홈 / Romansa / Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris / 1. Transaksi Menukar Pengantin

공유

Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris
Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris
작가: NoeraAmeera

1. Transaksi Menukar Pengantin

작가: NoeraAmeera
last update 게시일: 2026-06-08 09:07:02

"Tanda tangani sekarang, atau kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun!" suara Jasper menggelegar di ruang tengah, gebrakan tangannya menggetarkan pajangan kristal di atas meja.

Tangannya yang gemetar menyodorkan selembar kertas bermeterai ke hadapan Salsabila.

Tatapannya menghunus tajam, menuntut kepatuhan mutlak yang biasa ia dapatkan selama lima tahun terakhir.

Salsabila bergeming di kursinya, melipat tangan di depan dada. Sepasang matanya menatap dingin lembar pelepasan hak waris atas nama Camelia, ibunya. Senyum tipis, hampir tak terlihat, terukir di sudut bibirnya yang pucat.

"Rumah ini dibangun dengan uang ibuku, papa," ucap Salsabila, suaranya tenang namun tajam seperti pisau. "Kekayaan Keluarga Chrysan hanyalah bayangan dari kemegahan Keluarga Alexandrite. Mengapa aku harus menyerahkan milik ibuku kepada pencuri?"

"Jaga mulutmu, Salsabila!" Eliza, ibu tirinya, memekik dari balik punggung Jasper. Jari-jarinya yang dihiasi cincin berlian besar menunjuk-nunjuk wajah Salsabila. "Kamu tidak tahu diuntung. Kami sudah menampungmu di sini!"

"Menampung?" Salsabila terkekeh, sebuah tawa hambar tanpa riak kebahagiaan. "Kalian mengunci pewaris sah di gudang bawah tanah selama lima tahun sementara kalian tidur di kamar mewah."

BRAK!

Pintu utama ruang tengah terbuka kasar, memutus ketegangan yang kian memuncak. Safira, adik tirinya, melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah pucat. Air mata kemarahan mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang tebal.

"Ini tidak adil, Papa!" teriak Safira, suaranya melengking frustrasi. "Kenapa jalang ini yang harus menikah dengan Lazarus? Lazarus milikku! Aku yang menyukainya sejak awal, Mama!"

Jasper mengurut pangkal hidungnya, mencoba meredam kepanikan. "Safira, tenanglah. Ini demi bisnis keluarga kita. Svarga meminta Salsabila, karena dia putri tertua."

"Lalu aku harus menikah dengan Rafael?" Safira histeris, menjambak rambutnya sendiri. "Pria koma yang tinggal menunggu ajal? Kalian ingin aku menjadi janda miskin sebelum sempat menikmati malam pertama?!"

Salsabila menyaksikan drama itu dengan tatapan murni seolah sedang menonton teater murahan. Informasi tentang rencana pernikahannya dengan pewaris utama keluarga Svarga ternyata telah bocor.

Kepanikan di wajah Jasper dan Eliza malam ini bukan lagi tentang kertas warisan, melainkan tentang ketakutan kehilangan kendali atas mutiara baru mereka.

"Aku tidak mau! Lebih baik aku mati!" Safira menyambar pisau buah dari atas meja kaca dengan gerakan kilat.

"Safira, jangan!" Eliza menjerit, mencoba menggapai lengan putrinya.

Safira berkelit, membalikkan badan, lalu berlari kencang menuju tangga melingkar. Langkah kakinya yang menghentak keras bergema ke seluruh penjuru rumah menuju lantai tiga.

Detik berikutnya, dentuman pintu kamarnya yang dibanting terdengar memekakkan telinga, disusul suara kunci yang berputar dua kali.

"Buka pintunya, Sayang! Jangan bodoh!" Jasper menggedor daun pintu kayu jati kamar Safira di lantai tiga dengan panik. Bahunya menghantam struktur kokoh itu berkali-kali, namun engselnya tetap bertahan.

"Safira, Ibu mohon turunkan pisaumu! Kita cari jalan keluar bersama!" Eliza menangis histeris, mencakar-cakar permukaan pintu hingga kukunya yang indah patah.

Dari luar mansion mewah itu, terdengar jeritan para pelayan yang mendongak ke atas. "Nona Safira! Jangan meloncat! Tolong panggil pemadam kebakaran!"

***

Di bawah, di area taman yang berbatasan langsung dengan proyeksi balkon lantai tiga, Safira sudah berdiri di atas pembatas besi. Angin malam mempermainkan gaun tidurnya yang tipis. Di tangan kanannya, pisau buah itu berkilau di bawah cahaya bulan, siap menggores nadinya sendiri jika ada yang mendekat.

Salsabila berjalan santai keluar menuju taman, berdiri tepat di bawah balkon dengan tangan terselip di saku gaunnya. "Turunlah, Safira. Kulitmu terlalu mulus untuk hancur di atas paving blok ini."

Safira menunduk, matanya yang merah menatap Salsabila dengan kebencian mendalam. "Kamu mengejekku? Kamu senang melihatku mati?!"

"Aku menawarkan kesepakatan," ujar Salsabila, suaranya dikeraskan agar menembus desir angin malam. Jasper dan Eliza yang baru berlari turun ke taman langsung terpaku mendengar ucapannya. "Ambil Lazarus. Aku akan mengambil tempatmu bersama Rafael."

Safira menurunkan pisaunya beberapa senti, ketertarikan mulai mengikis histerianya. "Kamu serius? Kamu tidak sedang menjebakku?"

"Aku tidak pernah bercanda tentang transaksi," jawab Salsabila datar. Ia menoleh ke arah Jasper yang tampak syok. "Dengan satu syarat. Kembalikan seluruh warisan keluarga Alexandrite kepadaku malam ini juga."

"Tidak bisa! Itu seluruh modal bisnis Keluarga Chrysan saat ini!" Jasper memotong cepat, wajahnya memerah, karena amarah dan ego yang terluka. "Jika semua aset dipindahkan atas namamu, aku akan jatuh miskin dalam semalam!"

Eliza menarik lengan baju suaminya dengan kasar, berbisik setengah mendesak di dekat telinga Jasper. "Pikirkan masa depan, Jasper! Jika Safira menikah dengan Lazarus, dia akan menjadi ratu di kerajaan bisnis Svarga. Aset Svarga tidak terbatas!"

Jasper tampak menimbang-nimbang, napasnya memburu saat melirik Safira yang masih berdiri di tepi balkon.

"Warisan Camelia itu hanya satu persen dari total kekayaan Svarga," bisik Eliza lagi, nadanya penuh manipulasi yang licik. "Itu tidak seberapa dibandingkan apa yang akan kita dapatkan dari Lazarus nanti. Biarkan anak haram itu mengambil rongsokan ibunya."

Jasper mengembuskan napas berat, bahunya merosot memberi tanda kekalahan. "Baik. Aku setuju. Turunlah, Safira."

Safira menyimpan pisaunya ke dalam saku gaun, melangkah mundur dari pembatas balkon, dan menghilang ke dalam kamar.

***

Beberapa menit kemudian, Safira sudah berlari ke taman, berdiri di depan Salsabila dengan napas yang masih memburu.

"Kamu tidak akan berubah pikiran, kan?" tanya Safira, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu akan menjadi istri si mayat hidup Rafael. Aku akan menjadi nyonya besar Lazarus Svarga?"

"Keputusanku mutlak," Salsabila menegakkan punggungnya, menatap lurus adik tirinya. "Namun, daftar permintaanku belum selesai. Aku menginginkan seratus batang emas murni di brankas utama, seluruh bisnis alat transportasi Chrysan, dan divisi properti."

Eliza maju selangkah, senyum palsunya kembali mengembang dengan cepat. "Tentu saja, Salsabila sayang. Kami akan memberikan semuanya. Bagaimanapun, kita adalah keluarga yang saling menyayangi."

"Keluarga yang saling menyayangi?" Salsabila membatin, hatinya mengeras bagai batu karang ditampar kata itu.

Pikirannya melesat mundur ke garis waktu lima tahun lalu, saat usianya masih lima belas tahun. Hari itu, genangan air mata di pipinya belum kering meratapi jenazah Camelia yang baru saja dikebumikan.

Sore itu juga, Jasper pulang membawa Eliza dan Safira ke dalam rumah mereka. Ia memberi tahu semua orang, bahwa Eliza dan Safira adalah keluarga barunya. Keduanya menikah, beberapa tahun lalu, membangun bisnis transportasi menggunakan kekayaan keluarga Alexandrite, saat Camelia berjuang melawan kanker sendirian, hingga meninggal.

Keesokan harinya, Jasper melempar seluruh barang-barang Salsabila ke koridor luar. "Kamar ini sekarang milik Safira. Kamu, pindah ke lantai bawah!"

Bawah yang dimaksud Jasper adalah gudang bawah tanah yang lembap, dingin, dan minim cahaya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
NoeraAmeera
Terima kasih ...
goodnovel comment avatar
Yulia
Rumah ini dibangun dengan uang ibuku. Mengapa harus menyerahkan milik ibuku kepada pencuri? QUEEN ENERGY BANGET!Gak nangis, gak mohon, langsung cold. Terus Safira histeris mau loncat balkon cuma, karena gak mau nikah sama mayat hidup Rafael! Salsabila dengan santainya: Ambil Lazarus. Aku hartanya!
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   80. Kontrak Pernikahan Berakhir

    "Buka matamu, Salsabila, jangan biarkan rahasia kematian ibumu terkubur bersama kebohongan klan Svarga ini!" jerit Michael seraya mencabut belati bayangan dari bahunya.CROT! Darah segar menyembur basah membasahi lantai marmer aula takhta, namun pemuda itu mengabaikan rasa sakitnya demi menatap Salsabila.Pendar sihir merah Alexandrite di sekitar tubuh Salsabila perlahan meredup, menyisakan napas tersengal-sengal dari gadis yang terkulai di pelukan Rafael. "Tutup mulutmu, Michael, dia butuh istirahat, bukan hasutan beracun kamu!" bentak Rafael seraya mendinginkan suhu api keunguannya. Pangeran pertama Svarga itu menggendong tubuh istrinya secara protektif, menatap tajam sepupunya yang masih bersimbah darah di dekat takhta."Apa dia sudah mati?" Lazarus melangkah mendekat seraya menyarungkan pedang emasnya, memandang ke arah Raja Misterius yang terbaring kaku di balik reruntuhan.Pertempuran fisik di aula pus

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   79. Rahasia Kematian

    "Serahkan Inti Alexandrite itu atau aku sendiri yang akan mencabut nyawa pangeran kesayanganmu ini di depan mata kepalamu!" raung Raja Misterius. "Jangan! Hentikan kejahatanmu, Raja Misterius," teriak Lady Florist. Ia melihat putra sulungnya dalam bahaya, nyawanya nyaris terancam di tangan Raja yang kabur dari hukuman neraka itu. Tongkat kerajaan berukir naga emas melayang mendekati leher Rafael, memancarkan gelombang energi hitam yang langsung mengikis perisai pelindung keunguan. "Argh!" Rafael mengerang tertahan saat ujung sihir pengikat jiwa menembus zirah dadanya, memicu reaksi racun Mawar Hitam yang sempat mereda. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor Kerajaan Svarga yang terselubung!" jerit Salsabila seraya menebaskan belatinya memotong jalur energi tongkat tersebut. BLEDAR! Semburan cahaya merah Alexandrite bertabrakan keras dengan sihir Raja Tertinggi, menciptakan ledakan yang menghempaskan puing-puin

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   78. Dengan Senang Hati, Istriku!

    "Sir Rangga? Bukankah dia sudah mati dalam perang. Apa Lady Eliza memalsukan kematiannya demi rencana busuknya hari ini," Salsabila bingung melihat sosok panglima perang klan Chrysan yang berdiri gagah lengkap dengan baju perang dan senjata mematikannya. Ia terlihat awet muda."Bakar mereka semua sampai tak tersisa satu pun dari keturunan pemicu perang ini!" jerit Panglima Chrysan seraya memegang pangkal tangannya yang putus. "Klan Svarga harus musnah bersama klan Alexandrite. Klan Chrysan harus berjaya lagi seperti dulu, memimpin semua klan," lanjutnya penuh percaya diri.BLAZ! Puluhan prajurit bayangan melompat menembus asap hitam, mengayunkan pedang-pedang beracun ke arah barisan empat ksatria yang bertahan. BYUR!Semburan sihir kegelapan meledak berturut-turut, memancarkan bau sangit Mawar Hitam yang menyengat hidung hingga membuat napas terasa sesak. "Waspada! Tetap dalam formasimu, Lazarus. Jangan biarkan sisi kirimu ter

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   77. Kembali Demi Suamiku

    "Kau pikir garis tipis ini sanggup menghentikan langkahku untuk merebut kembali wanita yang kau telantarkan, Rafael?!" raung Lazarus seraya melangkahi garis goresan di atas tanah. Pangeran kedua itu menerjang maju tanpa memedulikan ancaman sihir Alexandrite, mengarahkan belati emasnya tepat ke arah dada sang kakak. Rasa cemburu dan amarah yang terendam sekian lama meledak hebat, menghancurkan sisa-sisa rasionalitas di dalam kepalanya. BUGH! Rafael bergeser kilat menangkis serangan tersebut, menghantamkan siku tangannya ke rahang Lazarus hingga adiknya itu terhuyung mundur. "Sadar diri, Lazarus, kau sendiri yang membuangnya demi kepalsuan Safira!" bentak Rafael seraya menyapukan pedang apinya untuk mengunci gerakan Lazarus. SREK! Pangeran pertama Svarga itu berdiri tegak dengan aura keunguan yang kian membara, membentengi jalur menuju gerbang istana dari kejaran siapa pun. Bentrokan fisik dan emosi antar-saudara kandung itu kembali meletus di tengah reruntuhan halaman yang mu

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   76. Surat yang Merobek Hati

    "Jangan pernah bermimpi untuk melangkah pergi sebelum kau menandatangani surat pembatalan pernikahan ini, Salsabila!" gertak Lord Svarga seraya melempar gulungan perkamen emas ke atas meja batu yang retak. Pemimpin klan Svarga itu berdiri angkuh di tengah reruntuhan halaman istana, menatap dingin ke arah menantunya yang masih menggenggam belati Alexandrite.Pengorbanan sang tabib wanita malam ini seolah tak berbekas di mata pria paruh baya yang hanya mementingkan kemurnian kehormatan garis keturunannya. "Ayah! Hentikan kegilaan ini sekarang juga!" bentak Rafael seraya pasang badan memblokir pandangan ayahnya. Pangeran pertama Svarga itu mengepalkan tangannya hingga memutih, menyelimuti tubuhnya dengan aura sihir keunguan yang kembali membumbung tinggi. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya sendiri, memaksa Salsabila mengakhiri hubungan pernikahan sah yang telah mereka bina.Salsabila menatap perkamen emas itu denga

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   75. Pusaka Inti

    "Serahkan pusaka inti klan Alexandrite itu padaku atau klan Svarga dan klan Alexandrite yang tersisa akan musnah bersama racun ini!" raung Lady Eliza seraya mengalirkan petir hitam dari jarinya. Semburan energi terlarang menghantam barisan pertahanan depan, meremukkan lantai marmer hingga berkeping-keping. "Tidak semudah itu, ular betina licik! Langkahi dulu mayatku!" teriak Lord Rafael. BLAZ! Rafael melompat kilat memotong serangan tersebut, memutar pedang apinya demi menangkis kilatan sihir hitam yang menyambar dada istrinya. BLEDAR! Benturan sihir tingkat tinggi melontarkan gelombang kejut yang merubuhkan pilar-pilar batu di sekitar mereka. BRUK! Salsabila mengencangkan genggaman pada belati Alexandrite, memancarkan pendar cahaya merah penyembuh untuk melapisi zirah pelindung Rafael dan Lazarus. "Sialan! Ular betina itu kuat juga untuk ukuran nenek keriput," gumam Lord Michael.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status