로그인Langkah Bara terhenti. Ia segera melihat pesan masuk itu, berharap sesuatu yang penting. Namun rasa kecewa muncul ketika melihat pengirimnya ternyata hanya dari Bu Indah, ibunya.
Bu Indah hanya menanyakan keadaan Bara dan Bela. Sesampainya di mall, Bela langsung menuju outlet yang ia tuju. Setelah mendapatkan barang yang ia inginkan, Bela meminta Bara membelikannya perhiasan juga. Belanjaan Bela menghabiskan biaya hingga ratusan juta harga yang fantastis. Namun Bara tak mempermasalahkan. Baginya, selama Bela senang, semuanya baik-baik saja. Padahal kepada Aisyah dan Arka, ia tak pernah sekalipun seroyal ini. Setelah puas berbelanja, mereka pun pulang. Di perjalanan, Bela membuka percakapan. “Mas!” “Hmmm?” Bara menjawab sambil memegang kemudi dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Bela dan mengecupnya singkat. “Mas kan cuma tiga hari di sini… kalau aku kangen, boleh kan aku ke rumah Mas juga?” Pertanyaan itu membuat Bara terkejut. Ia bahkan menghentikan mobil secara mendadak. “Mas! Kamu mau bikin aku sama calon bayimu mati, ya? Berhenti mendadak seperti itu!” Bela memegang dadanya, marah dan kaget. “Maaf, Sayang… aku nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa kan?” “Iya, aku nggak apa-apa,” jawab Bela kesal sambil membenarkan duduknya. Tatapannya menilai Bara dengan heran. “Kamu kenapa kaget sih, Mas? Memangnya ada yang salah sama pertanyaanku?” Bara menghela napas panjang. Lalu akhirnya ia bicara. “Sayang, dengarkan aku. Aku belum bisa mengizinkan kamu datang ke rumah itu. Biarkan aku selesaikan dulu masalahku dengan Aisyah. Nanti, kalau sudah selesai, aku akan bawa kamu ke rumah orang tuaku dan memperkenalkan kamu ke Ayah.” Bela mendengus. “Mas, sudah berapa kali aku bilang… jangan sebut nama dia kalau lagi sama aku.” “Iya, Sayang, maaf. Mas janji nggak akan sebut namanya lagi. Tapi kamu harus nurut dulu sama aku.” “Ya, tapi sampai kapan, Mas? Perut aku akan makin besar. Aku nggak mau terus-terusan hanya jadi istri kedua.” “Iya, Mas tahu. Kamu sabar, ya.” Bela semakin tidak senang dengan jawaban itu dan memilih diam. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi notif transfer uang masuk. Jumlahnya cukup besar. Bela tersenyum puas. “Makasih, Sayang.” Ia mencium pipi Bara. Melihat itu, Bara ikut tersenyum dan kembali menjalankan mobil menuju apartemen. Sisi Aisyah Aisyah yang sibuk dengan pekerjaan rumah dikejutkan oleh suara bel. Tak biasanya sore-sore ada yang bertamu. Apalagi ia sudah memberi tahu pelanggan bahwa ia libur beberapa hari untuk merawat Arka yang sedang sakit. Ketika membuka pintu, ternyata Bu Indah ibu mertuanya yang datang. “Kenapa lama sekali bukanya? Kamu mau saya nunggu sampai kering di luar?” omelnya tanpa jeda. “Maaf, Bu. Tadi saya dari dapur.” Bu Indah duduk dengan gaya angkuhnya. “Duduk. Aku mau bicara.” Aisyah duduk dengan sopan. “Kamu ini nggak bisa berdandan sedikit apa supaya suamimu betah di rumah? Pantas saja suamimu cari wanita lain di luar. Yang cantik, yang pantes diliat. Lihat tuh penampilan kamu kucel, kusam. Aku saja ogah lihat.” Aisyah menunduk. Ia memang tidak pandai berdandan. Sejak punya Arka, ia lebih memilih menabung ketimbang membeli hal-hal yang tidak mendesak. Bu Indah melanjutkan dengan nada tajam, “Dengar ya, Aisyah. Jangan kira aku ke sini buat kasihan sama kamu. Aku cuma mau bilang satu hal. Pernikahan Bara sama Bela itu cuma kita bertiga yang tahu. Kamu, aku, dan Bara. Jangan sampai kamu kasih tahu ayahnya Bara. Paham?” Hati Aisyah mencelos. Ia mengangguk, menahan air mata yang menggenang. Bukan karena dihina… tapi karena ia baru tahu ibunya Bara juga mendukung pernikahan itu. Tanpa pamit, Bu Indah pergi begitu saja. Aisyah akhirnya menangis. Hidupnya terasa terlalu berat ditinggal kedua orang tua, mencintai suami yang tak pernah membalas cintanya, dan kini Arka sedang sakit parah. Penderitaannya terasa lengkap. Pukul 3 Dini Hari Aisyah terbangun karena tubuh Arka mendadak kejang. Panasnya masih tinggi. Panik, bingung, dan ketakutan Aisyah langsung menggendong Arka. Ia tak punya siapa pun untuk dimintai pertolongan. Dengan tubuh gemetar, ia mengeluarkan motor dan menembus dinginnya angin malam. Ia menangis sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah sakit, Aisyah masuk ke UGD sambil berteriak kecil meminta pertolongan. Arka diletakkan di brankar dan tim medis segera memberi penanganan. Kejang sudah berhenti, tetapi panasnya masih tinggi. Aisyah terduduk di kursi tunggu, menangis tanpa suara. Tiba-tiba, sebuah tangan mengusap pundaknya dengan lembut. Aisyah mengangkat wajah. Seorang pria berdiri di depannya wajah asing, tetapi terasa familiar. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dan berdiri. “Maaf… apakah Anda mengenal saya?” Pria itu tersenyum kecil sambil mengulurkan tangan. “Kenalkan, saya Aldi.” Aisyah melihat name tag di jasnya. “Dokter?” Aldi mengangguk. “Tolong, Dok… tolong anak saya. Dia kejang-kejang, badannya panas sekali,” ucap Aisyah sambil memegang tangan dokter itu. “Kamu tenang ya. Dia bakal baik-baik saja.” Aisyah mengangguk dan berterima kasih. Aldi masuk ke UGD. Aisyah duduk lagi, mencoba menenangkan diri. Ia menghubungi Bara. Seperti dugaan tidak diangkat. Jam masih pukul 3 dini hari. Aisyah akhirnya mengirim pesan, memberi tahu bahwa Arka dirawat di rumah sakit. Ia juga meminta sedikit uang, berjaga-jaga kalau tabungannya tidak cukup. Setelah mengirim pesan itu, Aisyah kembali duduk… dan menatap pintu UGD dengan hati yang terus berdoa.**** Waktu terasa berjalan lebih cepat setelah itu. Perutku mulai benar-benar terlihat. Bukan lagi rahasia kecil yang hanya kami tahu, tapi kenyataan yang ikut bergerak setiap kali aku melangkah. “Mas, perut Ibu sudah kayak balon,” komentar Bara suatu sore sambil menempelkan pipinya. “Balon mahal,” sahut Bara cepat. Aku tertawa kecil. “Kenapa mahal?” “Karena isinya dua.” Arka terlihat bangga setiap kali orang bertanya, “Kembar ya?” Ia akan menjawab dengan dada dibusungkan, “Iya. Adek satu dan adek dua. Aku kakaknya.” **** Memasuki bulan terakhir, langkahku makin pelan. Nafasku lebih pendek. Dan malam-malamku lebih sering terbangun. Suatu malam, kontraksi kecil datang seperti gelombang tipis. Aku menggenggam lengan Bara. “Mas…” Ia langsung terbangun. “Kenapa? Sakit?” “Kayaknya mulai.” Wajahnya berubah tegang dalam satu detik. “Sekarang?” “Belum terlalu kuat. Tapi teratur.” Ia sudah duduk, meraih ponsel, tas rumah sakit yang memang sudah disiapkan seja
**** Pagi itu suasana rumah sedikit tegang. Bara sudah siap berangkat, tapi ponselnya terus berdering tanpa henti. Nama manajer proyeknya muncul berkali-kali. “Ada apa lagi, Mas?” tanyaku dari meja makan sambil menyuapi Arka. Ia menjawab telepon dengan wajah serius. “Iya… saya sudah bilang, jangan mulai pengecoran sebelum saya cek ulang… Tidak, jangan ambil keputusan sendiri.” Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Setelah telepon ditutup, ia mengusap wajahnya kasar. “Mas?” panggilku pelan. “Ada supplier yang coba main cepat. Mereka mau pakai material alternatif tanpa approval.” “Lebih murah?” tanyaku. “Iya. Tapi kualitasnya belum jelas.” Arka yang sedang makan tiba-tiba menyela, “Ayah jangan pakai yang jelek.” Bara menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Iya, Mas. Ayah nggak mau rumahnya retak.” Arka mengangguk puas lalu kembali makan. Aku berdiri dan mendekat ke Bara. “Mas terlalu keras tadi.” Ia menghela napas. “Kalau aku lembek, mereka anggap bisa ditekan.
**** Pagi itu Bara sudah rapi sebelum jam tujuh. Kemeja putihnya licin, jam tangan terpasang, wajahnya lebih serius dari biasanya. Aku berdiri di depan lemari sambil memperhatikan dari pantulan cermin. “Mas mau ke kantor pusat hari ini?” tanyaku. “Iya,” jawabnya singkat. “Kantor proyek atau yang di pusat?” “Pusat. Ada rapat direksi.” Aku tersenyum kecil. “Serius banget nadanya.” Ia menoleh dan mendekat. “Ini pertama kali aku pimpin rapat sejak Ayah resmi serahkan operasional penuh.” Aku mengangguk pelan. Perusahaan properti itu memang dibangun dari nol oleh Pak Sofiyan. Perumahan, ruko, sampai apartemen—semuanya berdiri dari kerja kerasnya. Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan Bara. “Kamu siap, Mas?” tanyaku lembut. Ia terdiam sebentar. “Harus siap.” Aku mendekat dan membenarkan kerah kemejanya. “Mas itu bukan cuma anak pemilik perusahaan. Mas itu orang yang kerja dari bawah. Semua orang di sana tahu itu.” Bara tersenyum tipis. “Ibu juga bilang beg
**** Kabar tentang dua detak itu menyebar lebih cepat dari yang kuduga. Belum genap dua hari, Bu Indah sudah datang membawa dua kantong besar berisi pakaian bayi. “Ini netral semua ya. Kalau nanti satu laki-laki, satu perempuan, tetap bisa dipakai,” katanya sambil mengeluarkan satu per satu baju mungil dari tas. Aku tertawa kecil. “Bu, ini masih lama.” “Lama dari mana? Kembar itu waktunya terasa dua kali lebih cepat,” jawabnya yakin. Bara berdiri di samping lemari, memperhatikan tumpukan baju yang makin tinggi. “Bu, rumah kita bukan gudang.” Bu Indah melotot. “Ini bukan gudang. Ini persiapan.” Pak Sofiyan masuk beberapa menit kemudian, kursi rodanya didorong perlahan oleh Bara. “Apa lagi yang diborong?” tanyanya santai. “Cuma sedikit,” jawab Bu Indah defensif. “Sedikit versi Ibu itu biasanya setengah toko,” balasnya tenang. Aku dan Bara saling pandang, menahan tawa. Arka tiba-tiba muncul membawa dua mobil-mobilan kecil. “Nenek, ini buat adek satu dan adek d
**** Pagi itu aku terbangun karena merasa ingin muntah,lalu pergi ke kamar mandi. “Aisyah!” suara Bara terdengar panik. Aku baru sadar suara itu. Bara sudah berdiri di sampingku, memegang rambutku, menepuk punggungku pelan. “Pelan… pelan… sudah, sudah…” Aku terengah. “Kayaknya lebih parah dari kemarin.” “Ini bukan ‘kayaknya’. Ini jelas lebih parah,” jawabnya tegas tapi lembut. Arka tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. “Bunda kenapa?” Bara langsung menggendongnya menjauh sedikit. “Bunda lagi mual, Mas.” Arka mengerutkan dahi. “Adek nakal?” Aku tertawa lemah. “Nggak. Adek cuma lagi tumbuh.” Arka berpikir serius. “Kalau tumbuh jangan bikin Bunda muntah dong.” Bara menahan senyum. “Nanti Ayah bisikin adek, ya.” Arka mengangguk mantap. “Iya. Bilangin jangan nakal.” Siang itu, karena mualku tak juga mereda, Bara memutuskan mengajakku kontrol lebih cepat. “Kita nggak usah tunggu jadwal,” katanya sambil membantu aku memakai cardigan.
**** Perjalanan pulang malam itu lebih sunyi dari biasanya. Arka tertidur di car seat, kepalanya miring dengan mulut sedikit terbuka. Nafasnya teratur, seolah keributan tadi hanyalah suara angin yang lewat tanpa makna. Di kursi depan, Bara menggenggam setir lebih erat dari biasanya. “Kamu marah sama Ibu?” tanyaku pelan. Ia menghela napas panjang. “Aku… nggak tahu harus marah atau sedih.” “Karena Bu Indah menyerang duluan?” “Karena aku pikir semua sudah selesai.” Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahaya lampu jalan memantul di kaca, membuat wajah Bara terlihat lelah. “Kamu takut itu terulang lagi?” tanyaku. Ia menoleh sekilas. “Aku takut kamu capek. Kamu lagi hamil, harusnya nggak perlu menghadapi hal seperti tadi.” Aku tersenyum kecil. “Aku nggak sendiri.” Bara terdiam, lalu mengangguk pelan. “Iya. Kita.” Sesampainya di rumah, kami memindahkan Arka ke tempat tidur. Ia bergumam pelan, “Aku jaga Bunda…” sebelum kembali tenggelam dalam mimpi. Aku dan Bara du







