Share

4. A Complication

Author: Arlynta
last update publish date: 2026-08-24 20:06:24

Acara pernikahan itu berlangsung dengan lancar.

Sejak prosesi pernikahan dimulai hingga jamuan makan berakhir, tidak ada satu pun kejadian yang mengganggu jalannya acara. Musik terus mengalun di halaman mansion, para tamu menikmati hidangan yang disediakan, sementara ucapan selamat terus berdatangan kepada kedua mempelai.

Semuanya tampak sempurna.

Menjelang sore, para tamu mulai meninggalkan hotel tempat acara dilakukan. Halaman yang sejak pagi dipenuhi suara percakapan perlahan menjadi lebih sepi. Beberapa pelayan mulai membereskan meja, sementara para pengawal berdiri di beberapa titik untuk memastikan keamanan.

Thalia berjalan berdampingan dengan Childe menuju mobil yang telah menunggu di depan tangga utama.

Gaun putih yang dikenakannya bergerak perlahan mengikuti setiap langkah. Sementara pria di sampingnya berjalan dengan tenang, seolah hari itu hanyalah hari biasa.

Thalia sempat meliriknya sekilas, masih terasa aneh. Childe sekarang adalah suaminya.

Ketika mereka hampir sampai di mobil, langkah Thalia tiba-tiba melambat. Ia menoleh ke belakang.

"Ada apa?" tanya Childe sambil menoleh kepadanya.

Thalia tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju pada seseorang yang berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Jonathan.

Pria paruh baya itu masih berdiri di depan pintu lobi hotel, memandang putrinya dalam diam. Ketika mata mereka bertemu, Jonathan tersenyum.

Senyum yang begitu familiar, senyum yang sama seperti ketika dulu mengantarnya ke sekolah, senyum yang selalu ia lihat setiap kali ayahnya menunggu pulang dari les piano, senyum yang sama ketika ia berhasil memainkan sebuah lagu tanpa bantuan gurunya untuk pertama kali.

Thalia membalas senyum itu dengan senyum kecil. Ia ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada satu pun kata yang keluar.

Jonathan hanya mengangguk pelan. Thalia menarik napas sebelum akhirnya berbalik, ia kembali berjalan menuju mobil. Tangannya baru saja hendak menyentuh gagang pintu, tetapi sebuah suara dan insiden membuatnya mematung tersentak.

DOR!

Suara tembakan mengguncang seluruh halaman mansion.

Dalam hitungan detik, suasana berubah kacau. Teriakan para tamu terdengar dari berbagai arah. Beberapa orang berlari menjauh, sementara para pengawal langsung bergerak dan membentuk perlindungan di sekitar mereka.

Thalia membeku, ia mengenali suara itu. Itu suara tembakan.

"Papa...?" bisikan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Thalia langsung berbalik, tatapannya mencari sosok ayahnya. Dan ketika ia menemukannya, seluruh tubuhnya terasa lemas.

Jonathan telat terjatuh di dekat pintu lobi hotel.

"Papa!"

Thalia langsung mengambil langkah seribu, namun baru beberapa langkah, tangannya ditarik kuat dari belakang oleh seseorang.

"Jangan." Satu kata itu membuat Thalia menoleh dengan wajah panik, Childe berdiri tepat di belakangnya.

"Lepaskan aku!" pinta Thalia dengan suara bergetar sambil berusaha menarik tangannya.

"Jangan ke sana," jawab Childe tanpa melepaskan genggamannya.

"Itu Papa!" bentak Thalia, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku harus ke sana!"

Childe menatapnya tajam sementara Thalia berusaha melepaskan tangannya, tetapi pria itu justru menariknya lebih dekat dan memberi isyarat kepada para pengawal.

"Amankan dia."

Dua orang pria segera mendekat. Thalia menatap mereka dengan tatapan tidak percaya, "Jangan sentuh aku!" serunya sambil mundur satu langkah. "Aku mau menemui Papa!"

"Ma'am, Anda harus menjauh dari sini," ujar salah seorang pria sambil menjaga jarak.

"Aku tidak peduli!" balas Thalia dengan suara bergetar. Ia kembali mencoba menerobos, namun Childe langsung berdiri di hadapannya yang membuat Thalia mendongak menatapnya dengan kesal dan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Kenapa kau terus menghalangiku?"

"Karena tempat itu tidak aman." Childe mengatakannya dengan nada datar yang membuat Thalia semakin kesal, "Papa terluka!"

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau tidak membiarkan ku untuk menemuinya?!" Childe tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih ke arah lobi hotel, beberapa pengawalnya bergerak menyusuri area sekitar, memastikan tidak ada ancaman lain.

Kemudian ia kembali menatap Thalia. "Karena orang yang melakukan ini mungkin belum pergi."

Thalia terdiam, napasnya tertahan. Ia menatap suaminya beberapa detik sebelum sebuah pertanyaan perlahan muncul di kepalanya. "Kau tahu?"

Childe diam dan itu membuat Thalia mengerutkan kening.

"Kau tahu ini akan terjadi?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara lebih pelan.

Masih tidak ada jawaban. Namun diamnya justru memberikan jawaban yang jauh lebih jelas daripada kata-kata.

Mata Thalia melebar, "Kau tahu..." gumamnya sambil menatap Childe dengan tatapan tak percaya.

Childe mengalihkan pandangannya. Thalia tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar getir.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini,” jawabnya dengan suara rendah.

“Kenapa tidak?” Thalia segera menyela. Alisnya berkerut, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh.

Childe kembali menatapnya. “Masuk ke mobil,” perintahnya sambil menunjuk kendaraan yang sudah menunggu sejak tadi.

“Aku perlu menemui Papa,” balas Thalia, suaranya bergetar. Ia mencoba melangkah melewatinya, tetapi Childe kembali menghalangi jalannya.

“Thalia.” Suaranya terdengar lebih tegas kali ini, membuat nyali Thalia sedikit ragu untuk melanjutkan langkahnya.

“A-aku tidak akan pergi tanpa Papa,” tegas Thalia sambil menahan tangis. Ia menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seolah berusaha meyakinkan pria itu agar membiarkannya pergi.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Childe sedikit berubah. Ia menghembuskan napas pendek sebelum melangkah mendekat. Kemudian, ia menundukkan wajah hingga tatapan mereka berada pada ketinggian yang sama.

“Kalau kau tetap di sini, kau bukan hanya membahayakan dirimu sendiri,” katanya rendah, tatapannya tidak beralih dari wajah Thalia. “Kau juga akan membahayakan semua orang yang ada di sini.”

Thalia terdiam.

Kata-kata itu membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga. Perlahan, matanya kembali mengarah ke tempat di mana pengawal Jonathan sedang bersusah payah melindungi ayahnya.

Sosok yang selama ini selalu menjadi tempatnya berlindung kini berbaring tak berdaya.

“Papa…” bisik Thalia lirih.

Air matanya jatuh tanpa suara. Namun sebelum ia sempat bergerak, Childe langsung menarik tangannya dan membawanya menuju mobil yang telah menunggu di depan tangga.

“Masuk,” perintahnya singkat.

Thalia hanya sempat menoleh sekali ke arah hotel sebelum Childe membukakan pintu dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Begitu Thalia berada di kursi belakang, pintu segera ditutup.

Childe kemudian menoleh kepada seseorang yang telah menunggu di kursi pengemudi, “bawa dia pergi.”

“Baik, Tuan.”

Mesin mobil menyala. Dalam hitungan detik, kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan halaman hotel, membawa Thalia semakin jauh dari tempat yang baru saja mengubah alur hidupnya.

Thalia menoleh melalui kaca belakang. Tatapannya masih terpaku pada hotel yang perlahan mengecil di kejauhan, seolah berharap masih bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Sementara itu, Childe tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti mobil yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik tikungan.

Barulah ia mengalihkan pandangan.

Di belakangnya, suara langkah kaki para anak buahnya terdengar semakin sibuk. Beberapa orang masih bergerak di sekitar hotel, sementara situasi belum sepenuhnya terkendali.

Childe memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sebelum berjalan kembali menuju hotel, wajahnya tenang, namun tatapan matanya telah berubah, ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Childe berhenti di tengah halaman. Tatapannya menyapu para bawahannya yang masih sibuk mengamankan area sebelum akhirnya ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh perhatian tertuju kepadanya.

“Periksa seluruh perimeter,” perintahnya dingin sambil menatap salah satu anak buahnya. “Aku ingin tahu dari mana mereka masuk dan bagaimana mereka bisa lolos.”

“Baik, Tuan,” jawab pengawal itu sambil mengangguk dan segera memberi isyarat kepada timnya untuk bergerak.

Childe kemudian mengalihkan pandangan kepada yang lainnya. “Periksa seluruh kendaraan yang meninggalkan area ini,” ujarnya tegas. “Jangan biarkan satu pun lolos tanpa pemeriksaan.”

“Dimengerti,” jawab pria itu sembari berbalik dan mulai mengarahkan beberapa orang menuju gerbang.

Ia berjalan beberapa langkah sebelum kembali berhenti.

“Hubungi semua orang kita di kota,” lanjutnya. “Aku ingin seluruh akses di sekitar kawasan ini di awasi.”

“Segera, Tuan.” sahut salah seorang anak buahnya.

Tatapan Childe kemudian beralih ke mansion yang masih dipenuhi kesibukan para pengawal.

“Dan cari siapa yang berada di balik serangan ini,” katanya dengan suara rendah, tetapi penuh tekanan. “Aku ingin namanya.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan tatapan yang semakin tajam. “Secepatnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   13. Undangan di Tengah Malam

    "Nyonya Thalia, Tuan Moretti meminta Anda turun sekarang," ujar seorang pelayan dari balik pintu sambil mengetuknya dengan sopan. Thalia yang baru bangun beberapa menit lalu dan sedang duduk di tepi ranjang langsung mendengus kesal, ia melirik jam dinding yang menunjukkan angka 03.00 dini hari. Dia masih belum melupakan kejadian semalam, ketika Childe menyeretnya ke kamar dan menguncinya dari luar seolah dirinya seorang tahanan. "Kalau dia ingin bertemu denganku, suruh saja dia naik sendiri," balas Thalia sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Maaf, Nyonya, tetapi Tuan Moretti mengatakan bahwa ada pertemuan yang harus Anda hadiri sekarang dan meminta Anda berpakaian rapi," jawab pelayan itu dengan hati-hati. "Pertemuan jam tiga dini hari?" gumam Thalia pelan. Thalia terdiam sejenak sebelum bangkit dari ranjang. Dia tidak berniat menuruti perintah Childe begitu saja, tetapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada keinginannya untuk tetap berada di kamar. "Aku turun bukan kar

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   12. Tidak Ada Jalan Keluar

    "Kalau kalian pikir bisa menahanku di sini, kalian salah besar," gumam Thalia sambil melirik pintu yang masih tertutup rapat sebelum mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Ruangan itu luas, dilengkapi ranjang besar, lemari pakaian, meja rias, sofa, dan jendela tinggi yang menghadap ke belakang mansion. Semuanya tampak mewah. Namun, saat ini tidak ada satu pun benda di dalamnya yang terasa seperti miliknya. Pandangan Thalia berhenti pada jendela tersebut. Sebuah ide muncul di kepalanya. Jika pintu tidak bisa dibuka, dia masih bisa mencari jalan keluar melalui jendela. Thalia segera menghampiri meja kecil di dekat sofa. Tangannya bergerak cepat, menyibakkan beberapa barang yang berada di atasnya sebelum tangannya menemukan sebuah vas dekoratif yang cukup berat. Dia mengangkat benda itu dengan kedua tangan, lalu berjalan menuju jendela. "Bersiaplah menerima kekacauan ini!" Tanpa membuang waktu, Thalia mengayunkan vas itu ke arah kaca. BUK! Hasilnya tetap nihil. Kaca i

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   11. Tahanan Rumah

    "Jangan sentuh aku!" bentak Thalia sambil meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman pria itu. "Childe, lepaskan tanganku! Aku belum selesai bicara!" Childe tidak mengendurkan cengkeramannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong, membawa Thalia menuju kamar gadis itu tanpa menghiraukan rasa sakit yang dialaminya. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" seru Thalia sambil berusaha menahan langkah. "Aku istrimu, bukan tahananmu!" "Kalau kau terus melawan, kau hanya akan memperburuk keadaan," jawab Childe dingin sambil tetap menarik Thalia menuju kamar. "Persetan dengan keadaan!" balas Thalia sambil menatapnya penuh amarah. "Aku ingin tahu apa yang terjadi kepada Papa!" Childe akhirnya berhenti tepat di depan pintu kamar Thalia. Ia membuka pintu dengan tangan yang bebas, kemudian membawa gadis itu masuk. "Childe, apa yang kau lakukan?" tanya Thalia dengan suara mulai gemetar sambil mencoba melepaskan tangannya sekali lagi. Chile melepaskan cengkeramannya begitu mereka berada

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   10. Rahasia yang Terbongkar

    "Siapa orang itu?" tanya Childe sambil mengambil dokumen tersebut dari tangan bawahannya. Thalia langsung menegakkan tubuh. "Namanya belum bisa kami pastikan, Tuan," jawab pria itu sambil menggelengkan kepala. "Namun, catatan tersebut berkaitan dengan kesepakatan yang dibatalkan oleh Jonathan beberapa waktu lalu." Thalia merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Ingatan tentang percakapan ayahnya dan Childe pada malam sebelum pernikahannya langsung muncul kembali. Masalahnya ada pada kesepakatan itu, pihak mereka menganggap pembatalan tersebut sebagai penghinaan. Thalia menggenggam ujung gaunnya semakin erat. Kini, ia mulai memahami bahwa penembakan ayahnya mungkin memiliki hubungan dengan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. "Aku ingin seluruh catatan itu diperiksa kembali," ujar Childe sambil meletakkan dokumen di atas meja. "Jangan biarkan informasi ini keluar dari ruangan ini sebelum kita mengetahui siapa yang terlibat." "Dimengerti, Tuan," jawab bawahannya sam

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   9. Seseorang di Balik Bayangan

    "Ada hal-hal yang belum bisa ku bicarakan denganmu," jawab Childe sambil mengalihkan pandangan sesaat. Thalia langsung mendorong kursinya sedikit ke belakang. "Karena aku hanya istri kontrakmu?" tanya Thalia dengan senyum pahit sambil menatap cincin di jarinya. Childe kembali menatapnya sebelum menjawab. "Karena semakin sedikit yang kau ketahui sekarang, semakin kecil kemungkinan kau melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri," kata Childe sambil menegakkan tubuh. Thalia terdiam. Jawaban itu justru membuat kecurigaannya semakin besar. Perempuan itu menundukkan kepala, berpura-pura kembali memperhatikan sarapannya. Namun, pikirannya terus berputar mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terpecahkan. Jika Childe benar-benar ingin melindunginya, mengapa pria itu selalu menutup mulut setiap kali ia bertanya tentang kematian ayahnya? Dan jika Childe mengetahui sesuatu, apakah ia sengaja merahasiakannya? Sarapan berakhir tanpa percakapan yang penting. Thalia meninggalka

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   8. Kebohongan Childe

    "Kau terlambat sepuluh menit," ujar Childe sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Thalia langsung menatap Childe yang duduk di meja panjang. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, sementara sebuah tablet terletak di samping piring sarapannya. Thalia menarik kursi di seberangnya, kemudian duduk tanpa menunjukkan ekspresi bersalah. "Kalau begitu, kau bisa mulai sarapan tanpa menungguku," jawab Thalia sambil meletakkan kedua tangan di pangkuan. Childe menutup tablet di hadapannya sebelum memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat meja. "Aku ingin membicarakan jadwalmu hari ini," kata Childe sambil menatap Thalia. "Silakan sajikan sarapannya." Thalia memperhatikan hidangan yang diletakkan di hadapannya, lalu kembali memandang Childe. "Aku tidak punya jadwal apapun," jawab Thalia sambil mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan. "Aku hanya ingin menghabiskan hari ini di kamar." "Kau akan bertemu kepala pelayan, pengurus rumah, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status