INICIAR SESIÓN
“Aisyah, nanti kamu masak yang banyak dan antar ke rumah Ibu. Hari ini Ibu tidak bisa masak untuk Ayah, karena aku dan Ibu mau menghadiri undangan makan dari teman kerjaku.”
Aisyah tidak langsung menjawab karena masih sibuk membuatkan susu untuk Arka, anakku. Namun dalam pikiranku, mengapa Mas Bara tidak mengajakku? Kenapa aku masih saja berharap? Ya, meskipun akhir-akhir ini sikap Mas Bara memang berbeda padaku. “Aisyah, kamu dengar tidak aku ngomong apa?” Lagi-lagi Mas Bara membentakku. Aisyah segera memberikan susu itu kepada arka yang masih berbaring di tempat tidur. Ya, aku memang tidur berdua dengan anakku saja, karena Mas Bara tak mau tidur satu ranjang denganku. Katanya dia tak mau melihatku, terlebih lagi berdekatan denganku. Tapi kenapa Aisyahbisa sampai hamil? Karena waktu aku berhubungan badan dengan Mas Bara, dia dalam keadaan mabuk. Paginya Mas Bara terkejut karena, seingat dia, dia tidur di kamarnya. Tapi sepersekian detik kemudian dia teringat apa yang dia lakukan kepadaku. Setelah kejadian itu, Mas Bara semakin membenciku. Kami tidur terpisah. Arka, anakku, sekarang sudah berumur 1,5 tahun. Arka sudah bisa berbicara, meskipun terkadang belum begitu lancar. “Aisyah…” Mas Bara menghampiriku dengan raut menahan emosi, karena aku tak kunjung menjawab. “Sssttt… Mas, pelankan suaramu. Arka baru tidur. Iya, nanti aku masak dan aku antarkan makanannya, Mas.” Mas Bara terdiam lalu pergi mengendarai mobilnya. Dia tidak sarapan karena mungkin terburu-buru. Ya, meskipun sikapnya selalu keras padaku, dia masih peduli pada anaknya, meskipun terkadang terlihat cuek. Aisyah melangkah keluar dan menutup pintu kamar agar Arka tidak terganggu. Kukulangkan kakiku menuju dapur sambil menyiapkan bahan makanan. Aisyah sempat melamun. “Andai Ayah dan Ibu masih ada, mungkin hidupku tidak akan sesakit ini. Ayah, Ibu… aku sudah capek, lelah. Tidakkah kalian ingin mampir ke mimpiku agar sedikit hilang rasa rinduku? Kini Arka sudah besar. Dia yang sekarang jadi penyemangatku, Ayah, Ibu.” Tangis Arka menyadarkanku. Aisyah segera menghampirinya. Kulihat dia sudah duduk dan menangis. “Aduh, anak Ibu sudah bangun.” Kugendong dia dan kubawa ke dapur untuk melanjutkan tugasku. Arka sangat anteng dalam gendonganku. Kuselesaikan pekerjaanku dan kutata rapi di rantang. “Beres semua. Kita antar ke rumah Kakung ya, sayang. Arka kangen kan sama Kakung?” Arka tersenyum melihatku. Dialah penyemangatku. Aisyah segera bersiap, memakai jilbab, dan mengambil kunci motor matic. Karena rumah kami tidak terlalu jauh dari rumah mertuaku, tak sampai 10 menit aku sudah tiba. Aisyah mengucap salam dan masuk ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum.” Kulihat ayah mertuaku duduk santai di kursi roda di taman belakang rumah ditemani Bi Marni. Ayah mertuaku memiliki usaha properti dan toko mebel yang kini dilanjutkan oleh Mas Bara. Sebenarnya, Mas Bara punya kakak laki-laki, tetapi ketika berumur 10 tahun kakaknya meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Bi Marni menghampiriku. “Monggo, Mbak. Bapak lagi duduk santai di belakang.” Bi Marni meraih rantang yang kubawa. Tugas Bi Marni di rumah ini hanya membersihkan rumah. Untuk urusan makanan, biasanya ibu mertuaku yang mengerjakan, karena beliau pemilih soal makanan. Aisya menghampiri ayah mertuaku dan meraih tangannya untuk bersalaman. “Arka salim sama Kakung.” Ayah mertuaku terlihat senang melihat kami datang. “Bagaimana keadaan Ayah? Apakah sudah jauh lebih baik?” Pak Sofyan mengangguk. Dia bisa bicara, tetapi tidak terlalu jelas. “Ayah sudah sarapan belum?” Ayah mertuaku menggeleng pelan. Aisyah tersenyum dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan tadi. Arka yang sudah bisa berjalan, kuturunkan dari gendongan dan dia bermain dengan ayah mertuaku. Meskipun ayah mertuaku duduk di kursi roda, Arka tetap anteng bermain dengannya. “Biar saya bantu ya, Mbak,” ucap Bi Marni. Aisyah mengangguk. Bi Marni membantuku menata makanan di meja makan. Setelah memastikan ayah mertuaku makan, aku segera berpamitan. “Ayah, Aisyah pamit pulang ya.” “Aisyah… maafkan Ayah ya, sudah membuat kamu terluka seperti ini.” Aisyah tersenyum terpaksa, walaupun hatinya terasa sakit. “Aisyah bahagia kok, Yah. Ayah jangan khawatir. Sekarang yang terpenting Ayah segera pulih dan sehat seperti sedia kala.” Ayah mertuaku membelai jilbabku. Dia menitikkan air mata. Aku segera berpamitan agar aku sendiri tidak ikut menangis. Kulangkahkan kakiku keluar rumah mertuaku. Di perjalanan pulang, aku mengendarai motor dengan perasaan campur aduk. Arka yang melihatku bersedih hanya diam saja. Mungkin ia bisa merasakan perasaanku. Sesampainya di rumah, segera kutidurkan Arka di kasur. Dia tertidur selama perjalanan. Kulihat jam menunjukkan pukul 11 siang. Aisyah segera merebahkan tubuh karena hari ini sangat melelahkan. Tak terasa aku tertidur sampai jam 2 siang, ketika Mas Bara masuk ke dalam rumah. Dia melihatku tertidur dan langsung membangunkanku serta memarahiku. “Heh, Aisyah! Bangun! Jadi seperti ini kerjaanmu kalau aku sedang tidak di rumah? Enak ya kamu, jadi juragan.” Segera kubuka mataku. “Mas, kamu sudah pulang? Maaf, aku ketiduran.” “Enak kamu ya…” Arka yang mendengar ayah dan ibunya berisik segera bangun dan menangis. Aku segera menenangkannya. “Sssttt… jangan nangis, sayang.” Bara semakin emosi. Setelah melihat Arka bangun, ia pergi ke dapur, tetapi tidak menemukan makanan apa pun di sana. “Aisyah!” Aisyah berlari sambil menggendong Arka yang masih terisak. “Kamu itu seharian ngapain saja? Kenapa makanan nggak ada?” “Maaf, Mas. Aku tadi ketiduran habis mengantar makanan ke Ayah.” “Alasan saja kamu! Duduk! Ada yang mau aku bicarakan!” Mendadak aku menjadi gelisah. Tidak biasanya Mas Bara mengajakku bicara serius. Aisyah duduk perlahan, masih menggendong Arka yang mulai terisak pelan. Jantungku berdetak lebih cepat. Mas Bara berdiri di hadapanku, kedua tangannya bersedekap, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu. “Mulai hari ini…” katanya, lalu terdiam. Aisyah menelan ludah. Tanganku memeluk Arka lebih erat tanpa sadar. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu,” sambungnya, namun suaranya terdengar berbeda—lebih berat, lebih… asing. Untuk pertama kalinya sejak lama, tatapan Mas Bara tidak sekadar marah atau benci. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuat dadaku semakin sesak. “Apa, Mas?” suaraku bergetar. Mas Bara memalingkan wajah, menarik napas panjang seakan sedang mempertimbangkan sesuatu yang besar. Lama sekali ia diam, sampai-sampai aku mulai gelisah sendiri. “Mas?” ulangku lirih. Akhirnya ia menoleh lagi. Tatapannya menusuk, tapi bukan kemarahan. “Aisyah…” Ia berhenti lagi. “…kita nggak bisa terus seperti ini.” Dunia serasa berhenti. Aisyah menunggu ia melanjutkan. Namun Mas Bara justru berdiri, merapikan kemejanya, lalu berkata: “Nanti malam, setelah Arka tidur… kita harus bicara. Serius.” Hanya itu. Tanpa menjelaskan apa pun, Mas Bara berbalik dan berjalan keluar kamar. Sebelum Aisyah sempat bertanya, pintu tertutup. Deg. Pikiranku langsung kacau. Apa yang ingin dia bicarakan? Kenapa ekspresinya begitu? Apa… dia ingin mengakhiri semuanya? Aisyah menatap Arka yang mulai tenang di pelukanku. Tiba-tiba rasanya udara di rumah ini jadi begitu berat. Dan untuk pertama kalinya, aku takut menghadapi malam nanti.**** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan
**** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku melangkah keluar dari rumah yang pernah kusebut sebagai tempat pulang. Pintu besar itu tertutup di belakangku tanpa suara, tapi dentumannya terasa keras di dadaku. Seolah bukan pintu yang menutup, melainkan seluruh hidupku yang runtuh dalam satu tarikan napas. Tangis Arka masih terdengar pelan di dadaku. Aku mengeratkan pelukan, membungkus tubuh kecilnya dengan jaketku sendiri. Angin malam menusuk kulit, tapi tak sedingin perlakuan yang baru saja kuterima. “Sudah, Nak… Ibu di sini,” bisikku sambil terus berjalan menuruni anak tangga. “Mama nggak akan ninggalin kamu.” Lampu teras masih menyala terang. Ironis. Rumah itu terang, hangat, dan penuh kehidupan tapi tidak lagi untukku. Aku berhenti sejenak di halaman, menoleh ke belakang. Jendela ruang keluarga masih terbuka sedikit. Bayangan Bara dan Bela tampak samar di balik tirai. Mereka masih di sana. Bersama. Tanpa aku. Dadaku sesak. “Mas…” gumamku lirih, meski tahu ia takka
“Duduk.” Satu kata itu meluncur dingin dari mulut Bara, tanpa emosi, tanpa ragu. Seolah aku bukan lagi istrinya, melainkan orang asing yang tak pantas berdiri di hadapannya. Tubuhku terhempas ke sofa ruang keluarga. Lututku terasa lemas, jantungku berdegup tak beraturan. Arka masih dalam gendonganku, tubuh kecilnya gemetar, tangisnya tak kunjung reda sejak tadi. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, berusaha menenangkan, meski hatiku sendiri sedang porak-poranda. Di seberang sofa, Bela sudah duduk lebih dulu. Kedua tangannya memegangi perutnya yang kini membesar, wajahnya pucat atau setidaknya terlihat pucat dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Bara dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kamu jangan kasar-kasar,” ucapnya lembut, nadanya penuh kepura-puraan. “Kasihan Aisyah…” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan Bara. Aku menunduk, jemariku mencengkeram kain gendongan Arka. Kasihan? Dari semua yang terjadi, dari semua luk
**** Aku melewati Bara yang masih duduk di tepi ranjang dengan bahu kaku dan tatapan kosong. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sejak pertengkaran tadi. Aku memilih tak menoleh lagi. Dengan hati yang terasa penuh luka, aku menggendong Arka dan melangkah keluar menuju teras depan rumah. Udara malam menyambut kami. Dinginnya menusuk kulit, tapi tak sedingin hatiku. Aku mengelus punggung Arka yang terlelap di bahuku. Napasnya teratur, kecil, dan rapuh. Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, menempelkan kening ke rambutnya. “Nak… enggak apa-apa,” bisikku lirih, suaraku hampir pecah. “Kamu masih punya Ibu. Ibu janji, Ibu bakal mengusahakan apa pun buat kamu. Ibu enggak akan ninggalin kamu, ya…” Mataku panas. Aku menahan air mata agar tak jatuh di wajahnya. Belum sempat aku menenangkan diri, dari arah depan terdengar suara mesin mobil yang begitu kukenal. Lampu mobil menyala terang, lalu mati. Aku menghela napas panjang. Aku tahu itu pasti Bela. Benar saja. Bela tu
**** Ponselku tergeletak di meja kerja sejak pagi. Layarnya sempat menyala beberapa kali, tetapi aku terlalu sibuk atau terlalu pengecut untuk benar-benar menatapnya. Aku tahu hari ini apa. Aku tahu janji apa yang pernah kuucapkan. Namun seperti biasa, aku menundanya. Menganggap semuanya bisa menunggu. Sampai akhirnya aku membuka pesan itu. Mas, hari ini ulang tahun Arka. Dadaku langsung terasa sesak. Jam di dinding menunjukkan sore menjelang malam. Aku menelan ludah, mencoba meyakinkan diri bahwa masih ada waktu. Aku berdiri, meraih jaket, dan bergegas keluar dari ruangan. Namun langkahku terhenti saat ponselku kembali bergetar. Pesan lain masuk. Foto. Kue kecil dengan satu lilin. Arka berdiri di sampingnya, tersenyum tipis, mata sembab. Aisyah berada di belakangnya, memeluk pundaknya. Wajah Aisyah istri pertamaku,itu pucat, matanya merah, senyumnya nyaris tak ada. Tanganku gemetar. Aku duduk kembali, napasku memburu. Kepalaku berdenyut keras. Gambaran Arka meniup l







