Share

BAB 4

Penulis: Muriaz
Di tengah makan, Giandra mulai menggoda, “Ayo, ayo. Kita uji seberapa kompak kalian. Oscar, bunga apa yang paling disukai Sheila?”

Oscar berpikir sejenak.

“Mawar?”

“Bukan. Bunga Balon.”

“Ulang tahunnya?”

“Bulan Maret ... Tanggal 9?”

Dia sempat ragu sebelum akhirnya menjawab dengan benar.

“Hal apa yang paling dia takuti?”

“Dia tidak takut apa-apa.” Dia terkekeh. “Sheila pemberani.”

Aku takut gelap.

Aku sudah memberitahunya sejak tahun pertama kami berpacaran.

Dia lupa.

Giandra kembali menggoda.

“Tidak boleh begitu. Sekarang, Zizy, aku yang akan mengujimu. Minuman apa yang paling disukai Oscar?”

“Americano, sedikit gula, hangat.”

“Hal apa yang paling dia takuti?”

“Petir. Waktu kecil, petir pernah menyambar pohon di halaman rumahnya sampai dia ketakutan dan menangis.”

“Kalimat yang paling sering dia ucapkan?”

“‘Sudahlah, jangan berlebihan.’”

Seketika semua orang tertawa.

Giandra menepuk meja.

“Zizy bahkan lebih mengenal Oscar daripada Kakak Ipar.”

“Bagaimanapun, aku sudah mengenalnya selama sepuluh tahun,” ujar Zizy sambil tersenyum.

Sepuluh tahun.

Dia mengenal Oscar selama sepuluh tahun.

Aku hanya lima tahun.

Dia tahu Oscar takut petir, sementara aku tidak tahu.

Bukan karena aku tidak ingin mengenalnya lebih dalam.

Hanya saja, dia tidak pernah bercerita kepadaku.

Saat bersamaku, apa pun yang kutanyakan selalu dijawab dengan, “Terserah,” “Bebas,” atau “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Namun, ketika bersama Zizy, dia begitu ekspresif, seolah-olah berubah menjadi orang yang berbeda.

Ketika acara hampir selesai, aku ke toilet.

Zizy menyusul masuk.

“Kakak Ipar.”

Dia bersandar di depan wastafel sambil memoles ulang lipstiknya di depan cermin.

“Aku mau mengatakan sesuatu. Jangan tersinggung. Ossy memang agak ceroboh, tapi dia bukan orang jahat. Jangan terlalu mempermasalahkan segala sesuatu dengannya.”

“Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Dia bilang akhir-akhir ini suasana hatimu sedang buruk. Kalian sering bertengkar gara-gara aku.”

Dia menceritakan masalah hubungan kami kepada Zizy.

“Kakak Ipar, mungkin perkataanku agak kasar. Kalau bahkan sedikit kepercayaan saja tidak bisa kamu berikan kepadanya, rasanya pernikahan ini juga tidak ada artinya.”

“Setiap tahun dia menemanimu pergi ke Jepang. Menurutmu, apa yang seharusnya kupercaya?”

Zizy tertegun sejenak, lalu tersenyum.

“Kakak Ipar, itu perjalanan dinas.”

“Perjalanan dinas tidak akan selalu ke tempat yang sama setiap tahun, menginap di hotel yang sama, dan memotret orang yang sama.”

Senyumnya tidak berubah, tetapi tatapannya menjadi sedikit lebih dingin.

“Kakak Ipar, aku dan Ossy hanya berteman. Kalau kamu bersikeras memikirkan yang macam-macam, itu masalahmu sendiri.”

Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, dia menghentikan langkahnya sejenak.

“Oh, ya. Untuk dinding ruang tamu rumah yang akan kalian tempati setelah menikah, menurutku sebaiknya diganti menjadi warna abu-abu hangat. Ossy juga merasa warna itu lebih bagus daripada putih susu yang kamu pilih.”

Pintu tertutup.

Dinding ruang tamu rumah pernikahan kami.

Warna putih susu yang kupilih itu, bahkan aku sendiri yang mengawasi para pekerja mengecatnya sampai dua kali.

Oscar tidak pernah datang sekalipun.

Namun, dia membiarkan Zizy memberikan pendapat dan bahkan merasa pilihan Zizy lebih bagus daripada pilihanku.

Aku membasuh wajah, lalu keluar. Oscar berdiri di depan pintu.

“Ayo. Kita antar Zizy pulang.”

“Dia tidak bisa pulang sendiri?”

“Sekalian lewat.”

Rumah Zizy berada di sebelah timur kota, sedangkan rumah kami di sebelah barat.

Bagian mana yang searah?

“Kamu saja yang antar. Aku naik taksi.”

“Jangan begitu. Kita pergi bersama.”

Di dalam mobil, Zizy duduk di kursi penumpang depan, sementara aku duduk di belakang.

Dia menyalakan radio dan menggantinya ke saluran berbahasa Jepang.

“Ossy, kamu ingat lagu ini? Tahun lalu lagu ini diputar di Izakaya di Tokyo.”

“Ingat. Waktu itu kamu bahkan ikut bernyanyi.”

Mereka berdua tertawa.

Aku yang duduk di kursi belakang merasa seperti penumpang yang tidak seharusnya ada di sana.

Sesampainya di bawah apartemen, Zizy turun dari mobil dan membungkuk sedikit untuk melihat ke arahku.

“Kakak Ipar, istirahatlah lebih awal.”

Kemudian dia berbalik menghadap Oscar.

“Ossy, jangan lupa soal yang minggu depan.”

“Iya.”

Dia menutup pintu mobil dan pergi.

Aku berpindah dari kursi belakang ke kursi depan.

“Soal apa?”

“Membantunya memindahkan lemari.”

“Dia bisa panggil jasa pindahan.”

“Kenapa buang-buang uang untuk hal seperti itu?”

Tahun lalu, aku pernah memintanya membantuku memindahkan satu kardus berisi buku. Dia bilang pinggangnya sedang tidak enak dan menyuruhku memanggil jasa pindahan.

Sekarang, untuk memindahkan lemari Zizy, dia bersedia datang sendiri.

“Oscar, apa kamu tidak merasa bahwa kamu memperlakukan Zizy lebih baik daripada aku?”

Dia menghela napas.

“Dia teman yang tumbuh besar bersamaku sejak kecil. Memperlakukannya dengan baik sudah jadi kebiasaan untukku. Tapi orang yang akan kunikahi adalah dirimu. Bukankah itu sudah cukup?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 11

    Aku berdiri di ambang pintu tanpa berbalik.Angin berembus masuk. Mataku terasa panas, tetapi aku tidak membiarkan air mata jatuh.“Oscar, kamu benar. Aku memang pantas dicintai.”“Karena itu, aku memilih pergi ke tempat yang akan mencintaiku.”“Bukan berada di sisimu.”“Bu Sheila, ada paket untuk Anda.”Petugas resepsionis dari kantor baruku datang sambil membawa sebuah kotak kardus. Alamat pengirimnya berasal dari kota lamaku. Pengirimnya Oscar Sebastian.Aku sempat ragu, tetapi akhirnya tetap membukanya. Paling atas terdapat sebuah map dokumen. Di dalamnya terdapat surat perjanjian pembatalan pertunangan. Di halaman terakhir, nama Oscar Sebastian tertera di sisi kanan. Tinta tanda tangannya tampak tebal, seolah dia menekannya dengan sekuat tenaga.Tanggal yang tertera adalah tiga hari lalu.Di bawah map itu terdapat beberapa benda. Buku catatan renovasi yang dulu kutulis. Dia membungkusnya dengan satu lapis bubble wrap, lalu menyelipkan sebuah kartu.[Ini kukembalikan kepadamu. Di

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 10

    Tangannya perlahan terkulai. Kalung itu meluncur dari sela-sela jarinya dan membuat kalung itu berdenting karena jatuh di lantai.Aku tidak menoleh.“Bawa kalungnya. Itu bukan milikku.”…“Dia berdiri di bawah semalaman.” Keesokan paginya, seorang rekan kerja melapor padaku.“Satpam bilang dia duduk semalaman di lobi. Dia baru pergi saat hari mulai terang.”Aku berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Pintu lobi sudah kosong.Pukul sepuluh pagi, Oscar mengirimiku pesan.[Aku tidak akan menyerah. Kapan pun kamu bersedia bicara denganku, aku akan menunggumu.]Siang harinya, Nana menelepon.“Oscar memintaku menyampaikan sesuatu kepadamu.”“Apa?”“Katanya dia sudah menghapus semua kontak Zizy. Berbagi lokasi juga sudah dibatalkan, dan riwayat percakapan mereka sudah dihapus.”“Lalu?”“Katanya dia pergi ke kedai mie daging sapi yang dulu sering kalian datangi.”Tanganku terhenti.Kedai mie daging sapi itu. Tempat Oscar menyatakan cinta kepadaku pada tahun pertama hubungan kami.Dia berkata

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 9

    Aku duduk di meja kerjaku. Dari balik pintu kaca, aku bisa melihatnya.Dia terlihat lebih kurus. Belum mencukur janggutnya, lingkaran hitam di bawah matanya juga tampak jelas.Di tangannya ada sebuah paper bag.Gadis di meja resepsionis melirik ke arahku dan aku menggeleng pelan padanya.“Bu Sheila hari ini tidak masuk kantor.”“Tidak masuk? Kapan dia masuk?”“Kurang tahu. Bapak mau menitipkan sesuatu?”Dia berdiri di sana beberapa saat, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kertas dan meletakkannya di meja resepsionis.“Tolong berikan ini kepadanya.”Lalu dia pergi.Resepsionis kemudian mengantarkan barang itu kepadaku. Sebuah syal kasmir berwarna biru tua, tanpa ukiran huruf apa pun.Di dalam kotaknya terselip secarik kertas.[Tahun lalu kamu bilang ingin syal kasmir. Aku bilang tidak perlu membelinya. Maaf, aku terlambat satu tahun.]Terlambat satu tahun.Tahun lalu aku bilang ingin memilikinya, tetapi dia berkata tidak perlu.Tahun ini dia justru datang menghampiriku ke luar kota untu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 8

    [Tanyakan saja kepadanya.][Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak mau bicara. Kakak Ipar, apa kalian sedang bertengkar?][Bukan bertengkar. Aku pergi.][Pergi? Ke mana?][Pergi meninggalkannya.]Di layar terlihat tulisan bahwa dia sedang mengetik. Lama sekali, lalu sebuah pesan panjang masuk.[Kakak Ipar, aku mau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Ossy sebenarnya sudah sangat baik kepadamu. Dia memang orang yang lembut dan selalu memperlakukan semua orang dengan baik. Jangan karena dia memperlakukanku dengan baik lalu kamu cemburu. Kami benar-benar hanya berteman. Kalau kamu pergi hanya karena hal ini, menurutku tidak sepadan.]Dia mengira aku pergi karena cemburu.Dia mengira aku membesar-besarkan masalah.[Zizy, menurutmu, dalam hal apa dia memperlakukanku dengan baik?]Tiga menit kemudian dia baru membalas.[Dia sudah berpacaran denganmu selama lima tahun, membelikanmu rumah untuk pernikahan, dan bersiap menikahimu. Setiap kali membicarakanmu, dia selalu bilang kamu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 7

    [Kamu terlambat.][Sheila, aku mohon, temui aku sekali saja.]Itu adalah pesan ke-51 yang dikirimkannya kepadaku.Pada hari ketiga setelah tiba di kota baru, aku mulai mengirimkan lamaran pekerjaan.Aku mendapat dua jadwal wawancara. Perlahan, hari-hariku mulai memiliki ritme kehidupan yang baru.Saat makan siang, Nana kembali mengirimiku pesan.[Oscar pergi lagi ke rumah yang akan kalian tempati setelah menikah kemarin.][Untuk apa?][Dia meminta kunci ke agen properti. Katanya ingin masuk dan melihat-lihat. Agen itu bilang rumahnya sudah dipasarkan kembali, tetapi dia bilang hanya ingin melihat sebentar.][Lalu?][Setelah masuk, dia berada di sana selama dua jam.]Aku meletakkan alat makanku.[Katanya saat membuka pintu, dia tertegun.][Kenapa?][Katanya dia tidak tahu kamu menata rumah itu seperti itu. Dinding ruang tamunya berwarna putih susu, tirai kamar tidur berwarna biru kabut, warna kesukaanmu. Di ruang kerja ada satu dinding penuh rak buku. Kamu sendiri yang menggambar desain

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 6

    Di kota yang baru ini, tidak ada seorang pun yang menjemputku di luar stasiun.Namun, aku tidak peduli.Begitu mengecek ponsel, pesan masuk bertubi-tubi.Dua pesan terakhir berasal dari Oscar.[Lima magnet di atas meja, aku sudah melihatnya.][Sheila, telepon aku.]Itu pesan ke-27 yang dia kirimkan kepadaku.Telepon Nana lebih dulu masuk.“Kamu benar-benar pergi? Oscar seperti orang gila, mencarimu ke mana-mana. Dia bahkan pergi ke kantormu. Atasanmu bilang kamu mengambil cuti panjang.”“Aku sudah mengundurkan diri.”“Me-mengundurkan diri? Kamu bahkan berhenti bekerja?”“Aku ingin memulai kembali di kota lain.”“Dia meneleponku delapan kali. Dia bertanya apakah aku tahu kamu pergi ke mana.”“Kamu bilang apa?”“Aku bilang tidak tahu.”Nana terdiam sejenak.“Suaranya bahkan berubah. Dia bilang tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba pergi. Katanya, hubungan kalian baik-baik saja.”Baik-baik saja?Dia mengira hubungan kami baik-baik saja?Seorang tunangan merenovasi sendiri rumah yang akan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status