author-banner
Arlynta
Arlynta
Author

Novel-novel oleh Arlynta

Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia

Pernikahan Kontrak dengan Tuan Mafia

Menikah dengan seorang Mafia bukanlah hal yang diinginkan oleh Thalia. Terlebih lagi, wanita itu baru mengetahui fakta tersebut ketika mengalami penculikan yang membuatnya trauma akan dunia suaminya. Namun, hari demi hari, bahaya selalu mengincarnya. Thalia harus bertahan menghadapi sikap dingin Childe, karena pernikahan yang mereka jalani hanyalah pernikahan kontrak.
Baca
Chapter: 13. Undangan di Tengah Malam
"Nyonya Thalia, Tuan Moretti meminta Anda turun sekarang," ujar seorang pelayan dari balik pintu sambil mengetuknya dengan sopan. Thalia yang baru bangun beberapa menit lalu dan sedang duduk di tepi ranjang langsung mendengus kesal, ia melirik jam dinding yang menunjukkan angka 03.00 dini hari. Dia masih belum melupakan kejadian semalam, ketika Childe menyeretnya ke kamar dan menguncinya dari luar seolah dirinya seorang tahanan. "Kalau dia ingin bertemu denganku, suruh saja dia naik sendiri," balas Thalia sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Maaf, Nyonya, tetapi Tuan Moretti mengatakan bahwa ada pertemuan yang harus Anda hadiri sekarang dan meminta Anda berpakaian rapi," jawab pelayan itu dengan hati-hati. "Pertemuan jam tiga dini hari?" gumam Thalia pelan. Thalia terdiam sejenak sebelum bangkit dari ranjang. Dia tidak berniat menuruti perintah Childe begitu saja, tetapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada keinginannya untuk tetap berada di kamar. "Aku turun bukan kar
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: 12. Tidak Ada Jalan Keluar
"Kalau kalian pikir bisa menahanku di sini, kalian salah besar," gumam Thalia sambil melirik pintu yang masih tertutup rapat sebelum mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Ruangan itu luas, dilengkapi ranjang besar, lemari pakaian, meja rias, sofa, dan jendela tinggi yang menghadap ke belakang mansion. Semuanya tampak mewah. Namun, saat ini tidak ada satu pun benda di dalamnya yang terasa seperti miliknya. Pandangan Thalia berhenti pada jendela tersebut. Sebuah ide muncul di kepalanya. Jika pintu tidak bisa dibuka, dia masih bisa mencari jalan keluar melalui jendela. Thalia segera menghampiri meja kecil di dekat sofa. Tangannya bergerak cepat, menyibakkan beberapa barang yang berada di atasnya sebelum tangannya menemukan sebuah vas dekoratif yang cukup berat. Dia mengangkat benda itu dengan kedua tangan, lalu berjalan menuju jendela. "Bersiaplah menerima kekacauan ini!" Tanpa membuang waktu, Thalia mengayunkan vas itu ke arah kaca. BUK! Hasilnya tetap nihil. Kaca i
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: 11. Tahanan Rumah
"Jangan sentuh aku!" bentak Thalia sambil meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman pria itu. "Childe, lepaskan tanganku! Aku belum selesai bicara!" Childe tidak mengendurkan cengkeramannya. Ia terus berjalan menyusuri lorong, membawa Thalia menuju kamar gadis itu tanpa menghiraukan rasa sakit yang dialaminya. "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" seru Thalia sambil berusaha menahan langkah. "Aku istrimu, bukan tahananmu!" "Kalau kau terus melawan, kau hanya akan memperburuk keadaan," jawab Childe dingin sambil tetap menarik Thalia menuju kamar. "Persetan dengan keadaan!" balas Thalia sambil menatapnya penuh amarah. "Aku ingin tahu apa yang terjadi kepada Papa!" Childe akhirnya berhenti tepat di depan pintu kamar Thalia. Ia membuka pintu dengan tangan yang bebas, kemudian membawa gadis itu masuk. "Childe, apa yang kau lakukan?" tanya Thalia dengan suara mulai gemetar sambil mencoba melepaskan tangannya sekali lagi. Chile melepaskan cengkeramannya begitu mereka berada
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: 10. Rahasia yang Terbongkar
"Siapa orang itu?" tanya Childe sambil mengambil dokumen tersebut dari tangan bawahannya. Thalia langsung menegakkan tubuh. "Namanya belum bisa kami pastikan, Tuan," jawab pria itu sambil menggelengkan kepala. "Namun, catatan tersebut berkaitan dengan kesepakatan yang dibatalkan oleh Jonathan beberapa waktu lalu." Thalia merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Ingatan tentang percakapan ayahnya dan Childe pada malam sebelum pernikahannya langsung muncul kembali. Masalahnya ada pada kesepakatan itu, pihak mereka menganggap pembatalan tersebut sebagai penghinaan. Thalia menggenggam ujung gaunnya semakin erat. Kini, ia mulai memahami bahwa penembakan ayahnya mungkin memiliki hubungan dengan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. "Aku ingin seluruh catatan itu diperiksa kembali," ujar Childe sambil meletakkan dokumen di atas meja. "Jangan biarkan informasi ini keluar dari ruangan ini sebelum kita mengetahui siapa yang terlibat." "Dimengerti, Tuan," jawab bawahannya sam
Terakhir Diperbarui: 2026-10-14
Chapter: 9. Seseorang di Balik Bayangan
"Ada hal-hal yang belum bisa ku bicarakan denganmu," jawab Childe sambil mengalihkan pandangan sesaat. Thalia langsung mendorong kursinya sedikit ke belakang. "Karena aku hanya istri kontrakmu?" tanya Thalia dengan senyum pahit sambil menatap cincin di jarinya. Childe kembali menatapnya sebelum menjawab. "Karena semakin sedikit yang kau ketahui sekarang, semakin kecil kemungkinan kau melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri," kata Childe sambil menegakkan tubuh. Thalia terdiam. Jawaban itu justru membuat kecurigaannya semakin besar. Perempuan itu menundukkan kepala, berpura-pura kembali memperhatikan sarapannya. Namun, pikirannya terus berputar mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terpecahkan. Jika Childe benar-benar ingin melindunginya, mengapa pria itu selalu menutup mulut setiap kali ia bertanya tentang kematian ayahnya? Dan jika Childe mengetahui sesuatu, apakah ia sengaja merahasiakannya? Sarapan berakhir tanpa percakapan yang penting. Thalia meninggalka
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Chapter: 8. Kebohongan Childe
"Kau terlambat sepuluh menit," ujar Childe sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Thalia langsung menatap Childe yang duduk di meja panjang. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, sementara sebuah tablet terletak di samping piring sarapannya. Thalia menarik kursi di seberangnya, kemudian duduk tanpa menunjukkan ekspresi bersalah. "Kalau begitu, kau bisa mulai sarapan tanpa menungguku," jawab Thalia sambil meletakkan kedua tangan di pangkuan. Childe menutup tablet di hadapannya sebelum memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat meja. "Aku ingin membicarakan jadwalmu hari ini," kata Childe sambil menatap Thalia. "Silakan sajikan sarapannya." Thalia memperhatikan hidangan yang diletakkan di hadapannya, lalu kembali memandang Childe. "Aku tidak punya jadwal apapun," jawab Thalia sambil mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan. "Aku hanya ingin menghabiskan hari ini di kamar." "Kau akan bertemu kepala pelayan, pengurus rumah, dan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-13
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status