Share

Bab 2

Author: Rain
"Oke, Sania. Kamu hebat."

Malas bicara lagi, aku langsung menutup telepon.

Pelayan sudah membantuku merapikan barang-barang.

"Nyonya, Anda yakin semua ini nggak mau dibawa?" Di dalam ruang pakaian, pelayan melihat ke arah dinding yang penuh dengan barang-barang mewah lalu bertanya padaku.

Semua itu sengaja dibeli oleh Jerico, agar aku bisa menemaninya menghadiri jamuan makan.

Dia pernah berkata, "Sania, aku nggak peduli gimana kamu yang dulu."

"Karena udah menikah dan masuk ke Keluarga Adrian, kamu harus tutup rapat-rapat aura kemiskinan sama kemalangan di tubuhmu itu, jangan bikin aku malu."

Aku menggelengkan kepala, nada bicaraku terasa ringan.

"Semua barang mewah sama gaun ini aku nggak mau, kamu cuma perlu bantuin aku rapikan sisa barang yang lain aja."

Wajah pelayan itu tampak agak serba salah.

"Nyonya ... selain barang-barang ini, sepertinya udah nggak ada lagi yang perlu dirapikan ...."

Aku tertegun sejenak, lalu tidak bisa menahan tawa.

Ya, menikah dengan Jerico selama tujuh tahun, barang yang benar-benar kumiliki selalu sangat sedikit.

Di dalam vila yang begitu luas, ruang yang menjadi milikku tidak lebih dari separuh tempat tidur di kamar utama.

Malam itu, Jerico tidak pulang ke rumah, aku tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya, aku membawa barang bawaan yang sudah dirapikan dan bersiap untuk pergi.

Selain sebuah bola kristal, tidak ada lagi yang kutinggalkan.

Ini adalah satu-satunya hadiah dari masa pacaran hingga kami menikah.

Waktu itu aku baru saja datang ke Kota Tirta untuk berkuliah, lalu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Jerico.

Jerico saat itu begitu jujur dan hangat, setiap hari dia menunggu di jalan tempatku pulang ke kampus, hanya demi bisa mengobrol dua patah kata denganku.

Bola kristal ini juga dia berikan padaku waktu itu.

Dia bilang, ini pertama kalinya dia tidak minta uang dari keluarganya, dia sendiri yang bekerja paruh waktu selama tiga hari untuk membeli hadiah ini.

Dia bilang, kepingan salju di dalam bola kristal tidak akan pernah meleleh, cintanya padaku juga tidak akan pernah hilang.

Aku tidak menginginkan cintanya lagi.

Meninggalkan rumah Keluarga Adrian, aku mencari hotel untuk menginap.

Belum ada sehari, Jerico sudah meneleponku.

"Sania, kamu kabur ke mana?"

"Cepat balik ke sini, beresin barang-barang sampah kamu!"

Aku menjawab dengan tenang, "Udah nggak mau barang-barang itu, kamu buang aja langsung."

Jerico tertegun, lalu bertanya berulang kali padaku, "Sania, kamu serius?"

"Iya."

Nada bicaraku sangat ringan, aku benar-benar tidak peduli lagi.

"Buang aja, toh memang bukan barang penting juga."

Jerico justru seperti orang yang tersenggol harga dirinya.

"Nggak penting? Kamu tahu nggak kalau ini dulu aku ...."

Aku terkekeh sinis, memotong perkataannya, "Kamu dulu kerja paruh waktu tiga hari buat beli ini? Harga eceran bola kristal tipe ini cuma 130 ribuan."

"Tuan Jerico, kerja paruh waktu kayak gimana yang tiga hari cuma bisa dapet uang secuil gitu?"

Hal ini pernah kudengar dari mulut Jerico sendiri saat dia mabuk setelah kami menikah.

Dia berkata, "Cuma pakai bola kristal yang asal kupilih di pinggir jalan aja, aku udah bisa bohongi kamu."

"Sania, kamu ini beneran gampang dibohongin dan murah banget."

Saat itulah aku baru menyadari, ternyata Jerico bukannya berubah, melainkan sudah malas berakting.

Setelah menutup telepon, aku pergi ke kantor pengacara sesuai janji waktuku.

Pengacara yang menyambutku bertanya tentang situasiku, raut wajahnya tampak sangat serba salah.

"Nona Sania, Anda sendiri harusnya paham, dengan posisi Keluarga Adrian, hampir nggak mungkin bisa cerai secara damai."

Aku tentu tahu hal itu, karena itulah aku rela melepaskan hak-hak yang seharusnya kumiliki.

"Gimana kalau aku nggak minta harta apa pun? Aku bisa pergi tanpa bawa apa-apa."

Ekspresi pengacara itu menjadi jauh lebih baik, tapi masih sangat ragu-ragu.

"Apa Tuan Jerico juga mau cerai?"

Aku menggelengkan kepala, wajahku tampak pucat.

Ini bukan pertama kalinya aku ingin meninggalkan Jerico.

Lima tahun lalu, saat aku pertama kali minta cerai, Jerico tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengurungku di vila selama satu bulan penuh.

Satu bulan kemudian, aku mendapati diriku hamil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 10

    Raut wajah Jerico kelihatan agak mendingan.Rumah ini awalnya cuma rumah kecil yang luasnya tidak ada 40 meter persegi, ditambah lagi kupenuhi dengan buku, jadi kelihatan makin sempit.Jerico memasang wajah dingin, dengan tidak rela duduk di sofa kecil.Ini mungkin pertama kalinya dia merasa secanggung ini selama 30 tahun lebih hidupnya.Asal mengambil satu buku untuk dilihat, Jerico tertegun sejenak."Aku kira, kamu udah nggak tertarik lagi sama hal-hal kayak gini dari dulu."Aku mengambil sebotol susu dari dalam kulkas, memanaskannya lalu menyerahkannya pada Nino."Udah 'kan, ketemu juga udah. Kalau nggak ada hal lain, kamu bawa Nino pulang aja."Nino memeluk botol susunya, menatap Jerico dengan bingung.Jerico memangku Nino di atas paha, suaranya terdengar lembut. "Sania, kita beneran nggak bisa balik lagi kayak dulu?""Kayak dulu yang gimana?"Aku bersandar di sofa, raut wajahku tampak santai. "Lanjut jadi Nyonya Adrian kamu yang nggak diakui itu?""Nggak usah deh, aku udah bosan."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 9

    "Sania! Kamu belum puas juga ributin hal ini?""Kalau ada yang kamu nggak suka bilang aja langsung, aku ubah 'kan bisa!"Ini pertama kalinya Jerico tunduk, mata Ferry sampai terbelalak kaget.Tapi, hatiku sama sekali tidak tersentuh.Dengan sopan aku memintanya memberi jalan, bersiap untuk pergi.Tapi, Jerico malah menggenggam tanganku."Sania, pulang sama aku."Belum sempat aku bicara, sebuah tangan mendadak terulur dari belakangan dan melepaskan cengkeramannya dariku."Tuan, tolong jaga sikap Anda."Julian yang memegang jaket di tangannya melepas cengkeraman Jerico dengan dingin."Kamu siapa?"Mata Jerico seketika memerah penuh emosi, dia berbalik dan ingin main fisik.Aku menghela napas, berdiri menghalangi di depan Julian."Nggak usah bikin ribut."Kalimat santai itu seolah menjadi tombol jeda.Gerakan Jerico terhenti, dia menatapku tidak percaya."Sania, kamu mau bela dia? Dia siapa?"Aku mendongak menatap lurus matanya yang penuh urat merah."Penting ya? Jerico, kita udah putus."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 8

    "Setiap hari ngintil terus di belakang kalian, nanya ini itu.""Waktu itu saya langsung mikir, anak ini besok-besok pasti bakal sukses."Kata-kata selanjutnya dari dosen tidak lagi kudengar, aku menundukkan mata dan minum alkohol dengan tenang.Selesai makan-makan, aku tidak terburu-buru untuk pergi.Menunggu sampai orang-orang hampir habis, aku mengeluarkan catatanku dari dalam tas."Pak, saya mau mulai belajar lagi."Dosen sangat terkejut, dia mengambil catatanku dan membaliknya dengan serius cukup lama.Saat meletakkannya kembali, wajahnya sudah dipenuhi senyuman."Sania, saya beneran nggak salah menilai kamu.""Saya udah liat catatan kamu, visioner banget.""Nanti malam biar saya pikirkan dulu, saya bakal rekomendasikan beberapa lembaga penelitian yang bagus, kamu coba ikutan wawancara ya."Pas lagi mengobrol, Julian mendadak memotong pembicaraan, "Boleh lihat?"Ini pertama kalinya malam ini dia bicara denganku.Aku mengangguk, lalu memberikan catatan itu padanya.Julian membetulka

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 7

    Aku tertegun, teringat pada sosok pria dingin dan rasional di dalam ingatanku.Aku ini seorang anak yatim piatu, sejak kecil tumbuh besar di panti asuhan.Sejak kecil sangat pantang menyerah.Demi punya pendirian yang mandiri, aku belajar mati-matian dan berhasil masuk ke universitas terbaik di Kota Tirta.Mengambil jurusan terbaik pula.Saat semester tiga, aku juga berhasil bergabung dengan tim penelitian dosen, biarpun cuma jadi tenaga pembantu biasa.Senior yang dimaksud dosenku adalah Julian Darius, orang yang menjadi pilar utama di tim penelitian itu.Dia juga sosok yang dulu pernah aku taksir diam-diam.Sayangnya, saat aku semester lima, dia pergi ke luar negeri untuk kuliah.Perasaanku belum sempat diungkapkan, tapi sudah harus karam begitu saja.Melihat aku tidak bersuara, dosenku lanjut berbicara, "Dulu yang paling saya jagokan itu kamu sama Julian, kalian berdua murid paling gemilang yang pernah saya bimbing.""Sayang banget ya, kamu malah langsung nikah pas lulus."Sampai di

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 6

    Cuma hari itu matahari bersinar terang, langit sangat biru, angin berembus sepoi-sepoi, persis seperti perasaanku.Kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.Sejak pagi-pagi sekali aku sudah datang ke rumah orang tuanya, menunggu selama tiga jam penuh.Barulah akhirnya ada orang yang keluar membukakan pintu.Saat melihatku, raut wajah pengurus rumah tidak begitu ramah.Tapi, aku tidak peduli.Saat itu, pikiran dan mataku cuma terisi oleh anakku yang sebentar lagi akan kutemui.Sampai di ruang tamu, aku menunggu lagi entah berapa lama.Sampai lonceng jam 12 berbunyi, ibu Jerico baru muncul sambil menggendong Nino yang berumur tiga tahun.Melihat wajah kecilnya yang polos, mataku seketika berkaca-kaca.Ini adalah anak yang tetap mau kulahirkan dengan selamat biarpun harus menanggung hinaan.Anak yang langsung dibawa pergi orang lain begitu baru lahir.Saat melihatku, ibu Jerico tetap mencemooh seperti biasa, "Kalau bukan Jerico yang angkat bicara, aku nggak

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 5

    "Sania! Buka pintunya!"Suara Jerico yang emosi terdengar di luar pintu, membuatku terkejut."Sania! Kalau kamu berani, bilang putus langsung di depanku! Buka pintunya!"Aku menghela napas, tidak terburu-buru membukakan pintu.Aku justru berganti pakaian dulu dengan baju yang nyaman dan hangat.Saat kubuka pintu, Jerico tidak memakai jaket.Bulan Maret di Kota Tirta masih terasa dingin yang menggigit, tapi Jerico seolah tidak merasakannya sama sekali."Masuklah."Aku sedikit memberi jalan, lalu duduk dengan tenang di sofa.Menikah bertahun-tahun, aku sudah terbiasa dibentuk oleh Jerico menjadi pribadi yang tidak gampang terpengaruh lagi.Jerico tidak duduk. Di bawah sorotan lampu, badannya yang tinggi tegap bagaikan bayangan hitam yang mengurungku erat-erat."Sania, siapa yang kasih kamu keberanian buat cerai dari aku?"Jerico menatapku tajam penuh emosi.Justru aku yang menatapnya aneh, merasa agak kehabisan kata-kata."Ini 'kan bukan pertama kalinya aku minta cerai sama kamu, kamu ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status