ANMELDENKaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric.
“Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tMenjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s
Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia
"Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua
"Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i
Kaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric. “Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tajam seperti tatapan bijak seorang penguasa bukan tatapan seorang Ayah yang penuh kesedihan. “Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu, Alaric?” Bukannya menjawab permintaan Alaric, Kaisar Vorentis malah balik bertanya. Tentu saja Alaric marah mendengarnya. “Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Kebodohan yang telah lama aku simpan atas semua ketidak adilan sikap Ayah padaku.” Kaisar berdecak, mengge
“Apa katamu? Hamil?” ulang Alaric memastikan.Roxana tersenyum sambil menganggukkan kepala seraya mengelus perut ratanya. Alaric tertegun melihatnya tanpa kedip. Beberapa kali jakunnya bergerak naik turun menelan saliva. Wajahnya masih terlihat terkejut.“Aku ucapkan selamat untukmu, Alaric, Roxana.”Kael sudah bersuara memecah keheningan itu. Alaric menoleh ke arahnya dan mengangguk datar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.“Roxana sudah diperiksa Tabib Lucanus dan katanya ia tengah hamil dua minggu. Cukup rentan dan butuh perawatan ekstra. Itu juga sebabnya, Bibi anjurkan Roxana dan kamu tinggal di sini.”Julia mengambil alih pembicaraan dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Alaric.“Tidak. Tidak. Roxana punya istana sendiri dan aku tidak mau jika ia harus tinggal di sini bersama ---“Alaric menggantung kalimatnya, tapi tatapannya sudah mengarah ke Elowen. Semua yang ada di sana memperhatikan sikap Alaric. E







