LOGIN
Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber
Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t
Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian
Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e
Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set
Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me







