Share

PL 2

Author: Piki Chan
last update publish date: 2026-09-04 16:11:52

“Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”

“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.

Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.

Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”

Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.

“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.

Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masuk ke kelas. Aku menghela napas dan memilih duduk di bagian agak belakang, tidak serajin mahasiswa lain yang berebut kursi depan demi menarik perhatian dosen.

Tak lama, Faizah, teman dekatku, mencondongkan tubuh ke arahku. “Katanya Viona mau ngadain acara ulang tahun di kafe tempatmu kerja.”

“Benarkah?” Aku menaikkan alis. Jujur saja, dia mau menyewa hotel bintang lima pun bukan urusanku.

“Ya, dan dia mau ngundang anak-anak kelas. Kayaknya bakal jadi pesta gede.” Faizah mengedikkan bahu.

Aku hanya tersenyum kecil, tidak terlalu tertarik. Lagi pula, aku tidak yakin bakal diundang.

Beberapa menit kemudian, dosen masuk. Seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan perawakan rapi dan berkharisma. Dr. Farhan, spesialis Psikologi Klinis.

“Baik, hari ini kita akan membahas gangguan psikoseksual,” katanya seraya menyalakan proyektor. “Topik ini penting untuk memahami berbagai penyimpangan seksual yang bisa berakar dari pengalaman traumatis atau gangguan perkembangan.”

Aku menegakkan punggung, tertarik. Ini pasti bakal jadi topik yang menarik.

Dr. Farhan mulai menjelaskan beberapa jenis gangguan psikoseksual parafilia, voyeurisme, eksibisionisme, dan lain sebagainya. Kelas hening, semua memperhatikan. Beberapa mahasiswa terlihat sedikit risih, tapi aku malah makin penasaran.

“Jadi, penyimpangan ini bisa terjadi karena kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan,” lanjutnya. “Dan yang menarik, ada kasus-kasus tertentu di mana pelaku tidak sadar kalau dirinya memiliki kelainan.”

Aku melirik ke depan. Viona tampak sibuk mencatat, sementara beberapa mahasiswa lain hanya mendengarkan dengan ekspresi aneh.

“Jadi, ada pertanyaan?”

Aku mengangkat tangan. “Dok, bagaimana kita bisa membedakan antara seseorang yang benar-benar mengalami gangguan psikoseksual dan seseorang yang hanya memiliki preferensi tertentu?”

Dr. Farhan tersenyum, tampak senang dengan pertanyaanku. “Itu pertanyaan yang bagus. Perbedaannya terletak pada dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain. Jika perilaku tersebut menyebabkan distress atau merugikan orang lain, maka itu bisa dikategorikan sebagai gangguan. Namun, jika hanya preferensi tanpa merugikan siapa pun, maka tidak bisa dianggap sebagai gangguan.”

Aku mengangguk, mencerna penjelasannya.

Di belakang, Faizah berbisik, “Serius banget, Fir.”

Aku hanya menyeringai kecil. Entah kenapa, ada firasat bahwa pengetahuan ini akan berguna bagiku suatu hari nanti.

Satu jam sudah berlalu, Dr. Farhan juga sudah keluar sejak tadi. Baru saja aku hendak bangkit untuk pulang ke kos, Viona tiba-tiba berjalan ke tengah kelas dengan penuh percaya diri.

"Teman-teman, karena hari Sabtu nanti aku mau ngadain acara ulang tahun, aku undang kalian semua untuk datang ke kafe Kelana. Kalau ada yang nggak tahu tempatnya, bisa nanya ke Safira ya. Kebetulan dia kerja di sana," katanya, menekankan kata ‘kerja’ sambil menatapku dengan sorot mata merendahkan.

Beberapa mahasiswa langsung berbisik-bisik, sesekali melirik ke arahku. Aku bisa melihat beberapa senyum sinis terselip di antara mereka.

Aku menarik napas panjang dan tersenyum kecil, memilih untuk menanggapi dengan santai. Aku mengacungkan jempol ke arah Viona, “Siap, terima kasih atas promosinya, Viona.”

Dia tampak sedikit terkejut, lalu hanya mendengus dan berbalik. Aku bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarku. Ah, biarlah. Mereka mau berkomentar apa pun, aku sudah terbiasa.

*

“Tapi, Kak… Gimana kalau yang lain tahu dan mereka membully aku?” Aku mengerucutkan bibir saat Mikael mengajakku keluar. Tujuan kali ini adalah butik dengan desainer terkenal dan sebuah salon ternama.

“Apa hubungannya denganku?” Dia berkata dengan nada santai, seolah yang terjadi padaku bukanlah urusannya.

Mendengar itu, aku langsung menunduk, menahan amarahku. “Tidak ada, yang mulia. Semuanya menjadi masalah saya sendiri.” Gumamku pelan.

Sejak pagi, aku sudah merasakan tatapan sinis dari beberapa pegawai di tempat kerja. Mereka pasti mengira yang macam-macam setelah tahu aku dipanggil ke ruang kerja Mikael dan cukup lama di dalam. Dan sekarang, dia malah mengajakku pergi saat jam kerja. Apa yang mereka pikirkan tentangku sekarang?

“Aku tidak peduli dengan kehidupanmu,” lanjut Mikael dengan nada datar. “Yang terpenting tugasmu adalah membuat kesan bagus pada pernikahan kita.”

Aku mendengus kecil. “Iya, iya. Mengerti.” Aku akhirnya masuk ke ruang ganti.

Beberapa gaun dengan desain mewah sudah disiapkan untuk kucoba. Aku mengusap perlahan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dada. Kilauannya memantulkan cahaya lampu butik dengan begitu indah.

“Ini mutiara asli?” tanyaku pada pegawai yang berdiri di sampingku.

Dia mengangguk sopan. “Tentu, Nona.”

Aku meliriknya sejenak sebelum akhirnya berbisik, “Memangnya berapa harga gaun ini?”

Pegawai itu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan menyebutkan angka dengan suara pelan.

Mataku langsung melebar. “Busetttt… 267 juta?”

Suaraku mungkin sedikit lebih keras dari yang seharusnya, karena Mikael yang tadinya sibuk melihat-lihat koleksi lain langsung menoleh ke arahku.

“Ternyata kamu masih tahu harga yang mahal juga,” katanya dengan nada menggoda, lalu berjalan mendekat.

Aku hanya bisa menelan ludah. Ini baru gaun… Bagaimana dengan biaya pernikahannya nanti? Aku mulai merasa tidak tenang. Jangan-jangan ….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Lavender   PL 7

    Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj

  • Pernikahan Lavender   PL 6

    Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak

  • Pernikahan Lavender   PL 5

    Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin

  • Pernikahan Lavender   PL 4

    Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup

  • Pernikahan Lavender   PL 3

    Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b

  • Pernikahan Lavender   PL 2

    “Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status