LOGINMikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya.
"Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"
Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya.
"Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.
Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."
Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"
Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.
Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai baju akad warna gold."
Salah satu pegawai yang sedang membetulkan ukurannya menatapku dari cermin. "Nona, ini bukan gaun pernikahan. Ini adalah gaun yang akan Anda kenakan nanti malam."
Aku mengerutkan kening. "Apa?"
"Baju nikahan masih dalam proses desain khusus. Mungkin dalam minggu ini baru selesai."
Aku hanya bisa membuka mulut lebar-lebar, menatap pantulan wajahku sendiri yang tampak bodoh di cermin besar di depanku.
*
"Uuh... bibirmu ini bagus banget, loh." Suara khas pria feminin yang tengah merias wajahku terdengar penuh kekaguman.
Aku mengerjapkan mata. "Tapi ini waterproof nggak?"
Dia menatapku dengan malas. "Ah, memangnya kamu mau ngapain? Aku udah meriasmu susah payah, loh."
"Tapi aku nggak mungkin lalai sholat hanya demi berdandan, kan?"
Dia mendengus, menghela napas panjang. "Aturlah, aturlah. Susah juga harus makeup-in santri begini. Gak bisa diajak bengkok dikit, maunya yang kenceng lurus aja."
Aku tertawa kecil. Baru saja dia akan melanjutkan merias wajahku, aku merasakan desiran halus di bagian bawah perutku.
Sial.
Aku menelan ludah. Perasaan ini familiar.
"Aku boleh ke kamar mandi dulu?" tanyaku buru-buru.
Si perias melipat tangan di depan dada, tapi akhirnya mengangguk. "Cepat!"
Aku berjalan secepat mungkin menuju kamar mandi, lalu mengunci pintunya dan menarik napas panjang.
"Duh sial... kenapa harus sekarang sih?" keluhku sambil duduk. Aku benar-benar tak menyangka bahwa datang bulanku kali ini maju beberapa hari.
"Saf, udah belum?"
Aku berdiri pelan-pelan dari WC duduk, lalu membuka pintu sedikit dan hanya memunculkan kepalaku. "Lama amat sih, ayo dong! Nanti Tuan Muda keburu marah-marah."
Aku menggigit bibir. "Aku lupa bawa pembalut."
Dia menatapku sejenak, lalu tiba-tiba tertawa keras. "Woalah, kamu dapet?"
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan kembali dengan sebuah pembalut baru yang masih berbungkus serta selembar kain pantai berwarna biru muda. Aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Kak, makasih banyak pembalutnya. Kamu baik banget nyediain stok buat pelanggan perempuan."
Dia menyipitkan mata, lalu mengetukkan pensil alis ke meja rias. "Hei, aku tak sebaik itu menyediakan stok untuk semua pelanggan yang datang."
Aku mengerutkan kening. "Lalu?"
Dia mengangkat alis, lalu tersenyum simpul. "Itu punyaku sendiri."
Aku terperangah. Laki-laki pakai pembalut?
Aku menatapnya, mencoba memastikan apakah dia bercanda atau tidak. Tapi sebelum sempat bertanya lebih lanjut, dia sudah lebih dulu melanjutkan merias wajahku, seolah tak ada yang terjadi.
Selama merias, banyak sekali bahan yang dia tanyakan. Aku hanya menjawab sekenanya, tidak terlalu peduli. Meski begitu, cowok feminim itu ternyata tidak seburuk yang aku kira. Bahkan, menurutku dia jauh lebih baik daripada Mikael.
Aku menatap wajahku sendiri di cermin. Gila, cakep juga ya aku?
"Bisa juga nih, jadi brand ambassador skincare merek air wudhu," selorohnya sambil merapikan beberapa bagian riasanku.
"Apa aku secantik itu?" tanyaku ragu.
"Engga dong! Aslinya wajahmu biasa saja, tapi berkat tangan ajaibku, kamu jadi secantik ini!" ujarnya dengan percaya diri.
Aku mencibir mendengarnya. "Terima kasih, suhu!"
Dia tersenyum lebar. Tak lama kemudian, dia kembali membawa sebuah kantong coklat dan menyerahkannya padaku. Dengan ragu, aku membukanya. Isinya adalah satu set pakaian dalam dan juga pembalut yang, menurutku, harganya lumayan mahal.
"Jangan berterima kasih. Aku sengaja minta ini ke Mika. Memangnya baju mahal ratusan juta itu sayang banget kalau sampai kena kotoran," katanya santai.
Aku mengangguk setuju. Memang sayang sekali kalau gaun semahal ini sampai rusak hanya karena aku sedang datang bulan.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Pria bernama Brian itu juga sudah membantuku berdandan dan mengenakan gaun panjang dengan hijab yang serasi.
"Kak, apakah baju ini harus dikembalikan?" tanyaku hati-hati.
Mikael datang dengan setelan tuxedo berwarna hitam. Dia duduk di depanku, memperhatikan Brian yang masih merapikan hijabku.
"Itu punyamu. Kamu boleh menyimpannya," jawabnya singkat.
Aku menatap gaun mewah ini sekali lagi. "Aku boleh menjualnya?" tanyaku polos.
Aku membelalakkan mata, mencoba menghitung dengan jemari tangan uang yang akan kudapatkan jika benar-benar berhasil menjual baju semahal ini. Namun, Mikael tidak menjawab. Dia justru menatapku tajam dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Aku langsung beringsut, menunduk. Sepertinya aku terlalu jujur.
"Sebegitunya ya kamu butuh uang?" suaranya terdengar lebih pelan, namun sarat dengan makna.
Aku tidak berani menjawab. Bagaimana mungkin aku menjelaskan situasiku pada seseorang seperti Mikael? Dia yang terlahir di dunia serba mewah ini, pasti tidak akan mengerti arti perjuangan hidupku.
Namun, sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Mikael berdiri. Tanpa mengatakan apa-apa, dia berjalan keluar, meninggalkanku dengan seribu pertanyaan di kepala. Sesuatu dalam sorot matanya tadi membuatku merasa tidak nyaman.
Kenapa aku merasa seolah dia baru saja melihatku dengan cara yang berbeda?
Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj
Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak
Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin
Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup
Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b
“Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu







