LOGINToko kueku mulai berkembang, aku mulai buka cabang kedua.Putraku datang menemuiku setiap akhir pekan.Dia banyak berubah, bukan lagi anak manja yang suka bertindak seenaknya.Dia membantuku menyajikan kue, membersihkan meja, bahkan merekomendasikan kue yang enak kepada pelanggan."Bu, kue stroberi bikinan Ibu paling enak sedunia."Melihat senyuman lebarnya, aku langsung tertawa.Anakku memang seharusnya seperti ini.Aswin masih datang.Namun, kali ini dia tidak menggangguku seperti dulu, sekarang dia hanya menatapku dari jauh.Kadang di kafe yang ada di seberang, kadang di bangku panjang yang ada di sudut jalan.Tidak pernah mendekat, hanya diam mengawasi.Suatu ketika, Ivan tiba-tiba berkata, "Bu, sebenarnya Ayah sangat merindukan Ibu."Aku tidak menjawab."Ayah buang semua barang milik Bibi Rosa, bahkan sudah merenovasi rumah.""Katanya, ingin menghapus kenangan buruk."Aku meletakkan adonan, kemudian menatap Ivan."Ivan, nggak semua masalah bisa diperbaiki semudah itu."Ivan menund
Sudut Pandang Gisel.Ivan menatapnya dengan wajah ketakutan.Aswin baru menyadari, dirinya menangis.Dia berjongkok, memeluk putranya, lalu berkata dengan suara serak, "Ivan, Ayah telah melakukan kesalahan. Kesalahan Ayah sangat banyak.""Ayah merindukan ibumu."…Pada bulan ketiga, Ivan datang.Dia berdiri di depan pintu toko kue, tubuhnya tampak jauh lebih tinggi.Matanya sembap, seperti habis menangis."Ibu …."Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nada seperti itu.Aku menghentikan pekerjaanku dan menghampirinya."Ada apa?"Ivan menunduk, lalu berkata dengan nada sedih, "Bibi Rosa … Bibi Rosa sudah pergi.""Dia bawa kabur uang Ayah. Selain itu, dia … dia bilang aku ini cuma beban …."Ivan mendongak, tampak kebingungan."Bu, kenapa dia membohongiku? Bukankah katanya dia sayang aku?"Aku terdiam lama."Ivan, ada orang-orang yang baik sama kamu, itu karena dia menginginkan sesuatu dari ayahmu.""Setelah mendapatkan yang diinginkan, dia meninggalkanmu."Ivan
Saat keluar dari rumah duka, aku mendengar suaranya dari belakang."Gisel, kalau kamu beri aku satu kesempatan lagi …."Aku pergi tanpa menoleh sama sekali.Setelah bercerai, aku buka toko kue kecil.Sesuai janjinya, Aswin memberikan sebagian besar asetnya padaku.Setelah meninggalkan rumah Keluarga Gunadi, ini pertama kalinya aku merasakan ketenangan.Tidak ada lagi yang melempar cek ke wajahku.Tidak ada lagi yang memanggilku "Ibu jahat".Tidak ada yang menggunakan orang yang kucintai untuk mengancamku.Aku tidak perlu menyenangkan hati orang lain demi mendapatkan uang.Akhirnya, aku bisa benar-benar bernapas lega.Namun, Aswin belum rela melepasku.Satu bulan setelah perceraian kami, dia datang ke tokoku setiap hari.Dia memesan kue paling mahal, lalu duduk di pojokan sambil menatapku seharian.Namun, aku mengabaikannya."Gisel, kamu kurusan."Aku tidak mendongak, terus fokus membersihkan meja."Pak Aswin, toko kami sudah tutup."Dia terdiam sejenak, lalu berdiri sambil tersenyum ge
Di layar itu, terlihat rekaman saat ibuku meninggal karena tidak dilakukan operasi.Tangis dan teriakanku yang putus asa seolah masih terngiang di benakku.Kamera lalu beralih ke belakang panggung konferensi pers.Suara teriakan gembira Rosa terdengar di seluruh ruang pesta. "Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku.""Aswin memberiku kartu ini yang terhubung dengan biaya pengobatan ibumu.""Menurutmu, kalau aku menghentikan pengobatan ibumu, apa yang akan terjadi?"Situasi di ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau.Para wartawan yang sudah kusiapkan sebelumnya langsung memotret tanpa henti ke arah panggung.Bahkan ada yang langsung melakukan siaran langsung dari ponsel.Wajah Aswin langsung pucat."Matikan, matikan sekarang!"Dia berlari ke ruang kontrol, tetapi dihalangi oleh wartawan yang sudah kuatur sebelumnya.Rosa menjerit dan bersembunyi di pojokan, seolah ing
"Kenapa?""Kalian nggak lihat wajahnya sudah sepucat itu?"Perawat itu menjawab dengan ragu-ragu, "Nyonya, uang deposit di rekening pasien sudah habis, dan tadi ada yang membekukan rekeningnya. Menurut aturan, operasi nggak bisa dilakukan kalau pembayaran belum lunas."Deposit habis?"Kenapa kalian nggak meneleponku? Kenapa?"Belum sempat menanyakan lebih jauh, aku menyodorkan kartu ATM kepada perawat dengan tangan gemetar."Ini ada uang 60 miliar, cepat operasi ibuku, cepat!"Namun, perawat yang mengurus pembayaran itu segera kembali dan mengembalikan kartu ATM."Nyonya, kartu ini dbekukan, dan nggak ada saldo di dalamnya."Bagaimana mungkin?Kepalaku seolah berdengung.Sejak rujuk, semua denda yang dibayar Aswin ditransfer di rekening ini, mana mungkin tidak ada uangnya?Tiba-tiba, ponselku berbunyi.Pesan dari Aswin masuk.[Gisel, barusan aku beli perhiasan untuk Rosa, anak buahku nggak sengaja menukar kartu ATM-mu.][Maaf, nanti aku ganti dua kali lipat.]Tanganku gemetar hingga ti
Di belakang panggung konferensi pers.Penata rias sedang merias wajahku menjadi jelek.Sementara di meja rias samping, Rosa tampak dikelilingi oleh penata rias yang terkenal, membuat auranya makin bersinar.Putraku mengelilingi Rosa. "Wah, Bibi Rosa cantik sekali.Putraku lalu menoleh ke arahku, menatapku dengan jijik. "Ibu mirip nenek sihir."Aswin keluar untuk angkat telepon, senyuman manis Rosa menghilang."Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku."Dia melempar naskah pidato di depanku."Lihat ini, ini adalah naskah pengakuan dosamu yang dibuat sendiri oleh Aswin.""Mau lihat duluan?"Saat menunduk, aku melihat banyak tanda koreksi.Padahal dulu Aswin menganggap membalas pesan WhatsApp-ku itu hanya buang-buang waktu.Aku pun menunduk sambil tertawa sinis, kemudian mendongak dan menatap Rosa."Kamu nggak takut aku nekat membongkar perselingkuhan kalian di atas panggung?"







