تسجيل الدخولBelinda dituntut keluarga angkatnya menikah secepatnya karena kakak tiri dan semua saudara sepupu telah menikah, walaupun dirinya masih kuliah. Selain itu, alasan utama tuntutan itu adalah keluarga angkatnya sangat membencinya dan tidak ingin merawatnya lagi. Di hari pertama kuliah semester lima, Belinda membuat masalah pada Brandon yang bertemperamen buruk, sehingga membuat hubungan mereka di kampus sebagai dosen dan mahasiswi musuh bebuyutan. Namun, siapa sangka Brandon akhirnya ingin menikahi Belinda karena nyawa sang ibu kandung Brandon dalam bahaya, yang selama bertahun-tahun disembunyikan di rumah sakit terpencil dan hanya orang tertentu yang bisa mengakses rumah sakit itu. Kebetulan selama ini yang sukarela merawat ibu Brandon adalah Belinda. Mengetahui mahasiswinya sendiri sekaligus gadis yang paling dibencinya adalah penyelamat ibunya, Brandon memutuskan menikahi Belinda. Selain itu, tujuannya ingin menikah Belinda karena ingin menghindari perjodohan tidak diinginkannya. Awalnya Belinda tidak ingin menikahi Brandon karena sikap Brandon keterlaluan, kini terpaksa melakukannya demi mendapatkan keuntungan yang diberikan Brandon. Namun, Belinda tidak ingin pernikahan mereka tersebar luas di kampus maupun media sosial. Baik Belinda maupun Brandon terpaksa melakukan pernikahan sandiwara. Hubungan mereka yang penuh rasa benci sejak pertemuan pertama mereka, bagaimana caranya agar mereka saling jatuh cinta satu sama lain? Siapakah orang yang mengincar nyawa ibu Brandon?
عرض المزيد“Bersihkan tubuhnya. Kenakan pakaian ini.”
Eden menyerahkan paperbag coklat pada pelayan tanpa menoleh. Suaranya datar dan tajam. “T-tapi, Tuan…” pelayan itu menelan ludah. Tangannya gemetar saat menerima kantong itu. Eden akhirnya menoleh. Menatap tajam wanita yang menunduk di depannya. “Berapa nyawamu?” tanyanya rendah. Satu kalimat itu cukup membuat Pelayan itu pucat, lututnya hampir ambruk. “Ba-baik, Tuan. Akan saya lakukan,” katanya tergesa, lalu pergi secepat mungkin sebelum Eden berubah pikiran dan mengambil nyawanya. **** Langkah sepatu Eden menggema panjang di lorong sunyi. Setiap derapnya seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak terelakkan. Ia berhenti di depan pintu hitam mengkilap. Brak! Pintu terbuka dengan kasar. Cahaya dari lorong membelah kegelapan kamar menjadi garis tipis. Bau dingin dan lembap menyergap inderanya. Hening. Eden mengerutkan dahi saat tak ada suara dan pergerakan. Lalu matanya menyesuaikan. Di sudut ruangan, sesuatu bergerak dengan halus tersorot oleh cahaya rembulan. Tubuh kecil itu meringkuk, gemetar hebat, seolah mencoba menyatu dengan bayangan. Napasnya tersengal tertahan, tangannya menutup mulut rapat-rapat, takut satu suara saja akan memanggil kematian. Senyum Eden terangkat perlahan. Puas. “Kau takut padaku, Lintang?” suaranya menggema lembut, terlalu lembut untuk disebut aman. Udara terasa semakin dingin menusuk tulang. Lintang menahan napas, menahan air mata, menahan gerakan tubuhnya agar tak terlihat namun pria itu tetap bisa melihatnya. “Keluar,” ujar Eden tenang. “Sebelum aku benar-benar membunuhmu.” Eden menekan setiap katanya dan Lintang tahu kalimat itu bukan kalimat biasa. Itu adalah ancaman, tak ada satupun ancaman Eden yang tak terbukti. “Ayah…kumohon” suaranya pecah tanpa suara. Bibirnya hanya membentuk kata. “Tolong aku kali ini… aku takut…” Air mata mengalir deras. Tubuhnya mati rasa, kesemutan menjalar dari ujung kaki hingga ke dada, seolah jiwanya perlahan melepaskan diri. Eden tetap berdiri di tempatnya. Tak bergerak. Namun suaranya seperti terompet kematian. “Satu.” Detak jantung Lintang menghantam dadanya. Setiap denyut terasa seperti palu. Matanya menatap Eden yang masih terlihat tenang. “Dua.” Ia menggigit bibirnya keras-keras. Darah terasa asin di lidahnya. Tangannya mencengkeram lantai dingin. “Ti—” Lintang berlari. Ia tak tahu dari mana tenaganya datang. Ia hanya tahu jika tetap diam, ia akan hancur. Tubuhnya menghantam dada Eden. Lengan kekar itu langsung melingkar, mencengkram pinggangnya kuat membuat tubuh Lintang seketika menegang. “Nah…” Eden terkekeh pelan. “Begini seharusnya.” Tangannya terangkat, membelai dagu Lintang perlahan. Terlalu lembut untuk seseorang yang disebut monster. Matanya menatap mata madu yang basah oleh air mata. Kilau ketakutan membuatnya bersinar indah dan itu membuat Eden tersenyum lebih lebar. “Kau gemetar,” bisiknya. “Kau benar-benar takut padaku.” Lintang tak mampu menoleh. Nafasnya tercekat, dadanya sesak. “Kau tahu dimana kesalahan mu, Lintang?” suara Eden hampir tak terdengar, namun justru menusuk sangat dalam. Setiap kata terasa seperti paku di jantungnya. Lintang kembali berpikir mencari letak kesalahan yang diperbuat, namun semakin ia pikir ia tak menemukan sedikitpun kesalahannya. Ia hanya datang untuk mengirim makanan namun tiba-tiba dikepung dan di sekap. “Kau harus dihukum, Lintang,” lanjutnya pelan. “Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan.” Pelukan itu mengencang. Eden mengangkat tubuh lintang yang seringan kapas kemudian melemparkan ke atas ranjang. "akh.." Tubuhnya memantul. Kepalanya tak terbentur apapun, namun dunia tetap berputar liar. Pusing menyerang tiba-tiba, seolah ada tangan tak kasat mata yang memeras otaknya. Lintang mencengkram sisi kepalanya, nafasnya terputus-putus. Ctak! Cahaya putih menusuk langsung ke matanya. Lintang menyipit, air mata menggenang di pelupuk dan ia yakin dalam satu kedip akan jatuh ke pipinya. Belum sempat ia menyesuaikan diri Eden lebih dulu menyergap. Kakinya terseret kuat hingga tubuh lintang berada di tepi ranjang. Sprei bergeser kasar, punggungnya terasa dingin. Lintang berteriak. Namun hanya gerakan bibirnya saja. Mulutnya terbuka lebar, nafasnya habis dalam isakan bisu. Panik menyergap, lebih menakutkan daripada saat pria itu memaki. Tubuh Eden membungkuk, bayangannya menelan tubuh kecil gadis di bawahnya, wajahnya kian mendekat. Matanya menatap lapar tubuh seputih susu berbalut dress merah haram. Lintang berharap dunia menelannya saat itu juga. "Kau seperti mawar, Lintang.” Ucap Eden pelan, suaranya serak dan berat. “Mekar dan siap untuk dipetik." Tak membiarkan Lintang mencerna kalimat itu, Eden mencengkram pergelangan tangan lintang, menekannya ke atas ranjang. Tak melukai namun cukup membuat memar. Lintang meronta. Kakinya menendang, tubuhnya menggeliat, kukunya mencakar lengan Eden tanpa arah. Dadanya naik turun cepat, napasnya kacau. Dalam sekali sentak Eden menarik paksa lingerie yang tak sepenuhnya menutupi pusat pribadi Lintang. Kain tipis merah itu tak lagi terpasang, rusak. Kecepatan Eden membuat Lintang tercengang, tangannya berusaha menutupi dada yang terekspos, matanya memerah bukan lagi karena tangis melainkan marah, malu bercampur takut. Bibirnya bergerak cepat. "Ku mohon…jangan…." Eden membaca gerak bibir Lintang, namun ia tak peduli. Tangannya kembali menarik kain terakhir, hingga mempertontonkan tubuh sempurna tanpa cela. Kulit seputih susu, cerah dan segar, Lintang benar-benar definisi mawar yang mekar. Matanya kian menggelap, saat pergerakan Lintang yang berusaha menutupi namun terlihat seperti tengah menggodanya. "Kau tahu, hanya ini cara agar kau mau mengeluarkan suara emas mu itu." Eden membuka paksa kedua kaki Lintang, matanya berkilat penuh cahaya. ludah terasa seperti batu, hingga sulit untuk turun. Rona merah dengan sentuhan istimewa pusat gairah, membawa rasa panas menyerang tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa gerah di bawah dinginnya AC. Jakunnya naik turun, matanya tak bisa teralih dari inti milik Lintang. Eden mengabaikan tangisan dan rontaan Lintang yang tak seberapa itu. Hingga dalam satu gerakan cepat, sesuatu yang keras memaksa masuk kedalam tubuh Lintang tanpa bisa dicegah. Ia berteriak, memukul, menggigit dan mencakar Eden, namun pria itu tak menghentikan aksinya ia semakin memaksa masuk pusaka miliknya, hingga cairan merah mengalir menetes di sprei sutra yang putih. Eden terkejut, namun kemudian tersenyum puas. Lintang menangis tergugu, rasa perih, panas dan sakit seolah membelah tubuhnya. Kulitnya meremang sedangkan tubuhnya bergetar tak karuan. Matanya melirik ke bawah sesuatu yang tak kecil tengah mengoyak dirinya, harga dirinya. Lalu pria di atasnya menggeram layaknya binatang, senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Sesekali lidahnya turut bermain menggoda lehernya. “Sakit…ku mohon lepas…” Lintang berusaha mendorong perut Eden, namun bukanya lepas Eden semakin dalam membenamkan miliknya. Rasa sakit semakin terasa saat Eden menggerakkan pinggulnya dengan kasar, mengabaikan Lintang yang berontak ingin lepas. Gadis itu menangis, menjerit, terisak dan meracau namun lagi-lagi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya. "Ah, lintang. kau membuatku hilang akal.”Bicara soal perayaan tahun baru, sewaktu masih kecil Belinda merayakan tahun baru bersama keluarga Brandon. Meskipun saat itu mereka baru berteman baik, Brandon langsung memperkenalkan Belinda ke orang tuanya. Memperkenalkan bukan berarti dengan tujuan pernikahan, mengingat usia Belinda saat itu masih kurang dari sepuluh tahun.“Wah, ternyata kalau dilihat secara langsung, Belinda sangat manis ya!” puji Yenny dengan pandangan berbinar-binar mengelus pipi mungil Belinda.Brandon memutar bola mata. “Manis-manis tapi aslinya nakal!”Belinda mendengkus dan menendang kaki Brandon di bawah meja. “Padahal kakak juga nakal! Aku mau minta beli cokelat, tapi kakak ga kasih aku kemarin.”“Lama-lama kan gigimu bisa berlubang kalau keseringan makan cokelat!” “Dasar kakak ga ngaca!”Para orang tua hanya bisa menggeleng-geleng menatap tingkah anak mereka seperti tom and jerry. Terutama Yenny mengelus dada, tidak menyangka sikap putranya juga kekanak-kanakan padahal sudah remaja.“Maaf ya kalau putr
Tiga belas tahun lalu… Sejak bertemu Brandon pertama kali di perpustakaan, Belinda menjadi semakin rajin pergi ke perpustakaan setiap hari. Terutama sengaja menempati kursi yang ditempati Brandon supaya Brandon bisa menjadi guru les matematika setiap ada PR. Apalagi hari ini Belinda mendapatkan banyak PR lagi, sudah pasti ia mengincar pangeran tampan mendatanginya untuk membantu mengerjakan PR. Sudah bermenit-menit menunggu sambil mengayunkan kaki dengan gesit, tetapi tidak ada tanda-tanda dosen itu akan mendatanginya, sehingga membuat bibirnya memanyun. “Kok kak Brandon lama amat ya datangnya? Padahal aku mau dia yang kerjain PR.” Pada saat bersamaan, Brandon menampakkan batang hidung sambil membawa sebuah paper bag berukuran besar. Senyumannya terlihat sumringah, berbeda dari biasanya membuat Belinda penasaran apa yang ada di benak Brandon. “Benar tebakanku. Pasti hari ini kamu pergi ke perpustakaan lagi dan duduk di tempatku,” ucap Brandon sambil menaruh paper bag di meja
Tidak terasa sang buah hati akhirnya hadir dalam kehidupan rumah tangga Belinda dan Brandon. Mereka dikaruniai bayi perempuan diberi nama Gabriella. Brandon sangat bersyukur memiliki anak perempuan, karena ia masih trauma melihat putranya William selalu berbuat onar yang menyebabkan William dan Isabella berdebat karena masalah anak hampir setiap hari. Namun, mengurus anak tentunya bukan hal yang mudah bagi mereka juga. Walaupun sebelumnya sempat percaya diri ingin punya anak perempuan, yang namanya masih bayi pasti susah diurus juga, apalagi mereka tidak mau punya pengasuh. Sejak sudah punya anak, Belinda memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan dan ingin fokus mengurus anak saja. Lagi pula, tidak mungkin terus bekerja di bawah suaminya sedangkan dirinya sendiri masih punya perusahaan perlu diurus. Perusahaan milik orang tuanya yang kini diserahkan pada semua saudara sepupunya. Selama menjadi ibu rumah tangga, Belinda bangun lebih awal demi mengurus
Saat memasuki usia kandungan tujuh bulan, Belinda tidak diperbolehkan bekerja oleh Brandon. Selain itu, untuk menemani istrinya di rumah, Brandon juga berinisiatif bekerja dari rumah kalau tidak ada agenda penting agar istri tidak cepat bosan dan tidak ada jadwal mengajar di kampus. Sejak mengajar mata kuliah akuntansi, Brandon semakin sibuk mereview tugas mahasiswa. Tidak seperti dulu hanya mengajar mata kuliah strategi manajemen yang tugasnya hanya menjawab pertanyaan di buku teks dan membuat materi presentasi. Akibat lagi banyak pekerjaan kantor belakangan ini, Brandon memiliki ide usil setiap mahasiswanya berbuat ulah di kelas. Sering mengadakan ujian tiba-tiba dengan memberikan soal ujian yang sulit, sehingga para mahasiswa di kampus semakin membencinya.Sekarang pekerjaannya semakin bertumpuk di rumah. Baru memeriksa sebagian tugas mahasiswa sudah membuat kepalanya sakit. Rambut terlihat tidak beraturan akibat keseringan mengacak-acak rambutnya.
Tantangan utama yang harus dihadapi Belinda sekarang adalah harus terbiasa hidup sendirian tanpa kehadiran suaminya, meskipun suaminya bepergian hanya tiga hari. Tugas skripsi tetap berjalan, walaupun sebelumnya hasilnya memuaskan bagi Brandon. Selama tiga hari itu, siapa yang akan memberikan mas
Seiring waktu berjalan, hubungan Belinda dan Brandon masih tetap dirahasiakan selama masa perkuliahan. Bahkan saat mencapai semester akhir, tidak ada satu pun mahasiswa atau dosen yang menyadari bahwa Belinda dan Brandon adalah suami istri. Sekarang peran Brandon bukan sekadar sebagai d
Dalam hati Belinda ingin minta maaf pada William karena menutupi hal penting secara langsung, walaupun sebenarnya dirinya memasang alat perekam suara di pulpen diberikan Brandon sebelumnya. Dengan pasrah Belinda mematikan speaker perekam suara di ruang interogasi. Natasha tertawa
Saat tiba di villa, Belinda dan Brandon tidak menemukan keberadaan sosok Bu Yenny. Kondisi villa terlihat tenang seolah-olah tidak terjadi apa pun di sini. Dengan panik mereka mencari di segala ruangan dalam villa lantai satu, termasuk taman. Anehnya sang ibu tidak meninggalkan jejak apa pun membuat


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات