Mag-log in“Kamu lagi bikin apa, Mas?”
“Aku lagi bikin kopi,” jawab Bara pelan. Bela masih memeluk Bara dari belakang. Bara membiarkannya. Setelah kopi itu jadi, barulah Bara melepaskan pelukan Bela. Bela sedikit terkejut Bara tidak biasanya cuek seperti ini. “Kamu kenapa, Mas? Kamu marah sama aku?” tanya Bela, suaranya dibuat manja. Bara yang hendak menuju meja makan mendadak berhenti. Ia berbalik menatap Bela tajam. Tatapan itu membuat Bela sedikit mundur. Bara terlihat menyeramkan setelah kejadian semalam. Bela buru-buru merapat, merayu, takut Bara berpaling. Karena saat ini, dia masih punya satu saingan istri sah Bara yang sangat ia benci. “Mas… tatapanmu bikin aku takut. Maaf kalau aku nggak bisa melayanimu. Aku lagi nggak bisa cium bau bumbu dapur. Mual terus.” Bela mengkambinghitamkan kehamilannya. Bara mengembuskan napas. Mengingat Aisyah saat mengandung Arka dulu Aisyah tidak pernah mengeluh meski trimester pertamanya berat. Mual, muntah, pusing, tapi tetap menyiapkan kebutuhan Bara. Meski dulu… Aisyah tidak pernah dianggap. Semua ingatan itu membuat Bara semakin kacau. “Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud bikin kamu takut. Kamu lagi nggak enak badan?” Bara luluh. Wajahnya melunak. Bela tersenyum tipis senyum kemenangan. Rencananya berhasil. “Enggak, Mas. Aku baik-baik saja. Cuma tadi kaget lihat tatapanmu.” “Iya… maafin Mas, ya. Kamu mau sarapan di luar?” Bela cepat mengangguk. Dia ingat janji Bara tadi malam: membelikannya tas branded. “Iya, Mas. Aku juga mau nagih janji Mas.” Bara tersenyum. “Iya, Sayang. Silakan mandi dulu.” Bela mengecup pipinya, lalu masuk kamar dengan langkah ringan. Sisi Aisyah Aisyah baru selesai membereskan rumah. Ia mengecek suhu tubuh Arka. Termometer ia letakkan di ketiak putranya. Arka yang sudah bangun tetap diam, hanya memandang ibunya. Di situ, Aisyah merasa kasihan dan khawatir. Beep. Termometer berbunyi. Angka 38,3°C. Aisyah langsung panik. Ia menggendong Arka, mengambil kunci motor, jaket, dan tas. Untungnya ia masih punya motor pemberian almarhum ayahnya motor yang ia rawat sepenuh hati. Sesampainya di klinik anak, ia mendaftar dan menunggu. Sambil menunggu, ia membuka ponselnya. Apa aku harus kasih tahu Mas Bara? Aisyah menggigit bibir. Dulu, saat Arka sakit, ia memberitahu Bara… tapi Bara marah. Katanya: “Arka itu urusan kamu. Jangan ganggu aku.” Aisyah menghela napas panjang. Perawat memanggil. “Nomor antrian 8, atas nama Arka Mahendra.” Aisyah memasukkan lagi ponselnya. Ia masuk ke ruang pemeriksaan. “Assalamualaikum, Dok.” “Waalaikumsalam. Ada keluhan apa?” Aisyah menjelaskan semuanya. Setelah diperiksa dan diberi resep, ia segera pulang. Cuaca mendung hampir hujan. Sisi Bara Bara dan Bela telah sampai di restoran favorit Bela. Sudut ruangan menghadap sawah. Namun Bara malah diam, pikirannya melayang pada Aisyah dan Arka. “Mas, kamu mikirin apa sih? Dari tadi diam terus. Katanya mau sarapan?” Bela merajuk. Bara kaget dan buru-buru makan. Padahal jam sudah 12 siang sarapan sekaligus makan siang. Tadi ia telat makan karena drama Bela sebelum berangkat. “Aku nggak apa-apa, Sayang. Lagi kepikiran kerjaan.” Padahal kenyataannya bukan pekerjaan yang mengganggunya. Ada rasa aneh menekan dadanya rasa yang sudah lama ia abaikan: khawatir terhadap istri dan anaknya. “Kamu sudah selesai? Kalau sudah kita pulang. Aku capek,” kata Bara. Bela langsung melempar sendok. Marah. Bara tidak seperti biasanya. Biasanya romantis, manis, menuruti semua keinginannya. Tapi sejak kemarin… dia berubah. “Mas, kamu janji mau ajak aku ke mall. Mau beli tas!” “Iya, iya. Selesaikan dulu makanmu.” Bara memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi berlogo hijau. Dan ia melihatnya Story Aisyah. Di klinik anak. Arka demam. Aisyah menulis bahwa ia libur jualan beberapa hari karena Arka sakit. Dada Bara mendadak sesak. Jadi itu… kenapa hatiku nggak tenang dari tadi. Ia ingin menelpon Aisyah. Menanyakan keadaan Arka. Tapi egonya lebih tinggi dari nalurinya sebagai ayah. Ia memasukkan ponsel ke saku. Bela tidak curiga sedikit pun. “Mas, aku sudah selesai. Yuk pergi.” Bara mengangguk. Namun langkahnya terhenti saat ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk.**** Aku duduk di tepi ranjang kamarku, menatap lantai yang dingin. Rumah ini kembali menerimaku tanpa syarat, tanpa tanya. Namun justru itu yang membuat dadaku terasa makin sesak. Seharusnya aku pulang dengan kepala tegak, bukan dengan hati remuk dan masa depan yang terasa buram. Arka duduk di kursi kecil, memainkan ujung bajuku dengan jari-jarinya yang mungil. Tatapannya sesekali terangkat ke arahku, penuh rasa ingin tahu. “Bu, kita di sini lama?” tanyanya polos. Pertanyaan sederhana itu menghantam dadaku lebih keras dari apa pun. Aku menelan ludah. “Entahlah, Nak. Ibu belum tahu.” Aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan tak tahu harus melangkah ke mana setelah ini. Hidupku seperti berhenti di satu titik di saat aku memilih pergi dari rumah Bara dengan membawa Arka dan luka yang belum sempat sembuh. Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kembali semua yang terjadi. Wajah Bara terlintas jelas di benakku. Dingin. Jauh. Seolah aku tak pernah berarti apa-apa da
**** Setelah keluar dari rumah Bara, aku tidak langsung pulang ke tempat tinggalku yang sementara. Kakiku melangkah tanpa tujuan yang pasti, sementara pikiranku dipenuhi kekacauan yang tak kunjung reda. Arka kugenggam erat, seolah jika kulepaskan sedikit saja, dunia akan benar-benar runtuh di hadapanku. Aku keluar dari rumah Bara mengendarai motor,motor pemberian kedua orang tuaku. Aku memutuskan kembali ke rumah kedua orang tuaku. Rumah kecil yang dulu menjadi saksi masa kecilku, tempat aku belajar tentang arti pulang dan bertahan. Aku tak ingin merepotkan Dokter Aldi lebih jauh. Kebaikannya sudah terlalu banyak untuk kubalas, sementara aku sendiri masih tenggelam dalam luka yang belum sembuh. Sepanjang perjalanan, Arka terdiam di pangkuanku. Matanya sesekali menatapku, seolah ingin bertanya mengapa ibunya terlihat begitu lelah dan kosong. Aku tersenyum tipis padanya, meski hatiku bergetar. “Sebentar lagi kita sampai, Nak,” bisikku lirih. Motor berhenti di depan halaman ru
Setelah kepergian Aisyah malam itu, rumah terasa jauh lebih lengang. Tak ada lagi suara langkahnya yang biasanya terdengar pelan di lorong, tak ada napas berat yang sering ia sembunyikan saat menahan tangis. Bu Indah pun tak berlama-lama. Perempuan itu memilih pulang ke rumahnya sendiri, membawa kepuasan yang bahkan tak ia sembunyikan dari sorot matanya. Pintu tertutup. Sunyi. Aku berdiri beberapa detik di tengah kamar, memastikan tak ada siapa pun yang tersisa selain diriku. Lalu perlahan senyum itu muncul senyum yang sejak tadi kutahan. Aku melangkah ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhku dengan santai, seolah beban besar akhirnya terangkat dari pundakku. “Pada akhirnya hari yang kutunggu benar-benar tiba,” gumamku pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. Mataku menatap langit-langit kamar, pikiranku berkelana ke satu nama yang terus berputar di kepala. Bara. “Aku sudah menjadi nyonya Bara seutuhnya,” lanjutku dalam hati. “Walaupun Bara dan Aisyah belum resmi berc
**** Aku tidak pernah berniat kembali ke rumah itu. Bahkan melintas di depan gerbangnya saja membuat dadaku sesak. Tapi hidup kadang memaksa kita menghadapi sesuatu yang paling ingin kita hindari. Pagi itu, ponselku bergetar saat aku sedang menidurkan Arka. Nama Ibu Indah ibu Bara muncul di layar. Jantungku langsung berdegup tak beraturan. Aku menatap layar itu lama. Ragu. Takut. Tapi pada akhirnya, aku mengangkat panggilan itu. “Aisyah,” suara beliau terdengar dingin, tanpa basa-basi. “Kamu di mana?” Aku menelan ludah. “Saya… di tempat aman, Bu.” “Datang ke rumah sekarang,” katanya tegas. “Kita harus bicara.” Nada itu bukan permintaan. Perintah. Aku menarik napas dalam. “Baik, Bu.” Telepon terputus. Tanganku gemetar. Aku memeluk Arka erat, mencium keningnya berkali-kali. “Ibu harus kuat, Nak,” bisikku. “Apa pun yang terjadi.” Beberapa jam kemudian, aku berdiri di depan rumah itu lagi. Rumah yang sama, tapi perasaanku sudah berbeda. Tidak ada lagi harapan. Ti
**** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan
**** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki







