LOGINPernikahan Terkutuk (8)**"Kamu yakin, akan pergi setelah melahirkan dan memberikan darah dagingmu?" Aku mengangguk lemah. Itu sudah jadi kesepakatanku dengan mereka, aku tak bisa mundur lagi!"Memangnya ada, seorang Ibu rela melepas buah hatinya sendiri untuk wanita lain? Aku nggak begitu yakin kamu bisa."Aku membuang muka. Dokter satu ini dari awal memang sudah tidak suka padaku, jadi apapun yang keluar dari mulutnya buatku kesal saja!"Kepaksa, Dok. Memangnya aku bisa apa? Melawan mereka? Dengan aku yang tidak punya apa-apa." Hidupku saja dari mereka, dan aku bermimpi untuk menyalahi kesepakatan? Apa aku sudah gila?!Suamiku sudah pergi beberapa jam yang lalu. Dokter Rama datang berkunjung seenaknya, tanpa memberi kabar. Untuk apa lagi dia ke sini? Kalau bukan untuk menyudutkanku!"Matre juga ya kamu, ngelakuin kayak gini cuma demi uang!" Ia menatapku dengan tajam. Aku menghela nafas panjang. "Lalu, kalau aku matre kenapa? Toh aku dan mereka sama-sama menguntungkan. Di sini buk
Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru
Tiga**"Ra ...." "Aura ...."Tubuh Mas Arfan menggigil, sebelumnya aku sudah memanggil Dokter keluarga. Aku juga tak berhenti untuk mengompres keningnya, hanya saja yang membuatku semakin sesak dia terus memanggil nama Mbak Aura.Ada perasaan aneh yang menyelusup. Namun, kuabaikan karena tak ingin egois. Sudah berulang kali aku melakukan panggilan pada Mbakku itu, berdering tapi, tak juga diangkat.Aku terus mondar-mandir, sesekali duduk di sisi ranjang memegang erat tangan Mas Arfan. Selain menyebut nama istri sahnya itu, berulang kali ia mengucap kata rindu. Bukannya hari ini mereka sudah bertemu, dan sempat melakukannya juga. Tapi, kenapa seolah ada hasrat yang belum tersampaikan?Entah pada panggilan ke berapa kali, panggilanku tersambung. Dan disambut oleh teriakan Mbak Aura, meski terdengar sedikit aneh. Sebab ...."Aaaah ... Iya di situ, Sayang. Aaaaah, jangan berhenti!"Netraku seakan ingin keluar dari tempatnya. Apa-apaan ini? Mbak Aura lagi ngapain?!"Denger ya, gundik! H







