เข้าสู่ระบบTiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,
"Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal
"Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira
Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat
"Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid
Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan







