Share

5. Sisi Lain

Penulis: Arlynta
last update Tanggal publikasi: 2026-08-25 10:33:48

"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Thalia cemas.

Childe menghentikan langkah saat Thalia langsung menghadangnya.

Thalia mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Kecemasan yang sejak tadi memenuhi pikirannya semakin mendesak keluar. Apalagi pikirannya terlalu aneh karena malam pertamanya, Childe malah meninggalnya sendiri di kamar.

"Papa masih di rumah sakit?" tanyanya lagi dengan suara terburu-buru. "Atau sudah dipindahkan? Aku mau lihat dia."

Childe menatapnya selama beberapa detik. Pria itu menarik napas pendek sebelum akhirnya memberikan jawaban dengan suara rendah.

"Aku baru pulang dari pemakamannya," jawab Childe datar.

Thalia membeku.

Seluruh suara di sekitar gadis itu seolah menghilang dalam satu detik. Wajahnya kehilangan warna ketika otaknya berusaha memahami kalimat yang baru saja didengarnya.

"Apa?" tanya Thalia dengan suara nyaris tidak terdengar.

Childe tetap berdiri tegak di hadapannya. Tatapan mata lelaki itu tidak berubah ketika memberikan penjelasan berikutnya.

"Pemakaman ayahmu," ulang Childe dengan tenang.

Thalia menatap wajah pria tersebut dengan pandangan tidak percaya. Bibirnya bergetar sebelum sebuah pertanyaan keluar dengan susah payah.

"Papa... meninggal?" tanya Thalia gemetar.

Childe tidak menjawab.

Keheningan pria itu sudah cukup memberikan jawaban.

Napas Thalia tercekat. Gadis itu mundur selangkah sambil menggelengkan kepala berkali-kali.

"Tidak," ucap Thalia lirih.

Childe menggerakkan tangan hendak mendekatinya.

"Thalia—"

"Jangan!" potong Thalia dengan suara keras. Air mata langsung jatuh membasahi pipinya. Gadis itu menatap Childe dengan tatapan penuh penolakan.

"Kau bohong," tuduh Thalia dengan suara bergetar.

Childe menurunkan tangan secara perlahan. Lelaki itu tetap mempertahankan tatapan tenangnya.

"Aku tidak berbohong soal ini," jawab Childe tegas.

Thalia mengusap air mata yang terus mengalir menggunakan punggung tangannya. Kesedihan bercampur kemarahan memenuhi wajahnya.

"Kapan?" tanya Thalia dengan suara parau.

Childe terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Semalam," jawab Childe singkat.

Thalia menatapnya tanpa berkedip. Kedua tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh.

"Dan kau pergi ke pemakamannya?" tanya Thalia tidak percaya.

"Ya," jawab Childe datar. Thalia menggelengkan kepala perlahan. Tatapan matanya berubah semakin tajam.

"Sendirian?" tanyanya dengan suara tertahan.

"Aku bersama beberapa orang," jawab Childe tenang.

Thalia menarik napas panjang yang bergetar. Gadis itu menatap pria di hadapannya seolah tidak mampu memahami keputusan yang telah dibuatnya.

"Tanpa aku?" tanya Thalia lirih.

Childe tidak memberikan jawaban yang membuat Thalia langsung kehilangan kendali.

"Bagaimana kau bisa melakukan itu?!" bentak Thalia, suaranya menggema di sepanjang lorong. Beberapa pengawal yang berada jauh di belakang langsung menoleh, tetapi tidak seorang pun berani mendekat.

Thalia melangkah maju dengan air mata yang terus mengalir.

"Kau bahkan menguburkan Papa tanpa menungguku?" teriak Thalia dengan suara pecah.

Childe tetap berdiri di tempatnya. Lelaki itu menatap wajah Thalia dengan tenang sebelum menjawab, "Keadaannya tidak memungkinkan," ucap Childe rendah.

"Tidak memungkinkan?" ulang Thalia dengan suara bergetar.

Gadis itu menunjuk dirinya sendiri menggunakan telunjuk kanan.

"Aku satu-satunya anaknya!" teriak Thalia penuh kesedihan. Ia mendekati Childe, kedua telapak tangannya kemudian mendorong dada bidang pria itu dengan kuat.

Tubuh Childe tidak bergeser sedikit pun.

"Kau jahat!" bentak Thalia, Childe tetap diam.

Thalia kembali mendorong dada pria itu. Air mata mengalir semakin deras membasahi wajahnya.

"Kau benar-benar tidak punya hati!" ucap Thalia dengan suara hancur.

Childe membiarkan seluruh kemarahan itu tertuju kepadanya. Pria itu tidak berusaha menahan tangan Thalia maupun membalas perkataannya.

"Brengsek, aku membencimu!" maki Thalia dengan suara pecah.

Kedua tangannya kembali menghantam dada Childe. Kali ini pukulan tersebut tidak lagi disertai tenaga yang sama karena tubuhnya mulai kehilangan kekuatan.

"Bagaimana bisa kau menguburkan Papa tanpa kehadiranku?" tanya Thalia sambil terisak.

Childe tetap berdiri diam di hadapannya. Thalia mengangkat wajah dengan tatapan penuh kebencian. Bibir gadis itu bergetar hebat sebelum kalimat berikutnya keluar.

"Dia satu-satunya keluarga yang aku punya, dan kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal!" teriak Thalia dengan suara pecah.

Thalia mengusap air mata dengan kasar. Tatapan matanya menunjukkan kekecewaan yang semakin dalam.

"Kau datang ke rumahku, mengambil keputusan keluargaku, lalu sekarang kau menguburkan Papa sesuka hatimu!" bentak Thalia.

"Thalia," panggil Childe dengan suara rendah.

"Jangan panggil namaku!"

Thalia mengangkat tangan menunjuk wajah pria itu. Jemarinya gemetar hebat karena emosi yang tidak lagi mampu dikendalikan. "Kau tidak berhak melakukan semua ini!"

Childe menarik napas panjang. Lelaki itu menahan kedua tangannya tetap berada di sisi tubuh.

"Aku sudah melakukan apa yang harus dilakukan," jawab Childe tenang.

"Harus dilakukan?" ulang Thalia dengan tidak percaya. "Yang meninggal adalah ayahku!”

“Aku tahu,” jawab Childe sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Tidak, kau tidak tahu!” teriak Thalia sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Kalau kau tahu, kau tidak akan melakukan ini!” lanjutnya sambil menunjuk wajah Childe.

“Sudah cukup!” ucap Childe sambil menatapnya tajam.

“Belum cukup!” balas Thalia sambil melangkah mundur.

Tangan gadis itu menyambar sebuah vas bunga yang berada di atas meja kecil dekat dinding. Thalia mengangkat benda tersebut tanpa berpikir panjang sebelum melemparkannya ke lantai.

PRANG!

Vas tersebut pecah menjadi beberapa bagian. Bunga-bunga yang sebelumnya tersusun rapi jatuh berserakan di atas marmer.

Para pengawal yang berada tidak jauh dari saja langsung menegakkan tubuh. Childe mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh sedikit pun.

“Tetap di tempat,” perintah Childe singkat yang membuat para bawahannya kembali diam.

Childe menurunkan tangannya lalu mengarahkan tatapan tajam pada Thalia. “Jangan uji kesabaranku,” ucap Childe rendah.

“Aku tidak peduli!” balas Thalia sambil menatapnya penuh amarah. “ Kau sudah mengambil semuanya dariku!” teriak Thalia sambil melangkah mendekatinya.

Childe mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Rahangnya mengeras ketika kesabarannya semakin menipis.

“Ayahmu menyerahkanmu kepadaku karena dia tahu dirinya tidak mampu melindungimu lagi,” ujar Childe berat sambil menahan tatapan pada wajah Thalia.

“Jangan bawa-bawa Papa!” bentak Thalia sambil memukul dada Childe dengan telapak tangannya.

“Jangan pernah menggunakan Papa untuk membenarkan semua perbuatanmu!” lanjut Thalia sambil kembali mengangkat tangannya.

Childe langsung menangkap pergelangan tangan Thalia sebelum pukulan berikutnya mengenai tubuhnya.

“Lepaskan!” teriak Thalia sambil berusaha menarik tangannya namun Childe tidak bergeser sedikit pun.

“Childe, lepaskan aku!” bentak Thalia sambil kembali meronta.

Tatapan Childe berubah dingin. Pria itu mempererat cengkraman pada pergelangan tangan gadis tersebut.

“Sakit!” keluh Thalia sambil meringis.

Childe menarik lengan Thalia mendekat sebelum menundukkan wajahnya.

“Ayahmu memastikan tidak ada orang dari luar yang akan menyakitimu,” ucap Childe dengan suara rendah sambil menatap lurus ke dalam mata Thalia.

Thalia berusaha menarik lengannya kembali.

“Jangan sentuh aku!” bentak Thalia sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Namun itu tidak berarti kau tidak bisa disakiti olehku,” jawab Childe dingin sambil mempererat cengkramannya.

Thalia langsung terdiam.

Childe menatap wajah gadis itu tanpa berkedip.

“Jadi mulai sekarang, ketahuilah batasanmu,” ucap Childe tegas sambil akhirnya melonggarkan cengkeramannya.

Thalia menahan napas sambil memegangi lengannya yang terasa nyeri.

“Aku bukan Ayahmu,” lanjut Childe sambil melepaskan tangan dari lengan Thalia. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa pun sesukamu hanya karena kau sedang marah.”

Air mata kembali jatuh dari mata Thalia. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil mundur beberapa langkah.

Childe merapikan ujung lengan jasnya dengan gerakan perlahan.

“Jangan salah mengartikan kesabaranku sebagai kelemahan,” ucap Childe datar sambil mengalihkan pandangan ke arah pecahan vas di lantai.

Thalia hanya berdiri diam sambil memegangi lengannya sendiri.

Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat sisi lain dari pria yang berdiri di hadapannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   25. Penculikan di Siang Bolong

    "Diam dan ikut kami!" perintah salah satu pria dengan suara berat. Thalia membelalak tidak percaya. "Apa maksud kalian?! Aku bahkan tidak mengenal kalian!" bentak Thalia sambil berusaha bangkit dari kursi. Cengkeraman di bahunya justru semakin kuat. Salah satu dari dua pria itu menariknya menjauh dari meja, membuat tas Thalia terjatuh ke lantai. "Pak, Anda tidak bisa membawa pengujung pergi begitu saja!" seru seorang pelayan yang bergegas mendekat. "Lepaskan nona itu!" Seorang petugas keamanan restoran turut menghampiri mereka. "Mohon lepaskan Nona ini dan jelaskan apa yang sedang terjadi," tegurnya sambil berdiri di antara meja-meja. Pria ketiga yang sejak tadi tidak menyentuh Thalia mendadak mengeluarkan pistol. "Jangan ikut campur," ucapnya dingin. Thalia sempat mengernyit, tidak langsung memahami benda yang diarahkan pria itu. Namun, sebelum siapa pun sempat bereaksi, suara tembakan memekakkan telinga memecah suasana. DOR! Peluru tersebut menembus tepat di dahi pelayan y

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   24. Kebebasan yang Berujung Petaka

    "Selamat pagi, Nyonya. Tuan Childe sudah berangkat sejak pukul enam tadi." Thalia yang baru keluar dari kamar langsung menoleh kepada pelayan di ujung lorong. Dia melirik jam dinding, lalu tersenyum kecil sambil merapikan rambutnya. "Bagus, berarti hari ini aku bisa kembali menikmati hidup dengan tenang," jawab Thalia dengan nada puas. "Maaf, Nyonya?" "Lupakan. Siapkan sarapan untukku seperti biasa," ujar Thalia sambil melangkah menuju ruang makan. "Oh, satu lagi. Setelah sarapan, aku ingin beristirahat di kamar. Jangan ganggu aku sebelum makan siang." Pelayan itu mengangguk patuh. "Baik, Nyonya." Thalia menghabiskan sarapannya seperti biasa. Dia bahkan sempat berbincang dengan pelayan lain agar tidak ada yang curiga ketika dirinya kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya menghilang. Dia segera mengambil tas, ponsel, dan beberapa barang penting sebelum memeriksa keadaan melalui jendela. "Baiklah, Thalia. Kau pasti bisa melakukannya!" ucap Thalia sambil menge

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   23. Rencana Pelarian Thalia

    "Aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh pergi sendirian," jawab Childe sambil menatapnya lekat. "Situasinya belum aman." "Situasi apa sih yang kau maksud?" Thalia menyipitkan mata, mencoba mencari jawaban dari wajah suaminya. "Kau bertingkah seolah-olah aku ini dalam bahaya besar, seperti sedang diincar oleh mafia atau gangster saja. Menyebalkan!" Childe tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Thalia selama beberapa detik dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara Draco yang berdiri di belakangnya, menahan tawa. "Aku tidak punya waktu untuk memperdebatkan hal ini malam ini," ucap Childe sambil melirik Draco, memberi isyarat agar pria itu diam, meskipun keduanya tahu jelas apa yang dikatakan Thalia tidak sepenuhnya salah. "Baiklah, kau memang selalu tidak pernah punya waktu," balas Thalia sambil menggelengkan kepala. "Kalau bukan rapat, kau punya urusan lain. Kalau bukan malam ini, mungkin besok. Lalu kapan aku boleh menjalani hidupku sendiri?" "Thalia," panggil Childe

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   22. Lima Hari Dalam Kurungan

    "Aku hanya ingin pergi berbelanja. Apa itu benar-benar sulit untuk diizinkan?" Thalia menatap kepala pelayan di hadapannya dengan alis yang terangkat. Satu tangannya bertumpu pada pinggang, sementara tangan lainnya menggenggam tas kecil yang sudah disiapkan sejak pagi. "Maaf, Nyonya. Tuan Childe belum memberikan izin untuk Anda meninggalkan mansion," jawab kepala pelayan itu dengan sikap sopan, menundukkan kepala sedikit. "Kalau begitu, hubungi dia sekarang," desak Thalia sambil menyodorkan ponselnya. "Aku akan meminta izin langsung darinya." Kepala pelayan itu tampak ragu sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Saya sudah mencoba menghubungi Tuan sekak pagi, tetapi Tuan Draco mengatakan beliau sedang menghadiri beberapa pertemuan." Thalia terdiam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras, lalu dia menarik kembali ponselnya dengan gerakan kesal. "Selalu saja begitu!" gerutu Thalia sambil berbalik. "Kalau dia tidak ada di rumah, semua orang mendadak tidak bisa melakukan apa pun!" S

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   21. Sesuatu yang Disembunyikan

    "Apa maksudmu? Bukankah suamiku memiliki cukup banyak pengaruh untuk melindungi keluarganya?" tanya Thalia sambil mengerutkan dahi. Pria itu mengembuskan napas pendek. Tatapannya tidak berubah, tetapi nada suaranya terdengar lebih serius daripada sebelumnya. "Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, rupanya..." gumamnya sambil menggelengkan kepala perlahan. Kening Thalia semakin berkerut. "Kalau kau memiliki sesuatu untuk dikatakan, katakan dengan jelas! Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan ucapan yang tidak masuk akal!" ujar Thalia sambil menatapnya tajam. Pria itu kembali menatap wajah Thalia. Untuk beberapa detik, dia tampak mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya menghela napas. "Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar memahami posisi yang sedang kau tempati," katanya sambil menurunkan pandangan sejenak. "Atau kau menerima pernikahan ini tanpa pernah memikirkan konsekuensinya?" Thalia mengepalkan jemari di sisi tubuhnya. Perkataan itu menyentuh bagian yang selama ini b

  • Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia   20. Peringatan dari Orang Asing

    "Untuk sementara, jangan mengambil tindakan apa pun tanpa persetujuanku. Aku ingin laporan awal secepat mungkin," ujar Childe sambil mengalihkan pandangan kepada seluruh orang di ruangan itu. "Dimengerti, Tuan Childe," jawab beberapa pria hampir bersamaan sambil menganggukkan kepala. Childe kemudian berdiri dari sofa, gerakannya yang tenang menjadi tanda bahwa pertemuan telah selesai. Orang-orang di sekeliling meja mulai membereskan dokumen dan bersiap meninggalkan ruangan, sementara Draco mendekati Childe untuk membicarakan beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti. Thalia ikut bangkit berdiri, ia merapikan pakaian yang dikenakannya. "Kalau semua sudah selesai, aku ingin pulang," ujar Thalia sambil menoleh kepada Childe yang masih berbicara dengan Draco. Childe mengalihkan pandangan kepada istrinya. "Tunggu sebentar. Aku masih harus berbicara dengan Draco," jawab Childe sambil kembali menoleh pada Draco. Thalia mengembuskan napas pendek. Dia tidak berniat menunggu terlalu lama,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status