LOGIN“Apa maksud Bibi?”
Roxana tercengang begitu tahu kalimat terakhir dari Drusilla. Drusilla tidak menjawab, malah tersenyum ganjil dan berjalan menjauh dari Roxana.
Entah mengapa Roxana merasa ada yang disembunyikan Drusilla. Ia hanya berharap kedua orang yang dihukum tadi pagi tidak ada hubungannya dengan Drusilla.
“Dua hari lagi kita kembali ke Armenion, Bi. Ayah sudah menyiapkan pesta untukku,” lanjut Roxana.
Drusilla tidak menjawab, tapi k
Roxana hanya diam sambil menatap Alaric dengan datar. Ia tidak menduga pria yang baru beberapa bulan dinikahi sudah berubah sedrastis ini. Alaric yang dipikirnya mempunyai kerendahan dan ketulusan hati, ternyata sangat mudah dipengaruhi. Bahkan ia sama sekali tidak mau menyelidiki kebenarannya lebih dulu. Alaric menatap Roxana dengan lembut. Sebuah senyum tersungging di wajahnya. "Aku akan membuatmu menjadi ratu Valtoria, Roxana. Aku yakin ayah dan kakakmu akan bangga." Roxana menghela napas sambil membalas tatapan Alaric. "Aku mengenal keluargaku dengan baik, Pangeran. Aku yakin mereka tidak akan bangga, apalagi jika kamu mendapatkannya dengan cara seperti ini." Mata Alaric melebar mendengar jawaban Roxana. "Jadi, kamu pikir aku yang merebutnya dari Kael?" Tidak ada jawaban dari Roxana, tapi tatapan matanya sudah menunjukkan hal itu.
“Apa katamu? Kael telah membunuh ibumu?” ulang Roxana. Alaric mengangkat kepala dan menatap Roxana dengan sendu kemudian mengangguk. “Ya. Dia tidak hanya membunuh ibuku. Dia juga membunuh permaisuri.” Mata Roxana kembali tercengang kaget mendengar penjelasan Alaric. Ia tidak tahu pasti, tapi menurut cerita yang berkembang, permaisuri tewas di tangan pengkhianat yang menerobos masuk ke istana. Sedangkan ibu Alaric meninggal karena sakit. Sama sekali berbeda dengan pernyataan Alaric. “Selama ini cerita yang beredar permaisuri meninggal karena dibunuh pengkhianat yang menyelinap ke istana, tapi nyatanya tidak. Ada yang berada di tempat kejadian saat itu dan menyaksikan sendiri jika Kael yang menghunuskan pedangnya ke permaisuri.” Lagi-lagi Roxana dibuat terkejut dengan cerita Alaric. “Jika demikian mengapa Kael tidak dihukum saat i
Menjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s
Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia
"Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua
"Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i







