LOGINSetelah kepergian Bara, Aisyah menangis di dalam kamar Bara. Ia menatap foto Bara yang diletakkan di meja dekat jendela kamar.
“Kenapa kamu lakukan ini kepadaku, Mas? Apa salahku?” Hari menjelang malam. Aisyah masih diliputi rasa sedih yang mendalam. Tepat hari ini, Bara melangsungkan pernikahan dengan Bela. Arka yang seolah mengerti perasaan ibunya, seharian tidak rewel. Ia anteng dengan mainannya dan selalu menurut apa pun yang diminta ibunya. **** Di lain sisi Setelah acara pernikahan, Bara dan Bela tidak membuat resepsi. Pernikahan itu sederhana dan hanya dihadiri keluarga inti. Bara hanya ditemani ibunya, sedangkan Bela bersama keluarganya. Kini, Bara dan Bela tinggal di apartemen pemberian ibu Bara. Bela sangat senang karena ia merasa menjadi menantu kesayangan. Walaupun statusnya hanya istri kedua dan siri, Bela tidak mempermasalahkannya. Sebentar lagi ia merasa akan menjadi nyonya Bara sepenuhnya setelah Bara dan Aisyah berpisah. Bara yang kelelahan mencoba memejamkan mata. Namun tiba-tiba ia dibuat pusing oleh permintaan Bela yang katanya ngidam ingin makan sushi jam dua belas malam. Mana ada restoran buka jam segitu? Tetapi Bara tetap menuruti permintaan Bela. “Mas, ayo. Aku ingin makan sushi. Dari pagi aku belum makan,” rengek Bela. “Memangnya kenapa kamu nggak makan? Udah jam segini, mana ada restoran yang buka, Sayang,” ucap Bara pelan. “Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus beliin aku sushi!” Bela ngambek. Ia membelakangi Bara. “Iya, iya. Ayo kamu siap-siap, kita beli,” akhirnya Bara mengalah daripada Bela marah. Keduanya mulai mencari restoran yang masih buka. Namun setelah lebih dari satu jam berkeliling, tidak ada satu pun restoran sushi yang buka. “Udah, besok aja ya kita belinya. Sekarang kita cari makan yang lain. Mau nasi goreng atau mi goreng?” tawar Bara. “Aku nggak mau! Masak aku disuruh makan nasi goreng di pinggir jalan begitu? Aku nggak mau!” Bara agak tersulut emosi, tapi ia berusaha menahan dirinya. “Terus mau gimana, Sayang? Ini sudah hampir jam dua pagi.” Bela tampak berpikir lalu berkata, “Ya udah, nggak papa sekarang nggak makan sushi. Tapi besok gantinya kamu harus beliin aku tas ini.” Dia menunjukkan gambar tas limited edition. “Oke, besok kita beli. Sekarang kita pulang ya. Aku capek.” “Oke, Mas.” Mereka pun pulang ke apartemen. **** Keesokan harinya, mentari pagi tampak indah. Cuacanya cerah, namun tak secerah suasana hati Aisyah. Aisyah terlihat lesu dan letih. Tatapannya kosong, pikirannya melayang tentang hidupnya yang tak pernah damai. Kata “andai” sering terlintas di benaknya. Andai aku tidak menikah dengan Bara. Andai aku tidak menerima perjodohan itu. Andai aku tidak jatuh cinta pada Bara. Semua terasa melelahkan. Sebelum Arka bangun, Aisyah segera menyelesaikan aktivitasnya. Untuk mengalihkan pikiran, ia melanjutkan pekerjaan sampingannya sebagai olshop. Ia cukup banyak memiliki teman di media sosial karena harus aktif untuk berjualan. Terkadang ada customer yang meminta dicarikan barang tertentu. Sambil menggendong Arka, Aisyah tetap bekerja—hitung-hitung rezeki untuk anaknya. Banyak tetangga menegur karena menurut mereka Aisyah sudah menjadi istri lelaki kaya. Bara pun pernah marah karena malu dengan pekerjaan Aisyah. Ia membandingkan Aisyah dengan Bela. Memang, pekerjaan Bela yang menjadi pegawai bank jauh berbeda dengan Aisyah yang penghasilannya tak menentu. Tapi Aisyah tak pernah malu. Setelah selesai bekerja, Aisyah mendadak teringat Arka. Tidak biasanya Arka bangun siang kecuali jika ia sedang sakit. Langkahnya segera menuju kamar. Saat masuk, Aisyah sempat terdiam melihat foto pernikahannya dengan Bara yang terpajang di ruang keluarga. Hatinyanya berdenyut. Setega itu Bara pada dirinya dan Arka tidak mau melepaskan, tetapi terus menyakiti. Ia mengabaikan perasaan itu dan segera menghampiri Arka yang masih tidur. Aisyah mengusap lembut kepala anaknya. Namun betapa kagetnya ia ketika menyadari tubuh Arka panas. “Ya ampun, kamu demam, Nak.” Aisyah bergegas mengambil sirup dan baby fever medicine Arka. Ia mengecek suhu tubuh Arka lalu membangunkannya. Arka memang kalau sakit sering tidur dan jarang rewel seakan tidak ingin membuat ibunya khawatir. Arka tersenyum kecil saat melihat ibunya. Ia meminum obat yang diberikan Aisyah. Sebelum meminum obat, Aisyah menyuapinya sedikit makanan. Walaupun hanya sedikit, Arka masih mau makan. “Kamu demam, Nak. Kita cek suhu tubuhnya, ya?” Arka mengangguk. Setelah diberi obat, Arka kembali tertidur. Suhu tubuhnya mencapai 38,4°C pantas tubuhnya panas. Aisyah membiarkan Arka tidur dan cepat-cepat membereskan pekerjaannya. Ia memutuskan memanggil kurir untuk mengambil barang dagangannya. Selesai bekerja, Aisyah kembali duduk di samping Arka. Sempat terpikir untuk mengabari Bara, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tak ingin menambah masalah. Toh dirinya dan Arka kini bukan prioritas Bara. **** Di apartemen, Bara mengenakan kaos dan celana joger, sibuk dengan laptopnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan, namun ia belum melihat istrinya bangun. Ia menggeleng heran. Terlintas di pikirannya jika ia masih bersama Aisyah, jam segini ia sudah sarapan dan rumah sudah bersih, walaupun Aisyah memiliki toddler dan pekerjaan olshop. “Sayang, kamu nggak pengin bangun buatin aku sarapan?” panggil Bara. Bela membuka mata tanpa bergerak. “Mas, aku masih ngantuk. Kamu kalau mau sarapan bikin sendiri kan bisa.” Bara sedikit syok mendengar jawaban itu. Ia berdiri dan hendak membuat sarapan sendiri. Tiba-tiba Bela memeluknya dari belakang.**** Waktu terasa berjalan lebih cepat setelah itu. Perutku mulai benar-benar terlihat. Bukan lagi rahasia kecil yang hanya kami tahu, tapi kenyataan yang ikut bergerak setiap kali aku melangkah. “Mas, perut Ibu sudah kayak balon,” komentar Bara suatu sore sambil menempelkan pipinya. “Balon mahal,” sahut Bara cepat. Aku tertawa kecil. “Kenapa mahal?” “Karena isinya dua.” Arka terlihat bangga setiap kali orang bertanya, “Kembar ya?” Ia akan menjawab dengan dada dibusungkan, “Iya. Adek satu dan adek dua. Aku kakaknya.” **** Memasuki bulan terakhir, langkahku makin pelan. Nafasku lebih pendek. Dan malam-malamku lebih sering terbangun. Suatu malam, kontraksi kecil datang seperti gelombang tipis. Aku menggenggam lengan Bara. “Mas…” Ia langsung terbangun. “Kenapa? Sakit?” “Kayaknya mulai.” Wajahnya berubah tegang dalam satu detik. “Sekarang?” “Belum terlalu kuat. Tapi teratur.” Ia sudah duduk, meraih ponsel, tas rumah sakit yang memang sudah disiapkan seja
**** Pagi itu suasana rumah sedikit tegang. Bara sudah siap berangkat, tapi ponselnya terus berdering tanpa henti. Nama manajer proyeknya muncul berkali-kali. “Ada apa lagi, Mas?” tanyaku dari meja makan sambil menyuapi Arka. Ia menjawab telepon dengan wajah serius. “Iya… saya sudah bilang, jangan mulai pengecoran sebelum saya cek ulang… Tidak, jangan ambil keputusan sendiri.” Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Setelah telepon ditutup, ia mengusap wajahnya kasar. “Mas?” panggilku pelan. “Ada supplier yang coba main cepat. Mereka mau pakai material alternatif tanpa approval.” “Lebih murah?” tanyaku. “Iya. Tapi kualitasnya belum jelas.” Arka yang sedang makan tiba-tiba menyela, “Ayah jangan pakai yang jelek.” Bara menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Iya, Mas. Ayah nggak mau rumahnya retak.” Arka mengangguk puas lalu kembali makan. Aku berdiri dan mendekat ke Bara. “Mas terlalu keras tadi.” Ia menghela napas. “Kalau aku lembek, mereka anggap bisa ditekan.
**** Pagi itu Bara sudah rapi sebelum jam tujuh. Kemeja putihnya licin, jam tangan terpasang, wajahnya lebih serius dari biasanya. Aku berdiri di depan lemari sambil memperhatikan dari pantulan cermin. “Mas mau ke kantor pusat hari ini?” tanyaku. “Iya,” jawabnya singkat. “Kantor proyek atau yang di pusat?” “Pusat. Ada rapat direksi.” Aku tersenyum kecil. “Serius banget nadanya.” Ia menoleh dan mendekat. “Ini pertama kali aku pimpin rapat sejak Ayah resmi serahkan operasional penuh.” Aku mengangguk pelan. Perusahaan properti itu memang dibangun dari nol oleh Pak Sofiyan. Perumahan, ruko, sampai apartemen—semuanya berdiri dari kerja kerasnya. Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan Bara. “Kamu siap, Mas?” tanyaku lembut. Ia terdiam sebentar. “Harus siap.” Aku mendekat dan membenarkan kerah kemejanya. “Mas itu bukan cuma anak pemilik perusahaan. Mas itu orang yang kerja dari bawah. Semua orang di sana tahu itu.” Bara tersenyum tipis. “Ibu juga bilang beg
**** Kabar tentang dua detak itu menyebar lebih cepat dari yang kuduga. Belum genap dua hari, Bu Indah sudah datang membawa dua kantong besar berisi pakaian bayi. “Ini netral semua ya. Kalau nanti satu laki-laki, satu perempuan, tetap bisa dipakai,” katanya sambil mengeluarkan satu per satu baju mungil dari tas. Aku tertawa kecil. “Bu, ini masih lama.” “Lama dari mana? Kembar itu waktunya terasa dua kali lebih cepat,” jawabnya yakin. Bara berdiri di samping lemari, memperhatikan tumpukan baju yang makin tinggi. “Bu, rumah kita bukan gudang.” Bu Indah melotot. “Ini bukan gudang. Ini persiapan.” Pak Sofiyan masuk beberapa menit kemudian, kursi rodanya didorong perlahan oleh Bara. “Apa lagi yang diborong?” tanyanya santai. “Cuma sedikit,” jawab Bu Indah defensif. “Sedikit versi Ibu itu biasanya setengah toko,” balasnya tenang. Aku dan Bara saling pandang, menahan tawa. Arka tiba-tiba muncul membawa dua mobil-mobilan kecil. “Nenek, ini buat adek satu dan adek d
**** Pagi itu aku terbangun karena merasa ingin muntah,lalu pergi ke kamar mandi. “Aisyah!” suara Bara terdengar panik. Aku baru sadar suara itu. Bara sudah berdiri di sampingku, memegang rambutku, menepuk punggungku pelan. “Pelan… pelan… sudah, sudah…” Aku terengah. “Kayaknya lebih parah dari kemarin.” “Ini bukan ‘kayaknya’. Ini jelas lebih parah,” jawabnya tegas tapi lembut. Arka tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. “Bunda kenapa?” Bara langsung menggendongnya menjauh sedikit. “Bunda lagi mual, Mas.” Arka mengerutkan dahi. “Adek nakal?” Aku tertawa lemah. “Nggak. Adek cuma lagi tumbuh.” Arka berpikir serius. “Kalau tumbuh jangan bikin Bunda muntah dong.” Bara menahan senyum. “Nanti Ayah bisikin adek, ya.” Arka mengangguk mantap. “Iya. Bilangin jangan nakal.” Siang itu, karena mualku tak juga mereda, Bara memutuskan mengajakku kontrol lebih cepat. “Kita nggak usah tunggu jadwal,” katanya sambil membantu aku memakai cardigan.
**** Perjalanan pulang malam itu lebih sunyi dari biasanya. Arka tertidur di car seat, kepalanya miring dengan mulut sedikit terbuka. Nafasnya teratur, seolah keributan tadi hanyalah suara angin yang lewat tanpa makna. Di kursi depan, Bara menggenggam setir lebih erat dari biasanya. “Kamu marah sama Ibu?” tanyaku pelan. Ia menghela napas panjang. “Aku… nggak tahu harus marah atau sedih.” “Karena Bu Indah menyerang duluan?” “Karena aku pikir semua sudah selesai.” Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahaya lampu jalan memantul di kaca, membuat wajah Bara terlihat lelah. “Kamu takut itu terulang lagi?” tanyaku. Ia menoleh sekilas. “Aku takut kamu capek. Kamu lagi hamil, harusnya nggak perlu menghadapi hal seperti tadi.” Aku tersenyum kecil. “Aku nggak sendiri.” Bara terdiam, lalu mengangguk pelan. “Iya. Kita.” Sesampainya di rumah, kami memindahkan Arka ke tempat tidur. Ia bergumam pelan, “Aku jaga Bunda…” sebelum kembali tenggelam dalam mimpi. Aku dan Bara du
**** Pagi kepindahan itu datang terlalu cepat. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Aisyah masih tertidur di sampingku, Arka meringkuk di antara kami seperti pagar kecil yang hangat. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap mereka. Ini alasanku. Bukan rumah. Bukan gengsi. Bukan pembuktian p
**** Aku menatap layar ponsel itu cukup lama sebelum akhirnya menggeser ikon hijau. Ada sesuatu yang tak enak sejak awal, firasat yang menekan dada, seperti peringatan yang datang terlalu lambat. “Hallo?” suaraku datar. “Bara?” Suara di seberang sana terdengar tenang, bahkan nyaris santai. “A
**** “Mas, itu gak mungkin.” Suara Aisyah bergetar, tapi matanya tegas. “Kamu sudah memilih jalanmu sendiri sejak kamu menikah lagi.” Bara melangkah mendekat, jaraknya tinggal satu langkah. “Aku gak pernah memilih untuk kehilangan kalian.” “Pilihan itu tetap pilihan,” Aisyah menahan napas. “W
**** Aku menutup pintu perlahan setelah Bara pergi. Suara engselnya nyaris tak terdengar, tapi dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang berat. Rumah kembali sunyi sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Sunyi yang penuh gema kata-kata. Aku berdiri beberapa detik di dekat pintu, punggungku bersan







