Short
Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku

Berhasil Diet Untuk Menampar Pacarku

By:  YunaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sehari sebelum masuk kuliah, pacar onlineku bilang kalau dia kalah main game dengan temannya dan menjadikan diriku sebagai taruhannya. Belum sempat aku merespon, dia sudah memasukkanku ke dalam sebuah grup obrolan game yang berisi seratus orang. Pengumuman grup baru saja diperbarui. [Selamat kepada Peter yang berhasil mendapatkan pacar 100 kg.] Tak lama kemudian, foto masa SMAku langsung disebar di sana. Di foto itu, aku memakai seragam sekolah yang agak besar dan terlihat sangat gemuk sampai leher pun tak terlihat. Seketika, grup langsung heboh. [Astaga, ini namanya bukan pacar, tapi babi yang menjelma jadi manusia.] [Harus bisa terima kekalahan, Peter wajib menyelesaikan misi pasangan sama dia besok malam.] Tak lama kemudian, seseorang membuka taruhan. Mereka bertaruh apakah aku berani datang atau tidak besok malam. Pacar onlineku memasang taruhan 20 juta, bertaruh aku tak bakal berani muncul. [Kak Peter, jangan salahkan aku.] [Kamu yang kocok sendiri dadu angka enam itu, dirimu sendiri yang memenangkannya.] Orang yang dipanggil Peter itu tak berbicara sama sekali. Malah primadona kampus di grup mahasiswa baru yang tiba-tiba menandaiku, [Dek, besok malam kamu pasti datang, ‘kan?] Melihat pesan yang terus bertambah di grup, aku hanya tersenyum. Tak ada yang tahu. Demi bertemu dengan pacar online, aku sudah berhasil menurunkan berat badan dari 100 kg menjadi 50 kg. Tak ada yang tahu juga bahwa dalam dua bulan terakhir, jumlah orang yang meminta nomorku di jalan jauh lebih banyak daripada akumulasi selama 18 tahun hidupku. Aku pun diam-diam memasang taruhan 6 juta. Bertaruh bahwa aku akan datang tepat waktu. Lalu, di tengah keriuhan orang-orang di grup, aku mengirim satu pesan, [Harus siap menerima kekalahan.]

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku menatap pengumuman grup itu selama sepuluh detik penuh.

[Selamat kepada Peter yang berhasil mendapatkan pacar 100 kg!]

Di bawahnya bahkan disertai tiga emoji kembang api.

Di dalam grup yang berisi seratus orang lebih itu, pesan-pesan terkirim dengan sangat cepat.

[Angka enam yang mematikan, John benar-benar rugi bandar.]

[Rugi dari mananya? Justru untung banyak bisa lepas dari pacar seukuran tank.”

[@Peter, Kak Peter buruan kasih sepatah dua kata setelah memenangkan hadiah.]

Tak lama kemudian, sebuah foto disebar ke dalam grup.

Itu foto yang diambil saat acara olahraga sekolah waktu aku kelas dua SMA.

Saat itu berat badanku 99 kg. seragam sekolahku kelihatan sangat sesak dan ketat. Aku duduk di barisan paling belakang tribun sambil menunduk makan roti.

Orang yang mengambil foto itu jelas berada sangat jauh dariku.

Namun, seburam apapun fotonya, tetap tak bisa menyembunyikan ukuran tubuhku yang saat itu luar biasa gemuk.

Orang yang mengirim foto itu tak lain adalah pacar onlineku sendiri.

John.

Padahal satu menit yang lalu, dia masih membujukku melalui pesan pribadi.

[Sayang, ini hanya bercandaan antar teman saja.]

[Aku hanya kalah main game, terus kasih nomor whatsappmu ke Peter buat menjalankan misi pasangan. Jangan dimasukin ke hati, ya.]

Aku tak membalasnya.

Grup sudah semakin riuh.

[Astaga, kalau postur tubuhnya begini, sepertinya Kak Peter harus menjemputnya pakai truk engkel?]

[Apa misi pasangannya? Menggendong? Kak Peter bisa masuk rumah sakit karena patah tulang dong?]

[Saranku mending ganti jadi misi induk babi panjat pohon saja, sepertinya tingkat kesulitannya lebih rendah.]

John mengirim emoji tertawa sambil menutup wajah.

[Agak ditahan sedikit dong, jangan sampai membuatnya menangis nanti.]

Kelihatannya seperti membelaku, padahal sebenarnya dia sedang menginjak-injak harga diriku dengan lebih kejam.

Jari-jariku terasa dingin.

Kami sudah berpacaran online selama sebelas bulan.

Saat dia insomnia, aku akan menemaninya main game sepanjang malam.

Saat dia kalah pertandingan, aku akan menghiburnya dari tengah malam sampai matahari terbit.

Saat dia cemas menjelang ujian nasional, aku merekam pesan suara setiap hari untuk memberinya semangat.

Bahkan saat mengisi formulir pilihan jurusan, aku menempatkan Universitas Iranda di pilihan pertama.

Karena saat itu dia pernah bilang,

“Helen, ayo kita masuk ke kampus yang sama.”

“Saat masuk kuliah nanti, aku pasti bakal datang menemuimu sambil membawa seikat bunga.”

Namun nyatanya, satu hari sebelum masuk kuliah, dia malah menjadikanku taruhan game dan mempertaruhkan diriku pada orang lain.

Orang di grup segera membuka papan taruhan.

[Bertaruh Helen bakal berani datang ke perkumpulan mahasiswa baru besok malam.]

Nilai taruhannya terus melonjak.

Uang taruhan yang memasang bahwa aku tak berani datang sudah menembus lebih dari 60 juta.

John langsung memasang taruhan 20 puluh juta.

[Dia nggak mungkin datang.]

[Dia itu penakut, disindir sedikit saja langsung menangis.]

Akhirnya, aku benar-benar tertawa.

Ternyata, dia tahu kalau aku bakal menangis.

Namun, dia tetap membawa seratusan orang ini untuk menontonku menangis.

Tiba-tiba, sebuah pesan baru muncul di grup.

Sofia, [Kalian jangan mengejek adik tingkat kita. Agak gemuk itu nggak masalah, yang penting itu hatinya baik.]

Sofia adalah primadona kampus yang diakui di grup mahasiswa baru Universitas Iranda.

Dua hari yang lalu, dia baru saja mengunggah foto-fotonya di pantai. Dia memakai gaun putih dengan rambut panjang terurai dan kolom komentarnya dibanjiri ratusan pujian.

Dia menandaiku,

[Dek, besok malam kamu pasti datang, ‘kan?]

Kelihatannya dia sedang mencoba melerai.

Namun, kalimat berikutnya langsung menyusul,

[Teman-teman benar-benar nggak bermaksud jahat kok, kamu jangan jadi berkecil hati hanya gara-gara penampilan.]

Grup langsung ramai dengan pujian ‘si cantik yang berhati malaikat’.

Aku tak buru-buru membalas, melainkan menekan tautan taruhan tersebut.

Enam juta.

Aku pasang taruhan bahwa diriku akan datang tepat waktu.

Grup langsung hening selama beberapa detik, hingga akhirnya dipenuhi dengan tanda tanya.

John mengirim pesan pribadi padaku,

[Kamu sudah gila?]

[Mulut mereka itu sangat kejam, apain kamu datang?]

Aku menatap diriku di dalam cermin.

Rambut panjangku terurai di bahu, dengan pinggang ramping yang seolah bisa dicengkeram hanya dengan satu tangan.

Kontur wajahku yang dulu tertutup lemak saat SMA, kini sudah terbentuk sempurna, terlihat semakin menawan dan memikat.

Dalam dua bulan terakhir, di mal, di kereta, hingga di tempat gym, aku sudah dimintai nomor whatsapp sebanyak 27 kali.

Bahkan ada seorang manajer yang menahanku selama setengah jam hanya untuk menanyakan apakah aku tertarik menjadi bintang iklan.

John tak mengetahui semua ini.

Karena aku ingin menyimpan penampilan terbaikku ini untuk hari di mana kami akhirnya bertemu langsung.

Namun, sepertinya….

Kejutan ini sama sekali tak layak untuknya.

Aku menyapu sudut mataku untuk menghapus air mata yang belum sempat menetes, lalu membalas empat kata,

[Harus siap menerima kekalahan.]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status