diminta bersandiwara sebagai kliennya dan memutuskan seorang cowok.

“Harusnya dari dulu aku tahu ada lapak kerjaan seperti ini. Aku nggak perlu susah-susah cuci piring sama ngepel lantai,” gumam Lea dengan mata berbinar menatap nominal di rekeningnya.

Kebahagiaan kecil Lea terusik. Nomor misterius kemarin, kembali mengirim foto. Kali ini foto makan malam romatis. Lagi-lagi Lea dibuat kesal karena wajah wanita berambut pirang itu tidak terlihat.

Lea akhirnya kembali menghubungi Heru. Ia ingin tahu apakah Heru masih bersama wanita itu atau tidak. Ia bertekad ingin mengumpulkan banyak bukti.

“Halo, Sayang,” sapa Heru.

“Kamu udah makan?” tanya Lea.

“Udah tadi, makan mie instan. Aku harus berhemat biar bisa punya duit lamar kamu,” jawab Heru.

Lea tertawa bukan karena lucu, tapi sadar telah ditipu. Tanpa bisa ia bendung air matanya kembali jatuh. Namun, lambat laun isakannya mulai terdengar.

“Sayang, kamu nggak usah sesedih itu. Kamu jangan kayak aku yang harus makan makanan instan buat berhemat,” ucap Heru terdengar begitu peduli.

Padahal, Lea tahu kebenarannya. Di seberang sana, kekasihnya itu menikmati menu resto yang cukup mahal.

“Sayang, entar aku telpon lagi ya. Aku lagi lembur sama atasan aku di kantor,” kilah Heru sebelum menutup telpon.

Lea mengusap air matanya lalu berkata, “Kamu benar. Aku nggak harus berhemat. Malam ini aku juga bakalan nyari cowok ganteng biar bisa bikin kamu cemburu!”

Patah hati yang Lea rasakan, ia lampiaskan dengan menenggak beberapa gelas minuman alkohol di bar hotel. Disaat ia hendak meminta sebotol lagi, seorang pria tiba-tiba mencegahnya.

“Berikan saja gadis ini air mineral,” pinta pria itu.

Lea menggeleng pelan. Kepalanya terasa berat dan sosok yang berdiri di dekatnya itu tidak terlihat jelas. Namun, setiap kali Lea hendak meneguk minumannya, sang pria lebih dulu meraih dan mengosongkan gelas itu.

“Om, jangan kasihani aku. Selain papaku, semua pria itu sama. Tukang selingkuh!” racau Lea.

“Kalau begitu, balas dengan selingkuh juga,” saran pria itu.

“Om mau jadi selingkuhanku?” bisik Lea dengan mata terpejam. Pria itu menggeleng.

“Pacar aku selingkuh, Om. Yang jawab telponnya kayaknya cewek seksi,” gumam Lea lagi.

“Kasihan juga kamu. Bukannya di resto tadi, kamu nolak cowok yang makan malam sama kamu?” tanya pria itu tersenyum sambil melonggarkan dasinya.

Lea menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum menggoda ke arah pria itu. “Aku nggak tahu maksud, Om. Tapi yang jelas, aku mau lupain rasa sakit ini. Apa Om mau bantu aku?”

Pria tampan itu tersenyum tipis. Sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Lea, pria itu berbisik, “Jangan salahkan saya, kalau kamu tidak bisa jalan besok pagi.”

***

Aku_Ram

Hai, salam kenal pembaca GN. Ini novel pertamaku di GN,semoga kalian suka dan follow akun penulisku untuk dapatkan notifikasi ceritaku yang baru. tinggalkan komentar dan saran ya...

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 120 Sumber Kebahagiaan

    Nyanyian selamat ulang tahun itu memenuhi ruangan. Balon berwarna putih dan biru memenuhi langit-langit ruangan. Dua boks bayi di dekat Keysa juga menjadi sorotan utama.Hari ini adalah hari ulang tahun Keysa yang keempat. Sekalgus menjadi hari aqiqah bayi kembar Lea dan Angga. Dua bayi laki-laki itu lahir dari program bayi tabung mereka.“Ayah, kenapa Om Juna belum datang?” tanya Keysa cemberut.“Om Juna masih di jalan, Sayang. Tadi Om Juna tolongin orang di ruang operasi dulu,” bujuk Arta memberi pengertian.“Keysa mau titip lilin sama dedek,” ungkap Keysa. Dedek yang dimaksudnya adalah puri sulung Juna dan Melati.Arta mengusap rambut panjang putri semata wayangnya. “Sabar ya, Sayang.”“Cucu nenek jangan sedih. Jangan cemberut juga. Nanti ada yang fotoin wajah jeleknya Keysa bagaimana?” hibur Ivanka. Seketika Keysa tersenyum manis. Gadis itu paling nati disebut jelek.Tak

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 119 Cemburu Sama Duren

    Bulan lalu mereka berkumpul di penthouse Angga. Kali ini, mereka semua berkumpul di rumah keluarga Juna. Mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan Juna dan Melati.Firmansyah, ayah Melati tampak berbincang dengan Gani. Papinya Juna belum kembali dari luar negri, sehingga Gani mewakili semua pembicaraan untuk iparnya. Mau bagaimana lagi, Juna ingin menikah akhir tahun ini juga.“Saat adik ipar saya mendengar lamaran putranya sudah diterima, dia langsung mengajukan permohonan kembali ke Indonesia. Sebagai dokter militer, ini pertama kalinya dia ingin pulang cepat dari wilayah konflik. Mungkin karena konflik yang satu ini, adalah salah satu masalah terbesarnya juga,” komentar Gani menunjuk keponakannya yang baru saja pulang.“Om kok ngomong kayak gitu di depan ayah mertuaku?” protes Juna merebahkan tubuh lelahnya di bean bag. “Aku ini anak baik, Om. Nggak kayak Angga.”“Tapi keras kepala kalia

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 118 Kejutan Tak Terduga

    Sejak dua jam lalu, Angga tidak berhenti cemberut. Penthouse miliknya sudah dipenuhi banyak tamu yang tidak diundang. Mereka beralasan ingin merayakan kesembuhan Lea yang hari ini sudah keluar dari rumah sakit.“Kapan kalian mau pulang?” tanya Angga.“Kapan-kapan,” jawab Juna.“Entar,” sahut Seno.“Mungkin malam, Pak CEO,” komentar Melati.“Bunda belum selesai bergosip sama Lea,” tambah Ivanka yang mengupas kulit buah apel.Sejak menantunya berhasil ditemukan, sikap wanita itu pada Lea, berubah total. Terlihat ia begitu perhatian. Bahkan, Ivanka tak malu mengakui jika ia ingin membayar kesalahannya pada Kayla, menantu pertamanya dengan mencurahkan banyak perhatian untuk Keysa dan Lea.“Pappa ….” Keysa memanggil dan mengulurkan potongan buah apel pada Angga.“Hap!” Angga memakan potongan buah itu dan ikut menjepit jari Keysa dengan bibirny

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 117 Kesempatan Kedua

    Heru tak pernah beranjak sejak Sonia menjalani persidangan. Sebisa mungkin ia berada di sisi Tari. Meski berkali-kali Tari mengusirnya pergi, tapi Heru sadar jika Tari membutuhkannya.Belajar dari semua kesalahannya. Belajar dari Angga dan Lea. Belajar dari komentar dan cibiran orang-orang padanya. Heru tahu jika keputusannya pagi itu untuk menghentikan Sonia menjadi titik balik kehidupannya.Penyesalannya setelah jatuh ke titik terendah dalam hidupnya telah Tuhan dengarkan. Dirinya diberi kesempatan kedua setelah terbukti tidak terlibat dalam rencana Sonia. Justru, ia berusaha mencegah Sonia mengubur Lea hidup-hidup.Seno yang terus mengawal kasus penculikan Lea dan Keysa, bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Pria itu mengaku tidak menyukainya, tapi menghargai upayanya untuk berubah.Tidak mudah menghapus rasa sakit hati. Tidak mudah menghancurkan ego. Tidak mudah pula untuk mengambil keputusan disaat diri kita mungkin saja akan dituduh sebagai sekut

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 116 Keputusan Gani dan Ivanka

    Romi dijebloskan ke dalam penjara. Ivanka sendiri yang menambahkan tuntutan pada keponakan kesayangannya itu. Keputusan itu Ivanka tegaskan setelah menerima bukti kejahatan Romi dari Seno.Dugaan Angga selama ini ternyata benar. Romi adalah dalang dari kecelakaan yang dialami Arta dan merenggut nyawa Kayla. Yang paling Ivanka sesalkan, ternyata selama ini ia sudah menjadi pion Romi.Selain karena ingin merebut posisi CEO Tanufood, Romi juga maruh dendam lain pada Arta. Romi merasa jika dirinya yang lebih dulu mengenal dan jatuh cinta pada Kayla. Akan tetapi, Kayla lebih memilih Arta dan menerima lamarannya.Kebencian Romi ia tumbuhkan di hati Ivanka. Ia menebar fitnah tentang Kayla sehingga membuat Ivanka tak pernah menyukai gadis itu. Apalagi menerima dengan tulus Kayla sebagai menantunya.“Mbak, tolong ampuni Romi. Putraku hanya khilaf,” pinta ibunya Romi.“Khilaf?” Ivanka tertawa sumbang.Wanita itu berdiri dengan

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 115 Merasa Dikudeta

    Entah kenapa Angga merasa dejavu saat Melati tanpa pertanda langsung membuka pintu kamar rawat inap Lea. “Jangan pingsan di situ lagi!” ucap Angga.Melati menyeringai lalu berkata, “Oh, gagal ciuman lagi ya, Pak?”Angga mendengus kesal. Sepertinya ia harus menjauhkan Melati dari istrinya. Ia juga kesal karena Juna malah senyum-senyum saja. Seakan-akan sepupunya itu menikmati saat dirinya dipojokkan seperti ini.“Lo pakai gigi berapa sih, Jun? Sana lo mojok sama cewek incaran lo. Punya ruangan pribadi nggak dimanfaatin. Gimana sih, lo?!” gerutu Angga. Menurutnya, kecepatan pergerakan Juna sangat lamban.“Sorry, gue bukan lo yang suka maksa Lea,” balas Juna tersenyum dan mempertahankan wibawanya.“Cih, nggak suka maksa tapi cium anak orang yang lagi pulas?” cibir Angga.“Mas Juna cium siapa emangnya, Mas? Belum juga jadian udah selingkuhin Mel!” protes Lea.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status