Share

BAB 5

Penulis: Muriaz
Aku tersenyum dan mengangguk.

“Sudah.”

Sabtu pagi, aku memasak bubur di dapur.

“Oscar, hari ini bisakah kamu tidak pergi ke mana-mana?”

Bubur putih, telur asin, dan sepiring lauk sederhana.

Sarapan kesukaannya.

“Aku ingin kamu menemaniku seharian ini.”

Dia tampak sedikit terkejut.

“Boleh. Kebetulan aku juga tidak ada kegiatan.”

Dia tersenyum, lalu duduk dan mulai menyantap bubur.

Aku duduk di hadapannya, berusaha mengingat wajah ini baik-baik.

“Oscar, apa kamu mencintaiku?”

Sumpit yang hendak mengambil telur asin itu terhenti di udara.

“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

“Aku ingin mendengarnya sekali saja.”

“Aku akan menikahimu. Menurutmu bagaimana?”

“Menikah dan mencintai itu bukan hal yang sama.”

“Ada apa denganmu hari ini?”

“Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu.”

Dia meletakkan sumpit dan menatapku.

“Sheila, tentu saja aku ….”

Ponselnya berdering.

Dia menunduk dan melihat layar ponselnya.

“Zizy.”

“Jangan diangkat.”

“Aku cek sebentar.”

Dia menggeser layar ponselnya.

“Katanya pipa air di rumahnya pecah. Air sudah menggenang di mana-mana.”

“Dia bisa memanggil tukang.”

“Kalau menunggu tukang datang, bisa satu atau dua jam. Rumahnya keburu kebanjiran.”

Dia berdiri.

“Aku ke sana sebentar untuk melihat keadaan. Aku akan segera kembali.”

“Oscar, kamu sudah berjanji tidak akan ke mana-mana hari ini.”

“Aku tahu, tapi ini darurat. Pipanya pecah. Masa aku tidak peduli?”

“Lalu aku?”

“Ada apa denganmu? Kamu baik-baik saja.”

Di matanya, aku selalu baik-baik saja.

Pipa air Zizy pecah adalah keadaan darurat. Sementara hatiku yang hancur ini bukan apa-apa.

Pada tahun pertama hubungan kami, ketika dia menyatakan cinta kepadaku, dia berkata, “Sheila, aku ingin menghabiskan seumur hidupku bersamamu.”

Hari itu, dia membawaku makan semangkuk mie daging sapi. Dia berkata, setiap tahun kami akan datang ke kedai itu untuk merayakan hari jadi kami.

Pada tahun kedua, dia lupa.

Pada tahun ketiga, aku mengingatkannya. Dia berkata, “Hanya semangkuk mie. Pergi lain kali juga sama saja.”

Pada tahun keempat dan kelima, aku tidak pernah mengungkitnya lagi. Dia pun tidak pernah mengingatnya sama sekali.

“Paling lama satu jam. Setelah itu aku pulang dan menemanimu lagi.”

Dia mengenakan mantel, mengambil kotak perkakas, lalu berhenti di depan pintu dan menoleh kepadaku.

“Jangan marah.”

Tiga jam berlalu.

Aku meneleponnya.

“Sebentar lagi, sebentar lagi. Pipanya sudah diperbaiki. Lantainya penuh air, jadi aku bantu dia bersihkan.”

“Kapan kamu pulang?”

“Sebentar lagi.”

Satu jam lagi berlalu.

Dia mengirim pesan:

[Zizy bilang terima kasih karena kamu mengizinkanku datang. Dia mengajakku makan siang. Setelah makan aku langsung pulang.]

Aku tidak membalas.

Dia kembali mengirim pesan.

[Kamu makan dulu. Jangan menungguku.]

Aku duduk di ruang tamu, menatap bubur di atas meja yang sudah dingin.

Kuning telur setengah matang itu telah mengeras.

Aku berdiri dan berjalan menuju kamar tidur. Kubuka lemari dan mengeluarkan dua koper. Barang-barangku di rumah ini memang tidak banyak.

Pakaian memenuhi satu koper, sedangkan buku dan barang-barang kecil lainnya hanya memenuhi setengah koper.

Di atas wastafel, barang milikku hanya sebuah sikat gigi dan sebotol pembersih wajah.

Barang-barang Zizy justru lebih banyak dariku.

Sepatu kanvas, sebuah mantel, mug, dan sebuah lipstik.

Aku melepaskan cincin tunanganku. Kuletakkan di atas meja ruang tamu. Di sampingnya, lima magnet kulkas kususun berjajar.

Lalu kusematkan secarik kertas.

[Oscar, rumah yang akan kita tempati setelah menikah sudah kubatalkan. Cincin ini kukembalikan kepadamu. Lima magnet kulkas ini juga kukembalikan. Untuk bulan madu, cari orang lain saja.]

Aku menyeret koper menuju pintu.

Aku menoleh untuk terakhir kalinya.

Di atas meja ada tatakan gelas yang biasa digunakan Zizy saat minum teh. Di dalam kulkas ada yoghurt stroberi kesukaannya. Di rak sepatu ada sepatu kanvas miliknya.

Rumah ini dipenuhi jejak Oscar dan Zizy.

Sementara jejak keberadaanku hanya membutuhkan dua koper untuk dibereskan.

Pintu kututup perlahan, tanpa menguncinya.

Mobil yang kupesan secara daring sudah menunggu di bawah.

Sopir membantuku memasukkan koper.

“Mau ke mana, Nona?”

“Stasiun kereta cepat.”

Ketika mobil meninggalkan kompleks apartemen, aku tidak menoleh ke belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 11

    Aku berdiri di ambang pintu tanpa berbalik.Angin berembus masuk. Mataku terasa panas, tetapi aku tidak membiarkan air mata jatuh.“Oscar, kamu benar. Aku memang pantas dicintai.”“Karena itu, aku memilih pergi ke tempat yang akan mencintaiku.”“Bukan berada di sisimu.”“Bu Sheila, ada paket untuk Anda.”Petugas resepsionis dari kantor baruku datang sambil membawa sebuah kotak kardus. Alamat pengirimnya berasal dari kota lamaku. Pengirimnya Oscar Sebastian.Aku sempat ragu, tetapi akhirnya tetap membukanya. Paling atas terdapat sebuah map dokumen. Di dalamnya terdapat surat perjanjian pembatalan pertunangan. Di halaman terakhir, nama Oscar Sebastian tertera di sisi kanan. Tinta tanda tangannya tampak tebal, seolah dia menekannya dengan sekuat tenaga.Tanggal yang tertera adalah tiga hari lalu.Di bawah map itu terdapat beberapa benda. Buku catatan renovasi yang dulu kutulis. Dia membungkusnya dengan satu lapis bubble wrap, lalu menyelipkan sebuah kartu.[Ini kukembalikan kepadamu. Di

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 10

    Tangannya perlahan terkulai. Kalung itu meluncur dari sela-sela jarinya dan membuat kalung itu berdenting karena jatuh di lantai.Aku tidak menoleh.“Bawa kalungnya. Itu bukan milikku.”…“Dia berdiri di bawah semalaman.” Keesokan paginya, seorang rekan kerja melapor padaku.“Satpam bilang dia duduk semalaman di lobi. Dia baru pergi saat hari mulai terang.”Aku berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Pintu lobi sudah kosong.Pukul sepuluh pagi, Oscar mengirimiku pesan.[Aku tidak akan menyerah. Kapan pun kamu bersedia bicara denganku, aku akan menunggumu.]Siang harinya, Nana menelepon.“Oscar memintaku menyampaikan sesuatu kepadamu.”“Apa?”“Katanya dia sudah menghapus semua kontak Zizy. Berbagi lokasi juga sudah dibatalkan, dan riwayat percakapan mereka sudah dihapus.”“Lalu?”“Katanya dia pergi ke kedai mie daging sapi yang dulu sering kalian datangi.”Tanganku terhenti.Kedai mie daging sapi itu. Tempat Oscar menyatakan cinta kepadaku pada tahun pertama hubungan kami.Dia berkata

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 9

    Aku duduk di meja kerjaku. Dari balik pintu kaca, aku bisa melihatnya.Dia terlihat lebih kurus. Belum mencukur janggutnya, lingkaran hitam di bawah matanya juga tampak jelas.Di tangannya ada sebuah paper bag.Gadis di meja resepsionis melirik ke arahku dan aku menggeleng pelan padanya.“Bu Sheila hari ini tidak masuk kantor.”“Tidak masuk? Kapan dia masuk?”“Kurang tahu. Bapak mau menitipkan sesuatu?”Dia berdiri di sana beberapa saat, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kertas dan meletakkannya di meja resepsionis.“Tolong berikan ini kepadanya.”Lalu dia pergi.Resepsionis kemudian mengantarkan barang itu kepadaku. Sebuah syal kasmir berwarna biru tua, tanpa ukiran huruf apa pun.Di dalam kotaknya terselip secarik kertas.[Tahun lalu kamu bilang ingin syal kasmir. Aku bilang tidak perlu membelinya. Maaf, aku terlambat satu tahun.]Terlambat satu tahun.Tahun lalu aku bilang ingin memilikinya, tetapi dia berkata tidak perlu.Tahun ini dia justru datang menghampiriku ke luar kota untu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 8

    [Tanyakan saja kepadanya.][Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak mau bicara. Kakak Ipar, apa kalian sedang bertengkar?][Bukan bertengkar. Aku pergi.][Pergi? Ke mana?][Pergi meninggalkannya.]Di layar terlihat tulisan bahwa dia sedang mengetik. Lama sekali, lalu sebuah pesan panjang masuk.[Kakak Ipar, aku mau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Ossy sebenarnya sudah sangat baik kepadamu. Dia memang orang yang lembut dan selalu memperlakukan semua orang dengan baik. Jangan karena dia memperlakukanku dengan baik lalu kamu cemburu. Kami benar-benar hanya berteman. Kalau kamu pergi hanya karena hal ini, menurutku tidak sepadan.]Dia mengira aku pergi karena cemburu.Dia mengira aku membesar-besarkan masalah.[Zizy, menurutmu, dalam hal apa dia memperlakukanku dengan baik?]Tiga menit kemudian dia baru membalas.[Dia sudah berpacaran denganmu selama lima tahun, membelikanmu rumah untuk pernikahan, dan bersiap menikahimu. Setiap kali membicarakanmu, dia selalu bilang kamu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 7

    [Kamu terlambat.][Sheila, aku mohon, temui aku sekali saja.]Itu adalah pesan ke-51 yang dikirimkannya kepadaku.Pada hari ketiga setelah tiba di kota baru, aku mulai mengirimkan lamaran pekerjaan.Aku mendapat dua jadwal wawancara. Perlahan, hari-hariku mulai memiliki ritme kehidupan yang baru.Saat makan siang, Nana kembali mengirimiku pesan.[Oscar pergi lagi ke rumah yang akan kalian tempati setelah menikah kemarin.][Untuk apa?][Dia meminta kunci ke agen properti. Katanya ingin masuk dan melihat-lihat. Agen itu bilang rumahnya sudah dipasarkan kembali, tetapi dia bilang hanya ingin melihat sebentar.][Lalu?][Setelah masuk, dia berada di sana selama dua jam.]Aku meletakkan alat makanku.[Katanya saat membuka pintu, dia tertegun.][Kenapa?][Katanya dia tidak tahu kamu menata rumah itu seperti itu. Dinding ruang tamunya berwarna putih susu, tirai kamar tidur berwarna biru kabut, warna kesukaanmu. Di ruang kerja ada satu dinding penuh rak buku. Kamu sendiri yang menggambar desain

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 6

    Di kota yang baru ini, tidak ada seorang pun yang menjemputku di luar stasiun.Namun, aku tidak peduli.Begitu mengecek ponsel, pesan masuk bertubi-tubi.Dua pesan terakhir berasal dari Oscar.[Lima magnet di atas meja, aku sudah melihatnya.][Sheila, telepon aku.]Itu pesan ke-27 yang dia kirimkan kepadaku.Telepon Nana lebih dulu masuk.“Kamu benar-benar pergi? Oscar seperti orang gila, mencarimu ke mana-mana. Dia bahkan pergi ke kantormu. Atasanmu bilang kamu mengambil cuti panjang.”“Aku sudah mengundurkan diri.”“Me-mengundurkan diri? Kamu bahkan berhenti bekerja?”“Aku ingin memulai kembali di kota lain.”“Dia meneleponku delapan kali. Dia bertanya apakah aku tahu kamu pergi ke mana.”“Kamu bilang apa?”“Aku bilang tidak tahu.”Nana terdiam sejenak.“Suaranya bahkan berubah. Dia bilang tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba pergi. Katanya, hubungan kalian baik-baik saja.”Baik-baik saja?Dia mengira hubungan kami baik-baik saja?Seorang tunangan merenovasi sendiri rumah yang akan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status