Share

Perpisahan dari Cinta Terdalam
Perpisahan dari Cinta Terdalam
Penulis: Muriaz

BAB 1

Penulis: Muriaz
“Sheila Amanjiva, kamu benar-benar membatalkannya?”

Telepon Nana Kayandra masuk tepat ketika aku baru saja melangkah keluar dari kantor agen properti.

“Ya, aku sudah membatalkannya.”

“Uang mukanya enam ratus juta, lho. Kamu bisa membatalkannya sendirian seperti itu? Apa Oscar tahu?”

“Dia lagi di Jepang.”

“Dinas?”

Aku tidak menjawab.

Nana terdiam sesaat.

“Sheila, sekalipun kalian lagi bertengkar, rumah itu tidak bisa ....”

“Aku menemukan ratusan foto di kamera lamanya. Perempuan yang sama, gunung yang sama, selama lima tahun.”

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

“Foto-foto itu bersama Zizy Moreto?”

Nana tidak melanjutkan ucapannya lagi.

Dalam perjalanan pulang, Oscar Sebastian mengirimiku sebuah foto.

Cokelat panas dalam cangkir keramik putih, dengan gambar seekor rusa kecil di sisi cangkir.

Keterangan fotonya tertulis, [Tokyo turun salju. Dingin sekali.]

Aku mengenali cangkir itu.

Musim dingin tahun lalu, dia juga pernah mengunggah foto yang sama. Sudut pengambilan foto, komposisinya pun sama.

Saat itu aku bertanya, dari kedai mana dia mendapatkannya. Dia bilang hanya masuk ke kedai secara acak dan sudah lupa namanya.

Namun, di dalam kamera lamanya, ada sebuah foto.

Zizy duduk di kedai yang sama. Di samping tangannya terdapat secangkir cokelat panas dengan cangkir yang persis sama. Dia tersenyum menghadap kamera.

Syal yang dikenakannya berwarna merah anggur. Aku belum pernah melihatnya.

Lima tahun.

Setiap musim dingin, kedai yang sama, secangkir cokelat panas yang sama, dan orang yang sama. Sementara yang selalu dikirimnya kepadaku hanyalah makanan dan pemandangan. Tidak pernah ada sosok siapa pun di dalamnya.

Sesampainya di apartemen, aku menunduk saat melepas sepatu dan tanpa sengaja melirik rak sepatu.

Di samping sepatu olahraga Oscar, ada sepasang sepatu kanvas putih.

Ukuran 35.

Sedangkan kakiku berukuran 37.

Aku membungkuk dan memeriksa bagian dalam sepatu. Terselip selembar kertas kecil di bawah sol.

[Ossy, sepatu yang terakhir buat kakiku lecet.]

Ossy.

Selama lima tahun berpacaran, aku tidak pernah tahu Oscar memiliki panggilan seperti itu. Dia tidak pernah menyuruhku memanggilnya begitu.

Aku mengembalikan sepatu itu ke tempatnya, lalu masuk ke kamar.

Layar laptopnya masih menyala. Terbuka sebuah halaman pesanan dari situs perjalanan.

Hokkaido, keberangkatan 14 Februari, paket pemandian air panas untuk dua orang, termasuk onsen pribadi dan hidangan kaiseki. Pada kolom catatan tertulis:

[Ulang tahun Zizy.]

Ulang tahunku 9 Maret.

Ulang tahun Zizy 15 Februari.

Tahun lalu, pada 9 Maret, aku bertanya kepadanya apakah malam itu dia bisa makan malam bersamaku. Katanya, ada jamuan kantor.

Aku menunggunya sampai pukul sebelas malam. Yang kuterima hanya sebuah pesan:

[Baru sampai rumah. Kamu sudah tidur? Selamat ulang tahun. Nanti kita rayakan.]

Nanti.

Itu sama seperti “lain kali”. Keduanya selalu menjadi janji yang tidak pernah ditepati.

Aku membuka album foto di penyimpanan awan ponselnya. Lebih dari tiga ribu foto. Foto yang berkaitan denganku hanya sebelas. Tujuh di antaranya diambil pada tahun pertama kami berpacaran. Empat tahun berikutnya, hanya empat foto.

Ada sebuah folder bernama "Salju di Tokyo". Saat kubuka, isinya penuh dengan foto Zizy.

Ada foto saat mengenakan kimono, menginjak salju, dan berdiri di depan kuil dengan kedua tangan terkatup dalam doa.

Setiap foto ditata dengan begitu apik. Pencahayaannya lembut, seolah-olah diambil untuk sampul majalah.

Sementara ketika memotretku, dia selalu asal menekan tombol. Tidak mengatur sudut, tidak memperhatikan pencahayaan.

Aku pernah berkata, “Bisakah kamu memotretku sedikit lebih bagus?”

Dia menjawab, “Cuma foto biasa, bukan pemotretan profesional. Sudahlah, jangan berlebihan.”

“Sudahlah, jangan berlebihan.”

Kata itulah yang paling sering dia ucapkan kepadaku.

Ponselku berdering. Panggilan video dari Oscar.

Aku mengangkatnya. Di layar, dia mengenakan mantel abu-abu dengan latar belakang lorong hotel.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Aku lusa pulang. Penerbanganku jam tiga sore.”

“Oke.”

“Suaramu terdengar agak aneh.”

“Agak lelah.”

“Tidurlah lebih awal.”

Saat dia hendak mengakhiri panggilan, terdengar suara dari belakangnya.

“Ossy, mobilnya sudah datang.”

Dia menoleh dan menjawab, lalu kembali menatapku.

“Zizy memanggilku. Sudah dulu, ya.”

“Kenapa dia ada di hotelmu?”

“Kamarnya di sebelah. Kami mau keluar makan bersama.”

“Setiap tahun selalu bersama?”

“Kebetulan saja waktunya bersamaan. Jangan berpikir macam-macam.”

Dia tersenyum. Begitu santainya, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak perlu dijelaskan.

“Oh, ya. Aku membawakanmu magnet kulkas. Kali ini aku lama memilihnya.”

Panggilan pun berakhir.

Aku berjalan ke dapur dan membuka pintu kulkas. Di pintunya tertempel lima buah magnet kulkas.

Semuanya bergambar Gunung Fuji, dengan ukuran yang berbeda-beda dan berasal dari tahun yang berbeda.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 11

    Aku berdiri di ambang pintu tanpa berbalik.Angin berembus masuk. Mataku terasa panas, tetapi aku tidak membiarkan air mata jatuh.“Oscar, kamu benar. Aku memang pantas dicintai.”“Karena itu, aku memilih pergi ke tempat yang akan mencintaiku.”“Bukan berada di sisimu.”“Bu Sheila, ada paket untuk Anda.”Petugas resepsionis dari kantor baruku datang sambil membawa sebuah kotak kardus. Alamat pengirimnya berasal dari kota lamaku. Pengirimnya Oscar Sebastian.Aku sempat ragu, tetapi akhirnya tetap membukanya. Paling atas terdapat sebuah map dokumen. Di dalamnya terdapat surat perjanjian pembatalan pertunangan. Di halaman terakhir, nama Oscar Sebastian tertera di sisi kanan. Tinta tanda tangannya tampak tebal, seolah dia menekannya dengan sekuat tenaga.Tanggal yang tertera adalah tiga hari lalu.Di bawah map itu terdapat beberapa benda. Buku catatan renovasi yang dulu kutulis. Dia membungkusnya dengan satu lapis bubble wrap, lalu menyelipkan sebuah kartu.[Ini kukembalikan kepadamu. Di

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 10

    Tangannya perlahan terkulai. Kalung itu meluncur dari sela-sela jarinya dan membuat kalung itu berdenting karena jatuh di lantai.Aku tidak menoleh.“Bawa kalungnya. Itu bukan milikku.”…“Dia berdiri di bawah semalaman.” Keesokan paginya, seorang rekan kerja melapor padaku.“Satpam bilang dia duduk semalaman di lobi. Dia baru pergi saat hari mulai terang.”Aku berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Pintu lobi sudah kosong.Pukul sepuluh pagi, Oscar mengirimiku pesan.[Aku tidak akan menyerah. Kapan pun kamu bersedia bicara denganku, aku akan menunggumu.]Siang harinya, Nana menelepon.“Oscar memintaku menyampaikan sesuatu kepadamu.”“Apa?”“Katanya dia sudah menghapus semua kontak Zizy. Berbagi lokasi juga sudah dibatalkan, dan riwayat percakapan mereka sudah dihapus.”“Lalu?”“Katanya dia pergi ke kedai mie daging sapi yang dulu sering kalian datangi.”Tanganku terhenti.Kedai mie daging sapi itu. Tempat Oscar menyatakan cinta kepadaku pada tahun pertama hubungan kami.Dia berkata

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 9

    Aku duduk di meja kerjaku. Dari balik pintu kaca, aku bisa melihatnya.Dia terlihat lebih kurus. Belum mencukur janggutnya, lingkaran hitam di bawah matanya juga tampak jelas.Di tangannya ada sebuah paper bag.Gadis di meja resepsionis melirik ke arahku dan aku menggeleng pelan padanya.“Bu Sheila hari ini tidak masuk kantor.”“Tidak masuk? Kapan dia masuk?”“Kurang tahu. Bapak mau menitipkan sesuatu?”Dia berdiri di sana beberapa saat, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kertas dan meletakkannya di meja resepsionis.“Tolong berikan ini kepadanya.”Lalu dia pergi.Resepsionis kemudian mengantarkan barang itu kepadaku. Sebuah syal kasmir berwarna biru tua, tanpa ukiran huruf apa pun.Di dalam kotaknya terselip secarik kertas.[Tahun lalu kamu bilang ingin syal kasmir. Aku bilang tidak perlu membelinya. Maaf, aku terlambat satu tahun.]Terlambat satu tahun.Tahun lalu aku bilang ingin memilikinya, tetapi dia berkata tidak perlu.Tahun ini dia justru datang menghampiriku ke luar kota untu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 8

    [Tanyakan saja kepadanya.][Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak mau bicara. Kakak Ipar, apa kalian sedang bertengkar?][Bukan bertengkar. Aku pergi.][Pergi? Ke mana?][Pergi meninggalkannya.]Di layar terlihat tulisan bahwa dia sedang mengetik. Lama sekali, lalu sebuah pesan panjang masuk.[Kakak Ipar, aku mau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Ossy sebenarnya sudah sangat baik kepadamu. Dia memang orang yang lembut dan selalu memperlakukan semua orang dengan baik. Jangan karena dia memperlakukanku dengan baik lalu kamu cemburu. Kami benar-benar hanya berteman. Kalau kamu pergi hanya karena hal ini, menurutku tidak sepadan.]Dia mengira aku pergi karena cemburu.Dia mengira aku membesar-besarkan masalah.[Zizy, menurutmu, dalam hal apa dia memperlakukanku dengan baik?]Tiga menit kemudian dia baru membalas.[Dia sudah berpacaran denganmu selama lima tahun, membelikanmu rumah untuk pernikahan, dan bersiap menikahimu. Setiap kali membicarakanmu, dia selalu bilang kamu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 7

    [Kamu terlambat.][Sheila, aku mohon, temui aku sekali saja.]Itu adalah pesan ke-51 yang dikirimkannya kepadaku.Pada hari ketiga setelah tiba di kota baru, aku mulai mengirimkan lamaran pekerjaan.Aku mendapat dua jadwal wawancara. Perlahan, hari-hariku mulai memiliki ritme kehidupan yang baru.Saat makan siang, Nana kembali mengirimiku pesan.[Oscar pergi lagi ke rumah yang akan kalian tempati setelah menikah kemarin.][Untuk apa?][Dia meminta kunci ke agen properti. Katanya ingin masuk dan melihat-lihat. Agen itu bilang rumahnya sudah dipasarkan kembali, tetapi dia bilang hanya ingin melihat sebentar.][Lalu?][Setelah masuk, dia berada di sana selama dua jam.]Aku meletakkan alat makanku.[Katanya saat membuka pintu, dia tertegun.][Kenapa?][Katanya dia tidak tahu kamu menata rumah itu seperti itu. Dinding ruang tamunya berwarna putih susu, tirai kamar tidur berwarna biru kabut, warna kesukaanmu. Di ruang kerja ada satu dinding penuh rak buku. Kamu sendiri yang menggambar desain

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 6

    Di kota yang baru ini, tidak ada seorang pun yang menjemputku di luar stasiun.Namun, aku tidak peduli.Begitu mengecek ponsel, pesan masuk bertubi-tubi.Dua pesan terakhir berasal dari Oscar.[Lima magnet di atas meja, aku sudah melihatnya.][Sheila, telepon aku.]Itu pesan ke-27 yang dia kirimkan kepadaku.Telepon Nana lebih dulu masuk.“Kamu benar-benar pergi? Oscar seperti orang gila, mencarimu ke mana-mana. Dia bahkan pergi ke kantormu. Atasanmu bilang kamu mengambil cuti panjang.”“Aku sudah mengundurkan diri.”“Me-mengundurkan diri? Kamu bahkan berhenti bekerja?”“Aku ingin memulai kembali di kota lain.”“Dia meneleponku delapan kali. Dia bertanya apakah aku tahu kamu pergi ke mana.”“Kamu bilang apa?”“Aku bilang tidak tahu.”Nana terdiam sejenak.“Suaranya bahkan berubah. Dia bilang tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba pergi. Katanya, hubungan kalian baik-baik saja.”Baik-baik saja?Dia mengira hubungan kami baik-baik saja?Seorang tunangan merenovasi sendiri rumah yang akan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status