Share

Bab 3

Author: Rain
Tiga tahun lalu, saat aku meminta cerai untuk kedua kalinya, Jerico langsung pulang ke rumah orang tuanya malam itu juga.

Tidak lama setelah itu, aku hanya mendapatkan hak untuk menemui anakku seminggu sekali.

Menikah selama tujuh tahun, Jerico selalu bisa mencengkeram kelemahanku dengan tepat, membuatku tidak bisa lepas dan tidak bisa pergi.

Hari ini adalah yang ketiga kalinya.

Mungkin karena kasihan, pengacara itu akhirnya menerima permintaanku.

Saat menerima akta nikah yang kuserahkan, matanya terbelalak.

"Nona Sania, akta nikah ini ... palsu."

"Anda sama Tuan Jerico sebenarnya nggak pernah menikah."

"Apa?"

Aku mendadak berdiri, mengira diriku salah dengar.

"Akta nikah mana mungkin palsu? Coba lihat lagi baik-baik!"

Pengacara itu membetulkan letak kacamata dan memeriksanya kembali dengan teliti.

"Maaf banget, Nona Sania, akta nikah ini beneran palsu."

"Ha."

Aku tertawa, hanya saja air mata menetes tanpa bisa ditahan.

Tujuh tahun, 2555 hari, setiap hari aku bertanya pada diriku sendiri beratus-ratus kali.

Kenapa aku percaya pada Jerico?

Kenapa aku mau menikah dengannya?

Menikah dan masuk ke dalam sarang iblis Keluarga Adrian yang dingin dan tidak punya perasaan ini.

Aku butuh waktu tujuh tahun untuk menyadari kenyataan, dan butuh waktu enam tahun untuk mengumpulkan keberanian bercerai.

Tapi sekarang, pengacara itu justru memberitahuku.

Aku dan Jerico sebenarnya tidak pernah menikah sama sekali.

Pantas saja orang-orang Keluarga Adrian bilang aku ini perempuan kampungan, ternyata ....

Aku tidak ada bedanya dengan wanita-wanita di luar sana ....

Mengusap air mata, aku berterima kasih pada pengacara yang baik hati itu.

Karena tidak ada pernikahan, urusan berpisah jadi jauh lebih mudah.

Hanya saja, aku masih belum bisa merelakan Nino.

Nino adalah anakku dan Jerico, tahun ini umurnya sudah lima tahun.

Saat melahirkannya dulu, aku mengalami persalinan sulit ditambah pendarahan hebat, sampai hampir mati di atas meja operasi.

Di tengah kesadaran yang samar, aku mendengar dokter bertanya pada Jerico apakah harus menyelamatkan ibunya atau bayinya.

Jerico tidak ragu sama sekali.

"Selamatkan bayinya."

Kata-kata dingin itu menyadarkanku dari ketidaksadaran, aku terus menanamkan pada diriku sendiri.

Sania, kamu tidak boleh mati, Nino tidak boleh kehilangan ibunya.

Berkat ingatan itu, aku berhasil merangkak kembali dari ambang kematian.

Boleh dikatakan, Nino adalah alasan paling penting bagiku untuk tetap bertahan hidup di dunia ini.

Alasan paling penting.

Tapi, belum ada dua hari setelah melahirkan, ibu Jerico merebut dan membawanya pergi dengan paksa.

Dia berkata, "Sania, anak ini nggak diserahin ke kamu demi kebaikan dia sendiri."

"Jangan lupa, kamu itu cuma perempuan kampungan yang merangkak keluar dari desa terpencil."

"Anak ini kalau ikut kamu, cuma bakal diremehkan orang kayak kamu."

Biarpun terasa sangat berat, demi masa depan Nino yang lebih baik, aku tetap menahannya.

Hanya saja entah sudah berapa kali aku terbangun dari mimpi buruk, memeluk baju dan mainan yang sengaja kusiapkan untuk Nino, lalu menangis tanpa bisa menahan diri.

Jerico yang sesekali terbangun karena suaraku akan mengirimkan video Nino padaku.

Mengandalkan video-video itulah aku bertahan selama tiga tahun.

Sampai waktu itu aku memberanikan diri minta cerai, ibu Jerico baru akhirnya setuju membiarkanku menemui Nino seminggu sekali.

Hari ini adalah hari pertemuan yang sudah dijanjikan.

Sesampainya di rumah orang tua Jerico, tempat itu sangat hening.

Aku berdiri di luar pintu dan memanggil selama belasan menit, tapi tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu.

Ya, menjadi Nyonya Adrian selama tujuh tahun, sampai sekarang aku bahkan tidak punya hak untuk keluar masuk rumah orang tua Jerico secara bebas.

Pelayan yang lewat tidak tega dan memberi tahu aku, Nino sudah dibawa pergi oleh Jerico sejak pagi-pagi sekali.

Aku tersenyum pahit, paham betul di dalam hati, ini adalah hukuman dari Jerico untukku.

Selama bertahun-tahun, asal aku tidak menurut sedikit saja, dia tidak akan membiarkanku menemui Nino.

Aku pun selalu terpaksa menundukkan kepala, menukar harga diri demi hak untuk menemui anakku sekali.

Menarik napas dalam-dalam, demi Nino, aku tetap menelepon Jerico.

"Halo? Ibu!"

Suara anak kecil yang sangat kuhafal terdengar, itu Nino.

Mataku seketika berkaca-kaca, hatiku terasa begitu lembut.

Ini anakku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 10

    Raut wajah Jerico kelihatan agak mendingan.Rumah ini awalnya cuma rumah kecil yang luasnya tidak ada 40 meter persegi, ditambah lagi kupenuhi dengan buku, jadi kelihatan makin sempit.Jerico memasang wajah dingin, dengan tidak rela duduk di sofa kecil.Ini mungkin pertama kalinya dia merasa secanggung ini selama 30 tahun lebih hidupnya.Asal mengambil satu buku untuk dilihat, Jerico tertegun sejenak."Aku kira, kamu udah nggak tertarik lagi sama hal-hal kayak gini dari dulu."Aku mengambil sebotol susu dari dalam kulkas, memanaskannya lalu menyerahkannya pada Nino."Udah 'kan, ketemu juga udah. Kalau nggak ada hal lain, kamu bawa Nino pulang aja."Nino memeluk botol susunya, menatap Jerico dengan bingung.Jerico memangku Nino di atas paha, suaranya terdengar lembut. "Sania, kita beneran nggak bisa balik lagi kayak dulu?""Kayak dulu yang gimana?"Aku bersandar di sofa, raut wajahku tampak santai. "Lanjut jadi Nyonya Adrian kamu yang nggak diakui itu?""Nggak usah deh, aku udah bosan."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 9

    "Sania! Kamu belum puas juga ributin hal ini?""Kalau ada yang kamu nggak suka bilang aja langsung, aku ubah 'kan bisa!"Ini pertama kalinya Jerico tunduk, mata Ferry sampai terbelalak kaget.Tapi, hatiku sama sekali tidak tersentuh.Dengan sopan aku memintanya memberi jalan, bersiap untuk pergi.Tapi, Jerico malah menggenggam tanganku."Sania, pulang sama aku."Belum sempat aku bicara, sebuah tangan mendadak terulur dari belakangan dan melepaskan cengkeramannya dariku."Tuan, tolong jaga sikap Anda."Julian yang memegang jaket di tangannya melepas cengkeraman Jerico dengan dingin."Kamu siapa?"Mata Jerico seketika memerah penuh emosi, dia berbalik dan ingin main fisik.Aku menghela napas, berdiri menghalangi di depan Julian."Nggak usah bikin ribut."Kalimat santai itu seolah menjadi tombol jeda.Gerakan Jerico terhenti, dia menatapku tidak percaya."Sania, kamu mau bela dia? Dia siapa?"Aku mendongak menatap lurus matanya yang penuh urat merah."Penting ya? Jerico, kita udah putus."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 8

    "Setiap hari ngintil terus di belakang kalian, nanya ini itu.""Waktu itu saya langsung mikir, anak ini besok-besok pasti bakal sukses."Kata-kata selanjutnya dari dosen tidak lagi kudengar, aku menundukkan mata dan minum alkohol dengan tenang.Selesai makan-makan, aku tidak terburu-buru untuk pergi.Menunggu sampai orang-orang hampir habis, aku mengeluarkan catatanku dari dalam tas."Pak, saya mau mulai belajar lagi."Dosen sangat terkejut, dia mengambil catatanku dan membaliknya dengan serius cukup lama.Saat meletakkannya kembali, wajahnya sudah dipenuhi senyuman."Sania, saya beneran nggak salah menilai kamu.""Saya udah liat catatan kamu, visioner banget.""Nanti malam biar saya pikirkan dulu, saya bakal rekomendasikan beberapa lembaga penelitian yang bagus, kamu coba ikutan wawancara ya."Pas lagi mengobrol, Julian mendadak memotong pembicaraan, "Boleh lihat?"Ini pertama kalinya malam ini dia bicara denganku.Aku mengangguk, lalu memberikan catatan itu padanya.Julian membetulka

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 7

    Aku tertegun, teringat pada sosok pria dingin dan rasional di dalam ingatanku.Aku ini seorang anak yatim piatu, sejak kecil tumbuh besar di panti asuhan.Sejak kecil sangat pantang menyerah.Demi punya pendirian yang mandiri, aku belajar mati-matian dan berhasil masuk ke universitas terbaik di Kota Tirta.Mengambil jurusan terbaik pula.Saat semester tiga, aku juga berhasil bergabung dengan tim penelitian dosen, biarpun cuma jadi tenaga pembantu biasa.Senior yang dimaksud dosenku adalah Julian Darius, orang yang menjadi pilar utama di tim penelitian itu.Dia juga sosok yang dulu pernah aku taksir diam-diam.Sayangnya, saat aku semester lima, dia pergi ke luar negeri untuk kuliah.Perasaanku belum sempat diungkapkan, tapi sudah harus karam begitu saja.Melihat aku tidak bersuara, dosenku lanjut berbicara, "Dulu yang paling saya jagokan itu kamu sama Julian, kalian berdua murid paling gemilang yang pernah saya bimbing.""Sayang banget ya, kamu malah langsung nikah pas lulus."Sampai di

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 6

    Cuma hari itu matahari bersinar terang, langit sangat biru, angin berembus sepoi-sepoi, persis seperti perasaanku.Kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.Sejak pagi-pagi sekali aku sudah datang ke rumah orang tuanya, menunggu selama tiga jam penuh.Barulah akhirnya ada orang yang keluar membukakan pintu.Saat melihatku, raut wajah pengurus rumah tidak begitu ramah.Tapi, aku tidak peduli.Saat itu, pikiran dan mataku cuma terisi oleh anakku yang sebentar lagi akan kutemui.Sampai di ruang tamu, aku menunggu lagi entah berapa lama.Sampai lonceng jam 12 berbunyi, ibu Jerico baru muncul sambil menggendong Nino yang berumur tiga tahun.Melihat wajah kecilnya yang polos, mataku seketika berkaca-kaca.Ini adalah anak yang tetap mau kulahirkan dengan selamat biarpun harus menanggung hinaan.Anak yang langsung dibawa pergi orang lain begitu baru lahir.Saat melihatku, ibu Jerico tetap mencemooh seperti biasa, "Kalau bukan Jerico yang angkat bicara, aku nggak

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 5

    "Sania! Buka pintunya!"Suara Jerico yang emosi terdengar di luar pintu, membuatku terkejut."Sania! Kalau kamu berani, bilang putus langsung di depanku! Buka pintunya!"Aku menghela napas, tidak terburu-buru membukakan pintu.Aku justru berganti pakaian dulu dengan baju yang nyaman dan hangat.Saat kubuka pintu, Jerico tidak memakai jaket.Bulan Maret di Kota Tirta masih terasa dingin yang menggigit, tapi Jerico seolah tidak merasakannya sama sekali."Masuklah."Aku sedikit memberi jalan, lalu duduk dengan tenang di sofa.Menikah bertahun-tahun, aku sudah terbiasa dibentuk oleh Jerico menjadi pribadi yang tidak gampang terpengaruh lagi.Jerico tidak duduk. Di bawah sorotan lampu, badannya yang tinggi tegap bagaikan bayangan hitam yang mengurungku erat-erat."Sania, siapa yang kasih kamu keberanian buat cerai dari aku?"Jerico menatapku tajam penuh emosi.Justru aku yang menatapnya aneh, merasa agak kehabisan kata-kata."Ini 'kan bukan pertama kalinya aku minta cerai sama kamu, kamu ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status