LOGINPernikahan Terkutuk (6)
** Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak! Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya. Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan! Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut ini harus segera terisi bayi, kontrak terkutuk ini harus segera usai! Aku harus bersih-bersih dulu, sebelum mandi. Mungkin aku akan pergi keluar, mengusir penat. Aku tak banyak teman, karena siapa yang mau berteman kan anak panti sepertiku ini? Sebelum aku meraih ponsel. Dadaku bertambah sesak, demi melihat status dari aplikasi hijau tersebut. Aah Mbak Aura dan Mas Arfan, tampak begitu cocok dari segi manapun. Mereka tengah berdansa, keduanya tampak saling mencintai. Sedang aku di sini? Aku hanya alat! Tak apa! Aku harus tetap hidup. Duitku sekarang banyak, aku bisa melakukan apa saja. Sesuai yang Mas Arfan bilang, soal cinta itu bukan yang utama. Mungkin nanti, pada wujud yang lain bukan Mas Arfan! Aku memutuskan untuk bersih-bersih Apartemen, sembari menyalakan musik. Seolah ada yang menemani, persetan dengan kemesraan Mas Arfan dan istrinya! Tapi, tubuhku. Seakan rindu sentuhannya, bisikannya, hal manja yang entah apa dia juga seperti itu pada Mbak Aura? Aku menggeleng cepat. Dia suami orang! Meski kami resmi menikah siri, tapi, tetap saja ini hanya bersifat sementara! Satu jam berlalu. Karena tidak begitu banyak yang perlu kubereskan, aku sudah selesai. Aku duduk menonton film, tak jadi ke mana-mana. Rambut kubiarkan tergerai, hanya memakai celana pendek dengan atasan yang menampilkan dadaku di sana. Kupikir ini hanya di rumah. Kalaupun Mas Arfan pulang tak apa, dia jelas suamiku. Tapi, kalau ada tamu lain aku harus menggantinya. Kuputuskan untuk menonton film romance, karena aku menyukainya. Ditemani dengan beberapa cemilan dan minuman, aku seolah tenggelam bersama ceritanya. Entah sudah berapa lama, saat bel Apartemen berbunyi nyaring. Siapa? Ponselku berdering. Mas Arfan? "Buka!" Bukannya dia punya akses sendiri untuk masuk? Aku membukanya dengan wajah dibuat sedatar mungkin. Aku senang dia pulang, tapi, aku tak ingin dia tahu itu! "Mas, masih pagi kok, sudah pulang? Apa ada yang mau diambil?" tanyaku, meraih punggung tangannya untuk kukecup. "Nggak. Aku hari ini mau di sini saja, aku lelah." Aku mengangguk. Menutup pintu, dan membantu suamiku membuka jas serta sepatunya seperti biasa. "Minum dulu, Mas. Kamu pasti lelah." Kubawakan segelas air putih dingin, lalu, duduk di sampingnya. "Makasih." "Hm." "Kamu sengaja ingin menggodaku?" tanyanya, menatap bajuku dengan intens. "Aku bahkan nggak tahu, Mas akan pulang. Kupikir ini hanya di dalam, jadi, aku memakai baju yang membuatku nyaman." Mas Arfan menatapku dengan lekat. Wajahnya tampak lelah, lalu, ia mendekat hingga tak ada jarak di antara kami. Ia mengelus bibirku. Pipiku, hidungku, hingga membuat netraku terpejam. Sentuhan seperti ini yang aku rindukan darinya, tapi, aku tak ingin terlalu memperlihatkan ini padanya. Cup. Mas Arfan mengecup bibirku sekilas. Cukup membuat tubuhku menegang, dan aku selalu menginginkan lebih. Tapi, sebagai wanita aku tak ingin dia tahu itu. Aku ingin dia yang memulai. Bukan aku! "Maaf, aku baru bisa menemuimu. Kemarin aku sibuk banyak acara," ucapnya, namun, jarak kami tetap dekat. "Nggak papa, Mas. Aku ngerti." Aku balik mengelus wajah tampannya, betapa beruntungnya Mbak Aura mendapatkan suami sepertimu, Mas. "Kamu pasti lelah, Mas. Mau tiduran? Aku tahu, kamu dan Mbak Aura banyak menghabiskan waktu bersama." "Sok tahu kamu!" Mas Arfan beringsut mundur. Aku seakan tak rela, kenapa pula aku bicara begitu. Membuat moodnya makin tak baik! Bodohnya aku! Aku pikir, mereka memang lelah menghabiskan waktunya bersama. Di dalam kamar, balik kamar lagi, bisa jadi mereka makin gencar supaya Mbak Auralah yang cepat mengandung. "Kenapa, Mas? Cerita sama aku." Kali ini aku yang mendekatinya. Kugenggam tangannya lembut, bahkan dengan beraninya aku meraih kepalanya untuk bersandar pada dadaku. Kuelus wajahnya yang terdapat bulu halus. Bibirnya, yang seakan menjadi canduku juga semenjak menikah dengannya. "Aura berubah. Dia tak mau lagi melayaniku yang 'itu' semenjak aku dan kamu menikah, apa menurutmu dia cemburu? Marah? Tapi, kenapa dia meminta kita untuk menikah?!" Aah begitu. Apa karena lelaki yang sudah tidur dengan Mbak Aura tempo lalu? "Apa kamu tahu sesuatu?" tanyanya, yang membuatku terhenyak. Tidak mungkin aku mengatakan padanya, tentang apa yang kudengar. Bisa tamat riwayatku! Kalau pun aku tahu, aku tak berhak! "Aku nggak tahu, Mas. Kupikir kalian makin erat, karena Mbak Aura juga sering menampilkan kamu di medsosnya." Mas Arfan menenggelamkan diri di bawah leherku. Sesekali ia mengecup di area sana, membuatku geli dan tak tahan lagi. Tapi, aku nggak ingin memaksa. Tubuhku menegang. Kuharap Mas Arfan, tak merasakan itu. Aku juga ingin menjadi pendengar yang baik, kalau dia inginnya hanya begini aku tak apa. "Hm. Aku ingin mengulumnya." Mas Arfan menatapku dengan memohon. Tak perlu banyak kata, aku mengangguk senang. Tentu, itu yang aku tunggu sejak dua hari kamu tak pulang, Mas. "Aaaaaah." Desahanku lolos. Mas Arfan selalu bisa menguasai tubuhku, aku berasa dibuat melayang. "Kemarin waktu ke panti, kamu pakai baju begini, hm?" tanyanya, menatapku dalam. Ia terus mengelus dadaku dengan lembut, kami bermain di atas sofa dengan film yang terus berputar. "Nggak, Mas. Aku pakai baju tertutup, yang kamu pilihkan itu. Lagian, aku juga malu begini." "Lalu, kenapa sekarang memakainya?" "Mbak Aura banyak membelikan aku baju begini, Mas. Katanya biar kamu mau terus, dan aku cepat hamil." "Begitu. Aku lelah, Nay. Sepertinya tenagaku tak cukup melakukan lebih dari ini," katanya, dengan suara lemah. "Aku nggak apa, Mas. Lakukanlah, jangan memaksa dirimu." "Makasih, Nay. Aku ingin tidur sebentar." Mas Arfan memejamkan mata di atas pangkuanku, kuelus rambut kepalanya dengan lembut. Kamu pulang saja, aku sudah lebih dari senang, Mas.Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru
Tiga**"Ra ...." "Aura ...."Tubuh Mas Arfan menggigil, sebelumnya aku sudah memanggil Dokter keluarga. Aku juga tak berhenti untuk mengompres keningnya, hanya saja yang membuatku semakin sesak dia terus memanggil nama Mbak Aura.Ada perasaan aneh yang menyelusup. Namun, kuabaikan karena tak ingin egois. Sudah berulang kali aku melakukan panggilan pada Mbakku itu, berdering tapi, tak juga diangkat.Aku terus mondar-mandir, sesekali duduk di sisi ranjang memegang erat tangan Mas Arfan. Selain menyebut nama istri sahnya itu, berulang kali ia mengucap kata rindu. Bukannya hari ini mereka sudah bertemu, dan sempat melakukannya juga. Tapi, kenapa seolah ada hasrat yang belum tersampaikan?Entah pada panggilan ke berapa kali, panggilanku tersambung. Dan disambut oleh teriakan Mbak Aura, meski terdengar sedikit aneh. Sebab ...."Aaaah ... Iya di situ, Sayang. Aaaaah, jangan berhenti!"Netraku seakan ingin keluar dari tempatnya. Apa-apaan ini? Mbak Aura lagi ngapain?!"Denger ya, gundik! H
Dua**Aku menatap layar ponsel dengan kecewa. Tadi, sebelum pergi ngantor dia bilang akan segera menghubungi begitu sampai. Tapi, mana? Jangankan menghubungi, ponselnya saja mati! Aku menghela nafas panjang, semua perlakuan manisnya semalam tentu saja hanya karena dia menginginkan adanya anak. Bukan karena tertarik padaku!Tak terasa air mata menetes. Aku rindu, seolah tak bisa jauh darinya. Sentuhan semalam, seakan meninggalkan jejak yang begitu mendalam.Aku teringat, tadi pagi Mbak Aura menelpon. Pasti wanita itu sekarang sedang mendominasi Mas Arfan, bisa saja mereka tengah bercinta.Sial!Itu jelas hak mereka!Mereka suami istri yang sah, berbeda dengan aku. Aku disembunyikan, tak punya status yang jelas. Aku tersenyum getir, lalu tertawa akan kebodohan hidup yang terasa tak ada habisnya ini!Kupandangi ranjang yang tampak jauh lebih rapi, di atas kasur ini semalam. Semua seakan banyak perubahan, aku merasakan ada yang lain. Tapi, apa?Notif pada ponsel membuatku tersadar. Tak







