共有

7. Berebut perhatian

作者: El Alfun27
last update 公開日: 2026-03-01 23:22:11

Fiza berhasil ditenangkan oleh ustadzah Halimah. Sementara Rafan kembali ke asrama putra. Kepalanya terasa berat setelah seharian mengurus masalah yang rumit menurutnya.

“Minum bro!” ucap Ridho memberi segelas kopi hitam pada Rafan.

Tak ada sepatah kata apapun. Rafan langsung meneguk kopi hitam itu sampai tandas. Dengan sekali tegukan. Ridho terperangah dibuatnya.

“Menurut Lo, cinta yang dipaksakan itu boleh gak sih?” tanya Rafan pada satu-satunya sahabat karibnya.

Byur!

Tanpa sengaja Ridho menyemburkan kopinya. Saking dia terkejut. “Hah, gak salah denger gue denger Lo bahas cinta, bro?!” tanya Ridho kembali. Tatapannya membelalak di depan wajah Rafan.

Rafan langsung menampik wajah Ridho pelan. “Gue laki-laki normal. Apa salahnya sih bahas hal kek gitu,” ungkap Rafan terlihat jengkel dibuatnya.

“Iya juga sih. Kalau menurut gue, cinta yang terpaksa atau dipaksa itu penyakit. Karena yang namanya hati tidak bisa dibohongi, anjaay,” ujar Ridho sambil tersenyum sipu. Tangannya bersedekap dada.

“Kalau tetap dijalani, apa cinta yang terpaksa akan bertahan lama?” tanya Rafan kembali.

Ridho mengangguk paham. “Tidak, kecuali timbul rasa. Tapi kalo ceweknya baik, paham agama, bodynya- aduhh, itu mah meskipun terpaksa gue juga mau,” ungkap Ridho. Dia berdiri sambil menatap langit semacam kagum dengan indahnya malam itu.

“Otak Lo, pikirannya dijaga!” cecar Rafan tambah kesal.

“Emang kenapa Lo nanya ginian, di jodohin Lo?” tanya Ridho.

Tatapan Rafan langsung berubah. Dia berusaha untuk bersikap biasa aja. “Nggak, udah lah gue masuk ke kamar,” ucap Rafan langsung angsung menggalakan sahabatnya.

“Eeh, tungguin gue broo!” teriak Ridho berlari mengejar Rafan.

***

“Bagi aku, ustadz tertampan dan paling terkenal di As Salam ya ustadz Rafan. Dia fenomenal banget. Gak pernah pacaran dan selalu berprestasi di banyak bidang. Perempuan mana coba yang gak mengidolakan dia. Pasti semua perempuan di As Salam ini suka sama dia,” ucap Fatim sambil menata buku di perpustakaan.

“Bener sih, lagian ya, cuma ustadz Rafan yang dari muka sampai ke badan-badan, cowok idaman banget gak sih!” balas Firda. Kedua perempuan itu terlihat saling adu argumen.

“Eh, kalian berdua jangan gosip calon suami gue!” tegur Nadia. Dia mencolek lengan kedua temannya itu.

“Loh, ada ustadzah Nadia ya. Cantik banget sih, pagi-pagi gini,” sapa Firda.

“Iya loh, ustadzah terlihat manis dan sangat memancar!” imbuh Fatim. Kedua perempuan itu mendekati Nadia.

Nadia mencekal kedua tangan temannya. “Awas ya bahas calon suami gue lagi, bahaya kalian nih!” ancam Nadia yang langsung mendapat tawa dari temannya.

Mereka bertiga pun langsung tertawa bersama. Nadia dan kedua temannya adalah santri putri As Salam. Nadia sudah menjadi ustadzah selama setahun. Dia dalam kegiatan mengabdi di As Salam.

Di pesantren As Salam. Santri dapat memilih, bisa melanjutkan kuliah sambil di tinggal di pesantren. Tapi bisa juga lanjut kuliah sekaligus ngabdi mengajar di pesantren.

Di ujung perpustakaan. Ada seorang perempuan yang termenung. Tangannya masih memegang beberapa buku. Namun pandangannya kosong.

“Banyak yang menyukai ustadz Rafan, hem,” lirih Fiza. Dia hanya mengotak atik buku di depannya. Tanpa fokus membaca.

Fiza jadi teringat dengan perkataan Rafan kemarin yang sempat memuji ustadzah Nadia. Fiza menunduk lemah. Tangannya mencengkram gamis hitamnya.

***

“Saya tau kalau ustadz Rafan banyak yang mengidolakan di pesantren As Salam. Saya tau kalau ustadz juga adalah yang terbaik diantara ustadz yang lain. Saya juga tau kalau ustadz sangat-sangat tidak setuju dengan perjodohan kita,” lirih Fiza. Dia membelakangi Rafan. Saat ini mereka tengah berada di ruangan ustadzah Halimah.

“Terus?” tanya Rafan menaikkan sebelah alisnya.

“Ya gak ada ustadz. Saya cuma ngomong kayak gitu. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Fiza nampak cemberut.

“Saya sudah bilang sedari awal. Pernikahan kita hanyalah pernikahan rahasia. Gak akan ada orang lain yang tau kecuali keluarga kita. Jadi saya harap kamu mengerti dengan ucapan saya, Fiza,” ungkap Rafan dengan serius. Tatapannya tak berpindah pada Fiza.

Fiza menelan ludahnya. “Ustadz Rafan terlalu dekat,” lirih Fiza dengan suara gemetar.

Rafan menjauh dari Fiza. “Ya intinya fokus aja dengan urusan masing-masing. Kalau keluarga kita nanya ya jawab aja kita dekat di pesantren, cuma ya jaga batasan. Saya gak mau debat lagi masalah ini,” ucap Rafan lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.

***

Pertandingan sepak bola antar santri berjalan dengan baik. Para santri terlihat bersemangat di tengah terik panasnya siang ini. Setelah acara selesai, para pengurus tak mau kalah juga.

Ada beberapa pengurus santri putra yang juga ikut andil dalam perlombaan. Mereka juga berlomba satu sama lain.

“Oper bro!” teriak Ridho pada Rafan.

Rafan tampak lincah menendang bola. Rafan memakai kaos putih oblong dan sarung bercorak coklat. Beberapa pengurus santri putri juga ikut menyaksikan penampilan dari para pengurus santri putra.

“Gol!!” teriak Rafan. Ridho langsung berlari memeluk Rafan diikuti oleh pengurus yang lain.

Para pengurus santri putri juga ikut teriak. “Ustadz Rafan yey,” teriak Aya di samping lapangan dengan sebotol minuman di lengan tangannya.

“Masya Allah ustadz Rafan ya,” puji Nadia. Dia sambil memegang handuk dan sebotol minuman juga.

Sementara Fiza berada di ujung lapangan

Dia hanya bisa melihat pertandingan dari kejauhan. Tatapannya fokus pada Rafan dan selalu berdoa agar Rafan berhasil memasukkan bola ke gawang.

“Aku yakin ustadz Rafan pasti menang,” lirih Fiza seorang diri.

Permainan berlangsung cukup lama. Tampak dari tim Rafan selalu memasukkan bola. Tapi disusul oleh tim lawan yang juga mengejar angka.

Brukk!!

Rafan terjatuh seketik. Semua pemain langsung menuju ke Rafan. “Lo kalo main curang terus, Mus,” gertak Ridho pada laki-laki dari tim lawannya.

“Loh, gue gak sengaja. Ustadz Rafan tadi terlalu ke tengah,” ungkap Musa. Dia juga merupakan salah satu pengurus sekaligus ustadz di pesantren As Salam.

“Udah- udah, kita istirahat dulu. Pritt!!” ucap ustadz Taufik yang kali ini menjadi wasit.

Semua kembali ke tempatnya masing-masing. “Gue tau Lo curang!” tuduh Ridho menghampiri Musa.

“Gue bukan pengecut. Ustadz Taufik aja tau tadi bukan tindak ke kecurangan,” bantah Musa menahan lengan Ridho yang tengah menarik kaosnya.

“Lo selalu iri dengan Rafan, Mus,” imbuh Ridho lagi langsung melepas kaos Musa.

Sementara di pinggir bagian kanan lapangan. Rafan tengah menselonjorkan kakinya. “Ini ustadz, Aya bawain minuman,” ucap Aya sembari memberi botol minumannya.

Lalu Nadia juga ikut memberi botolnya. “Ustadz ambil minuman saya saja,” ucap Nadia dengan manis.

Rafan terkejut dengan tingkah kedua wanita itu. Semuanya terdiam menunggu jawaban Rafan. Sementara di sebelah mereka, Fiza terlihat membawa sebuah botol minum juga. Rafan dapat melihat dengan jelas pada perempuan itu.

“Fiza, ini buat saya kan?” tanya Musa langsung mengambil botol minum milik Fiza.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   39

    Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   38

    Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   37

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   36

    "Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   35

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   34

    "Beneran ya Kak? Mama gak mau sekolah kamu terganggu saja kalau sambil pacaran. Mama mau kamu sukses dulu." Kalimat sederhana dari sang Mama, untuk anaknya.***"Sebentar Pak, tinggal sedikit lagi." Jawab Delvan, pandangan nya tetap fokus pada soal-soal di depannya."Ya sudah, dilanjut." Pak Bambang lalu mendekati satu per satu siswa siswi nya, yang juga sedang mengerjakan lewat buku latihan nya."Kalian ini, seharusnya mencontoh Delvan. Biarpun dia itu tukang adu jotos, sering tawuran tapi otaknya itu encer. Tanya sama Delvan, pasti dia setiap hari selalu belajar yang giat."Pak Bambang memperingati, selalu memuji Delvan di depan murid yang lain. Sedang Delvan tak ada tanggapan, masih terlalu fokus dan berambisi untuk menyelesaikan semua tugas yang ada."Woahh, ajarin dong bang Delvan. Gimana tuh cara belajar yang giat, tiap malam lagi." Azri menatap geli Delvan, dia yang sangat tau karakter Delvan yang malas untuk belajar.Semua teman kelas menahan tawa, seolah menyindir Delvan. Az

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   33

    Abidzar yang mendapat respon positif itu sangat bahagia, ternyata Layla sudah siap dengan semua kewajiban nya dan memenuhi hak batin nya Abidzar.Mereka pun langsung melakukan ibadah suami istri tersebut dengan baik. Layla sangat menenangkan untuk Abidzar.Layla pikir Abidzar akan bersikap sangat l

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   32

    Tasya terus saja mendumel perihal Delvan yang tak mengucapkan kata manis keoadanya tadi malam. Bahkan sampai Tasya sulit untuk memejamkan mata, seolah hatinya ingin selalu membersamai sang pacar.Mungkin hati Tasya juga sudah terpaut dengan sosok Delvan yang memikat. Tasya seakan di bius oleh asmar

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   29

    Tasya menggeleng pelan, masih berusaha membuka sendiri tapi helmnya dengan tergesa. "Sini gue bantuin." Ucap Delvan emndekati Tasya lalu membuka tali helm milik Tasya.Untuk beberapa saat, tatapan mereka bertemu. Menyatu dan saling pandang, Delvan juga tak ingin memutus kontak mata dengan Tasya. Pu

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   27

    Layla sedang berada di kamar Abidzar. Kamar yang begitu rapi, dengan desain modern. Berwarna hitam lekat. Layla mendekati meja belajar Abidzar, terdapat beberapa buku islami dan juga beberapa kitab. Bahkan juga banyak komik di rak buku terbawah.Layla ingat, waktu itu Abidzar pernah bilang kalau d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status