Share

Bab 4 - Cheesecake

Penulis: Wee Daevii
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 12:55:11

Punggung pria itu terlihat hangat. Kemeja putih yang ia kenakan membuatnya semakin terlihat tenang.

Kiara berdiri dan memberanikan diri memanggil.

"Permisi..."

Pria itu menoleh. Saat berbalik, garis rahangnya tampak tegas dari samping.

"Iya..."

Tatapan mereka sempat bertemu. Cepat-cepat Kiara mengalihkan tatapannya.

"Sekali lagi, terima kasih." Kiara mengulurkan tangannya, memberikan sekotak cheesecake.

Pria itu memiringkan kepalanya, tampak heran.

"Ah... Ini sebagai ucapan terima kasih. Mohon untuk diterima," ujar cepat Kiara.

"Oke, aku terima. Makasih ya." Tangannya cukup besar saat menerima kotak cheescake. sebelum pergi, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Kiara, meninggalkan senyuman manis yang membuat hati Kiara sedikit berdesir.

Senyum itu masih tersisa di benaknya bahkan setelah sosok pria itu benar-benar melangkah pergi.

Kiara menarik napas pelan, lalu kembali ke arah kasir.

Saat melihat Rani, pelayan kafe tadi. Rasanya Kiara ingin menanyakan kesalapahaman yang bar saja tertadi. Tapi niatnya ia urungkan. Baginya, itu bukan urusannya.

Ia mengambil kembali keranjangnya, lalu berpamitan pulang.

Perjalanan terasa hening. Pohon-pohon di tepi jalan masih basah sisa hujan. Anak-anak berlarian ke sekolah, tawa mereka memenuhi pandangan.

Kiara menatap dengan getir.

Seandainya aku bisa jadi bagian dari pemandangan itu.

Mengantar anak ke sekolah, menyiapkan bekal, mengepang rambut mungilnya, dan mendengar panggilan ‘Mama’.

“Seandainya aku punya satu saja...” gumamnya pelan tanpa sadar.

Tak lama mobilnya berhenti di depan pagar. Di seberang jalan, Bu Retno tampak sedang menyapu halaman.

“Baru pulang ngantar kue ya, Kiara?”

“Iya, Bu. Pesanan rutin.”

“Wah, hebat. Kalau nanti punya anak pasti bangga, ibunya pintar bikin kue, bapaknya jadi dokter.”

Ucapan sederhana yang terdengar biasa untuk sebagian orang, kini terasa menancap dalam.

“Amin, Bu. Doain aja ya.” Kiara tersenyum kaku. "Kalau begitu saya masuk dulu ya bu."

Begitu masuk rumah, ia bersandar di dinding, menutup mata.

Kapan orang-orang berhenti membicarakan hal itu?

Kedua tangannya mengusap wajah. Saat usapan itu sampai di telinganya, Kiara menyadari sesuatu. Satu antingnya hilang.

"Huh, ini pasti jatuh saat kejadian tadi."

Ia sempat berfikir untuk kembali ke kafe. Tapi tubuhnya terasa terlalu letih. Bukan hanya karena keributan tadi. Tapi juga perasaan campur aduk yang selalu ia rasakan saat ada yang orang lain yang membahas tentang anak.

Tak lama ponselnya berdering.

"Halo."

"Mbak Kiara, ini aku, Rani."

"Iya, ada apa Ran?"

"Aku minta maaf ya Mbak atas kejadian tadi. Rasanya aku malu banget," ucapnya penuh rasa sesal. "Mbak Kiara nggak mau tanya apa-apa sama aku?"

Kiara sempat terdiam. "Sebenarnya ada beberapa yang ingin Mbak tanyakan, tap takut kamu malah mengira mbak ingin tahu urusan orang. Jadi... kalau kamu nggak cerita, Mbak nggak akan tanya."

Tak ada jawaban. Kiara melanjutkan, suaranya lebih lembut. "Tapi... Itu hanya kesalapahaman kan? Bukan kamu yang wanita itu maksud?"

Lagi-lagi tak ada jawaban.

"Kalau memang sulit untuk kamu jawab. Mbak nggak maksa."

Akhirnya Rani bersuara lirih. "Apa boleh Rani nanti cerita langsung saja ke Mbak Kiara?"

"Hm.... Tentu saja."

"Ya sudah Mbak, sekali lagi, Rani minta maaf ya," nada suaranya terdengar sungkan.

Sebelum sambungan terputus, Kiara teringat sesuatu.

" Oh ya Ran, kamu lihat ada anting jatuh di sana nggak?"

"Anting?"

"Iya, sepertinya anting Mbak jatuh di sana. Nanti aku kirim fotonya, ya."

"Oke mbak Kiara."

Panggilan berakhir.

Kiara menatap Cermin. Melihat pantulan dirinya yang kini hanya mengenakan satu anting.

Sementara itu, di salah satu lantai gedung perkantoran. Seorang pria duduk di ruang kerja bertuliskan Manajer Keuangan.

Ia baru akan membuka laptop ketika pandangannya tertuju pada lengan kemejanya. Ada sesuatu yang berkilau kecil tersangkut di sana.

Ia memungutnya, memutar benda itu di antara jari. Sebuah anting mungil berbentuk daun semanggi.

Sudut bibirnya terangkat pelan.

"Apa ini milik wanita cheesecake?" gumamnya, nyaris seperti tawa yang ditahan.

Ia membuka laci meja, meletakkan anting itu di dalamnya, di samping sebuah kartu nama bertuliskan Arhan Saputra.

hari itu pekerjaan tak terlalu banyak. Arhan memutuskan pulang lebih awal.

Saat melewati depan kafe, langkahnya sempat terhenti. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan anting itu.

Ada niat untuk menitipkannya. Tapi, entah kenapa, pikirannya berubah begitu saja. Arhan kembali menyimpannya, seolah benda kecil itu bisa ia jadikan alasan, untuk bertemu lagi dengan wanita tadi.

-

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Seputar Cerbung
Takdir mereka akan segera terjadi, ha ha ha
goodnovel comment avatar
Daun Singkong
begitu rupanya, cara kerja arhan untuk mendekati cewe cakep
goodnovel comment avatar
Shi Shan Noorah
Ya amplop, bisa-bisanya itu anting nyangkut di bajunya laki-laki. Jodoh gak ke mana.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 114 - Payung yang Menutup Sempurna

    Kiara duduk di bangku angkutan umum yang bergerak pelan menyusuri jalan kota. Di sekelilingnya, hampir semua penumpang adalah perempuan paruh baya—wajah-wajah lelah yang menyimpan cerita masing-masing. Ia menatap keluar jendela, lalu tanpa sadar merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pena—sebuah pena pemberian Arhan yang seolah mengalirkan kembali keberanian, mendorongnya untuk sekali lagi merajut mimpi yang sempat ia lepaskan.Ia menggenggamnya sebentar, hatinya berbisik, akhirnya aku menjalani hidup sebagai Kiara yang sebenar-benarnya. Seorang penulis yang tak begitu pandai, yang setiap harinya masih mencemaskan masalah uang. Angkutan itu berhenti di depan pasar tradisional. Kiara turun dan langsung disambut riuh suara tawar-menawar, bau ikan segar, dan langkah kaki yang saling berdesakan. Pasar itu hidup, ramai, dan terasa nyata. Ia berjalan menyusuri deretan pedagang seafood, ikan-ikan laut berkilau di atas es, air mengalir di lantai semen.Kiara berjongkok di depan seorang pedag

  • Perselingkuhan di Siang Hari   113 - Aku Menjadi Aku yang Sebenarnya

    Kiara tersenyum kecil pada Alea yang ia dudukkan di atas koper begitu mereka memasuki pelataran rumah itu. Rumah kecil di Solo—tidak luas dan jauh dari mewah, Alea memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos, seakan tempat itu sudah menyambutnya lebih dulu. "Akhirnya sampai juga,” gumam Kiara pelan, entah untuk Alea atau untuk dirinya sendiri. Saat mereka hampir tiba di depan pintu, angin tiba-tiba berembus lebih dingin. Rintik hujan pun jatuh, lalu dengan cepat berubah menjadi deras. Kiara terkesiap kecil, sebelum akhirnya tertawa—tawa singkat yang hangat di tengah udara dingin. Dengan gerakan tergesa namun tetap ringan, ia menggendong Alea dan menarik koper dengan tangan satunya, berlari kecil melintasi halaman yang perlahan mengilap oleh air hujan. Hujan membasahi wajah mereka. Beberapa helai rambut Kiara menempel di kening, sementara bagian bahunya mulai basah. Begitu tiba di depan pintu, ia berhenti, napasnya terengah tipis. Alea pun ikut sedikit basah, pipinya me

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 112 - Musim Hujan Telah Berakhir

    Kiara melipat pakaian terakhir ke dalam koper dengan gerakan pelan, sesekali matanya menyapu semua sisi rumah. Ada perasaan hangat sekaligus perih di sana. Rumah yang selama ini menjadi tempat ia belajar bertahan, belajar menemukan bahagia, dan belajar terbiasa untuk memeluk rasa sepinya.Ia berhenti di depan lemari kecil dekat ruang tamu. Di sana, sebuah bingkai foto berdiri miring. Foto Aris. Senyumnya sederhana, seperti biasa. Ekspresi yang tenang, tidak pernah berlebihan, seakan hidupnya memang tak harus dirayakan terlalu keras.Kiara meraih bingkai itu, membersihkan debu tipis di permukaannya dengan ibu jari.Sekali lagi… aku sangat berterima kasih kepadamu, ucapnya dalam hati.Kau orang yang baik. Sangat-sangat baik, bahkan untuk luka-luka yang telah kuberikan.Ia meletakkan kembali foto itu, lalu menghela napas panjang—sebelum akhirnya berbalik dan mulai menarik koper ke arah pintu. Namun, langkahnya tertahan. Udara di ruangan itu terasa berubah—heningnya berbeda. Kiara mendon

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 111 - Perpisahan

    Arhan berdiri terpaku di depan jendela apartemennya. Di luar sana, jalanan terkubur di bawah tumpukan salju yang memutih—pemandangan yang dingin, bisu, dan terasa begitu asing. Berkali-kali ia mengusap telapak tangannya, mencoba mengusir gigil yang bukan hanya berasal dari cuaca, melainkan juga dari kegelisahan yang entah sejak kapan menetap di dadanya.Ia menyalakan televisi, membiarkan kebisingan apa pun mengisi sudut-sudut ruangan agar kesepian tak terlalu menyesakkan. Langkahnya kemudian beralih ke dapur kecil. Dengan gerakan mekanis, ia memasukkan satu kapsul kopi ke dalam mesin. Di negeri asing inilah ia memilih menepi, mencoba menyusun kembali kepingan studinya yang sempat tertunda.Suara mesin kopi berdengung pelan, bersahut-sahutan dengan gumam suara dari ruang tengah. Cairan hitam pekat mulai menetes, perlahan mengisi gelas bening di tangannya. Aroma pahit yang hangat segera menguar—kontras dengan hawa dingin yang merayap masuk dari balik celah kaca.Tepat saat gelas itu pen

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 110 - Keputusan Terakhir

    Dua tahun kemudian.Aris berdiri di Terminal 3 keberangkatan internasional. Bandara pagi itu ramai, tapi tidak bising—suara langkah kaki, roda koper yang diseret, dan pengumuman keberangkatan saling bertumpuk seperti kebisingan yang tertib. Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, membuat semuanya terasa dingin dan terlalu terang.Ia berada di depan konter pelayanan check-in bagasi. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras—seakan ada sesuatu yang terus ia tekan agar tak keluar ke permukaan.“Bisa dibantu tiket online dan berkas-berkasnya, Pak. Untuk keberangkatan berapa orang?” tanya petugas dengan senyum profesional.Aris mengangguk kecil, lalu menyerahkan ponselnya.“Untuk tiga—” ucapannya terhenti.Ia refleks menoleh ke belakang.Tidak jauh dari barisan antrean, Kiara berdiri sambil menggendong putri kecilnya. Anak itu sudah bisa berjalan, tapi pagi ini tampak lebih senang bersandar di bahu ibunya. Kiara tidak menatap Aris. Pandangannya kosong, menembus keramaian banda

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 109 - Luka yang tak Pernah Selesai

    Aris baru saja meletakkan kunci mobil di atas meja ketika akhirnya bertanya, suaranya tenang, tak ada sama sekali terselip nada kekecewaan.“Kamu baik-baik saja?”Pertanyaan itu membuat Kiara terdiam. Ia bahkan mengira Aris akan marah, atau setidaknya bertanya—tentang keributan, tentang tatapan orang-orang, tentang orang yang menyebutnya sebagai istri dari orang lain. Tapi tidak. Yang ia dapat justru pertanyaan paling sederhana, sekaligus membuatnya terus saja merasa berdosa.Kiara mengangguk pelan, lalu menggeleng lagi. Bibirnya terbuka, ragu. Penuh kehati-hatian.“Mas…”Aris langsung menoleh. “Udah,” potongnya lembut. “Kamu nggak usah bahas lagi. Nggak usah bilang maaf juga.”Kiara menatapnya.“Aku tahu kamu mau minta maaf, kan?” lanjut Aris. “Sekarang anggap aja kejadian tadi nggak pernah ada.”Kalimat itu seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, hati Kiara justru terasa makin perih.Belum sempat ia bicara lagi, bel rumah berbunyi.Keduanya saling pandang.Lalu tanpa menunggu dibuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status