ホーム / Romansa / Pernikahan Tanpa Cinta / 5. Lipstik Edisi Terbatas

共有

5. Lipstik Edisi Terbatas

作者: DebilaL
last update 公開日: 2026-07-18 19:47:40

Hampir dua jam berlalu. Pintu ruang rias perlahan terbuka, Rosaline melangkah keluar dengan raut canggung. Rambut panjangnya kini ditata bergelombang lembut, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat jauh lebih segar tanpa menghilangkan kesan alami. Blazer berwarna krem yang dipadukan dengan kemeja putih, celana panjang hitam, dan sepatu hak rendah semakin mempertegas aura elegan yang selama ini tersembunyi.

Anna yang sejak tadi duduk sambil memainkan ponselnya langsung mengangkat kepala. Matanya membulat, lalu perlahan berdiri sambil menatap Rosaline dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ya ampun…” gumamnya tak percaya.

Rosaline yang terus diperhatikan justru semakin salah tingkah. “Kenapa? Jelek, ya?”

“Jelek?” Anna spontan mendekat. “Rosa, kamu lagi bercanda?” Ia memegang kedua bahu sahabatnya, lalu kembali mengamatinya dengan saksama.

“Aku tahu dari dulu kamu cantik, tapi ternyata kalau dirawat sedikit aja…” Anna menggeleng pelan sambil terkekeh. “Kamu benar-benar kelihatan seperti putri keluarga Adiwijaya.”

Rosaline tersenyum kecil sambil menundukkan kepala. “Aku malah ngerasa aneh.”

“Itu karena kamu belum terbiasa.” Anna meraih pergelangan tangan Rosaline dan membawanya berdiri di depan cermin besar. “Coba lihat sendiri.”

Rosaline perlahan mengangkat wajah. Seketika ia terdiam menatap pantulan dirinya. Wanita di dalam cermin masih dirinya, tetapi terlihat jauh lebih segar, anggun, dan berkelas. Bahkan ia sendiri hampir tidak percaya dengan perubahan itu.

“Nah, begini baru cocok.” Anna menyilangkan kedua tangan di dada sambil mengangguk puas. “Kalau Damian masih bisa selingkuh setelah punya istri secantik kamu, berarti yang bermasalah memang dia.”

Senyum di wajah Rosaline perlahan memudar begitu nama Damian disebut. Anna yang menyadari hal itu langsung berdeham pelan. “Maaf… aku nggak bermaksud bikin kamu kepikiran lagi.”

Rosaline menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”

Anna lalu tersenyum tipis dan menepuk bahu sahabatnya. “Ayo. Sekarang kita cari tahu siapa pemilik lipstik itu.”

Rosaline menarik napas panjang sebelum mengangguk mantap. Kali ini, ia tidak ingin terus menjadi istri yang hanya diam dan menunggu. Ia ingin menemukan sendiri kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

***

Sekitar satu jam kemudian, mobil yang ditumpangi Rosaline dan Anna akhirnya memasuki area sebuah mal mewah di pusat kota. Bangunannya menjulang tinggi dengan arsitektur modern yang didominasi kaca dan marmer mengilap. Deretan butik dari berbagai merek ternama berjajar rapi di setiap sisi, sementara lampu kristal yang menggantung di langit-langit membuat seluruh sudut mal tampak begitu megah.

Rosaline tanpa sadar menoleh ke kanan dan kiri, mengamati suasana di sekelilingnya.

Meski terlahir sebagai putri keluarga Adiwijaya, ia jarang menghabiskan waktu di tempat seperti ini. Sebagian besar hidupnya hanya diisi dengan kuliah, rumah, dan perusahaan keluarga.

“Bagaimana?” tanya Anna sambil mengaitkan lengannya di lengan Rosaline. “Ini pertama kalinya kamu ke sini, kan?”

Rosaline mengangguk pelan. “Iya.”

Tatapannya kembali berkeliling sebelum akhirnya bergumam pelan, “Apa Damian sering datang ke tempat seperti ini?”

Anna menoleh sekilas.

“Mungkin saja. Tapi kita belum tahu kebenarannya.” Ia tersenyum tipis. “Kalau nanti semua sudah jelas, baru kita boleh menarik kesimpulan.”

Rosaline mengangguk.

“Ayo.”

Keduanya pun berjalan menuju sebuah butik kosmetik mewah yang berada di lantai utama. Begitu pintu kaca terbuka, aroma parfum yang lembut langsung menyambut mereka. Rak-rak berwarna putih dengan pencahayaan hangat dipenuhi berbagai produk kosmetik eksklusif.

“Selamat datang, Kak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah seorang beauty advisor dengan ramah.

Anna membalas senyum itu lalu langsung mengeluarkan lipstik yang dibawa Rosaline dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja kasir.

“Saya ingin membeli lipstik yang sama seperti ini.”

Begitu melihat lipstik tersebut, senyum para beauty advisor perlahan memudar. Mereka saling berpandangan beberapa saat sebelum salah satunya kembali mengangkat lipstik itu dengan hati-hati.

“Maaf, Kak… ini adalah lipstik edisi terbatas.”

“Kalau begitu masih ada stoknya?”

Wanita itu menggeleng pelan.

“Tidak ada.”

Anna mengernyit. “Bukannya ini dijual di butik resmi?”

“Iya, benar. Tapi untuk Indonesia hanya ada dua unit yang masuk. Dan… keduanya sudah terjual sejak hari pertama peluncuran.”

Mata Anna dan Rosaline langsung saling bertemu.

Hanya ada… dua buah?

Rosaline tanpa sadar mengepalkan jemarinya di balik tas tangan. Jika memang hanya ada dua lipstik di Indonesia, bukankah itu berarti pemiliknya akan jauh lebih mudah ditemukan?

Anna segera kembali menatap beauty advisor itu.

“Kalau begitu… apa kalian masih ingat siapa yang membelinya?”

Kedua beauty advisor itu saling berpandangan begitu mendengar pertanyaan Anna. Raut wajah mereka tampak ragu. Sebagai karyawan butik eksklusif, mereka memang tidak diperbolehkan membagikan informasi mengenai pelanggan.

Melihat keraguan itu, Anna buru-buru tersenyum.

“Tenang saja. Aku cuma penasaran. Lipstik ini hadiah ulang tahun dari temanku, namanya Damian. Aku suka banget sama warnanya, jadi pengin beli shade yang lain. Apa benar dia yang beli ini?”

Mendengar penjelasan tersebut, ekspresi kedua beauty advisor itu langsung berubah lega.

“Oh, kalau begitu benar, Kak.” Salah satunya mengangguk ramah. “Lipstik itu memang dibeli oleh Pak Damian.”

Jantung Rosaline seketika berdegup lebih cepat.

“Beliau datang bersama istrinya waktu itu.”

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepala Rosaline. Ia hanya terdiam.

Istri?

Bukankah ia tidak pernah sekalipun datang ke butik ini bersama Damian? Kalau begitu… siapa wanita yang mereka maksud?

Anna yang menyadari perubahan wajah sahabatnya segera mengalihkan pembicaraan. “Kalau begitu masih ada stoknya?”

Beauty advisor itu menggeleng pelan. “Maaf, Kak. Sebenarnya masih ada satu stok lagi, tapi sudah direservasi sejak lama.”

“Siapa yang memesannya?”

“Pemimpin keluarga Maheswara.”

Rosaline yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut mengangkat kepala. “Dari keluarga Maheswara?”

“Benar, Kak.” Beauty advisor itu tersenyum sopan. “Atas nama Pak Alexander Maheswara. Jadi kami tidak berani memberikan stok itu kepada pelanggan lain.”

Rosaline langsung terdiam mendengar nama itu. Untuk sesaat, ingatannya melayang jauh ke masa kecil. Sosok seorang anak laki-laki dengan wajah dingin perlahan muncul di benaknya. Tak ada yang tahu kalau dulu mereka pernah saling mengenal, bahkan Anna sekalipun. Kenangan itu datang begitu cepat, lalu menghilang secepat ia menggelengkan kepala.

“Ya sudah… ayo, Anna. Kita pulang saja.”

Anna sempat menatap Rosaline beberapa detik. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya, tetapi memilih tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum sopan kepada kedua beauty advisor.

“Terima kasih, ya.”

“Sama-sama, Kak.”

Keduanya pun keluar dari butik kosmetik itu. Baru beberapa langkah meninggalkan toko, Anna akhirnya tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

“Rosa.”

“Hm?”

“Tadi… kenapa wajahmu langsung berubah waktu mereka nyebut nama Pak Alexander Maheswara?” tanyanya sambil menatap Rosaline lekat. “Apa kamu kenal sama pemimpin keluarga Maheswara itu?”

“Ah… aku—“ Rosaline baru saja hendak membuka mulut. Namun, pandangannya mendadak terpaku ke arah lantai bawah mal.

Seorang pria baru saja turun dari eskalator.

Damian.

Di sampingnya, seorang wanita cantik berjalan sambil merangkul lengan pria itu dengan begitu akrab. Keduanya tertawa ringan, sesekali saling berbincang, sementara tangan mereka dipenuhi kantong-kantong belanja dari berbagai butik mewah.

Dari kejauhan, mereka tampak seperti sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersama.

Wajah Rosaline perlahan memucat.

Anna yang menyadari arah pandangan sahabatnya ikut menoleh. Begitu melihat sosok Damian bersama wanita lain, kedua tangannya langsung mengepal kuat.

“Sialan…” desisnya geram. “Tanpa perlu capek-capek nyari bukti lagi, sekarang kita sudah tahu kalau dia memang benar-benar selingkuh.”

Bersambung.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pernikahan Tanpa Cinta   29. Malam Saat Semua Terdiam

    Pagi ini, seperti biasa, Rosaline sedang menyiapkan sarapan untuk Damian. Namun, pikirannya kembali teringat pada sorotan cerita yang diunggah oleh selingkuhan suaminya di media sosial.Sebuah foto dua botol wine yang berada di atas meja transparan, dengan pantulan wajah Damian yang terlihat samar di permukaannya.Kalau mengingat hal itu, rasanya lucu sekali.Hampir saja kemarin Rosaline percaya bahwa pria itu benar-benar sedang lembur. Ternyata, lagi dan lagi, Damian hanya menggunakan alasan yang sama untuk bertemu dengan wanita lain.Namun kali ini Rosaline sudah benar-benar tidak peduli. Bahkan semalam, ia memilih langsung tidur seperti biasanya tanpa menunggu Damian pulang.Tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Tidak ada pertanyaan tentang kapan Damian akan kembali.Rosaline hanya ingin menjalani harinya seperti biasa tanpa terus memikirkan pria yang sudah berkali-kali membuatnya kecewa.“Selamat pagi, sayang.”Suara Damian yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Rosaline

  • Pernikahan Tanpa Cinta   28. Perasaan yang Tak Disadari

    Bianca yang masih berada di balik selimut tampak aneh menatap layar ponselnya. Rosaline sudah melihat sorotan cerita yang ia unggah beberapa waktu lalu, tetapi kenapa tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan dari wanita itu di ponsel Damian?Bahkan selama mereka menghabiskan waktu bersama, tidak ada satu pun gangguan berupa panggilan atau pesan dari Rosaline. Hingga semuanya selesai pun, wanita itu tetap tidak menghubungi Damian.Kini Damian sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Sementara Bianca masih berbaring di atas ranjang sambil memegangi selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.“Aneh… apa dia nggak melihat ada wajah Damian di situ?” gumam Bianca dengan dahi berkerut. “Padahal aku sudah memotretnya sejelas mungkin.”Harapan yang sejak tadi ia bayangkan tidak kunjung menjadi kenyataan.Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Rosaline sama sekali tidak menghubungi ponsel Damian. Bahkan pesan yang dikirim Damian kepadanya pun tidak dibalas.Seolah-olah wanita itu

  • Pernikahan Tanpa Cinta   27. Jejak Pengkhianatan

    Rosaline dan Anna kini sedang menikmati makan malam di sebuah restoran setelah seharian menghabiskan waktu bersama. Mereka sudah mengunjungi beberapa tempat, mencoba berbagai makanan, hingga menghabiskan cukup banyak waktu untuk memilih gaun yang akan dikenakan pada pesta besok malam.Anna tampak menikmati makanannya dengan santai. Sesekali ia mengangkat pandangan ke arah Rosaline yang sejak tadi juga sibuk menikmati hidangan di hadapannya.Namun, entah kenapa, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya.“Kalau begitu, bagaimana hubunganmu dengan Alexander?” tanya Anna santai.Rosaline mengangkat wajahnya dan menatap Anna.“Alexander?”Anna mengangguk. Setelah kini mengetahui dengan jelas bagaimana sebenarnya hubungan Rosaline dan Alexander, Anna memang tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.“Apa kamu nggak berniat menjadikan dia selingkuhanmu saja?”“Uhuk! Uhuk!”Rosaline yang saat itu sedang meneguk air langsung tersedak. Ia buru-buru menurunkan gelasnya ke atas meja, kemudian

  • Pernikahan Tanpa Cinta   26. Sebelum Pesta Dimulai

    Damian melangkah memasuki restoran yang berada tidak jauh dari butik tempat Bianca berbelanja. Sebenarnya, ia sama sekali tidak ingin datang ke tempat itu. Terlebih lagi, ia tahu butik tersebut berada tepat di seberang restoran dan Rosaline masih berada di sana.Ia tidak ingin sampai Rosaline melihatnya.Namun Bianca sudah lebih dulu mengancamnya. Jika Damian tidak datang menemuinya, wanita itu akan mengungkapkan hubungan mereka kepada siapa pun, termasuk keluarga Rosaline.Mau tak mau, Damian akhirnya datang.Begitu memasuki restoran, pandangannya langsung menemukan Bianca yang duduk di salah satu meja. Wanita itu tampak santai sambil menyilangkan kedua kakinya, seolah-olah tidak sedang membuat Damian berada dalam posisi sulit.Damian berjalan menghampiri meja tersebut, lalu menarik kursi di hadapan Bianca dan duduk.“Kamu terlambat lima menit.”Damian melirik jam tangannya sekilas sebelum mengembuskan napas pelan.“Jalanan macet. Makanya aku terlambat.”Bianca hanya mendengus kecil.

  • Pernikahan Tanpa Cinta   25. Gaun yang Tak Lagi Diinginkan

    Kedua pegawai butik itu segera menundukkan kepala. Setelah Bianca menyebut nama keluarga Maheswara, mereka tentu tidak berani lagi bersikap terlalu keras. Awalnya mereka memang tidak mengetahui bahwa wanita tersebut berasal dari keluarga Maheswara.Namun mereka juga mengenal Rosaline sebagai pelanggan tetap yang cukup sering berbelanja di butik itu. Terlebih lagi, Rosaline berasal dari keluarga Adiwijaya, salah satu keluarga terpandang yang kedudukannya hampir setara dengan keluarga Maheswara.Mereka berada dalam posisi yang serba salah.“Maaf, Nyonya. Meskipun Anda berasal dari keluarga Maheswara, tetapi—”“Sudahlah.”Rosaline segera memotong ucapan pegawai tersebut. Tatapannya beralih kepada gaun biru yang masih berada di tangan pegawai.“Kalau kamu memang menginginkan gaun ini, ambil saja. Kebetulan aku juga sudah tidak menginginkannya lagi.”Pegawai yang memegang gaun itu langsung menatap Rosaline dengan sedikit terkejut.“Nyonya Rosaline…”“Tidak apa-apa.” Rosaline tersenyum tipi

  • Pernikahan Tanpa Cinta   24. Wanita dari Keluarga Maheswara

    Rosaline masih sibuk menggulir layar ponselnya, mencari-cari pria yang sekiranya cocok untuk dijadikan selingkuhannya. Namun semakin lama ia mencari, semakin tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Ada yang terlihat tidak sesuai dengan kriterianya, ada pula yang menurutnya terlalu mencolok. Setelah beberapa saat, Rosaline akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja makan sambil mengembuskan napas kesal.“Kenapa nggak ada yang sesuai kriteriaku, sih?” gumamnya pelan.Rosaline menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sejak memutuskan untuk membalas perlakuan Damian, ia memang sudah memikirkan satu hal dengan serius.Ia membutuhkan seorang pria yang tepat, bukan sembarang pria yang bisa membuat Damian cemburu. Tetapi seseorang yang cukup menarik untuk membuat suaminya benar-benar merasakan sakit yang sama.Sayangnya, mencari pria yang sesuai keinginannya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.Rosaline pun kembali sibuk menggulir layar ponselnya, sesekali memperhat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status