Share

Sosok Asing

Author: JolaSky
last update publish date: 2024-03-15 23:33:00

“Pak Angga, rapat akan segera dimulai. Apakah bapak sudah siap?”

Suara Chris berhasil memecah keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Angga berbalik, seiringan dengan serpihan lamunan yang buyar berserakan di kepalanya.

“Aku sudah siap.”

Ruang rapat Sudah dihadiri oleh beberapa.komisaris perusahaan. Semua mata tertuju pada Angga ketika langkah kakinya memasuki ruangan besar itu.

Sorot keji dan tak suka sudah menghujani Angga sejak kedatangannya beberapa saat lalu.

“Selamat pagi dan selamat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Menuntut Penjelasan

    Ruangan itu serba putih. Memancarkan ketenangan sekaligus aroma yang mencekam dari obat-obatan di lemari belakang Dokter Henry. “Silahkan duduk, Nova. Pastikan kau menemukan posisi nyaman selama sesi ini.” Suara derit kursi yang Nova tarik, memecah hening di sana. Pandangan Nova menyebar ke segala arah. Memastikan dia aman berada di sana dalam kurun waktu satu jam ke depan. Dokter Henry masih diam, tapi Nova tahu pria itu memastikan setiap gestur yang Nova tunjukkan menghasilkan catatan pemeriksaan yang akurat. Hingga hening berlalu tepat ketika Dokter Henry kembali berucap, “Jadi, apa yang bisa kamu ingat, Nova?” Keliman bibir Nova semakin dalam, pikirannya mulai dipenuhi kekacauan yang tak beraturan. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana,” katanya dengan suara pelan dan tak yakin.Dokter Henry tersenyum lembut. “Aku tahu ini bukan hal mudah. Menarik kembali benang ingatan masa lalu yang sudah lama dipaksa redam seperti kembali mengorek luka yang nyaris mengering,” ucapnya ten

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Sekutu

    Sebuah mobil hitam pekat berlogo kuda berhenti tepat di lobi sebuah rumah sakit. Satu ajudan sudah berjaga untuk kedatangan Sang Tuan dan Nyonya besar yang baru saja kembali ke tahtanya. Dres putih polos dari salah satu desainer ternama dunia membalut tubuh Nova dengan elegan. Memeluk tubuh ramping Nova dalam kehangatan diantara syaraf-syarafnya yang menegang. Setiap langkah Nova adalah sebuah pertaruhan masa depan. Begitu juga dengan setiap kata yang akan dia sampaikan di hadapan psikiater profesional. “Kau sudah siap?” tanya Angga dan langsung mendapat anggukan mantap dari istrinya.Langkah Angga terhenti sejenak di sisi mobil. Memastikan setiap gestur tubuh Nova menegaskan sebuah pernyataan tentang kesetaraan level di antara keduanya. Sorot mata penasaran dari pasien rumah sakit menghujani kedatangan mereka, mengiringi langkah pasangan suami istri itu hingga pintu kaca lobi tertutup. Ruang praktik Dr. Henry berada di paling ujung lorong lantai dua rumah sakit ini, tetapi, salah

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Hari Baru

    Fajar menyelinap di antara celah gorden beludru abu-abu yang menjulang tinggi, membawa seberkas cahaya pucat yang membelah kegelapan kamar bernuansa hitam-putih itu. Angga sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. Matanya yang memerah menatap lurus ke arah langit-langit, sementara lengannya masih setia menjadi bantalan bagi kepala Nova. Wanita itu masih tertidur lelap, wajahnya tampak begitu damai—sebuah ironi besar jika mengingat badai darah dan air mata yang sedang mengintai di luar dinding kamar kedap suara ini.Angga perlahan menarik lengannya dengan sangat hati-hati, tidak ingin mengusik ketenangan semu yang sedang dinikmati istrinya. Ia bangkit, memungut jubah mandi sutra hitamnya yang tergeletak di lantai, lalu melangkah menuju jendela besar. Di luar sana, kota tampak begitu sibuk, bergerak tanpa peduli pada satu jiwa yang sedang berada di ambang kehancuran.Pikiran Angga melayang kembali pada tumpukan berkas yang sengaja ia kunci rapat di dalam laci meja kerjanya. Lap

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Takut yang Tenggelam

    Lampu kamar yang temaram melukis bayangan tubuh Angga dan Nova di dinding polos berwarna putih yang mengelilingi mereka.“Ahh.. Angga… Kau… sialan!” Nova melenguh nikmat. Dagunya terangkat tinggi dengan rahang jenjangnya yang semakin tegas karena sentuhan bibir Angga di sana.“Kau … Candu, Sayang.” Angga menimpali. Suaranya berderak di telinga Nova.Di dalam kamar yang didominasi oleh perpaduan warna hitam dan putih yang tegas—mencerminkan karakter pemiliknya—Angga tidak membiarkan satu jengkal pun dari waktu yang bergulir terbuang sia-sia. Pria itu memacu gairahnya dengan kelembutan yang justru terasa begitu mematikan bagi pertahanan Nova. Setiap sentuhan, kecupan, hingga bagaimana jemari kokoh Angga menelusuri lekuk tubuhnya, terasa begitu mahir. Angga tahu persis di mana titik-titik yang bisa membuat Nova bertekuk lutut, melupakan segala batasan yang sengaja ia bangun selama ini.Sentuhan Angga malam ini bukan sekadar pemuas dahaga biologis, melainkan sebuah serangan yang perlahan

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Kala Masa Depan Menjanjikan

    Denting alat masak saling beradu. Tanpa bantuan satupun asisten rumah tangga, Nova menaruh seluruh fokusnya pada kesepuluh jemari lentiknya dalam mengolah setiap bahan makanan di depan mata. Uap panas mengudara lalu menghilang ditelan cooker hood. Gerakan tangan Nova cekatan mengaduk kuah sup di dalam panci berukuran sedang. Aroma Umami menguar memenuhi setiap sudut dapur. Ditemani alunan musik jazz lembut nan samar dari pengeras suara yang tersambung dengan ponsel, Nova menggumam pelan mengikuti alunan musik. Suara mangkuk dan piring kini berdenting dengan keras saling beradu menandakan masakan yang nyaris satu jam lamanya dibuat, siap untuk disajikan. Namun, kebebasan Nova sejak tadi tak berlangsung lama. Udara yang semula hanya untuk dirinya, kini harus dibagi oleh seseorang yang melangkah mendekat ke arahnya. Sepasang tangan besar merengkuh pinggulnya erat dan posesif seakan seluruh tubuh Nova mutlak miliknya saja. “Aku menepati janjiku,” ucap sosok di balik tubuh ramping Nova

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Janji Panas

    Di balik pintu ruang kerja Angga, tanpa orang-orang itu ketahui, Nova merekam setiap kata yang terucap dari mereka dalam diam. Tubuhnya mematung kaku. Tahu bahwa semua masalah ini akan segera usai meski dengan jalan yang rumit. Tepat setelah dia memastikan obrolan Angga dan dua orang lainnya tak lagi tentang hal yang membuatnya penasaran, Nova menarik dirinya. Beranjak dari sana dengan langkah pelan tapi pasti. Kedua tangannya saling berkaitan gelisah, kepalanya seketika berisik dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan ketakutan. “Nyonya Nova?” panggilan itu menghentikan langkah Nova di ujung paling dasar tangga menuju kamarnya. Disusul langkah kaki segan mendekat. “Ada apa, Sus?” “Itu, Nyonya, Non Celva dari tadi nggak mau disuapi makan. Sudah saya bujuk, tapi Non Celva tetap tutup mulut,” ucap sang asisten rumah tangga. Sejak Rachel pamit dari rumah itu, Angga merekrut seorang pengasuh profesional untuk membantu Nova mengurus Celva dan Noah. Namun, sejak saat itu pula, segala dram

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   My Heart Landed In Jakarta

    Empat jam sisa penerbangan sebelum mendarat di Jakarta dilalui Angga, Nova, bahkan Chris dalam keheningan. Namun, dibanding Chris yang tidak mendapatkan efek apapun dari tragedi tadi, ada Angga yang kini melangkah di sepanjang lounge bandara dengan segala pikiran berkecamuk. Meski begitu, perhatia

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Selamat Tinggal Korea

    Di lobi bandara, tiga orang berdiri sambil menyibukkan diri menata perasaan masing-masing. Selain tiga orang itu, ada Chris yang sibuk menurunkan koper bersama supir pribadi Mario. Sesekali pria itu mengecek ponsel, memastikan mereka tidak datang terlambat. “Semuanya sudah siap, Tuan. Kita bisa ma

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Terjebak Dalam Belenggu Dosa

    Semilir angin menerpa wajah Nova , terasa menyegarkan namun tidak mampu mengangkat sedikit beban berat yang sedang ia pikul saat ini. Ia duduk sendirian di taman yang terhubung langsung dengan kolam renang gedung apartemen Mario seorang diri. Pandangannya mengedar, memperhatikan aktivitas penghuni

  • Pernikahan Jebakan Kakak Mantanku   Cincin Tanda Jadi

    “Kamu suka cincinnya?” Angga duduk di samping Nova ikut menatap cincin lamaran yang baru saja disematkan di jari Nova. Wanita itu mengangguk cepat. Matanya tidak lepas dari jari manis yang dilingkari cincin berlian warna biru muda. “Cantik sekali cincinnya. Kamu sangat tahu seleraku.”Angga terke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status