공유

Hei, Madu!

작가: Fitriyani
last update 게시일: 2026-04-04 10:52:27

Pernikahan Terkutuk (9)

**

"Mbak Aura?" Netraku membulat. Dia datang lagi, tapi, untuk apa?

"Hei, madu." Bicara begitu, ia merangsek maju sembari bergelayut manja pada suami kita.

Ritual mencium punggung tangan Mas Arfan, tak lagi kulakukan malam ini. Dia sudah ada pawangnya, yang aku tidak suka kenapa mereka jadi lebih sering mampir ke Apartment ini? Maksudnya apa?

"Seksi sekali bajumu," ucapnya, menatapku tajam.

"Tentu, ini kan baju-baju yang Mbak belikan. Apa Mbak Aura lupa? Aku tidak mungk
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pernikahan Terkutuk   Hei, Madu!

    Pernikahan Terkutuk (9)**"Mbak Aura?" Netraku membulat. Dia datang lagi, tapi, untuk apa?"Hei, madu." Bicara begitu, ia merangsek maju sembari bergelayut manja pada suami kita.Ritual mencium punggung tangan Mas Arfan, tak lagi kulakukan malam ini. Dia sudah ada pawangnya, yang aku tidak suka kenapa mereka jadi lebih sering mampir ke Apartment ini? Maksudnya apa?"Seksi sekali bajumu," ucapnya, menatapku tajam. "Tentu, ini kan baju-baju yang Mbak belikan. Apa Mbak Aura lupa? Aku tidak mungkin membiarkannya teronggok membisu di dalam lemari, toh ini di dalam Apartement bebas saja. Yang datang juga hanya suami kita, dan Mbak Aura."Aku menekan kata suami kita. Mimik wajahnya langsung tak suka, tapi, faktanya memang begitu kan?"Stop, memanggil suamiku dengan sebutan suami kita, Naya! Aku, Aura. Satu-satunya istri sah dari Mas Arfan, kamu hanya ngontrak jadi sadar posisi jangan buatku marah."Tanganku mengepal kuat. Lalu, apa aku tak bisa marah? Dengan dia datang terus ke mari? Seaka

  • Pernikahan Terkutuk   Dokter jutek!

    Pernikahan Terkutuk (8)**"Kamu yakin, akan pergi setelah melahirkan dan memberikan darah dagingmu?" Aku mengangguk lemah. Itu sudah jadi kesepakatanku dengan mereka, aku tak bisa mundur lagi!"Memangnya ada, seorang Ibu rela melepas buah hatinya sendiri untuk wanita lain? Aku nggak begitu yakin kamu bisa."Aku membuang muka. Dokter satu ini dari awal memang sudah tidak suka padaku, jadi apapun yang keluar dari mulutnya buatku kesal saja!"Kepaksa, Dok. Memangnya aku bisa apa? Melawan mereka? Dengan aku yang tidak punya apa-apa." Hidupku saja dari mereka, dan aku bermimpi untuk menyalahi kesepakatan? Apa aku sudah gila?!Suamiku sudah pergi beberapa jam yang lalu. Dokter Rama datang berkunjung seenaknya, tanpa memberi kabar. Untuk apa lagi dia ke sini? Kalau bukan untuk menyudutkanku!"Matre juga ya kamu, ngelakuin kayak gini cuma demi uang!" Ia menatapku dengan tajam. Aku menghela nafas panjang. "Lalu, kalau aku matre kenapa? Toh aku dan mereka sama-sama menguntungkan. Di sini buk

  • Pernikahan Terkutuk   Kedatangan Madu!

    Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb

  • Pernikahan Terkutuk   Dia Pulang!

    Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i

  • Pernikahan Terkutuk   Suasana di Panti

    Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b

  • Pernikahan Terkutuk   VIdeo Call Yang Menjadi Candu

    Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status