Teilen

Bab 2

Choji
"Uang terus, apa semenderita itu jadi istriku? Sekarang kamu cuma bicara soal uang denganku?"

"Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?

"Melihatmu begini, aku merasa rujuk denganmu adalah sebuah kesalahan."

Kesalahan?

Aku juga merasakan hal yang sama.

Andai tahu dia masih berhubungan dengan mantan pacarnya, aku tidak akan mau menikah dengannya.

Aku tertawa, lalu mengulurkan tangan lagi untuk minta uang.

"Aku memang picik, masih kalah jauh dengan Nona Rosa yang anggun, jadi mohon Pak Aswin segera bayar dendanya."

Aswin terkejut.

Putra kami menutup telepon dan menghampiri ayahnya, lalu merentangkan kedua tangan kecilnya melindungi Aswin di belakangnya.

"Ibu jahat, jangan ganggu Ayah!"

"Cuma 400 juta, 'kan? Aku bayar."

Tidak lama kemudian, dia melempar kartu ATM ke wajahku.

Lemparan putra kami kasar, hingga pinggiran kartu ATM menggores wajahku.

Tindakannya mirip dengan cara Aswin melempar cek padaku.

Memang orang kaya, ayah dan anak ini, dengan mudah mereka bisa mengeluarkan uang yang dulu bahkan tidak bisa kupinjam dari semua kerabat saat bercerai.

Darah mengalir dari pipi dan menetes ke lantai.

Tidak peduli, aku membungkuk dulu dan mengambil kartu ATM.

Dengan uang 400 juta ini, aku bisa memberikan pengobatan lebih bagus untuk ibuku.

Bagaimanapun putra kami masih kecil, melihat aku berlumuran darah, dia memanggil, "Ibu …."

Dia hendak membantuku berdiri, tetapi dihentikan oleh ayahnya.

Aswin menggedongnya, lalu menatapku sambil tersenyum samar.

"Ivan, jadikan ini pelajaran. Setelah dewasa nanti, akan ada banyak orang miskin yang mencoba menipumu."

"Kamu harus hati-hati, termasuk pada ibumu sendiri."

Setelah mengatakannya, dia membawa putra kami pergi.

Tanpa menoleh lagi padaku.

Setelah mengobati luka, aku kembali ke kamar dan tidur.

Saat aku terbangun, suara tawa di lantai bawah membangunkan aku.

Di sofa, Rosa dan putra kami bermain dengan seru.

Saat melihatku, Aswin terlihat merasa bersalah, lalu mengatakan, "Karena gosip skandal itu, Rosa menangis terus. Aku takut dia bertindak macam-macam, jadi aku ajak dia main ke rumah."

"Jangan marah."

Aku tidak menjawab, hanya menatap putraku.

Sudah berapa lama aku tidak melihat senyumannya sebahagia ini?

Melihatku tidak menjawab, ekspresi Aswin terlihat tidak nyaman, suaranya pun melembut.

"Kalau kamu keberatan, juga boleh …."

"Aku nggak keberatan."

Aku menyela ucapan Aswin, tetapi ekspresi Aswin kembali tenang.

"Apa main tarik-ulur itu menarik?"

"Karena nggak bisa menghentikanku, kamu ganti cara ini?"

"Dulu, kamu nggak seperti ini."

Memang benar, dulu aku langsung marah saat pertama kali aku melihat dia bersama Rosa, semua barang di rumah aku banting saat mencium aroma parfum wanita lain di tubuhnya.

Dulu, aku tidak bisa menoleransi kecurangan sedikit pun.

Namun, sekarang aku sudah belajar.

Apa gunanya cinta? Uang jauh lebih penting.

Aku mengulurkan tangan lagi. "Barusan kamu sebut namanya dua kali, bayar 400 juta."

Aswin tertawa sinis, lalu mengangguk.

"Oke, aku bayar."

"Aku mau menawarkan sesuatu yang sangat mahal, mau terima nggak?"

Aku mendongak.

Tumben dia sebaik ini?

Seolah bisa membaca pikiranku, Aswin berbicara dengan santai, "Ikutlah konferensi pers, katakan ke media bahwa kamu cemburu sama Rosa, makanya menyuap wartawan."

"Setelah itu, aku kasih kamu 40 miliar."

"Kamu gila, ya?" Aku tidak tahan dan membantahnya, "Bukankah skandal itu sudah kamu redam sejak awal?"

Aku tidak mengerti, jelas-jelas dia yang berbuat salah, kenapa sekarang memfitnahku?

Nada suara Aswin berubah sinis.

"Aku sudah meredamnya, tapi Rosa sedih karena masalah itu, bukankah seharusnya kamu minta maaf?"

Aku pun tertawa karena marah. "Kenapa kamu yakin aku mau melakukannya?"

Aswin mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan foto ibuku yang dirawat di ruang ICU.

"Karena ini. Dokter utama ibumu adalah dokter yang aku rekomendasikan, aku juga adalah investor dari rumah sakit itu."

Melihat wajah pucat ibuku, rasa takut yang lama terkubur kembali menyelimutiku.

Tanganku yang terus mengepal, akhirnya aku lepaskan.

"Baiklah, aku setuju."

Saat aku mengangguk, tubuhku rasanya lemas, keringat dingin membasahi tubuhku.

Putraku di samping bersorak gembira.

Dia menganggapku seperti penghalang, jadi mendorongku, lalu memeluk Rosa.

"Baguslah, Ibu jahat itu akhirnya akan minta maaf pada Bibi Rosa."

"Bibi Rosa emang bidadari."

Rosa tertawa, tatapannya terlihat sangat puas.

"Maaf, Kak Gisel. Mungkin karena Ivan lebih dekat denganku."

Aku pun menjawab sambil tersenyum getir, "Ya, kami memang nggak akrab."

Saat berbalik dan pergi, aku tidak menyadari tatapan misterius Aswin.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 8

    Toko kueku mulai berkembang, aku mulai buka cabang kedua.Putraku datang menemuiku setiap akhir pekan.Dia banyak berubah, bukan lagi anak manja yang suka bertindak seenaknya.Dia membantuku menyajikan kue, membersihkan meja, bahkan merekomendasikan kue yang enak kepada pelanggan."Bu, kue stroberi bikinan Ibu paling enak sedunia."Melihat senyuman lebarnya, aku langsung tertawa.Anakku memang seharusnya seperti ini.Aswin masih datang.Namun, kali ini dia tidak menggangguku seperti dulu, sekarang dia hanya menatapku dari jauh.Kadang di kafe yang ada di seberang, kadang di bangku panjang yang ada di sudut jalan.Tidak pernah mendekat, hanya diam mengawasi.Suatu ketika, Ivan tiba-tiba berkata, "Bu, sebenarnya Ayah sangat merindukan Ibu."Aku tidak menjawab."Ayah buang semua barang milik Bibi Rosa, bahkan sudah merenovasi rumah.""Katanya, ingin menghapus kenangan buruk."Aku meletakkan adonan, kemudian menatap Ivan."Ivan, nggak semua masalah bisa diperbaiki semudah itu."Ivan menund

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 7

    Sudut Pandang Gisel.Ivan menatapnya dengan wajah ketakutan.Aswin baru menyadari, dirinya menangis.Dia berjongkok, memeluk putranya, lalu berkata dengan suara serak, "Ivan, Ayah telah melakukan kesalahan. Kesalahan Ayah sangat banyak.""Ayah merindukan ibumu."…Pada bulan ketiga, Ivan datang.Dia berdiri di depan pintu toko kue, tubuhnya tampak jauh lebih tinggi.Matanya sembap, seperti habis menangis."Ibu …."Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nada seperti itu.Aku menghentikan pekerjaanku dan menghampirinya."Ada apa?"Ivan menunduk, lalu berkata dengan nada sedih, "Bibi Rosa … Bibi Rosa sudah pergi.""Dia bawa kabur uang Ayah. Selain itu, dia … dia bilang aku ini cuma beban …."Ivan mendongak, tampak kebingungan."Bu, kenapa dia membohongiku? Bukankah katanya dia sayang aku?"Aku terdiam lama."Ivan, ada orang-orang yang baik sama kamu, itu karena dia menginginkan sesuatu dari ayahmu.""Setelah mendapatkan yang diinginkan, dia meninggalkanmu."Ivan

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 6

    Saat keluar dari rumah duka, aku mendengar suaranya dari belakang."Gisel, kalau kamu beri aku satu kesempatan lagi …."Aku pergi tanpa menoleh sama sekali.Setelah bercerai, aku buka toko kue kecil.Sesuai janjinya, Aswin memberikan sebagian besar asetnya padaku.Setelah meninggalkan rumah Keluarga Gunadi, ini pertama kalinya aku merasakan ketenangan.Tidak ada lagi yang melempar cek ke wajahku.Tidak ada lagi yang memanggilku "Ibu jahat".Tidak ada yang menggunakan orang yang kucintai untuk mengancamku.Aku tidak perlu menyenangkan hati orang lain demi mendapatkan uang.Akhirnya, aku bisa benar-benar bernapas lega.Namun, Aswin belum rela melepasku.Satu bulan setelah perceraian kami, dia datang ke tokoku setiap hari.Dia memesan kue paling mahal, lalu duduk di pojokan sambil menatapku seharian.Namun, aku mengabaikannya."Gisel, kamu kurusan."Aku tidak mendongak, terus fokus membersihkan meja."Pak Aswin, toko kami sudah tutup."Dia terdiam sejenak, lalu berdiri sambil tersenyum ge

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 5

    Di layar itu, terlihat rekaman saat ibuku meninggal karena tidak dilakukan operasi.Tangis dan teriakanku yang putus asa seolah masih terngiang di benakku.Kamera lalu beralih ke belakang panggung konferensi pers.Suara teriakan gembira Rosa terdengar di seluruh ruang pesta. "Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku.""Aswin memberiku kartu ini yang terhubung dengan biaya pengobatan ibumu.""Menurutmu, kalau aku menghentikan pengobatan ibumu, apa yang akan terjadi?"Situasi di ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau.Para wartawan yang sudah kusiapkan sebelumnya langsung memotret tanpa henti ke arah panggung.Bahkan ada yang langsung melakukan siaran langsung dari ponsel.Wajah Aswin langsung pucat."Matikan, matikan sekarang!"Dia berlari ke ruang kontrol, tetapi dihalangi oleh wartawan yang sudah kuatur sebelumnya.Rosa menjerit dan bersembunyi di pojokan, seolah ing

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 4

    "Kenapa?""Kalian nggak lihat wajahnya sudah sepucat itu?"Perawat itu menjawab dengan ragu-ragu, "Nyonya, uang deposit di rekening pasien sudah habis, dan tadi ada yang membekukan rekeningnya. Menurut aturan, operasi nggak bisa dilakukan kalau pembayaran belum lunas."Deposit habis?"Kenapa kalian nggak meneleponku? Kenapa?"Belum sempat menanyakan lebih jauh, aku menyodorkan kartu ATM kepada perawat dengan tangan gemetar."Ini ada uang 60 miliar, cepat operasi ibuku, cepat!"Namun, perawat yang mengurus pembayaran itu segera kembali dan mengembalikan kartu ATM."Nyonya, kartu ini dbekukan, dan nggak ada saldo di dalamnya."Bagaimana mungkin?Kepalaku seolah berdengung.Sejak rujuk, semua denda yang dibayar Aswin ditransfer di rekening ini, mana mungkin tidak ada uangnya?Tiba-tiba, ponselku berbunyi.Pesan dari Aswin masuk.[Gisel, barusan aku beli perhiasan untuk Rosa, anak buahku nggak sengaja menukar kartu ATM-mu.][Maaf, nanti aku ganti dua kali lipat.]Tanganku gemetar hingga ti

  • Perpisahan Dua Hati   Bab 3

    Di belakang panggung konferensi pers.Penata rias sedang merias wajahku menjadi jelek.Sementara di meja rias samping, Rosa tampak dikelilingi oleh penata rias yang terkenal, membuat auranya makin bersinar.Putraku mengelilingi Rosa. "Wah, Bibi Rosa cantik sekali.Putraku lalu menoleh ke arahku, menatapku dengan jijik. "Ibu mirip nenek sihir."Aswin keluar untuk angkat telepon, senyuman manis Rosa menghilang."Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku."Dia melempar naskah pidato di depanku."Lihat ini, ini adalah naskah pengakuan dosamu yang dibuat sendiri oleh Aswin.""Mau lihat duluan?"Saat menunduk, aku melihat banyak tanda koreksi.Padahal dulu Aswin menganggap membalas pesan WhatsApp-ku itu hanya buang-buang waktu.Aku pun menunduk sambil tertawa sinis, kemudian mendongak dan menatap Rosa."Kamu nggak takut aku nekat membongkar perselingkuhan kalian di atas panggung?"

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status