Share

Pernikahan Lavender
Pernikahan Lavender
Author: Piki Chan

PL 1

Author: Piki Chan
last update publish date: 2026-09-04 16:11:15

"Kamu menikahiku hanya untuk menutupi kenyataan kalau aslinya kamu pria gay, kan?" tanyaku tanpa basa-basi. Aku menatap Mikael dengan serius, jemariku masih menggenggam erat pulpen yang dia berikan.

Dia menghela napas, menatapku datar. "Sok tahu."

Aku terkekeh, mataku menelisik wajahnya. "Hallah, aku jelas tahu. Pria yang sering masuk ke ruanganmu itu pacarmu, kan?"

Mikael tidak segera menjawab. Aku bisa melihat otot rahangnya mengencang sebelum akhirnya dia menata sikap dan menujukkan selembar kertas dengan telunjuknya. "Tanda tangan di sini."

Aku melirik kertas itu sekilas, lalu mengangkat bahu. "Ingat ya, hanya lima tahun. Aku sudah konsultasi dengan dokter obgyn untuk melakukan suntik sperma," katanya, seolah tak peduli dengan apa yang baru saja kukatakan.

Aku mencibir. "Ahellah, ngapain juga harus suntik sperma? Memangnya kamu nggak pengen ngerasain malam pertama sama aku? Ngomong-ngomong, aku ini masih perawan ting-ting. Kamu pasti nyesel kalau nggak nyobain ini selama lima tahun pernikahan kita nanti."

Mikael memutar bola matanya, jelas jengah dengan candaanku. Aku melirik jam di pergelangan tanganku, mengingat jadwal kuliah malam ini. Masih ada dua jam sebelum aku harus berangkat.

Mikael Aryasatya. Seorang chef muda yang tengah naik daun. Tiga hari lalu, dia memintaku untuk menemuinya. Awalnya kupikir dia akan menawarkan posisi pegawai tetap setelah aku bekerja paruh waktu di restorannya. Nyatanya, dia justru mengajakku menikah. Pernikahan dengan kontrak selama lima tahun, lalu bercerai.

"Semua kebutuhanmu akan aku tanggung. Biaya kuliah, bahkan rumah yang akan kamu tempati setelah bercerai denganku sudah aku siapkan."

Aku mengangguk paham. Aku tidak munafik, sebagai seorang yatim piatu yang hidup di bawah asuhan Mbah Kyai dan Mbah Nyai selama enam tahun, tawaran ini terlalu menggiurkan untuk kutolak.

"Simbiosis mutualisme, lah." Aku bergumam pelan. Mikael lalu bangkit, mengeluarkan sebuah amplop tebal dan meletakkannya di depanku.

"Anggap saja itu uang jajan pertama dari tunanganmu. Belilah skincare dan makeup. Aku nggak suka melihat orang jelek setiap hari."

Aku menatap amplop itu dengan mata melebar, membuka isinya perlahan. Gila, ini banyak sekali. Seumur hidup aku belum pernah memegang uang sebanyak ini.

*

"Serius, Saf? Kamu kerja di kafe Kak Mika?" tanya seorang santriwati saat aku mampir ke pondok untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal.

"Iya, memangnya kenapa?" tanyaku balik sambil membuka kantong kresek berisi makanan yang kubawa untuk adik-adik santri dan beberapa teman yang kini menjadi pengabdi di pondok.

"Kamu ini, disuruh ambil jurusan guru aja nggak mau. Sekarang jadi harus kerja, kan? Harusnya di sini aja, ngabdi sekalian kuliah."

Aku menggeleng. Cita-citaku adalah menjadi psikolog anak, dan aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dalam zona nyaman di pondok ini.

"Tapi Kak Mika galak nggak, sih? Pacarnya siapa? Jadi penasaran deh."

Aku hanya tersenyum kecil. Mikael memang idola di pondok ini. Orang tuanya adalah donatur tetap yang sering mengadakan kegiatan amal.

"Kalau aku bilang jodohnya aku, gimana?" godaku.

Mereka tertawa, menganggapnya lelucon. Biarlah, pikirku. Mereka tak tahu kenyataan di balik semua ini. Jika mereka tahu bahwa pria yang mereka idolakan itu menyimpan rahasia besar, mungkin mereka tidak akan tertawa seperti sekarang.

Setelah pamit kepada Mbah Kyai dan Mbah Nyai, aku berjalan menuju halte di seberang jalan, menunggu bus menuju kampus.

"Masuk!" Sebuah perintah terdengar dari dalam mobil mewah berwarna merah terang. Aku melirik ke arah jendela yang terbuka, menemukan Mikael di dalamnya.

"Aku nunggu bus aja, Kak," tolakku halus.

Tatapan matanya tajam, seolah memberi ancaman. Aku menghela napas pasrah dan berjalan gontai menuju pintu mobil.

"Kamu kira aku ini sopir dan kamu majikannya? Pindah ke depan, Safira!" suaranya tegas.

Aku mendengus kesal, tetapi tetap menurut. Begitu masuk, aku langsung bersandar di kursi, menikmati empuknya jok mobil yang nyaman ini.

"Kalau cuma mau diam-diam begini, lebih baik aku turun aja," protesku. "Sebentar lagi azan Magrib dan aku harus sampai di masjid kampus sebelum kelas dimulai."

Mikael akhirnya melajukan mobilnya dengan tenang, fokus pada jalanan di depan. Aku menatapnya dari sudut mata, tiba-tiba terpikir sesuatu.

"Kak, kamu yakin mau ngajakin aku nikah?" tanyaku dengan nada serius. Dia melirik sekilas sebelum kembali memusatkan pandangannya ke jalan.

"Kalau kamu keberatan, aku akan cari cewek lain saja yang mau," jawabnya santai.

Aku langsung mengangkat tangan, seolah memohon.

"Jangan dong! Biaya kuliah psikologi lumayan mahal." Aku merengek tanpa malu.

Dia mencibir, senyum tipis terukir di ujung bibirnya, jelas mengejekku. "Matre juga, ya."

Aku mendelik dan mengibaskan jilbabku ke samping, seolah itu rambut panjang yang bisa kuhentakkan dengan angkuh.

"Siapa sih yang nggak mau uang? Cuma jadi istri, nggak perlu ngapa-ngapain, nggak harus melayani juga. Hash…" Aku tersenyum riang, bayangan menjadi nona muda sudah melintas di kepalaku. Hidup santai, semua kebutuhan terpenuhi, kuliah tanpa harus pusing mikirin biaya.

Tapi tiba-tiba aku terdiam. Ada sesuatu yang belum kupikirkan sejak kemarin. Bagaimana jika… pernikahan ini benar-benar mengubah jalan hidupku? Atau justru… menghancurkannya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Lavender   PL 7

    Aku mengangguk paham saat Jonas berkata akan mengantarku belanja. Ah, lelaki ini memang selalu membuatku gugup.Toko ini bukan sekadar swalayan biasa, melainkan lebih mirip dengan pusat perbelanjaan kelas atas. Saat menatap harga-harga yang tertera di rak, aku tersadar, tentu saja, ini kompleks perumahan mewah. Barang-barang di sini pun memiliki harga yang sangat premium."Apa yang kamu lihat?" Jonas bertanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk memilih paprika merah yang terlihat segar."Kaget dengan harganya?" lanjutnya dengan nada mengejek. "Sebagai istri Mika, kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal mahal."Nada bicaranya seolah ingin menekanku. Aku melengos, mendorong troli ke depan tanpa menjawab. Mungkin dia cemburu padaku karena aku adalah istri dari pacarnya. Ya, pacar prianya."Safira? Kamu kok di sini?"Aku mendongak, mendapati Viona berdiri di depanku, memegang keranjang belanjaan. Seketika, tubuhku menegang. Duh, bagaimana aku harus menjelaskan keberadaanku di sini?"Kamu kerj

  • Pernikahan Lavender   PL 6

    Aku mengangguk mantap. "Kamu benar, aku memang suka uang."Jonas hanya menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya, seolah menyimpan pemikiran yang hanya dia sendiri yang tahu. "Tak salah Mika memilihmu."Aku mengabaikan nada misterius dalam ucapannya. "Aku akan pulang sekitar jam tujuh malam. Kalau masih keburu, aku akan membelanjakan semuanya. Jika tak keburu, boleh besok saja?"Dia mengangguk santai. "Terserah kamu. Aku tidak terburu-buru."Aku turun dari mobil putih terang itu, lalu berjalan memasuki area kampus. Baru saja melewati gerbang, Viona sudah menghadang langkahku dengan senyum menyebalkan."Taksi online lagi? Sepertinya kamu sangat beruntung ya, Fir. Setiap hari numpang mobil mewah," sindirnya.Aku menanggapinya dengan senyum merekah tanpa berkata apa-apa, memilih untuk berjalan melewatinya."Oh ya, jangan lupa. Besok aku ada acara di kafe tempatmu bekerja," ucapnya lagi dengan nada meremehkan.Langkahku terhenti. "Aduh, Viona, maaf. Aku sudah pindah kerja, jadi nggak

  • Pernikahan Lavender   PL 5

    Aku melotot kesal pada Mikael yang dengan santainya menumpuk beberapa kardus di depan kamar yang nantinya akan kutinggali.“Rongsokan dari mana ini?” tanyanya dengan nada seenaknya, seolah tak bersalah.Aku mendengus, menahan emosi yang hampir meledak. Tanpa menjawab, aku berjongkok, memunguti baju-bajuku yang tercecer dari dalam kardus.“Iya, iya! Memang mirip sampah! Tapi kalau kamu membuangnya, aku harus pakai apa?” Aku mengembalikan baju-baju itu ke dalam kardus, mengusap noda bekas sepatunya yang tertinggal di beberapa bagian kain.Mikael mendecih, wajahnya terlihat tak suka. “Jangan terbiasa hidup miskin. Menjadi menantu keluarga Aryasatya itu tak pantas pakai sampah ini. Buang semuanya!”Aku menunduk. Kata-katanya memang tidak salah. Baju-bajuku lusuh, sebagian besar adalah pemberian para santri senior di pondok. Selama enam tahun ini, aku tak pernah membeli baju baru. Semua yang kupakai adalah pakaian bekas orang lain yang masih layak.“Tapi, Kak….”“Buang! Aku akan menggantin

  • Pernikahan Lavender   PL 4

    Aku duduk bersimpuh di atas permadani tebal dengan motif klasik berwarna emas. Di sampingku, Bu Nyai tersenyum lembut, tangannya mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang."Gimana, Saf? Kamu siap kan jadi istrinya Mas Mika?" tanyanya dengan suara lembut, seolah memahami gejolak batinku.Aku tersenyum kecil. Siap atau tidak, aku harus siap. Kekayaan terbentang di depan mata, kehidupan yang nyaman sudah menungguku. Dengan menikahi Mikael, aku tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah, tempat tinggal, atau bahkan makan sehari-hari. Ini seperti keberuntungan yang datang tanpa harus kucari."Iya, Umi," jawabku pelan.Bu Nyai kembali mengusap punggungku, seolah menyalurkan kehangatan yang selama ini tak pernah kurasakan dari seorang ibu. Selama enam tahun aku mengabdi di keluarga Kyai, bertahan di pondok dengan segala keterbatasan. Bukan hanya karena aku ingin belajar agama, tapi juga karena aku tak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tetap bertahan hidup

  • Pernikahan Lavender   PL 3

    Mikael akhirnya menghela napas panjang, lalu meneguk air sparkling dalam botol kaca. Aku menunggu hingga dia selesai sebelum mendekat dan berbisik pelan di telinganya."Kak, kamu kaya banget ya? Kamu nggak berniat nikahin aku sekalian jadiin tumbal pesugihan, kan?"Tepat saat itu, Mikael tersedak, batuk-batuk hingga wajahnya sedikit memerah. Aku langsung panik, buru-buru menepuk punggungnya."Jangan ngawur!" dengusnya setelah akhirnya bisa bernapas normal.Aku memasang wajah sedih. "Aku memang nggak punya orang tua, Kak. Tapi jangan gitu amat dong."Mikael mendengus, lalu menunjuk keningku dan menekannya sedikit lebih kuat dari yang seharusnya. "Hilangkan pikiran kotormu itu!"Aku meringis kesakitan, sementara dia melirik pegawai yang tadi membantuku mencoba gaun. Dengan sekali isyarat, pegawai itu langsung mengajakku masuk kembali ke ruang ganti.Aku mengusap pelan gaun berwarna gold dengan payet mutiara di bagian dadanya, mengagumi keindahannya. "Aku jarang lihat orang nikah pakai b

  • Pernikahan Lavender   PL 2

    “Jangan mikir aneh-aneh deh.” Mikael mengingatkanku dengan nada setengah bercanda. “Besok Mama pengen kamu ke rumah. Bersikaplah yang sopan. Orang-orang taunya kamu itu santri yang sopan, bukan ugal-ugalan begini.”“Siap, Yang Mulia!” Aku memberi hormat berlebihan, membuatnya mendesah geli.Begitu mobil berhenti di depan kampus, aku langsung turun. Tepat saat itu, azan magrib berkumandang. Langkahku mempercepat diri menuju masjid kampus.Namun, baru selesai shalat dan menuju kelas, seseorang menghentikanku. “Safira, tadi diantar siapa, kok?”Aku menoleh dan menemukan Viona berdiri dengan gaya khasnya,modis, berkelas, dan anggun seperti selalu. Bunga kelas yang dikagumi banyak cowok, bahkan dari jurusan lain. Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum santai.“Oh, aku naik taksi online. Kebetulan dapat driver yang mobilnya bagus,” jawabku enteng.Viona menyipitkan mata seolah membaca kebohonganku, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum, mengibaskan rambut panjangnya, lalu melenggang masu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status