Share

Perpisahan Dua Hati
Perpisahan Dua Hati
Author: Choji

Bab 1

Author: Choji
Putraku melotot kaget, seolah dia tidak mengenaliku.

Aku mengulurkan tangan lagi. "Bayar 200 juta, Ibu nggak perlu menagih berulang-ulang, 'kan?"

Prang!

Aswin membanting gelas minuman, melindungi putra kami di belakangnya, lalu menatapku sambil mengernyit.

"Gisel, apa serunya melakukan ini?"

Aku mendongak dan menatapnya, lalu tertawa. "Siapa bilang nggak seru? Bukan aku yang memulai masalah ini dengan mengajak putra kita bertemu dengan wanita itu."

Ekspresi Aswin menegang sesaat, kemudian kembali tenang.

Dia lalu meraih tanganku, berbicara dengan lembut, "Ini salahku, hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita, jangan marah, ya?"

Ini pertama kalinya dengar dia minta maaf.

Namun, sekarang aku muak mendengarnya.

"Aku nggak marah. Kamu yang bayar denda putra kita."

Aswin mulai jengkel.

"Bagus, bagus sekali."

"Gisel, kamu benar-benar membuatku terkejut."

Dia mengeluarkan cek dari tas, setelah menulis nominal 400 juta, cek itu dia lempar ke wajahku, lalu menggendong putra kami dan pergi.

Aku membungkuk dan mengambil cek itu, sama sekali tidak peduli mereka pergi ke mana.

Karena Rosa akan selalu memberitahuku.

Aku membuka ponsel, kebetulan pesan dari Rosa masuk.

Ayah dan anak itu hari ini menemani wanita itu pergi ke taman bermain, mereka bertiga terlihat seperti keluarga cemara.

Gimanapun, untuk hal sederhana seperti ini, Aswin dan putra kami tidak pernah melakukannya untukku.

Jangankan pergi ke taman bermain, setiap mau memotret mereka, ayah dan anak itu selalu menghindar dari kamera dengan jijik.

Tidak lama kemudian, ponselku berbunyi.

Beberapa foto skandal Aswin dan Rosa muncul di depan mataku.

Wartawan itu dengan licik mengirimkan foto-foto ini demi memeras uangku.

[Nyonya Gisel, Anda juga nggak ingin skandal suamimu jadi viral, 'kan? Baru saja rujuk, setidaknya harus menguatkan posisi, 'kan?]

Aku malas menanggapi, dan langsung memblokir nomornya.

Mereka yang berbuat salah, kenapa aku yang harus menanggung akibatnya?

Satu jam kemudian, skandal mereka berdua menjadi trending di media sosial.

Saat Aswin pulang, tatapannya padaku dipenuhi kemarahan.

"Lihat apa yang sudah kamu lakukan!"

Aku melihat layar ponselnya.

Ternyata wartawan itu juga tidak mendapatkan apa-apa darinya, lalu menyebarkan foto skandal mereka ke media sosial karena marah.

Melihat sikap Aswin, jelas pria itu mengira aku yang menyuruh wartawan itu menyebarkan foto-foto skandal mereka.

Aku pun berkata dengan santai, "Bukan aku. Wartawan itu karena nggak dapat uang, jadi dia sebarkan foto-foto kalian."

Aswin mencibir, lalu meraih daguku.

"Uang? Siapa yang lebih cinta uang daripada kamu di dunia ini?"

"Hal pertama setelah rujuk denganku, kamu minta uang dan rumah, bahkan minta uang sama anak."

"Kamu mengejek orang yang kelakuannya sama kayak kamu, nggak malu?"

Kukunya menusuk telapak tanganku, aku menarik tanganku darinya.

Meskipun semua yang dia katakan itu fakta, dadaku terasa sesak.

Padahal dia tahu, aku butuh uang banyak demi mengobati penyakit ibuku.

Namun, Aswin merasa itu hanya caraku melampiaskan amarah karena cemburu.

Aku mentertawakan diriku sendiri.

Saat tadi berusaha menarik tanganku darinya, punggung tanganku tergores rantai jamnya.

Melihat tanganku terluka hingga berdarah, ekspresi putraku berubah, lalu menghampiriku untuk melihat.

Kukira dia akan meniup lukaku seperti yang dia lakukan saat masih kecil.

Namun, dia malah menekan lukaku dengan kuat.

Karena tidak menduga sama sekali, aku kesakitan hingga meneteskan air mata.

Seperti mau pamer, putraku menghubungi Rosa melalui panggilan video.

"Bibi Rosa, lihat nggak?"

"Ibu telah membuatmu menangis, aku bantu balaskan dendam Bibi."

"Seperti yang Ayah pernah bilang pada Bibi, aku juga akan melindungi Bibi selamanya."

Aku tertegun, bahkan aku sudah tidak kuat untuk menangis lagi.

Aswin pun buru-buru menutup mulut putra kami, lalu menatapku dengan perasaan bersalah.

"Anak kecil memang ceplas-ceplos, jangan dimasukkan hati."

Aku terdiam sejenak sebelum mengerti maksud ucapannya.

Aku ingin menghapus air mata, tetapi air mata terus mengalir tanpa henti.

Sorot mata Aswin akhirnya ada sedikit kepanikan, pria itu pun memberiku sapu tangan.

"Hapus air matamu, jangan menangis …."

Aku juga mengulurkan tangan pada saat yang sama.

"Denda 400 juta, barusan kalian berdua menyebut nama wanita itu."

Gerakan Aswin terhenti.

Beberapa saat kemudian, pria itu tersadar.

Tatapannya padaku yang awalnya terkejut, sekarang berubah marah.

Brak!

Dia sontak menendang meja hingga terbalik.

"Cukup, Gisel! Kamu ini mau cari ribut terus, ya?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 8

    Toko kueku mulai berkembang, aku mulai buka cabang kedua.Putraku datang menemuiku setiap akhir pekan.Dia banyak berubah, bukan lagi anak manja yang suka bertindak seenaknya.Dia membantuku menyajikan kue, membersihkan meja, bahkan merekomendasikan kue yang enak kepada pelanggan."Bu, kue stroberi bikinan Ibu paling enak sedunia."Melihat senyuman lebarnya, aku langsung tertawa.Anakku memang seharusnya seperti ini.Aswin masih datang.Namun, kali ini dia tidak menggangguku seperti dulu, sekarang dia hanya menatapku dari jauh.Kadang di kafe yang ada di seberang, kadang di bangku panjang yang ada di sudut jalan.Tidak pernah mendekat, hanya diam mengawasi.Suatu ketika, Ivan tiba-tiba berkata, "Bu, sebenarnya Ayah sangat merindukan Ibu."Aku tidak menjawab."Ayah buang semua barang milik Bibi Rosa, bahkan sudah merenovasi rumah.""Katanya, ingin menghapus kenangan buruk."Aku meletakkan adonan, kemudian menatap Ivan."Ivan, nggak semua masalah bisa diperbaiki semudah itu."Ivan menund

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 7

    Sudut Pandang Gisel.Ivan menatapnya dengan wajah ketakutan.Aswin baru menyadari, dirinya menangis.Dia berjongkok, memeluk putranya, lalu berkata dengan suara serak, "Ivan, Ayah telah melakukan kesalahan. Kesalahan Ayah sangat banyak.""Ayah merindukan ibumu."…Pada bulan ketiga, Ivan datang.Dia berdiri di depan pintu toko kue, tubuhnya tampak jauh lebih tinggi.Matanya sembap, seperti habis menangis."Ibu …."Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nada seperti itu.Aku menghentikan pekerjaanku dan menghampirinya."Ada apa?"Ivan menunduk, lalu berkata dengan nada sedih, "Bibi Rosa … Bibi Rosa sudah pergi.""Dia bawa kabur uang Ayah. Selain itu, dia … dia bilang aku ini cuma beban …."Ivan mendongak, tampak kebingungan."Bu, kenapa dia membohongiku? Bukankah katanya dia sayang aku?"Aku terdiam lama."Ivan, ada orang-orang yang baik sama kamu, itu karena dia menginginkan sesuatu dari ayahmu.""Setelah mendapatkan yang diinginkan, dia meninggalkanmu."Ivan

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 6

    Saat keluar dari rumah duka, aku mendengar suaranya dari belakang."Gisel, kalau kamu beri aku satu kesempatan lagi …."Aku pergi tanpa menoleh sama sekali.Setelah bercerai, aku buka toko kue kecil.Sesuai janjinya, Aswin memberikan sebagian besar asetnya padaku.Setelah meninggalkan rumah Keluarga Gunadi, ini pertama kalinya aku merasakan ketenangan.Tidak ada lagi yang melempar cek ke wajahku.Tidak ada lagi yang memanggilku "Ibu jahat".Tidak ada yang menggunakan orang yang kucintai untuk mengancamku.Aku tidak perlu menyenangkan hati orang lain demi mendapatkan uang.Akhirnya, aku bisa benar-benar bernapas lega.Namun, Aswin belum rela melepasku.Satu bulan setelah perceraian kami, dia datang ke tokoku setiap hari.Dia memesan kue paling mahal, lalu duduk di pojokan sambil menatapku seharian.Namun, aku mengabaikannya."Gisel, kamu kurusan."Aku tidak mendongak, terus fokus membersihkan meja."Pak Aswin, toko kami sudah tutup."Dia terdiam sejenak, lalu berdiri sambil tersenyum ge

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 5

    Di layar itu, terlihat rekaman saat ibuku meninggal karena tidak dilakukan operasi.Tangis dan teriakanku yang putus asa seolah masih terngiang di benakku.Kamera lalu beralih ke belakang panggung konferensi pers.Suara teriakan gembira Rosa terdengar di seluruh ruang pesta. "Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku.""Aswin memberiku kartu ini yang terhubung dengan biaya pengobatan ibumu.""Menurutmu, kalau aku menghentikan pengobatan ibumu, apa yang akan terjadi?"Situasi di ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau.Para wartawan yang sudah kusiapkan sebelumnya langsung memotret tanpa henti ke arah panggung.Bahkan ada yang langsung melakukan siaran langsung dari ponsel.Wajah Aswin langsung pucat."Matikan, matikan sekarang!"Dia berlari ke ruang kontrol, tetapi dihalangi oleh wartawan yang sudah kuatur sebelumnya.Rosa menjerit dan bersembunyi di pojokan, seolah ing

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 4

    "Kenapa?""Kalian nggak lihat wajahnya sudah sepucat itu?"Perawat itu menjawab dengan ragu-ragu, "Nyonya, uang deposit di rekening pasien sudah habis, dan tadi ada yang membekukan rekeningnya. Menurut aturan, operasi nggak bisa dilakukan kalau pembayaran belum lunas."Deposit habis?"Kenapa kalian nggak meneleponku? Kenapa?"Belum sempat menanyakan lebih jauh, aku menyodorkan kartu ATM kepada perawat dengan tangan gemetar."Ini ada uang 60 miliar, cepat operasi ibuku, cepat!"Namun, perawat yang mengurus pembayaran itu segera kembali dan mengembalikan kartu ATM."Nyonya, kartu ini dbekukan, dan nggak ada saldo di dalamnya."Bagaimana mungkin?Kepalaku seolah berdengung.Sejak rujuk, semua denda yang dibayar Aswin ditransfer di rekening ini, mana mungkin tidak ada uangnya?Tiba-tiba, ponselku berbunyi.Pesan dari Aswin masuk.[Gisel, barusan aku beli perhiasan untuk Rosa, anak buahku nggak sengaja menukar kartu ATM-mu.][Maaf, nanti aku ganti dua kali lipat.]Tanganku gemetar hingga ti

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 3

    Di belakang panggung konferensi pers.Penata rias sedang merias wajahku menjadi jelek.Sementara di meja rias samping, Rosa tampak dikelilingi oleh penata rias yang terkenal, membuat auranya makin bersinar.Putraku mengelilingi Rosa. "Wah, Bibi Rosa cantik sekali.Putraku lalu menoleh ke arahku, menatapku dengan jijik. "Ibu mirip nenek sihir."Aswin keluar untuk angkat telepon, senyuman manis Rosa menghilang."Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku."Dia melempar naskah pidato di depanku."Lihat ini, ini adalah naskah pengakuan dosamu yang dibuat sendiri oleh Aswin.""Mau lihat duluan?"Saat menunduk, aku melihat banyak tanda koreksi.Padahal dulu Aswin menganggap membalas pesan WhatsApp-ku itu hanya buang-buang waktu.Aku pun menunduk sambil tertawa sinis, kemudian mendongak dan menatap Rosa."Kamu nggak takut aku nekat membongkar perselingkuhan kalian di atas panggung?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status