Share

8. Akhirnya ...

Author: El Alfun27
last update publish date: 2026-03-02 19:10:21

Fiza langsung terdiam. Minuman itu langsung dihabisi oleh Musa. Fiza menoleh sekilas ke arah Rafan.

“Makasih ya, Fiza!” ucap ustadz Musa. Dia tampak tersenyum ramah.

“Sama-sama, ustadz Musa,” ujar Fiza menunduk dalam.

Rafan dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Tatapannya sedikit tajam ke arah Fiza. Lalu Rafan pun langsung mengambil kedua minuman yang tengah disodorkan kepadanya.

“Oke, makasih ustadzah Nadia dan ustadzah Aya,” ungkap Rafan. Aya dan Nadia saling pandang. Keduanya terlihat kesal.

Prit!!

Bunyi peluit itu menandakan permainan segera dimulai. Rafan kesusahan berdiri. Fiza hendak membantu Rafan. “Biar saya bantu, ustadz Rafan,” ucap Nadia hendak memapah Rafan untuk berdiri.

“Tidak perlu, saya bisa sendiri,” kata Rafan menolak dengan tegas. Lalu Rafan segera berdiri kembali.

Sebelum kembali ke permainan. Rafan sempat menatap Fiza sekilas. Tatapan yang penuh arti.

“Suka dengan ustadz Rafan?” tanya Nadia pada Aya yang tengah melihat Rafan memandang bola.

“Hem, mungkin,” jawab Aya sekilas. Lalu tatapannya kembali fokus ke Rafan.

“Tapi sepertinya, ustadz Rafan menyukai saya,” kata Nadia dengan bangganya. Dia tersenyum tipis.

“Ouh iya, masa?” tanya Aya kembali. Perempuan itu tampak tak mempermasalahkan ucapan Nadia.

Nadia geram dibuatnya. Wajahnya terlihat memerah karena menahan diri untuk tak berbuat kegaduhan disana. Sungguh perempuan itu tak ada takut-takutnya pada Aya yang notabenenya adalah keponakan pengasuh pesantren As Salam.

Sementara Fiza tampak terdiam. Mendengar percakapan kedua perempuan itu. Rasa insecure pada dirinya kembali tumbuh.

“Apa semuanya akan berakhir. Sebab rasa ini terlalu dipaksa,” ucap Fiza seorang diri. Dia meratapi dirinya dan hanya dapat melihat samar-samar pada Rafan yang tengah berebut bole di lapangan.

***

“Dimana Rafan?” tanya kakek Ali. Fiza mencium tangan kakek Ali terlebih dahulu.

“Mas Rafan menyusul, kek. Barusan masih menyelesaikan tugasnya di asrama putra,” ungkap Fiza.

Kakek Ali mengangguk paham. Mereka tengah berada di vila bandung permai. Acara rutinan menginap. Fiza dan Rafan dikabari untuk segera pergi ke tempat yang kakek Ali maksud.

Lalu Rafan datang dengan sebuah mobil. “Kenapa tadi tidak bareng dengan Fiza, Rafan,” tanya kakek Ali.

Rafan mengeluarkan tas hitamnya. “Masih ada tugas kek, kasian juga kalau dia nungguin. Agak lama soalnya,” ungkap Rafan. Lalu memeluk sang kakek.

Semuanya berkumpul di ruang tengah. Baik dari keluarga Rafan maupun keluarga Fiza. “Kakek bangga dengan kalian berdua. Cuma kakek cukup kepikiran, kalian tidak seperti sepasang suami istri. Masa tinggal di pesantren, harusnya kan kalian satu rumah,” ucap kakek Ali dengan serius. Tatapannya tampak bersedih.

Rafan mendekati kakek Ali dan duduk di sampingnya. “Kek, kami kan masih fokus dengan karir masing-masing. Apalagi Fiza yang baru memasuki bangku kuliah,” ungkap Rafan. Dia mengelus tangan kakek Ali.

Fiza tak menyahut. Dia hanya terdiam sunyi. Mendengarkan semua pembicaraan di ruangan itu tampak ada keinginan untuk ikut andil berbicara.

“Fokus ya boleh, asal jangan terlalu fokus sampai melupakan status, Raf. Kakek gak mau kalau kalian lupa dengan status pernikahan kalian,” ujar kakek Ali. Tatapannya begitu serius. Semuanya hanya terdiam mendengar petuah setiap petuah yang diutarakan oleh kakek Ali.

***

“Saya mau tidur,” ucap Rafan. Dia mengambil bantal dan guling. Lalu berbaring di lantai.

Fiza terperangah. “Maaf ustadz, mending saya saja yang tidur di bawah. Ustadz bisa tidur di kasur,” kata Fiza merebut bantal dari tangan Rafan.

Lalu Rafan kembali merebut bantalnya. “Sudah, saya cowok. Kamu saja yang di kasur,” bantah Rafan. Dia semakin erat memegang bantalnya.

“Nggak ustadz, saya saja, ustadz Rafan ini kan guru saya. Tidak sopan kalau saya tidur di atas sementara ustadz di bawah,” ujar Fiza memaksa Rafan untuk menyerahkan bantalnya.

Cukup lama kedua pasangan itu berebut bantal. Hingga banyak itu terlempar dengan Fiza yang terjatuh dan Rafan menindih Fiza.

Di atas kasur yang cukup besar. Hidung keduanya bersentuhan. Nafas keduanya memburu, tatapan mereka bertemu. Sangat dekat dan semakin dekat.

“Ustadz, berat,” keluh Fiza memberontak.

“Astaghfirullah,” ucap Rafan langsung tersadar. Rafan berusaha bangkit.

Fiza langsung duduk di ujung kasur. Diikuti Rafan yang juga duduk di ujung kasur. Keduanya saling terdiam dan saling membelakangi.

“Kalau begitu kita tidur di kasur saja,” lirih Rafan.

Fiza menoleh, mencoba mencerna perkataan Rafan barusan. “Di tengahnya diberi guling, seperti itu kan ustadz?” imbuh Fiza. Fiza langsung memberi guling di tengah kasur. Lalu menata bantal satu persatu di manan dan kiri kepala kasur.

Rafan hanya melihat gerak gerik santri putri itu. “Tapi selimutnya cuma satu, ustadz,” keluh Fiza mengambil selimut yang berukuran tak cukup besar.

“Ya sudah buat kamu saja,” ucap Rafan akhirnya. Rafan memilih berbaring tanpa selimut.

Fiza juga ikut berbaring. Mereka terhalang oleh satu guling. Cuaca dingin di puncak villa begitu terasa. Rafan merasa tubuhnya semakin menggigil. Sementara Fiza terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.

“Awwwh, dingin banget,” ujar Rafan. Dia terbangun memeluk lututnya. Lalu mengambil jaket dan memasangnya. Rafan kembali berbaring kembali.

Mencoba untuk terpejam namun tidak bisa. Dingin di kakinya semakin menjadi. Rafan membuka matanya sembari menahan cuaca dingin yang menguasai dirinya. Tak terasa Rafan menggigil.

Tiba-tiba Fiza terbangun dan memberi separuh selimutnya pada Rafan. Rafan yang belum tertidur mencoba berpura-pura menutup mata.

Fiza merapikan selimut itu di tubuh Rafan. Lalu kembali tertidur. Setelah Fiza ikut berbaring. Rafan kembali membuka matanya dan tersenyum tipis.

***

“Kita akan main game, dimana pasangan muda akan main game lomba lari estafet,” ucap seorang perempuan yang merupakan saudara sepupu dari Rafan.

“Yey, asik nih,” ujar Gabril. Anak kecil yang merupakan keponakan Rafan. Bocah itu berlari menuju Rafan dan Fiza.

Semuanya bersiap di posisi masing-masing. Ada beberapa sepupu Rafan yang sudah menikah juga ikut andil dalam permainan ini. Karena memang acara ini acara rutinan keluarga Rafan.

“Mulai!” ucap Erna yang menjadi panitia lomba.

Rafan berlari membawa bendera ke arah Fiza. Setelah sampai, Fiza lalu berlari ke ujung sambil membawa benderanya. Lalu berlari kembali ke arah Rafan. Dan Rafan membawa lari bendera itu ke finish.

“Kerja bagus, Fiza,” ucap Rafan tersenyum ramah ke Fiza.

Permainan itu sangat seru. Dengan final, Rafan melwan saudara sepupunya. Rafan berlari dengan sekuat tenaga. Begitupun juga dengan Fiza.

“Yey,” ucap mereka kompak. Dimana Rafan dan Fiza berhasil meraih posisi pertama.

“Seperti keinginan kamu, kita juara satu!” ucap Rafan dengan tertawa riang. Dia mengajak Fiza tos. Fiza yang juga tengah bersemangat menerima ajakan sang suami.

Terlihat kakek Ali dan Abah Hamzah tengah saling tersenyum. Keduanya saling menatap. Tanpak raut bangga di wajah mereka.

“Kakek punya keputusan, setelah dari sini, Rafan dan Fiza harus satu rumah,” ucap kakek Ali.

“Tapi, kek,” bantah Rafan.

“Hanya setiap hari Sabtu dan minggu. Senin sampai Jum'at kalian tetap di pesantren,” ujar kakek Ali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   39

    Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   38

    Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   37

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   36

    "Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   35

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   34

    "Beneran ya Kak? Mama gak mau sekolah kamu terganggu saja kalau sambil pacaran. Mama mau kamu sukses dulu." Kalimat sederhana dari sang Mama, untuk anaknya.***"Sebentar Pak, tinggal sedikit lagi." Jawab Delvan, pandangan nya tetap fokus pada soal-soal di depannya."Ya sudah, dilanjut." Pak Bambang lalu mendekati satu per satu siswa siswi nya, yang juga sedang mengerjakan lewat buku latihan nya."Kalian ini, seharusnya mencontoh Delvan. Biarpun dia itu tukang adu jotos, sering tawuran tapi otaknya itu encer. Tanya sama Delvan, pasti dia setiap hari selalu belajar yang giat."Pak Bambang memperingati, selalu memuji Delvan di depan murid yang lain. Sedang Delvan tak ada tanggapan, masih terlalu fokus dan berambisi untuk menyelesaikan semua tugas yang ada."Woahh, ajarin dong bang Delvan. Gimana tuh cara belajar yang giat, tiap malam lagi." Azri menatap geli Delvan, dia yang sangat tau karakter Delvan yang malas untuk belajar.Semua teman kelas menahan tawa, seolah menyindir Delvan. Az

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   29

    Tasya menggeleng pelan, masih berusaha membuka sendiri tapi helmnya dengan tergesa. "Sini gue bantuin." Ucap Delvan emndekati Tasya lalu membuka tali helm milik Tasya.Untuk beberapa saat, tatapan mereka bertemu. Menyatu dan saling pandang, Delvan juga tak ingin memutus kontak mata dengan Tasya. Pu

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   24

    "Lo mau makan apa?" Tanya Delvan sambil membuka menu makanan. Tempat makan yang bernuansa Jepang itu begitu menggugah selera. Terdapat berbagai jenis makanan sussi dan juga hidangan salmon yang disajikan dengan beberapa sayuran khas. Dan juga beberapa ramen, dari yang jenis berkuah dan tambahan bu

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   23

    Satu sekolah sedang digencarkan dengan terlihatnya Gisel yang dipanggil bersama kedua orang tuanya ke sekolah. Bagaimana bisa seorang Gisel yang sangat terkenal itu.Kecantikannya yang tak terkalahkan, dan juga salah satu kalangan dari orang kaya di sekolah SMA Taruna Bhakti. Namun hari ini harus d

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   22

    Clara terdiam, tanpa sengaja membuka suatu kenyataan yang tak ingin dia tampakkan. "Bukan apa-apa kok." Jawab Clara berbohong.Tasya menggeleng lemah, lantas memaksa Clara untuk berbicara jujur. "Kenapa Ra, kenapa?" Tanya Tasya lagi, belum puas dengan jawaban Clara.Sedangkan ketiga laki-laki itu h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status