LOGINSejak kelahiran anak Putri, Aji sering buat alasan keluar kota. Dewi tak tahu harus bertahan berapa lama, dengan kondisi ini.
"Aku ada rapat sama PT Asia Menara, di Jakarta. Berangkat hari ini." katanya, sembari mempersiapkan keperluannya sendiri. Dewi hanya terdiam. Selalu saja suaminya itu memberikan kabar dadakan kalau hendak keluar kota. "Berapa hari di Jakarta, Mas?" tanya Dewi, tak bersemangat. "Belum tahu." jawaban Aji, semakin membuat hati Dewi kecut. "Mas. Ponselmu jangan dimatikan ya. Nanti kalau aku mau hubungi kamu, biar gampang!" pinta Dewi penuh harap. "Kenapa kamu mulai atur-atur aku. Urus saja urusan kamu sendiri!" jawab Aji kasar. Mendengar jawaban yang menyakitkan itu, Dewi hanya bisa terdiam. Seketika, bulir-bulir bening air matanya pun jatuh membasahi pipi. "Kenapa dia kasar dengan aku," gumam Dewi, dengan hati yang hancur. Di otak Dewi, semua kekacauan ini, karena hadirnya Putri Gina, perempuan yang kini telah melahirkan anak Aji. *** Malamnya, Dewi benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Perlakuan perlakuan kasar yang belakangan dia terima dari Aji, benar-benar memporak-porandakan hati dan pikirannya. Dewi butuh tempat berbagi untuk kesedihannya. "Bisa nggak besok ketemuan. Aku mau ngomong sesuatu," ucap Dewi pada Andika. Teman sekolah Dewi saat di bangku putih abu-abu. Masih centang satu, saat pesan itu sudah terkirim ke Andika. "Aduh. Pakai nggak aktif segala, nomor Andika ini!" Dewi kecewa. Setengah jam kemudian, pesan singkat Dewi, baru diterima Andika. "Sori, gue lagi di Jakarta, sama temen-temen. Reunian!" balas Andika. "Cepet balik, aku tungguin," balas Dewi, masih kecewa. Padahal, selama ini Andika selalu ada untuk Dewi. Tapi, sayangnya posisi Andika memang sedang berada di luar kota. "Siap. Tuan putri!" "Jangan sebut-sebut nama Putri. Aku benci dengan nama itu," protes Dewi. "What happen?" "Panjang ceritanya! Makanya aku tunggu kamu! Kalau bisa, besok ya aku mau kamu udah muncul di depan aku!" balas Dewi setengah memaksa. "Oke. Baiklah tuan putri yang manja. Besok temani aku makan ya. Di tempat biasa," goda Andika lagi. Mereka biasa barter. Saling membutuhkan satu sama lainnya. Andika yang masih membujang ke usia 38. Sedangkan Dewi, sudah menikah dengan pria pilihannya. Dulu, saat di bangku SMA, dimana ada Dewi, di sana ada Andika. Padahal, mereka bukan sepasang kekasih. Andika punya Rosa, si cantik ketua OSIS. Dewi punya Aji, kakak kelas, anak orang kaya. Tapi, Dewi tak menyangka sama sekali. Pria yang dia puja-puja saat di bangku SMA itu, kini justru memberinya luka, setelah bersama sekian tahun lamanya. *** Sesuai janji Andika. Dia benar-benar menepati janjinya. "Jemput aku di bandara." pinta Andika lewat chat. Tanpa menunggu lama, Dewi tancap gas, dengan mobil jazz nya menuju bandara. Pagi itu, Dewi benar-benar bahagia. Karena, saat ini, di otaknya, hanya ingin bertemu Andika. Ia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya, dan bersandar di bahu Andika. "Lama banget sih kamu healing ya!" celetuk Dewi yang sedikit sewot saat melontarkan kalimat itu. "Hahahaha. Happy dong. Masa iya cemberut melulu, kayak yang di sebelah aku ini," lirik Andika, ke arah Dewi yang sedang fokus mengendalikan setir mobilnya. Spontan, tangan Dewi langsung mencubit paha Andika. "Aduh! Sakit tahu!" tepis Andika yang coba menyingkirkan tangan Dewi yang sudah mencubit pahanya itu. Www "Kalau paha aku biru-biru, tanggung jawab bawa ke dokter?" sebut Andika. "Hehehe. Emang gue pikirin!" jawab Dewi, santai. Tak lama, Dewi malah menambah cubitannya ke paha Andika. "Ih nakal banget ini istri orang!" celetuk Andika, seraya mendaratkan ciuman dadakan ke pipi kiri Dewi. Dewi terhenyak mendapat ciuman yang tiba-tiba mendarat di pipinya itu. Andika jadi heran. "Lho kenapa tuan putri tiba-tiba bengong?! Hahahaha!" goda Andika yang coba mencubit pipi Dewi yang tiba-tiba memerah. "Iya karena kamu tiba-tiba ngasih ciuman nggak pakai izin!" protes Dewi. "Kamu sih. Nakal!" kata Andika lagi. "Mau lagi nggak?!" goda Andika lagi, semakin buat Dewi tersipu malu-malu. "Nanti kapan-kapan aku mau lainnya. boleh nggak?! goda Andika semakin buat Dewi salah tingkah, hari itu. "Apaan sih!" jawab Dewi yang berusaha menyembunyikan perasaan bahagianya itu. Karena, baru kali ini tiba-tiba dicium Andika. "Dewi, aku boleh nggak ketemu sama Aji. Aku mau ngomong secara laki-laki," kata Andika, bikin kaget Dewi. "Eh jangan macem-macem kamu. Belum waktunya, kalau ketemu sama Aji." cegah Dewi. "Jadi, kamu mau hidup menderita bareng Aji, sampai nenek-nenek?" Andika melepas tawa. "Ya nggak gitu, kali!" protes Dewi. "Hmm. Tapi kenapa aku nggak boleh terus sama Aji, kalau aku mau merebut mu dari tangan dia?!" ucap Andika jujur. "Sudah kayak barang aja aku ini mau diperebutkan!" Dewi terkekeh. "Serius ini. Kamu mau nggak jadi istri aku?" Andika mengatakan itu to the point ke Dewi. Dewi terdiam. Dia masih tak yakin dengan pernyataan Andika. "Hei... kenapa bengong sih lihat aku. Udah kayak lihat hantu aja, pandangi aku kayak gitu," Andika spontan mencubit pipi Dewi. Tak lama, bibir mereka pun saling terpaut satu sama lain. Dewi begitu menikmatinya. Hingga dia lupa, sebenarnya Dewi harus pasang wajah pura-pura menolak hati Andika. "Dewi. Aku sayang kamu. Terima ya perasaan aku ini," bisik Andika, lirih di telinga kanan Dewi. Dewi hanya terpaku, memandangi wajah tampan Andika yang pesonanya menyilaukan banyak perempuan. "Tapi, kalau aku terima, ada yang marah nggak nanti?" tanya Dewi sok menguji Andika. "Siapa. Aku ini laki-laki jomblo yang tak laku-laku. Kecuali ada janda cantik di depan aku ini, dia pasti mau terima aku." kata Andika percaya diri. "Ih. Sok percaya diri. Siapa juga yang mau sama jomblo playboy satu ini!" Dewi bercanda. "Ayolah sayang. Terima aku. Aku sangat sayang sama kamu," kata Andika, merayu Dewi dengan kata-kata manisnya itu. "Jangan. Kamu masih punya banyak peluang dapat anak gadis. Rugi besar kalau kamu mau sama janda." kilah Dewi masih sok-sok menolak Andika. "Jangan membohongi kata hati kamu, Dewi. Nanti kamu nggak bisa tidur karena merindukan aku." Andika kembali berbisik mengatakan itu di telinga Dewi. "Aku bukan perempuan yang baik buat kamu, Andika. Banyak perempuan lain disana yang masih gadis. Dia akan memberikan kamu kebahagiaan yang kamu cari. Kalau sama aku. Kamu hanya dapat kesedihan." kata Dewi dengan nada pasrah. "Aku nggak peduli. Hidup aku bahagia cuma sama kamu," Andika masih melancarkan rayuan mautnya untuk Dewi. "Andika. Aku lapar. Sesi menggombal nya, udah ya. Kita makan aja yuk." kata Dewi berusaha mengalihkan pembicaraan. "Aku sayang kamu, Dewi. Ingat itu," kata Andika, sebelum menjauh dari tubuh Dewi. Dewi tak bisa berkata-kata. Keduanya pun berlalu menuju rumah makan langganan mereka.Tak terasa, waktu terus berlalu. Bulan depan, Alea genap berusia lima tahun. Dewi, nggak punya rencana apa-apa buat merayakan ulang tahun Alea yang ke -5. Hanya doa yang dia panjatkan buat Alea, agar putri kecilnya itu tumbuh jadi gadis yang tangguh dan tak gampang menyerah. "Dew. Kamu ada rencana buat pesta ulang tahun Alea nggak?!" Tiba-tiba Aji mengirimkan pesan itu ke Dewi. "Ya Allah Mas kamu ingat aja sama ulang tahun Alea. Nggak Mas aku nggak ada buat acara apa-apa. Aku cuma doain Alea jadi anak yang pintar dan tangguh, kelak ia sudah dewasa. " balas Dewi. "Pasti ingat dong sama anak aku. Dia darah daging aku Dew. Aku menyayangi dia, lebih dari segalanya." "Prettttttt!" gumam Dewi, mencibir kalimat Aji. "Kita rayain di KFC. Aku sudah boking tempatnya. Kalian besok aku jemput ya. Kita sama-sama jalan ke KFC," sebut Aji. "Nggak usah Mas. Nggak perlu." tolak Dewi. "Nanti istri kamu Puteri, marah, buat susah aku aja kalau dia marah dan menculik Alea lagi." "J
Aji bernafas lega setelah semua masalahnya usai. Keinginannya saat ini hanya satu, bersatu dengan Dewi. Apalagi bayang-bayang Alea yang nyaris dicelakai sama Puteri, membuat Aji bertekad bulat untuk kembali kepada Dewi. Niat itu tak pernah surut. Bagi Aji, Alea dan Dewi adalah harapan satu-satunya untuk menatap hari esok lebih bahagia. Pertemuan tak terduga antara Aji dan Dewi, membuat Dewi salah tingkah. "Mas Aji?!" sapa Dewi salah tingkah saat dia mendapati kehadiran Aji, di mall yang sama dia datangi dengan Alea. "Dewi. Mana Alea?" "Itu dia di tempat permainan anak. Katanya dia pengen mandi bola." sebut Dewi. Aji pun berusaha menelusuri area permainan anak mandi bola itu, demi menemukan Alea putri kecilnya itu. "Dia lagi sama kawan-kawan sebaya dia." ucap Dewi yang mengingatkan agar Aji tak mengganggu waktu Alea bareng kawannya. "Iya. Kita kemana Dew. Setelah ini?" tanya Aji serius. "Aku pulang Mas, sama Alea." "Kita cari makan KFC yuk. Kemarin Alea suka ba
Di rumah kosong itu, hanya ada Alea dan Puteri. Aji pelan-pelan membuka pintu ruang tamu yang sengaja tak dikunci. "Puteri, dimana kamu?" suara Aji pelan memanggil Puteri.. Tak lama, Puteri keluar dari kamar itu. Tapi tanpa ada Alea. "Dimana Alea?" tanya Aji pelan. Dia berusaha bersikap lembut kali ini di depan Puteri. Semua dia lakukan demi menyelamatkan Alea. "Lihat saja di kamar itu. Dia akan jadi bangkai disana!" ucap Puteri, menunjuk ke arah kamar yang pintunya sudah rapuh karena dimakan usia. Bersamaan dengan itu, Aji bergegas melangkah ke kamar yang ditunjuk Puteri. Namun, sebelum dia benar-benar menggapai pintu kamar itu, langkah Aji dihadang Puteri. Dia meminta sejumlah uang tebusan, sebesar Rp 2 miliar. Saat itu juga, uang yang diminta Puteri, disetujui Aji. "Transfer sekarang juga ke rekening aku. Kalau nggak, lihat saja nasib Alea. Dia bakal membusuk di kamar ini. Hahahahahah!" Puteri mendesak Aji mentransfer uang yang dia minta, saat itu juga. "Oke. L
Tak ada harapan Puteri keluar dari kamarnya. Karena Puteri berhasil mengetahui kalau dirinya dihadang dari luar, oleh Aji dan Dewi. Ponsel Aji bergetar. Panggilan tak dikenal muncul di layar ponselnya. Aji mencoba mengangkatnya. "Kalau kamu mau Alea selamat, singkirkan perempuan itu dari sini!" ucap Puteri mengancam lewat sambungan telepon selulernya. "Oke. Oke!" Aji langsung menuruti perintah Puteri. "Dew, tolong kamu pergi dari sini. Percaya sama aku, aku akan menyelamatkan Alea, ini permintaan Puteri. Kita harus menghargainya." ucap Aji gemetar.. "Tapi Mas.....," Protes Dewi. "Nggak ada tapi tapian. Kamu percaya sama aku, aku akan menyelamatkannya, dengan tangan aku. Dia darah dagingku Dew. Aku nggak biarkan anak aku celaka di tangan siapa pun. Karena aku akan buat perhitungan pada siapa pun yang berani menyakiti Alea." ucap Aji panjang lebar, berusaha meyakinkan Dewi yang terlihat sangat panik. "Mas.....aku percaya sama kamu. Tolong selamatkan anak aku. Kalau kamu
Tiba di halaman rumah mewah milik Aji, Dewi menyapukan pandangannya. "Rumah megah ini seperti tak berpenghuni." pikir Dewi panik, bingung dan gemetar, memikirkan nasib Alea. "Ya Allah, dimana Nak, kamu. Tolong selamatkan anak hamba ya Allah." Dewi tak henti berdoa. "Selamat datang, bidadari surgaku," ucap Aji sembari bertepuk tangan sekali. "Kembalikan anak aku!" teriak Dewi histeris. "Dew. Ada apa ini?! Tenangkan dulu hati kamu." Aji berusaha mendekati Dewi. Dewi malah berjalan mundur berusaha menjauhi Aji. "Kalian sekongkol kan ingin mencelakai anak aku?!" kata Dewi lagi masih dengan suara meninggi. "Maksud kamu apa Dew!" Aji bingung dengan tuduhan Dewi tadi. "Siapa yang mau mencelakai Alea?! Ya nggak mungkin. Memangnya aku ini orang tua yang nggak punya hati. Orang tua yang gila?!" kata Aji yang mulai ikutan panik. "Kenapa dengan Alea, Dew....!" tanya Aji kebingungan. "Jangan pura-pura kamu Mas!" pekik Dewi masih terbakar emosi.. "Ya Allah Dew. Demi All
Rosa bingung harus ngomong apa ke Dewi. Tapi, apa pun yang terjadi, Rosa harus jujur sama Dewi, kalau Alea memang tak berhasil dia temukan di rumahnya sendiri. "Dew. Dimana posisi?" tanya Rosa dengan nada panik. "Kenapa Ros?!" tanya Dewi pelan. Karena Dewi sedang ikut rapat penting dengan bos. "Di kantor Ros, ada rapat sama Bos aku!" sebut Dewi santai. "Dew. Bisa nggak kamu minta izin keluar sebentar dari ruang rapat itu?" perintah Rosa dengan panik. Tanpa berkata-kata lagi, Dewi pun menuruti perintah Rosa. Dia keluar ruangan. "Jadi gimana Ros?! Ini aku sudah di luar ruangan. Ada apa Ros." kata Dewi yang mencoba menghubungi Rosa kembali. "Dew. Aku mau ngomong sesuatu. Tapi aku takut banget kalau kamu marah besar sama aku." sebut Rosa dari balik ponsel genggamnya itu. "Ngomong apa Ros?!" tanya Dewi penasaran. "Dew. Tapi janji ya kamu jangan marah sama aku. Aku janji akan cari solusi terbaiknya." kata Rosa lagi masih dengan rasa ketakutan. Tak hanya itu, suara Ros







