مشاركة

Bab 6

مؤلف: Antonia
Avena melewati malam tanpa tidur.

Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu mulai memancarkan cahaya putih fajar. Dia terus membuka matanya, menatap retakan di langit-langit yang tampak seperti bekas luka buruk.

Pukul enam pagi, pintu didorong terbuka dengan kasar.

Cassian berdiri di ambang pintu dengan wajah muram. Matanya dipenuhi gurat merah, jelas menunjukkan bahwa dia juga tidak tidur semalaman. Namun, berbeda dengan ketenangan Avena yang mati rasa, seluruh tubuhnya memancarkan amarah yang mengerikan.

"Selina menghilang." Suaranya begitu rendah hingga terdengar menakutkan. "Avena, di mana kamu sembunyikan dia?"

Avena perlahan bangkit dari tempat tidur dan menatapnya.

"Aku sudah bertanya ke rumah sakit. Setelah pukul delapan malam kemarin, nggak ada seorang pun yang melihatnya lagi. Nggak mungkin dia pergi sendiri."

Cassian melangkah masuk ke dalam kamar, semakin lama semakin mendekat.

"Aku tahu kamu benci dia, tapi menculik orang itu tindakan melanggar hukum! Serahkan dia padaku. Aku bisa menganggap semua ini nggak pernah terjadi."

Avena menyingkap selimut dan turun dari ranjang, lalu berjalan ke dekat jendela membelakanginya.

"Avena!" Cassian mencengkeram bahunya dan memaksanya berbalik menghadapnya. "Lihat aku! Katakan, di mana dia!"

Tatapan Avena jatuh pada tangan yang mencengkeram bahunya. Setelah itu, dia perlahan mengangkat kepala dan menatap lurus ke mata Cassian. Mata itu terlalu tenang, setenang permukaan laut sebelum badai datang.

"Jadi kamu nggak mau bicara?" Kesabaran Cassian akhirnya habis. "Baik. Aku punya banyak cara untuk membuatmu membuka mulut."

Dia melepaskan Avena, lalu berbalik meninggalkan kamar.

Beberapa menit kemudian, dia kembali sambil membawa sebatang rotan panjang dan ramping. Avena mengenali rotan itu. Itu adalah alat hukuman Keluarga Mahendra, yang sudah bertahun-tahun tidak pernah digunakan.

Saat ayah Cassian masih hidup, rotan itu pernah dipakai untuk menghukum anak-anak yang melakukan kesalahan. Sejak Cassian mengambil alih bisnis keluarga, rotan itu disimpan dan tidak pernah dipakai lagi.

Tak disangka, hari ini rotan itu akan digunakan padanya. "Aturan keluarga Mahendra, siapa pun yang berbuat salah harus menerima hukuman." Suara Cassian dingin dan keras.

"Kamu menculik Selina. Itu kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. Sepuluh cambukan. Setelah itu, katakan padaku di mana dia."

Avena tetap berdiri tanpa bergerak.

Saat cambukan pertama mendarat di punggungnya, tubuhnya hanya sedikit bergoyang. Suara rotan yang merobek kain terdengar begitu jelas. Rasa perih yang membakar seketika menjalar ke seluruh punggungnya.

Cassian mengayunkan rotan dengan sangat keras. Setiap cambukan dipenuhi amarah dan kegelisahan yang telah lama dipendam. Sambil mencambuk, dia terus menginterogasi, "Di mana dia? Jawab!"

Avena menggertakkan giginya rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Lima kali, enam kali, tujuh kali ....

Punggungnya telah robek dan berdarah. Noda darah merembes keluar membasahi piama putih yang dikenakannya.

Butiran keringat dingin memenuhi dahinya. Wajahnya sepucat kertas. Namun, dari awal hingga akhir dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, juga tidak sampai terjatuh.

Hampir setengah jam berlalu, tetapi Cassian tetap tidak berhasil memaksanya mengucapkan satu kata pun. Kesabarannya akhirnya benar-benar habis. Dia membanting rotan itu ke lantai dengan keras. "Tunggu di rumah! Setelah aku menemukan Selina, baru aku beresin urusan denganmu!"

Pintu utama vila tertutup dengan suara keras. Seluruh rumah kembali tenggelam dalam kesunyian yang mematikan. Avena menatap punggungnya yang menjauh, lalu tersenyum tipis. Barulah dia perlahan menopang tubuhnya pada dinding dan berdiri.

Bekas cambukan di tubuhnya masih mengucurkan darah. Luka di telapak tangannya terasa begitu nyeri hingga ujung jarinya gemetar. Namun, seolah tidak merasakan apa pun, dia mengganti pakaiannya dengan mantel berwarna krem muda yang bersih.

Dia mengambil foto Nina yang berada di atas nakas, lalu menyelipkannya dengan hati-hati ke dalam pelukannya. Selangkah demi selangkah, dia berjalan keluar dari vila.

Cahaya fajar di ufuk timur tampak membara. Angin yang membawa hawa dingin akhir musim gugur menyapu lembut pipinya.

Hari itu tepat hari ketujuh. Hari peringatan tiga tahun kepergian Nina. Juga hari yang telah dia tentukan sejak lama untuk pergi. Tak meleset sedikit pun dari rencananya.

Pemakaman begitu sunyi. Nisan yang sebelumnya disiram cat merah kini telah dibersihkan hingga kembali seperti semula. Sesuai prosedur yang telah dia sepakati dengan pihak pengelola sebelumnya, dia berhasil mengambil guci abu Nina.

Ukurannya kecil.

Entah mengapa, rasanya begitu hangat saat dipeluk di dada. Sama seperti kehangatan saat tiga tahun lalu dia memeluk Nina kecil di dalam pelukannya.

Avena menempelkan pipinya pada guci abu yang dingin itu, lalu perlahan melengkungkan bibirnya dalam senyum tanpa suara.

'Nina, kita pergi. Mama bawa kamu untuk menghukum orang-orang jahat yang telah membunuhmu. Kita nggak akan pernah kembali lagi.'

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status