LOGINTidak seperti biasanya, sosok kejam yang disebut sebagai tiran monster itu kini tengah berdiri di depan cermin. Dia menatap pantulannya sendiri di sana, manik merahnya itu mengarah tepat pada topeng berwarna hitam yang melekat di wajah sebelah kirinya.Albert terdiam, dengan kepala yang mengingat ucapan Isolde beberapa waktu lalu.Wanita itu mengatakan jika urat hitam sebagai tanda kutukannya sudah mulai memudar. Albert memang mengetahui itu, tapi tetap saja dia masih belum merasa yakin jika harus melepaskan topengnya ini.Tapi hari ini, entah kenapa perasaannya terasa berbeda.Satu tangan Albert bergerak, membuka topeng yang melekat di wajah sebelah kirinya itu.Kini, terpampanglah dengan jelas kondisi wajahnya yang sebelumnya selalu tertutup. Isolde tidak salah, urat hitam di sana memang sudah tidak sepekat seperti dulu. Warnanya sedikit memudar…Albert menunduk, mungkinkah ini memang hasil dari setiap malam dirinya menyentuh Isolde saat tidur. Apakah efeknya bisa senyata ini?“Pada
Seperti yang sudah dikatakan Duke Kain, hari ini juga dia dan Isolde akan kembali pulang ke wilayah Utara. Tidak seperti sebelumnya, Isolde tidak datang ke kediaman Marquess Llewellyn terlebih dulu. Niatnya memang seperti itu. Tapi, siapa sangka jika tanpa teruduga sebelum menaiki kereta dia dan Albert bertemu lebih dulu dengan Roselyn juga kedua orang tuanya.Lebih tepatnya kedua orang tua kandung Isolde.Mereka terus menemani wanita itu, layaknya putri kandung mereka. Sementara Isolde, yang notabenenya adalah darah daging mereka justru diperlakukan layaknya orang asing.“Kakak,” panggil Roselyn yang datang menghampiri Isolde dengan langkah yang sedikit ia percepat. Senyum lebar terukir di bibir tipisnya, seolah memberitahu jika hatinya tengah merasa begitu bahagia saat ini.Sementara Isolde, ia yang mendengar panggilan itu lantas menoleh, tatapan dinginnya sontak membuat Roselyn menyadari sesuatu.“Maksud saya Duchess Kain. Maaf atas kelancangan saya,” ucapnya sambil menunduk merasa
Albert membuka pintu kamarnya dan Isolde, dia masuk ke dalam dan melihat Isolde yang berdiri di depan jendela.Wanita itu hanya terdiam, melihat taman istana yang memang bisa terlihat dari sana.Entah kenapa sejak upacara pembuktian tadi pagi, Isolde menjadi sedikit diam hari ini. Dia akui, Isolde memang tidak banyak bicara. Dia dingin dan hanya mengatakan hal yang ingin dikatakannya.Tapi, dari penglihatannya saat ini. Diamnya Isolde sudah tampak sedikit berbeda.‘Apa dia masih memikirkan yang terjadi di kuil? Mungkinkah dia sangat kecewa karena merasa gagal untuk yang kedua kalinya,’ batin Albert.Menyadari jika apa yang dipikirkannya kemungkinan benar, Albert mendekat. Dimana hawa panasnya yang menyebar dan membuat udara mendesis itu langsung disadari oleh Isolde.Ekor matanya melirik Albert yang datang mendekat dan berdiri tepat di sampingnya.Sama seperti Isolde, arah pandang Albert juga tertuju pad ataman di sana. “Kau baik-baik saja?” tanyanya tanpa melihat pada Isolde.“Apa me
Pupil mata Isolde melebar, dia terkejut setengah mati dengan apa yang saat ini Albert lakukan. Sentuhan di bibirnya yang terasa sangat asing ini, karena ciuman ini adalah ciuman pertamanya.Isolde mematung, dia masih belum tersadar sepenuhnya.Hingga saat dirinya merasakan sapuan lembut yang Albert lakukan, Isolde pun tersentak.Hangat!Satu kata itu yang bisa Isolde pahami saat ini, saat Albert membuka mulutnya Isolde bisa merasakan kehangatan yang sangat jelas melalui napasnya.Lembut!Satu kata lagi yang hadir di kepala Isolde, tidak seperti sikapnya yang dingin dan kejam. Bibir Duke Kain sangat lembut, terlebih ketika bibir itu menyapu bibirnya habis dan menggigitnya dengan sangat pelan.Awalnya, suasana di sana sangat sepi. Seolah mereka kompak merasa terkejut dengan tindakan yang penuh keberanian itu dari Duke Kain, namun sesaat kemudian. Seolah mereka tersadar, suasana di sana pun langsung gempar.Bisikan di sana langsung menyerang, selayaknya ombak di lautan.“Kau lihat, monst
Suara langkah kaki Isolde menggema di altar yang hening.Dia berdiri diam sesaat, memperhatikan sekelilingnya, lalu menatap patung Dewi. Situasi yang sama, seperti di kehidupannya yang dulu.Ingatan mengerikan itu muncul lagi, ingatan akan kegagalannya, ingatan yang membuatnya terkucil dan dimaki oleh banyak orang, bahkan oleh orang tuanya sendiri.“Silakan Duchess Kain.” Imam Agung kembali memberikan perintahnya.Namun, Isolde masih tetap diam. Kedua tangannya tampak terkepal dengan erat, tidak bisa dia ungkiri jika rasa takut akan kegagalan itu masih melekat di hatinya.Di tempatnya Duke Kain menyadari apa yang tengah dirasakan oleh istrinya itu, dia ingin naik dan menghampiri Isolde. Tapi itu melanggar aturan, karena yang boleh pergi ke sana hanyalah Saintess atau calon Saintess.Karena itu, sama seperti Isolde. Albert juga hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.Tindakan Isolde saat ini yang hanya berdiri diam itu, mengundang tanda tanya dari orang-orang yang ha
Lonceng Kuil Suci berdentang 7 kali. Gema sakralnya menyapu seluruh sudut ibu kota selatan yang hangat. Suara logam berat yang bertalu-talu itu memecah keheningan fajar, menandai dimulainya hari pembuktian yang memang sudah dinantikan seluruh kekaisaran.Hari dimana calon Saintess harus membuktikan anugerahnya di hadapan Dewi. Saat gema ketujuh perlahan menyusut menjadi kesunyian yang mencekam, pintu ganda Aula Agung kuil yang terbuat dari kayu ek berlapis emas terbuka perlahan.Sinar matahari pagi khas wilayah selatan yang terik menerobos masuk, menyinari debu-debu yang beterbangan dan menembus kaca patri megah di langit-langit aula. Kilauan cahaya itu langsung menyoroti altar suci di ujung ruangan, tempat di mana air suci ujian telah disiapkan.Di sepanjang karpet beludru merah yang membentang menuju altar, ratusan bangsawan berpakaian mewah sudah berdiri berjejer. Termasuk para pendeta dan juga rakyat jelata. Semuanya hadir untuk melihat kebenaran akan siapakah Saintess asli sesu







