Share

3.luka 3

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-09 23:54:18

Setelah kepergian Bara, Aisyah menangis di dalam kamar Bara. Ia menatap foto Bara yang diletakkan di meja dekat jendela kamar.

“Kenapa kamu lakukan ini kepadaku, Mas? Apa salahku?”

Hari menjelang malam. Aisyah masih diliputi rasa sedih yang mendalam. Tepat hari ini, Bara melangsungkan pernikahan dengan Bela.

Arka yang seolah mengerti perasaan ibunya, seharian tidak rewel. Ia anteng dengan mainannya dan selalu menurut apa pun yang diminta ibunya.

****

Di lain sisi Setelah acara pernikahan, Bara dan Bela tidak membuat resepsi. Pernikahan itu sederhana dan hanya dihadiri keluarga inti.

Bara hanya ditemani ibunya, sedangkan Bela bersama keluarganya.

Kini, Bara dan Bela tinggal di apartemen pemberian ibu Bara. Bela sangat senang karena ia merasa menjadi menantu kesayangan. Walaupun statusnya hanya istri kedua dan siri, Bela tidak mempermasalahkannya. Sebentar lagi ia merasa akan menjadi nyonya Bara sepenuhnya setelah Bara dan Aisyah berpisah.

Bara yang kelelahan mencoba memejamkan mata. Namun tiba-tiba ia dibuat pusing oleh permintaan Bela yang katanya ngidam ingin makan sushi jam dua belas malam. Mana ada restoran buka jam segitu?

Tetapi Bara tetap menuruti permintaan Bela.

“Mas, ayo. Aku ingin makan sushi. Dari pagi aku belum makan,” rengek Bela.

“Memangnya kenapa kamu nggak makan? Udah jam segini, mana ada restoran yang buka, Sayang,” ucap Bara pelan.

“Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus beliin aku sushi!”

Bela ngambek. Ia membelakangi Bara.

“Iya, iya. Ayo kamu siap-siap, kita beli,” akhirnya Bara mengalah daripada Bela marah.

Keduanya mulai mencari restoran yang masih buka. Namun setelah lebih dari satu jam berkeliling, tidak ada satu pun restoran sushi yang buka.

“Udah, besok aja ya kita belinya. Sekarang kita cari makan yang lain. Mau nasi goreng atau mi goreng?” tawar Bara.

“Aku nggak mau! Masak aku disuruh makan nasi goreng di pinggir jalan begitu? Aku nggak mau!”

Bara agak tersulut emosi, tapi ia berusaha menahan dirinya.

“Terus mau gimana, Sayang? Ini sudah hampir jam dua pagi.”

Bela tampak berpikir lalu berkata, “Ya udah, nggak papa sekarang nggak makan sushi. Tapi besok gantinya kamu harus beliin aku tas ini.”

Dia menunjukkan gambar tas limited edition.

“Oke, besok kita beli. Sekarang kita pulang ya. Aku capek.”

“Oke, Mas.”

Mereka pun pulang ke apartemen.

****

Keesokan harinya, mentari pagi tampak indah. Cuacanya cerah, namun tak secerah suasana hati Aisyah.

Aisyah terlihat lesu dan letih. Tatapannya kosong, pikirannya melayang tentang hidupnya yang tak pernah damai.

Kata “andai” sering terlintas di benaknya.

Andai aku tidak menikah dengan Bara.

Andai aku tidak menerima perjodohan itu.

Andai aku tidak jatuh cinta pada Bara.

Semua terasa melelahkan.

Sebelum Arka bangun, Aisyah segera menyelesaikan aktivitasnya. Untuk mengalihkan pikiran, ia melanjutkan pekerjaan sampingannya sebagai olshop. Ia cukup banyak memiliki teman di media sosial karena harus aktif untuk berjualan. Terkadang ada customer yang meminta dicarikan barang tertentu. Sambil menggendong Arka, Aisyah tetap bekerja—hitung-hitung rezeki untuk anaknya.

Banyak tetangga menegur karena menurut mereka Aisyah sudah menjadi istri lelaki kaya. Bara pun pernah marah karena malu dengan pekerjaan Aisyah. Ia membandingkan Aisyah dengan Bela. Memang, pekerjaan Bela yang menjadi pegawai bank jauh berbeda dengan Aisyah yang penghasilannya tak menentu. Tapi Aisyah tak pernah malu.

Setelah selesai bekerja, Aisyah mendadak teringat Arka. Tidak biasanya Arka bangun siang kecuali jika ia sedang sakit.

Langkahnya segera menuju kamar. Saat masuk, Aisyah sempat terdiam melihat foto pernikahannya dengan Bara yang terpajang di ruang keluarga. Hatinyanya berdenyut. Setega itu Bara pada dirinya dan Arka tidak mau melepaskan, tetapi terus menyakiti.

Ia mengabaikan perasaan itu dan segera menghampiri Arka yang masih tidur.

Aisyah mengusap lembut kepala anaknya. Namun betapa kagetnya ia ketika menyadari tubuh Arka panas.

“Ya ampun, kamu demam, Nak.”

Aisyah bergegas mengambil sirup dan baby fever medicine Arka. Ia mengecek suhu tubuh Arka lalu membangunkannya. Arka memang kalau sakit sering tidur dan jarang rewel seakan tidak ingin membuat ibunya khawatir.

Arka tersenyum kecil saat melihat ibunya.

Ia meminum obat yang diberikan Aisyah. Sebelum meminum obat, Aisyah menyuapinya sedikit makanan. Walaupun hanya sedikit, Arka masih mau makan.

“Kamu demam, Nak. Kita cek suhu tubuhnya, ya?”

Arka mengangguk.

Setelah diberi obat, Arka kembali tertidur. Suhu tubuhnya mencapai 38,4°C pantas tubuhnya panas.

Aisyah membiarkan Arka tidur dan cepat-cepat membereskan pekerjaannya. Ia memutuskan memanggil kurir untuk mengambil barang dagangannya.

Selesai bekerja, Aisyah kembali duduk di samping Arka. Sempat terpikir untuk mengabari Bara, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tak ingin menambah masalah. Toh dirinya dan Arka kini bukan prioritas Bara.

****

Di apartemen, Bara mengenakan kaos dan celana joger, sibuk dengan laptopnya. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan, namun ia belum melihat istrinya bangun.

Ia menggeleng heran.

Terlintas di pikirannya jika ia masih bersama Aisyah, jam segini ia sudah sarapan dan rumah sudah bersih, walaupun Aisyah memiliki toddler dan pekerjaan olshop.

“Sayang, kamu nggak pengin bangun buatin aku sarapan?” panggil Bara.

Bela membuka mata tanpa bergerak.

“Mas, aku masih ngantuk. Kamu kalau mau sarapan bikin sendiri kan bisa.”

Bara sedikit syok mendengar jawaban itu. Ia berdiri dan hendak membuat sarapan sendiri.

Tiba-tiba Bela memeluknya dari belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   102.Euforia Kemenangan

    **** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan

  • Pernikahan Penuh Luka   101.Setelah Aisyah Pergi

    **** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki

  • Pernikahan Penuh Luka   100.Bertemu Dokter Aldi

    Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku melangkah keluar dari rumah yang pernah kusebut sebagai tempat pulang. Pintu besar itu tertutup di belakangku tanpa suara, tapi dentumannya terasa keras di dadaku. Seolah bukan pintu yang menutup, melainkan seluruh hidupku yang runtuh dalam satu tarikan napas. Tangis Arka masih terdengar pelan di dadaku. Aku mengeratkan pelukan, membungkus tubuh kecilnya dengan jaketku sendiri. Angin malam menusuk kulit, tapi tak sedingin perlakuan yang baru saja kuterima. “Sudah, Nak… Ibu di sini,” bisikku sambil terus berjalan menuruni anak tangga. “Mama nggak akan ninggalin kamu.” Lampu teras masih menyala terang. Ironis. Rumah itu terang, hangat, dan penuh kehidupan tapi tidak lagi untukku. Aku berhenti sejenak di halaman, menoleh ke belakang. Jendela ruang keluarga masih terbuka sedikit. Bayangan Bara dan Bela tampak samar di balik tirai. Mereka masih di sana. Bersama. Tanpa aku. Dadaku sesak. “Mas…” gumamku lirih, meski tahu ia takka

  • Pernikahan Penuh Luka   99.Pergi

    “Duduk.” Satu kata itu meluncur dingin dari mulut Bara, tanpa emosi, tanpa ragu. Seolah aku bukan lagi istrinya, melainkan orang asing yang tak pantas berdiri di hadapannya. Tubuhku terhempas ke sofa ruang keluarga. Lututku terasa lemas, jantungku berdegup tak beraturan. Arka masih dalam gendonganku, tubuh kecilnya gemetar, tangisnya tak kunjung reda sejak tadi. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, berusaha menenangkan, meski hatiku sendiri sedang porak-poranda. Di seberang sofa, Bela sudah duduk lebih dulu. Kedua tangannya memegangi perutnya yang kini membesar, wajahnya pucat atau setidaknya terlihat pucat dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Bara dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kamu jangan kasar-kasar,” ucapnya lembut, nadanya penuh kepura-puraan. “Kasihan Aisyah…” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan Bara. Aku menunduk, jemariku mencengkeram kain gendongan Arka. Kasihan? Dari semua yang terjadi, dari semua luk

  • Pernikahan Penuh Luka   98.Tak Pernah Benar

    **** Aku melewati Bara yang masih duduk di tepi ranjang dengan bahu kaku dan tatapan kosong. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sejak pertengkaran tadi. Aku memilih tak menoleh lagi. Dengan hati yang terasa penuh luka, aku menggendong Arka dan melangkah keluar menuju teras depan rumah. Udara malam menyambut kami. Dinginnya menusuk kulit, tapi tak sedingin hatiku. Aku mengelus punggung Arka yang terlelap di bahuku. Napasnya teratur, kecil, dan rapuh. Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, menempelkan kening ke rambutnya. “Nak… enggak apa-apa,” bisikku lirih, suaraku hampir pecah. “Kamu masih punya Ibu. Ibu janji, Ibu bakal mengusahakan apa pun buat kamu. Ibu enggak akan ninggalin kamu, ya…” Mataku panas. Aku menahan air mata agar tak jatuh di wajahnya. Belum sempat aku menenangkan diri, dari arah depan terdengar suara mesin mobil yang begitu kukenal. Lampu mobil menyala terang, lalu mati. Aku menghela napas panjang. Aku tahu itu pasti Bela. Benar saja. Bela tu

  • Pernikahan Penuh Luka   97.Rasa Kecewa

    **** Ponselku tergeletak di meja kerja sejak pagi. Layarnya sempat menyala beberapa kali, tetapi aku terlalu sibuk atau terlalu pengecut untuk benar-benar menatapnya. Aku tahu hari ini apa. Aku tahu janji apa yang pernah kuucapkan. Namun seperti biasa, aku menundanya. Menganggap semuanya bisa menunggu. Sampai akhirnya aku membuka pesan itu. Mas, hari ini ulang tahun Arka. Dadaku langsung terasa sesak. Jam di dinding menunjukkan sore menjelang malam. Aku menelan ludah, mencoba meyakinkan diri bahwa masih ada waktu. Aku berdiri, meraih jaket, dan bergegas keluar dari ruangan. Namun langkahku terhenti saat ponselku kembali bergetar. Pesan lain masuk. Foto. Kue kecil dengan satu lilin. Arka berdiri di sampingnya, tersenyum tipis, mata sembab. Aisyah berada di belakangnya, memeluk pundaknya. Wajah Aisyah istri pertamaku,itu pucat, matanya merah, senyumnya nyaris tak ada. Tanganku gemetar. Aku duduk kembali, napasku memburu. Kepalaku berdenyut keras. Gambaran Arka meniup l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status