Share

BAB 3

Penulis: Muriaz
"Sheila, Mama mau bicara jujur denganmu. Mama sudah kenal Zizy sejak kecil. Mama tahu betul dia seperti apa dan bagaimana hubungannya dengan Oscar. Sedangkan kamu, kamu memang anak yang baik, hanya saja kamu kurang pandai mengurus orang lain. Cobalah belajar lebih banyak dari Zizy.”

Aku meletakkan ponsel dalam keadaan tertelungkup di atas meja.

Oscar membuka pintu dan masuk.

“Kenapa tidak makan?”

“Tidak lapar.”

Dia berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil baju tidur. Saat itu, aku melihat sebuah kotak beludru merah menyembul dari saku dalam jasnya.

“Apa itu?”

“Oh, ini? Hadiah ulang tahun untuk Zizy. Sebuah kalung.”

Dia membukanya dan menunjukkannya kepadaku.

Rantai tipis berwarna perak, dengan liontin berbentuk bunga sakura. Di tengah kelopak bunganya terukir sebuah huruf.

Z.

Inisial nama Zizy.

“Dibuat khusus. Aku menunggunya selama dua bulan.”

Cincin pertunangan kami dibelinya secara daring. Begitu paketnya tiba, dia langsung membukanya dan memasangkannya ke jariku.

Aku pernah bilang ingin memilihnya langsung di toko.

Dia menjawab, “Semua cincin sama saja. Tidak perlu repot-repot beli langsung di toko.”

“Kamu membuatkan kalung khusus untuknya?”

“Ini karena ulang tahunnya. Hanya sekadar hadiah.”

“Lalu, apa yang kamu berikan saat ulang tahunku?”

Dia berpikir sejenak.

“Tahun lalu …. Sepertinya aku mengirimimu uang sebagai hadiah?”

“Kamu tidak mengirim apa-apa.”

“Kalau begitu, aku lupa. Lain kali kuganti.”

Lain kali.

Selalu “lain kali”.

“Oscar, kamu membuatkan kalung khusus untuk Zizy, sementara untukku hanya magnet kulkas. Kamu merayakan ulang tahunnya, tetapi melupakan ulang tahunku. Kamu membiarkannya pergi ke rumah ibumu untuk membantu ini dan itu, sementara aku bahkan tidak punya kesempatan untuk datang. Menurutmu, semua ini normal?”

Dia meletakkan kotak itu dan menghela napas.

“Kamu mulai lagi. Dia teman yang sudah tumbuh bersamaku sejak kecil. Apa salahnya kalau aku memperlakukannya sedikit lebih baik?”

“Lalu bagaimana dengan perlakuanmu kepadaku?”

“Aku tidak memperlakukanmu dengan baik? Kita sudah berpacaran selama lima tahun, membeli rumah untuk pernikahan, dan bersiap menikah. Apa itu masih belum cukup?”

Suaranya sedikit meninggi.

“Sheila, kita berdua tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan. Jalani saja hidup dengan sungguh-sungguh. Itu lebih penting daripada apa pun.”

Tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan.

Hotel pemandian air panas itu berlebihan.

Kalung khusus itu berlebihan.

Kejutan ulang tahun itu juga berlebihan.

Semua hal yang dianggapnya berlebihan itu, justru diberikan kepada Zizy.

Sedangkan yang tersisa untukku hanyalah satu kalimat, “Jalani saja kehidupan ini dengan tenang.”

“Kamu benar.”

Aku mematikan lampu dan membaringkan diri membelakanginya.

“Kita jalani saja kehidupan ini dengan tenang.”

Keesokan harinya, Giandra Renjana, teman kuliah Oscar, mengirimiku pesan.

[Sheila, Sabtu nanti ada acara kumpul-kumpul. Kamu mau datang?]

[Acara apa?]

[Reuni teman-teman lama. Zizy juga datang.]

Zizy juga datang.

Tentu saja.

Sabtu malam, ketika kami tiba, Zizy sudah duduk di dalam ruang privat.

Dia mengenakan gaun rajut putih. Di lehernya tergantung kalung bunga sakura itu.

Liontin berbentuk huruf Z berkilauan diterpa cahaya lampu.

“Ossy!”

Dia melambaikan tangan kepada Oscar. Suaranya terdengar begitu manis hingga terasa berlebihan.

Oscar berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya dengan begitu alami.

Aku menyusul dari belakang dan duduk di sisi Oscar yang lain.

“Wah, Kakak Ipar datang!” sapa Giandra.

“Jangan panggil Kakak Ipar.” Zizy terkekeh sambil mengoreksi, “Kan belum menikah.”

Giandra bertanya kepada Oscar, “Jadi, pernikahannya tanggal berapa?”

“Masih mencari tanggal yang cocok.”

“Zizy pasti banyak membantu kalian, ya? Ibumu pernah bilang dia hampir setiap hari datang ke rumah.”

Zizy menunduk sambil mengaduk minumannya, memasang raut wajah malu-malu.

“Aku hanya bantu sedikit. Kakak Ipar terlalu sibuk.”

Dia memanggilku “Kakak Ipar” dengan begitu akrab, seolah-olah kami benar-benar dekat.

Namun, di lehernya tergantung kalung yang dibuat khusus oleh tunanganku.

“Zizy, kalungmu bagus sekali. Siapa yang memberikannya?”

Seorang perempuan mendekat untuk melihat.

Zizy memegang liontinnya dan melirik Oscar.

“Seorang teman.”

“Teman macam apa yang begitu royal? Ini dibuat khusus sesuai pesanan, ya?”

“Aku yang memberikannya,” sela Oscar. “Ulang tahunnya, jadi aku asal belikan.”

Kalung yang dipesannya secara khusus dan harus ditunggu selama dua bulan, disebutnya sebagai sesuatu yang dibeli asal-asalan.

Perempuan itu menatapku, lalu menatap Oscar.

“Kamu juga membelikan sesuatu untuk tunanganmu, kan?”

“Sheila tidak suka memakai perhiasan seperti ini.”

Bukan karena aku tidak suka. Dia hanya tidak pernah membelikanku, lalu mengira aku memang tidak menyukainya.

“Kakak Ipar tidak keberatan, kan?” Zizy menatapku.

“Tidak.”

“Kakak Ipar benar-benar baik hati.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 11

    Aku berdiri di ambang pintu tanpa berbalik.Angin berembus masuk. Mataku terasa panas, tetapi aku tidak membiarkan air mata jatuh.“Oscar, kamu benar. Aku memang pantas dicintai.”“Karena itu, aku memilih pergi ke tempat yang akan mencintaiku.”“Bukan berada di sisimu.”“Bu Sheila, ada paket untuk Anda.”Petugas resepsionis dari kantor baruku datang sambil membawa sebuah kotak kardus. Alamat pengirimnya berasal dari kota lamaku. Pengirimnya Oscar Sebastian.Aku sempat ragu, tetapi akhirnya tetap membukanya. Paling atas terdapat sebuah map dokumen. Di dalamnya terdapat surat perjanjian pembatalan pertunangan. Di halaman terakhir, nama Oscar Sebastian tertera di sisi kanan. Tinta tanda tangannya tampak tebal, seolah dia menekannya dengan sekuat tenaga.Tanggal yang tertera adalah tiga hari lalu.Di bawah map itu terdapat beberapa benda. Buku catatan renovasi yang dulu kutulis. Dia membungkusnya dengan satu lapis bubble wrap, lalu menyelipkan sebuah kartu.[Ini kukembalikan kepadamu. Di

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 10

    Tangannya perlahan terkulai. Kalung itu meluncur dari sela-sela jarinya dan membuat kalung itu berdenting karena jatuh di lantai.Aku tidak menoleh.“Bawa kalungnya. Itu bukan milikku.”…“Dia berdiri di bawah semalaman.” Keesokan paginya, seorang rekan kerja melapor padaku.“Satpam bilang dia duduk semalaman di lobi. Dia baru pergi saat hari mulai terang.”Aku berjalan ke jendela dan melihat ke bawah. Pintu lobi sudah kosong.Pukul sepuluh pagi, Oscar mengirimiku pesan.[Aku tidak akan menyerah. Kapan pun kamu bersedia bicara denganku, aku akan menunggumu.]Siang harinya, Nana menelepon.“Oscar memintaku menyampaikan sesuatu kepadamu.”“Apa?”“Katanya dia sudah menghapus semua kontak Zizy. Berbagi lokasi juga sudah dibatalkan, dan riwayat percakapan mereka sudah dihapus.”“Lalu?”“Katanya dia pergi ke kedai mie daging sapi yang dulu sering kalian datangi.”Tanganku terhenti.Kedai mie daging sapi itu. Tempat Oscar menyatakan cinta kepadaku pada tahun pertama hubungan kami.Dia berkata

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 9

    Aku duduk di meja kerjaku. Dari balik pintu kaca, aku bisa melihatnya.Dia terlihat lebih kurus. Belum mencukur janggutnya, lingkaran hitam di bawah matanya juga tampak jelas.Di tangannya ada sebuah paper bag.Gadis di meja resepsionis melirik ke arahku dan aku menggeleng pelan padanya.“Bu Sheila hari ini tidak masuk kantor.”“Tidak masuk? Kapan dia masuk?”“Kurang tahu. Bapak mau menitipkan sesuatu?”Dia berdiri di sana beberapa saat, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kertas dan meletakkannya di meja resepsionis.“Tolong berikan ini kepadanya.”Lalu dia pergi.Resepsionis kemudian mengantarkan barang itu kepadaku. Sebuah syal kasmir berwarna biru tua, tanpa ukiran huruf apa pun.Di dalam kotaknya terselip secarik kertas.[Tahun lalu kamu bilang ingin syal kasmir. Aku bilang tidak perlu membelinya. Maaf, aku terlambat satu tahun.]Terlambat satu tahun.Tahun lalu aku bilang ingin memilikinya, tetapi dia berkata tidak perlu.Tahun ini dia justru datang menghampiriku ke luar kota untu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 8

    [Tanyakan saja kepadanya.][Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak mau bicara. Kakak Ipar, apa kalian sedang bertengkar?][Bukan bertengkar. Aku pergi.][Pergi? Ke mana?][Pergi meninggalkannya.]Di layar terlihat tulisan bahwa dia sedang mengetik. Lama sekali, lalu sebuah pesan panjang masuk.[Kakak Ipar, aku mau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan. Ossy sebenarnya sudah sangat baik kepadamu. Dia memang orang yang lembut dan selalu memperlakukan semua orang dengan baik. Jangan karena dia memperlakukanku dengan baik lalu kamu cemburu. Kami benar-benar hanya berteman. Kalau kamu pergi hanya karena hal ini, menurutku tidak sepadan.]Dia mengira aku pergi karena cemburu.Dia mengira aku membesar-besarkan masalah.[Zizy, menurutmu, dalam hal apa dia memperlakukanku dengan baik?]Tiga menit kemudian dia baru membalas.[Dia sudah berpacaran denganmu selama lima tahun, membelikanmu rumah untuk pernikahan, dan bersiap menikahimu. Setiap kali membicarakanmu, dia selalu bilang kamu

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 7

    [Kamu terlambat.][Sheila, aku mohon, temui aku sekali saja.]Itu adalah pesan ke-51 yang dikirimkannya kepadaku.Pada hari ketiga setelah tiba di kota baru, aku mulai mengirimkan lamaran pekerjaan.Aku mendapat dua jadwal wawancara. Perlahan, hari-hariku mulai memiliki ritme kehidupan yang baru.Saat makan siang, Nana kembali mengirimiku pesan.[Oscar pergi lagi ke rumah yang akan kalian tempati setelah menikah kemarin.][Untuk apa?][Dia meminta kunci ke agen properti. Katanya ingin masuk dan melihat-lihat. Agen itu bilang rumahnya sudah dipasarkan kembali, tetapi dia bilang hanya ingin melihat sebentar.][Lalu?][Setelah masuk, dia berada di sana selama dua jam.]Aku meletakkan alat makanku.[Katanya saat membuka pintu, dia tertegun.][Kenapa?][Katanya dia tidak tahu kamu menata rumah itu seperti itu. Dinding ruang tamunya berwarna putih susu, tirai kamar tidur berwarna biru kabut, warna kesukaanmu. Di ruang kerja ada satu dinding penuh rak buku. Kamu sendiri yang menggambar desain

  • Perpisahan dari Cinta Terdalam   BAB 6

    Di kota yang baru ini, tidak ada seorang pun yang menjemputku di luar stasiun.Namun, aku tidak peduli.Begitu mengecek ponsel, pesan masuk bertubi-tubi.Dua pesan terakhir berasal dari Oscar.[Lima magnet di atas meja, aku sudah melihatnya.][Sheila, telepon aku.]Itu pesan ke-27 yang dia kirimkan kepadaku.Telepon Nana lebih dulu masuk.“Kamu benar-benar pergi? Oscar seperti orang gila, mencarimu ke mana-mana. Dia bahkan pergi ke kantormu. Atasanmu bilang kamu mengambil cuti panjang.”“Aku sudah mengundurkan diri.”“Me-mengundurkan diri? Kamu bahkan berhenti bekerja?”“Aku ingin memulai kembali di kota lain.”“Dia meneleponku delapan kali. Dia bertanya apakah aku tahu kamu pergi ke mana.”“Kamu bilang apa?”“Aku bilang tidak tahu.”Nana terdiam sejenak.“Suaranya bahkan berubah. Dia bilang tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba pergi. Katanya, hubungan kalian baik-baik saja.”Baik-baik saja?Dia mengira hubungan kami baik-baik saja?Seorang tunangan merenovasi sendiri rumah yang akan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status