LOGINFiza langsung terdiam. Minuman itu langsung dihabisi oleh Musa. Fiza menoleh sekilas ke arah Rafan.
“Makasih ya, Fiza!” ucap ustadz Musa. Dia tampak tersenyum ramah. “Sama-sama, ustadz Musa,” ujar Fiza menunduk dalam. Rafan dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Tatapannya sedikit tajam ke arah Fiza. Lalu Rafan pun langsung mengambil kedua minuman yang tengah disodorkan kepadanya. “Oke, makasih ustadzah Nadia dan ustadzah Aya,” ungkap Rafan. Aya dan Nadia saling pandang. Keduanya terlihat kesal. Prit!! Bunyi peluit itu menandakan permainan segera dimulai. Rafan kesusahan berdiri. Fiza hendak membantu Rafan. “Biar saya bantu, ustadz Rafan,” ucap Nadia hendak memapah Rafan untuk berdiri. “Tidak perlu, saya bisa sendiri,” kata Rafan menolak dengan tegas. Lalu Rafan segera berdiri kembali. Sebelum kembali ke permainan. Rafan sempat menatap Fiza sekilas. Tatapan yang penuh arti. “Suka dengan ustadz Rafan?” tanya Nadia pada Aya yang tengah melihat Rafan memandang bola. “Hem, mungkin,” jawab Aya sekilas. Lalu tatapannya kembali fokus ke Rafan. “Tapi sepertinya, ustadz Rafan menyukai saya,” kata Nadia dengan bangganya. Dia tersenyum tipis. “Ouh iya, masa?” tanya Aya kembali. Perempuan itu tampak tak mempermasalahkan ucapan Nadia. Nadia geram dibuatnya. Wajahnya terlihat memerah karena menahan diri untuk tak berbuat kegaduhan disana. Sungguh perempuan itu tak ada takut-takutnya pada Aya yang notabenenya adalah keponakan pengasuh pesantren As Salam. Sementara Fiza tampak terdiam. Mendengar percakapan kedua perempuan itu. Rasa insecure pada dirinya kembali tumbuh. “Apa semuanya akan berakhir. Sebab rasa ini terlalu dipaksa,” ucap Fiza seorang diri. Dia meratapi dirinya dan hanya dapat melihat samar-samar pada Rafan yang tengah berebut bole di lapangan. *** “Dimana Rafan?” tanya kakek Ali. Fiza mencium tangan kakek Ali terlebih dahulu. “Mas Rafan menyusul, kek. Barusan masih menyelesaikan tugasnya di asrama putra,” ungkap Fiza. Kakek Ali mengangguk paham. Mereka tengah berada di vila bandung permai. Acara rutinan menginap. Fiza dan Rafan dikabari untuk segera pergi ke tempat yang kakek Ali maksud. Lalu Rafan datang dengan sebuah mobil. “Kenapa tadi tidak bareng dengan Fiza, Rafan,” tanya kakek Ali. Rafan mengeluarkan tas hitamnya. “Masih ada tugas kek, kasian juga kalau dia nungguin. Agak lama soalnya,” ungkap Rafan. Lalu memeluk sang kakek. Semuanya berkumpul di ruang tengah. Baik dari keluarga Rafan maupun keluarga Fiza. “Kakek bangga dengan kalian berdua. Cuma kakek cukup kepikiran, kalian tidak seperti sepasang suami istri. Masa tinggal di pesantren, harusnya kan kalian satu rumah,” ucap kakek Ali dengan serius. Tatapannya tampak bersedih. Rafan mendekati kakek Ali dan duduk di sampingnya. “Kek, kami kan masih fokus dengan karir masing-masing. Apalagi Fiza yang baru memasuki bangku kuliah,” ungkap Rafan. Dia mengelus tangan kakek Ali. Fiza tak menyahut. Dia hanya terdiam sunyi. Mendengarkan semua pembicaraan di ruangan itu tampak ada keinginan untuk ikut andil berbicara. “Fokus ya boleh, asal jangan terlalu fokus sampai melupakan status, Raf. Kakek gak mau kalau kalian lupa dengan status pernikahan kalian,” ujar kakek Ali. Tatapannya begitu serius. Semuanya hanya terdiam mendengar petuah setiap petuah yang diutarakan oleh kakek Ali. *** “Saya mau tidur,” ucap Rafan. Dia mengambil bantal dan guling. Lalu berbaring di lantai. Fiza terperangah. “Maaf ustadz, mending saya saja yang tidur di bawah. Ustadz bisa tidur di kasur,” kata Fiza merebut bantal dari tangan Rafan. Lalu Rafan kembali merebut bantalnya. “Sudah, saya cowok. Kamu saja yang di kasur,” bantah Rafan. Dia semakin erat memegang bantalnya. “Nggak ustadz, saya saja, ustadz Rafan ini kan guru saya. Tidak sopan kalau saya tidur di atas sementara ustadz di bawah,” ujar Fiza memaksa Rafan untuk menyerahkan bantalnya. Cukup lama kedua pasangan itu berebut bantal. Hingga banyak itu terlempar dengan Fiza yang terjatuh dan Rafan menindih Fiza. Di atas kasur yang cukup besar. Hidung keduanya bersentuhan. Nafas keduanya memburu, tatapan mereka bertemu. Sangat dekat dan semakin dekat. “Ustadz, berat,” keluh Fiza memberontak. “Astaghfirullah,” ucap Rafan langsung tersadar. Rafan berusaha bangkit. Fiza langsung duduk di ujung kasur. Diikuti Rafan yang juga duduk di ujung kasur. Keduanya saling terdiam dan saling membelakangi. “Kalau begitu kita tidur di kasur saja,” lirih Rafan. Fiza menoleh, mencoba mencerna perkataan Rafan barusan. “Di tengahnya diberi guling, seperti itu kan ustadz?” imbuh Fiza. Fiza langsung memberi guling di tengah kasur. Lalu menata bantal satu persatu di manan dan kiri kepala kasur. Rafan hanya melihat gerak gerik santri putri itu. “Tapi selimutnya cuma satu, ustadz,” keluh Fiza mengambil selimut yang berukuran tak cukup besar. “Ya sudah buat kamu saja,” ucap Rafan akhirnya. Rafan memilih berbaring tanpa selimut. Fiza juga ikut berbaring. Mereka terhalang oleh satu guling. Cuaca dingin di puncak villa begitu terasa. Rafan merasa tubuhnya semakin menggigil. Sementara Fiza terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Awwwh, dingin banget,” ujar Rafan. Dia terbangun memeluk lututnya. Lalu mengambil jaket dan memasangnya. Rafan kembali berbaring kembali. Mencoba untuk terpejam namun tidak bisa. Dingin di kakinya semakin menjadi. Rafan membuka matanya sembari menahan cuaca dingin yang menguasai dirinya. Tak terasa Rafan menggigil. Tiba-tiba Fiza terbangun dan memberi separuh selimutnya pada Rafan. Rafan yang belum tertidur mencoba berpura-pura menutup mata. Fiza merapikan selimut itu di tubuh Rafan. Lalu kembali tertidur. Setelah Fiza ikut berbaring. Rafan kembali membuka matanya dan tersenyum tipis. *** “Kita akan main game, dimana pasangan muda akan main game lomba lari estafet,” ucap seorang perempuan yang merupakan saudara sepupu dari Rafan. “Yey, asik nih,” ujar Gabril. Anak kecil yang merupakan keponakan Rafan. Bocah itu berlari menuju Rafan dan Fiza. Semuanya bersiap di posisi masing-masing. Ada beberapa sepupu Rafan yang sudah menikah juga ikut andil dalam permainan ini. Karena memang acara ini acara rutinan keluarga Rafan. “Mulai!” ucap Erna yang menjadi panitia lomba. Rafan berlari membawa bendera ke arah Fiza. Setelah sampai, Fiza lalu berlari ke ujung sambil membawa benderanya. Lalu berlari kembali ke arah Rafan. Dan Rafan membawa lari bendera itu ke finish. “Kerja bagus, Fiza,” ucap Rafan tersenyum ramah ke Fiza. Permainan itu sangat seru. Dengan final, Rafan melwan saudara sepupunya. Rafan berlari dengan sekuat tenaga. Begitupun juga dengan Fiza. “Yey,” ucap mereka kompak. Dimana Rafan dan Fiza berhasil meraih posisi pertama. “Seperti keinginan kamu, kita juara satu!” ucap Rafan dengan tertawa riang. Dia mengajak Fiza tos. Fiza yang juga tengah bersemangat menerima ajakan sang suami. Terlihat kakek Ali dan Abah Hamzah tengah saling tersenyum. Keduanya saling menatap. Tanpak raut bangga di wajah mereka. “Kakek punya keputusan, setelah dari sini, Rafan dan Fiza harus satu rumah,” ucap kakek Ali. “Tapi, kek,” bantah Rafan. “Hanya setiap hari Sabtu dan minggu. Senin sampai Jum'at kalian tetap di pesantren,” ujar kakek Ali.tampan yang sudah menolongnya tadi malam. Laki-laki tampan itu sedang fokus mengerjakan beberapa soal latihan untuk lomba olimpiade nya. Sangat rajin bukan? Itupun atas paksaan guru killernya, pak Bambang."Van, makasih buat yang semalem ya." Tasya mendekat ke arah bangku Delvan."Hmm." Jawab Delvan. Tatapan nya masih fokus dengan buku latihan soalnya. Seakan tak menghiraukan kehadiran Tasya.Tasya menghela nafas panjang, kesabaran nya sedang di uji dengan manusia es didepannya saat ini. "Misua lagi pokus cari nafkah, dedek Tasya." Celetuk Azri yang baru datang ke kelas."Swiit swiit, kode keras. Jangan sampai lepas." Dylan tengah bersiul mendukung ungkapan Azri dengan semangat. Tak lupa teman kelas yang lain juga ikut memojokkan Tasya."Eeeh, maksudnya gimana ya? Gue sama Delvan gak ada apa-apa kok." Ujar Tasya menghentikan kelakuan teman-teman nya itu."Belum!" Cegah Delvan, membenarkan ucapan Tasya."Afah iya? Misua nya aja mengakui, ya meskipun belum resmi. Masih proses menuju ak
Tasya menggeleng pelan, masih berusaha membuka sendiri tapi helmnya dengan tergesa. "Sini gue bantuin." Ucap Delvan emndekati Tasya lalu membuka tali helm milik Tasya.Untuk beberapa saat, tatapan mereka bertemu. Menyatu dan saling pandang, Delvan juga tak ingin memutus kontak mata dengan Tasya. Pun Tasya yang sampai tak berkedip.Melihat sosok tampan di depannya, Tasya seakan masih bermimpi bisa menjadi sosok kekasihnya. Padahal mereka berdua berbeda jauh, dari tingkat prestasi saja terlihat jauh, apalagi harta. Bagaikan langit dan bumi, mereka bersatu dengan ikatan."Gue ganteng ya? Sampai gak ngedip gitu liatnya!" Seru Delvan yang telah berhasil membuka tali helm Tasya.Tasya mengangguk pelan, namun detik berikutnya dia tersadar. "Eeh, nggak maksudnya." Tolak Tasya dengan perbedaan pendapat yang tidak sengaja dia ungkapkan dengan jujur barusan.Delvan mengambil nomor parkir, lalu memegang tangan Tasya. "Lupain. Ayo kita masuk!" Ajak Delvan yang menyadarkan Tasya yang sedang melamun
Dari masa Tsanawiyah aku sudah disana, bahkan hingga masa Aliyah. Aku sangat ingin menjadi salah satu ustadz di pesantren modern.Setiap hari aku berusaha untuk tekun belajar, terutama belajar ilmu keagamaan. Cita-cita mulia ini juga berawal dari Abah ku, yang menjadi salah satu guru besar di dunia pendidikan terkemuka.Tapi aku ingin mengajar di pesantren saja, dimana aku bisa juga sambil mengabdi di pesantren tersebut.Ini no no no no no koi no no no no noSetiap hari ku lalui hari ini dengan semangat, tanpa lelah dan selalu ingin belajar. Aku harap dimasa depan semua ini dapat terbayar, semoga lelah ku ini menjadi Lillah. Insya Allah.Hingga tiba setelah kelulusan tes, dimana namaku terpampang paling atas. Sebagai ustadz, iya aku dapat mengajar di pesantren modern. Pesantren yang pernah mengajarkan ku banyak ilmu dan banyak pengalaman.Sembari mengabdi, aku juga bisa mengajar, Alhamdulillah impian ku tercapai.Semua berjalan dengan lancar, hingga suatu hari aku bertemu dengan seora
Layla sedang berada di kamar Abidzar. Kamar yang begitu rapi, dengan desain modern. Berwarna hitam lekat. Layla mendekati meja belajar Abidzar, terdapat beberapa buku islami dan juga beberapa kitab. Bahkan juga banyak komik di rak buku terbawah.Layla ingat, waktu itu Abidzar pernah bilang kalau dia suka komik. Beberapa komik best seller pun dia juga mengoleksi nya.Lalu Layla melihat sebuah lipatan kertas yang terselip di beberapa buku di rak kedua. Layla ingin tahu kertas itu, jadi dia mengambilnya dengan ragu.Aku mencintaimu, Jihan. Seperti itulah tulisan di kertas itu. Singkat, tapi bisa membuat hati Layla sakit.Meskipun Jihan adalah masa lalu Abidzar, tetap saja Layla merasa cemburu dengan tulisan Abidzar itu.Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar Abidzar, membuat Layla menaruh kembali kertas itu ke tempat semula.Ternyata Abidzar datang dari luar. Dia langsung menuju ke arah Layla dan memeluknya."Humaira ku belum tidur ya." Ucap Abidzar dengan nada serak nya."Apa sih
Layla dan Abidzar pun segera bersiap, hari itu mereka benar-benar akan melakukan semua kegiatan yang telah mereka susun untuk menjaga keharmonisan mereka dan melupakan kejadian barusan yang sedikit membuat permasalahan dalam rumah tangga mereka.Layla langsung membereskan semua kekacauan barusan, dia segera membersihkan dirinya dan segera berkemas. Layla memakai gamis hutan dengan cadar hitam, jilbab panjang berwarna hitam juga. Sedangkan Abidzar memakai jubah navy, mereka berdua seperti pasangan ala Madinah saja.Setelah itu mereka langsung menuju ke tempat dimana mereka akan melakukan semua kegiatan nya. ***Di lain tempat, tepat nya di pesantren modern, Arsya sedang berada di kamarnya. Dia sedikit sibuk akhir-akhir ini, lebih tepatnya dia menyibukkan diri untuk melupakan seseorang yang telah membuat hatinya patah. Arsya ikut banyak kegiatan, seperti dia juga mengikuti organisasi keagamaan dan organisasi umum di tempat kuliahnya. Arsya ingin lebih aktif lagi untuk kedepannya.Tiba-
Delvan memberenggut, menatap Tasya semakin dalam. "Gak ada tapi-tapian Sya." Pungkasnya.Mama Intan membawa nampan berisi dua gelas susu rasa vanilla dan strawberry. Tak lupa juga kue dessert yang baru dibuatnya. "Silakan di dinikmati ya nak Delvan.""Eh Tante, gak usah repot-repot segala." Delvan merasa tidak enak, pasalnya dia datang untuk bertemu dengan Tasya."Ini gak repot kok Nak. Ouh iya Kak, diminum ya susu strawberry nya. Biar badan kakak segera fit." Lalu Mama Intan meninggalkan mereka berdua lagi.Keduanya kembali hening, tanpa ada yang ingin melanjutkan pembicaraan yang belum usai. Tatapan mereka menyendu, entah apa yang sedang mereka pikirkan lagi.Tapi yang jelas, keduanya dalam kebimbangan. Bullying yang Tasya rasakan kembali membawa trauma, entah sampai kapan dia akan terbebas dengan hal yang begitu berdampak kurang baik dalam hidupnya. Haruskan dia pindah sekolah lagi?"Yang bully Lo Gisel kan?" Tanya Delvan tepat sasaran. Dia sudah menduganya dari kemarin, tapi sedi







