Share

Bab 7 Siapa Ayahnya?

Penulis: Aira Tsuraya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 11:00:34

Mata Elowen melotot dengan wajah yang menegang. Padahal ia mati-matian menyembunyikan hal ini, tapi mengapa begitu mudah terungkap.

Elowen tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kael. Suaminya pasti terkejut begitu mendapati istri yang tidak pernah ia sentuh tiba-tiba hamil.

“Saya rasa Kaisar harus tahu soal ini, Jenderal,” ucap sang Tabib.

Elowen semakin terperangah kaget. Tidak, ini tidak boleh. Tidak ada satu pun yang boleh tahu. Ini rahasianya. Sebisa mungkin Elowen harus mencegah tabib itu pergi.

Namun, hal yang tidak diinginkan Elowen tiba-tiba terjadi.

“Iya, sampaikan kabar ini pada Kaisar. Aku yakin dia pasti senang.”

Kael bersuara dengan tenang, tanpa pergolakan emosi memberi titah ke tabib tersebut.

“Apa yang dia lakukan? Apa dia sedang meracau? Bukankah dia tidak pernah menyentuhku. Mengapa membiarkan kebohongan ini sampai ke kaisar?” batin Elowen.

Tabib istana mengangguk, kemudian berlalu pergi meninggalkan Elowen dan Kael. Elowen melirik siluet suaminya. Dadanya berdentum semakin hebat. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung setelah ini.

Dengan gerak cepat, tiba-tiba Kael memutar tubuhnya menatap Elowen dari balik tirai. Tidak kalah cepat juga, Elowen tergesa memejamkan mata.

Perlahan lengan Kael terulur dan menyibak tirai. Ia terdiam cukup lama mengamati Elowen yang terbaring pura-pura di depannya. Mati-matian Elowen bersandiwara, menahan degup jantungnya yang semakin kencang.

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Kael, tapi Elowen bisa merasakan tatapan dingin itu sedang menguliti tubuhnya secara perlahan. Sepertinya ia harus bersiap mati di tangan suaminya setelah ini.

Kemudian tanpa berkata apa pun, Kael membalikkan badan dan berlalu pergi keluar dari kamar Elowen.

Helaan napas lega serta merta keluar dari bibir Elowen. Ia sudah bangun dan duduk diam di atas kasur sambil mengurut dadanya.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Harusnya aku segera minum obat penggugur kandungan saat itu, tapi bagaimana cara mendapatkannya.”

Elowen terlihat linglung dengan wajah bingung menatap kosong ke depan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya. Apa mungkin nyawanya harus berakhir di tangan suaminya sendiri?

Setelahnya Elowen tidak berani keluar kamar. Saat dayang masuk, ia pura-pura tidur dan sepertinya mereka percaya. Elowen belum bisa menemukan jalan keluar untuk masalahnya.

Di Valtoria, membeli obat tidak bisa dilakukan dengan bebas. Apalagi untuk obat penggugur kandungan. Harus memerlukan pemeriksaan dari tabib dan ahli kesehatan dulu. Itu pun harus dengan pertimbangan suami.

Sementara Elowen sendiri belum menikah saat itu. Kalaupun usai dia menikah dengan Kael, pasti semakin rumit meminta izinnya. Ini benar-benar seperti buah simalakama.

“Anda sudah bangun, Putri.”

Sapa dayang membuyarkan lamunan Elowen. Ia sudah lelah seharian terbaring di kasur. Punggungnya panas dan memutuskan mengakhiri sandiwaranya. Biarlah yang terjadi akan terjadi.

“Mari saya bantu bersiap. Sebentar lagi Anda harus menemui kaisar.”

Mata Elowen membola sambil menatap dayang di depannya.

“Menemui kaisar?”

“Iya. Kaisar akan menganugerahi sesuatu yang istimewa atas kehamilan Anda.”

Elowen membisu. Jantungnya kembali berdetak semakin cepat. Ini salah dan tidak seharusnya terjadi. Namun, sekali lagi ia tidak bisa mencegah.

Selang beberapa saat kemudian, Elowen sudah berjalan memasuki aula utama. Langkahnya terukur dengan anggun meniti lantai marmer.

Tidak hanya dirinya saja yang berada di sana, tapi aula utama hampir dipenuhi dengan para bangsawan. Mata mereka menatap Elowen dengan tatapan terkejut, ada beberapa yang tersenyum, tapi banyak juga yang melihat dengan sinis.

Dari jauh, Elowen melihat Kael sedang berdiri menatapnya dengan dingin. Lagi-lagi mata itu melihatnya seperti musuh.

Elowen menghentikan langkahnya kemudian memberi salam ke kaisar.

“Kamu tahu kenapa aku memanggilmu, Elowen?”

Elowen mengangguk sambil tersenyum. “Pasti soal kehamilan hamba.”

Kaisar Vorentis tersenyum sambil mengangguk.

“Benar sekali. Ini merupakan kabar gembira, Elowen. Sudah sepantasnya kamu menerima pemberianku ini.”

Elowen tersenyum sambil menundukkan kepala. Selanjutnya Kaisar Vorentis menatap Elowen dengan lembut.

Di hadapan semua yang hadir di aula utama itu, Kaisar mengangkat tangan kanannya.

“Demi Jupiter Optimus Maximus, anak yang dikandung Putri Elowen adalah darah Imperium. Siapa pun yang mengancamnya, akan dihukum sebagai pengkhianat Valtoria.”

Suara tepuk tangan dan sorak sorai berderai memenuhi aula utama. Kaisar tersenyum bangga menatap Elowen. Ada kasih sayang seorang ayah terlihat jelas di sana. Elowen membalasnya dengan menganggukkan kepala memberi hormat.

Tanpa Elowen ketahui, ada sepasang mata yang sedang mengincarnya. Acara penganugerahan itu dilanjutkan dengan jamuan makan malam. Semua terlihat menikmati, hanya Elowen yang tampak tegang duduk bersanding dengan Kael.

Sejak ia datang tadi, tidak ada sepatah kata dari Kael. Pria itu hanya diam sambil menikmati satu persatu acara berjalan dengan tenang.

Setelah cukup lama menghabiskan waktu di aula utama, Elowen berpamitan pergi lebih dulu. Kepalanya masih pusing selain itu, ia tidak tahan harus bersanding dengan manusia batu seperti Kael di sisinya.

Elowen menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dayang setianya baru saja pergi berlalu dan membiarkan Elowen istirahat lebih awal. Sepertinya semua memanjakan dia begitu tahu kehamilannya. Meski merasa bersalah, tapi Elowen menikmatinya.

Baru saja ia hendak memejamkan mata, tiba-tiba Elowen mendengar suara pintu terbuka. Elowen terbangun, duduk di kasur sambil mengawasi pintu.

Sesosok tubuh tinggi dengan langkah dingin berjalan mendekat. Penerangan di kamar Elowen temaram, ia memang bersiap tidur. Tapi tanpa cahaya pun, Elowen tahu siapa yang datang.

Elowen hendak menyibak tirai, tapi tiba-tiba sebuah benda tajam berkilatan terhunus meluncur, menembus tirai kelambu dan langsung berhenti tepat di depan dadanya.

Mata Elowen membola saat tahu benda tajam berkilatan itu adalah sebuah pedang. Elowen mendongak, matanya beradu dengan netra coklat yang sedang berdiri tegak di depannya.

“Jenderal … .”

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Kael, tapi tatapan mata itu sudah mewakilinya. Elowen menelan saliva sambil mengatur napas. Dadanya kembang kempis dan bergerak dengan menggoda di depan Kael.

Apa ini saatnya?

Dengan berat, Kael bersuara, “Katakan padaku, siapa ayahnya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Assassin Bimz
Elowen bakal terus terang gak, nih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 133 Kekecewaan Roxana

    Menjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 132 Adu Siasat

    Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 131 Penyusun Rencana

    "Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 130 Perdebatan Terjadi

    "Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 129 Perubahan Alaric

    Kaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric. “Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tajam seperti tatapan bijak seorang penguasa bukan tatapan seorang Ayah yang penuh kesedihan. “Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu, Alaric?” Bukannya menjawab permintaan Alaric, Kaisar Vorentis malah balik bertanya. Tentu saja Alaric marah mendengarnya. “Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Kebodohan yang telah lama aku simpan atas semua ketidak adilan sikap Ayah padaku.” Kaisar berdecak, mengge

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 128 Permintaan Tak Terduga

    “Apa katamu? Hamil?” ulang Alaric memastikan.Roxana tersenyum sambil menganggukkan kepala seraya mengelus perut ratanya. Alaric tertegun melihatnya tanpa kedip. Beberapa kali jakunnya bergerak naik turun menelan saliva. Wajahnya masih terlihat terkejut.“Aku ucapkan selamat untukmu, Alaric, Roxana.”Kael sudah bersuara memecah keheningan itu. Alaric menoleh ke arahnya dan mengangguk datar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.“Roxana sudah diperiksa Tabib Lucanus dan katanya ia tengah hamil dua minggu. Cukup rentan dan butuh perawatan ekstra. Itu juga sebabnya, Bibi anjurkan Roxana dan kamu tinggal di sini.”Julia mengambil alih pembicaraan dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Alaric.“Tidak. Tidak. Roxana punya istana sendiri dan aku tidak mau jika ia harus tinggal di sini bersama ---“Alaric menggantung kalimatnya, tapi tatapannya sudah mengarah ke Elowen. Semua yang ada di sana memperhatikan sikap Alaric. E

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status