로그인Empat
** "Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu! "Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian." Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara. "Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini? "Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya." Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu. "Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah. Sepertinya Mas Arfan keliru, semalam dia nekat memanggil Dokter keluarga. Lupa kalau di sini sedang bersamaku, untung saja Dokter itu bertanya dulu tidak langsung melaporkan pada keluarganya Mas Arfan. "Kalian gila! Shit!" Aku terhenyak. Sepertinya Mbak Aura terpaksa untuk jujur, dan bisa jadi Dokter itu bisa dipercaya. Haaaah, setidaknya aku bisa bernafas dengan lega sekarang. Aura mengintimidasi dari Dokter ini, betul-betul membuat otot-otot menjadi tegang. "Betul, setelah melahirkan anak kamu akan pergi dari kehidupan mereka?" "Ya, sesuai kesepakatan." "Kamu, nggak akan menuntut?" "Untuk apa? Sudahlah, Dokter nggak perlu ikut campur terlalu dalam. Di sini aku membantu mereka, mereka juga bantu ekonomi aku." "Aaah, rupanya karena duit ya." Ia tampak tak menyukaiku. "Realistis aja, aku anak yatim piatu. Berasal dari panti asuhan, aku harus cari kerja. Dan itu susah, nggak mudah. Aku nggak mungkin terus menerus numpang di panti, sedangkan yang harus mereka urus itu banyak!" Dasar Dokter kepo! "Tapi, kenapa harus jadi seperti ini? Kamu masih muda, cantik. Bisa cari kerjaan lain, ini sama dengan mengorbankan masa depan kamu." "Iya aku paham, Dok. Setidaknya aku dinikahi meski siri, aku tidak berbuat zina. Dan aku melakukannya hanya dengan Mas Arfan," tegasku, tak ingin terus disalahkan. "Ka-kamu, masih gadis?" "Ya, aku menjaganya untuk suamiku." Dokter tampan itu terdengar menghela nafas berat. Ia membuka kacamata yang sempat bertengger, mengacak rambut. Sepertinya frustasi, "Mereka memang nggak punya pilihan. Orangtua masing-masing, sudah sangat mendambakan seorang cucu. Apalagi, Tante Arini juga sering sakit-sakitan." Aaah, begitu. Aku justru baru tahu, ternyata beban mereka juga tidak mudah. "Aku minta nomor ponselmu." "Untuk apa?" "Aku bisa membantumu beberapa tips, biar cepat hamil. Dengan begitu rumah tangga Arfan dan Aura, akan kembali normal. Punya anak, Tante Arini juga sembuh. Tapi, kamu?" Aku tersenyum getir. "Aku akan pergi jauh. Bawa duit banyak pemberian Mas Arfan dan istrinya, mungkin aku akan bertemu dengan jodohku. Dan aku juga akan punya anak lagi, udahlah aku nggak mau mikir yang berat." Dokter itu menyodorkan ponsel kerennya. Dan aku mulai mengetik nomorku di sana, syukurlah punya kenalan Dokter aku bisa menanyakan banyak hal. "Ok aku save. Sorry, tadi aku udah mikir yang negatif." "Chill. Siapa yang nggak? Kalian deket, tiba-tiba ada aku di sini pasti kaget." "Yaudah, aku pamit. Sekali lagi sorry ya, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Usai Mas Arfan pergi ngantor, aku kedatangan tamu. Ternyata Dokter yang semalam, kupikir dia ingin kembali memeriksa. Tahunya, mengintrogasiku dengan jutek! Tapi, setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang. Mbak Aura jujur, kupikir dia akan menyebutku gundik. Ponselku berdering dan itu dari Mbak Aura. "Iya, kenapa, Mbak?" "Gimana Dokter Rama, dia udah pergi?" Aaaaah, namanya Rama. "Udah, Mbak." "Mas Arfan tuh kebiasaan, selalu ceroboh. Untung Dokter Rama bisa diajak kerjasama, aku nggak mau rencana kita gagal." "Iya, Mbak. Aman aja kok." "Btw, kamu nggak ngomong macem-macem kan sama Mas Arfan tentang yang kamu dengar semalam?" "Nggak Mbak, aku mana berani itu urusan kalian." "Bagus, tetap begitu. Kalau mau aman, oh iya malam ini Mas Arfan absen nggak nemuin kamu." Aku mengelus dada. Seperti ada rasa tidak rela di sana, tapi, aku punya hak apa? "Iya, Mbak." "Malam ini ada acara makan malam di rumah orangtua Mas Arfan, biasalah aku sebagai istri sah satu-satunya harus datang menemani. Kamu jaga kesehatan, biar cepat hamil." Aku memutar bola mata dengan malas. Selalu saja begitu! "Iya, Mbak. Apa aku boleh konsul sama Dokter Rama? Kebetulan, Dokter tadi juga sempat menawarkan." "Oh yaudah, coba aja. Meskipun bukan Dokter kandungan, dia punya banyak teman di bidang itu. Nggak papa, dia juga masih single aman buat kalian konsul." Syukurlah, aku nggak mau jadi masalah nantinya. "Yaudah." "Mbak!" "Kenapa?" "Aku mau izin pergi ke panti, sekadar menengok terus beliin mereka beberapa baju, makanan. Apa boleh? Aku bosen di Apartemen terus." "Lakuin aja, kamu nggak harus selalu minta izin. Asal jangan pacaran dulu sama orang lain, sebelum kontrak kita selesai. Kamu paham?" "Paham, Mbak." Sambungan telpon terputus. Dan panggilan masuk berganti dari yang lain, Mas Arfan. Aku tersenyum, secepat kilat mengangkat telponnya dengan semangat. "Nay." Aku memejam. "Ya, Mas." "Lagi ngapain?" "Aku mau ke panti, Mas. Kangen mereka, tadi udah minta izin juga ke Mbak Aura. Apa boleh?" Aku takut, kadang Mas Arfan tuh kelihatan tegas, galak, tapi, bisa juga berubah hangat. "Yaudah, pergi aja. Mau diantar sopir apa gimana?" "Aku pakai taksi aja, Mas. Biar orang-orang panti nggak curiga." "Lakuin aja, jangan kemalaman. Hati-hati, maaf nanti malam aku nggak pulang." "Iya, nggak papa, Mas. Aku paham, tadi Mbak Aura juga sudah bilang." "Jangan nakal, jangan lirik cowok lain. Kamu milikku!" katanya, yang membuatku mengulum senyum. Kok, posesif? "Pakai baju seadanya, Nay. Jangan yang seksi, aku nggak suka kamu dandan begitu di hadapan para lelaki hidung belang." "Iya, Mas. Yaudah tutup telpon dulu, aku mau ganti baju." "Ngapain ditutup? Ganti video call, aku mau lihat kamu ganti baju sekaligus aku yang bantu kamu pilihin baju." Netraku membulat. Ganti baju depan dia?! Yang bener aja! "Aku malu, Mas." "Malu? Setelah apa yang terjadi dengan kita, kamu masih bilang malu. Buruan, aku mau ada meeting lagi ini." Sebagai istri yang baik. Aku menurut, mengganti panggilan ke VC. Aku membuka lemari, memperlihatkan satu persatu koleksi baju. Setelah beberapa menit, Mas Arfan memilihkan satu stelan berwarna pastel, sangat manis. Terkesan sopan, dan anggun. Aku mulai membuka satu persatu bajuku. Kulihat wajah Mas Arfan yang memerah, tampak menahan nafas. Kubuka semuanya di depan dia kecuali celana dalam dan bra, tanpa rasa malu. Menampilkan tubuhku yang seksi dan padat, aku juga sempat mengelus dua gundukan kenyal milikku di sana seakan tengah menggoda. "Shit! Aku malam ini nggak akan pulang, Nay. Pleaselah!" Aku terkikik. Lucu sekali suamiku itu. "Kamu bisa minta Mbak Aura, Mas. Istrimu ada dua, sudah jangan buat dia kecewa." "Tapi, kalian beda." "Bedanya apa, Mas? Kita sama-sama perempuan, yang ada dalam diriku juga ada dalam diri Mbak Aura." "Nggak, Nay! Tubuhmu, tubuhmu ... Seakan menjadi candu yang nggak bisa aku lupain!"Pernikahan Terkutuk (9)**"Mbak Aura?" Netraku membulat. Dia datang lagi, tapi, untuk apa?"Hei, madu." Bicara begitu, ia merangsek maju sembari bergelayut manja pada suami kita.Ritual mencium punggung tangan Mas Arfan, tak lagi kulakukan malam ini. Dia sudah ada pawangnya, yang aku tidak suka kenapa mereka jadi lebih sering mampir ke Apartment ini? Maksudnya apa?"Seksi sekali bajumu," ucapnya, menatapku tajam. "Tentu, ini kan baju-baju yang Mbak belikan. Apa Mbak Aura lupa? Aku tidak mungkin membiarkannya teronggok membisu di dalam lemari, toh ini di dalam Apartement bebas saja. Yang datang juga hanya suami kita, dan Mbak Aura."Aku menekan kata suami kita. Mimik wajahnya langsung tak suka, tapi, faktanya memang begitu kan?"Stop, memanggil suamiku dengan sebutan suami kita, Naya! Aku, Aura. Satu-satunya istri sah dari Mas Arfan, kamu hanya ngontrak jadi sadar posisi jangan buatku marah."Tanganku mengepal kuat. Lalu, apa aku tak bisa marah? Dengan dia datang terus ke mari? Seaka
Pernikahan Terkutuk (8)**"Kamu yakin, akan pergi setelah melahirkan dan memberikan darah dagingmu?" Aku mengangguk lemah. Itu sudah jadi kesepakatanku dengan mereka, aku tak bisa mundur lagi!"Memangnya ada, seorang Ibu rela melepas buah hatinya sendiri untuk wanita lain? Aku nggak begitu yakin kamu bisa."Aku membuang muka. Dokter satu ini dari awal memang sudah tidak suka padaku, jadi apapun yang keluar dari mulutnya buatku kesal saja!"Kepaksa, Dok. Memangnya aku bisa apa? Melawan mereka? Dengan aku yang tidak punya apa-apa." Hidupku saja dari mereka, dan aku bermimpi untuk menyalahi kesepakatan? Apa aku sudah gila?!Suamiku sudah pergi beberapa jam yang lalu. Dokter Rama datang berkunjung seenaknya, tanpa memberi kabar. Untuk apa lagi dia ke sini? Kalau bukan untuk menyudutkanku!"Matre juga ya kamu, ngelakuin kayak gini cuma demi uang!" Ia menatapku dengan tajam. Aku menghela nafas panjang. "Lalu, kalau aku matre kenapa? Toh aku dan mereka sama-sama menguntungkan. Di sini buk
Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru







