Share

Pesan Cerai Sudah Terkirim
Pesan Cerai Sudah Terkirim
Author: Nia Juwita

Bab 1

Author: Nia Juwita
Celine Kusnara ternyata mandul.

Setelah menerima hasil diagnosis, dia mengirim pesan singkat kepada Darrel. [Kita cerai saja.]

Setelah meletakkan ponselnya, Celine merasa lega.

Hasil diagnosis itu baru saja diterimanya, tetapi ibu mertuanya sudah menelepon dan memintanya pulang ke rumah Keluarga Suwandi.

Sambil menyanggupi, Celine menghela napas, kagum pada luasnya jaringan Keluarga Suwandi di dunia medis.

Dalam perjalanan, langit tampak kelabu. Dia terus melamun. Matanya terasa perih dan sepat.

Celine dan Darrel berkenalan melalui perjodohan.

Orang bilang, jalan tercepat menuju hati seorang wanita adalah melalui vagina.

Setiap wanita tidak akan pernah melupakan pria pertamanya, terlebih jika pria itu secara sah menjadi miliknya.

Celine juga tidak terkecuali.

Terlebih lagi, pria itu adalah Darrel, seorang genius di bidang medis, kepala departemen bedah saraf termuda di Kota Purgawa.

Sesampainya di rumah Keluarga Suwandi, orang pertama yang dia temui adalah adik perempuan Darrel.

Darryn Suwandi menatapnya dengan penuh kebencian.

Menurutnya, wanita biasa seperti Celine yang berasal dari kota kecil tidak pantas menikah dengan kakaknya. Itu merupakan sebuah penghinaan.

Apalagi, wanita itu bahkan tidak mampu untuk meneruskan keturunan.

"Kalau kamu nggak bisa punya anak, kenapa menikah dengan kakakku? Bukannya itu sama saja dengan mencelakakan orang?"

Celine mengangkat hasil diagnosis di tangannya. "Aku juga baru tahu."

Dia tidak ingin meladeni adik iparnya yang sombong itu, jadi langsung berjalan masuk.

"Althea akan segera kembali. Kabar itu sudah tersebar luas di kalangan medis Kota Purgawa. Kamu seharusnya tahu diri. Bercerai akan menjadi pilihan terbaik untuk kalian berdua."

Langkah Celine terhenti. Dia membelakangi Darryn sambil tersenyum tipis.

Benar juga. Pria seperti Darrel mana mungkin tidak menginginkan anak? Bagaimana mungkin Darrel rela memiliki anak bersamanya?

Althea-lah wanita yang diinginkan pria itu. Darrel menginginkan anak darinya.

Hanya saja, Darryn itu tidak tahu bahwa sebelum datang ke sini, Celine sudah mengirim pesan meminta cerai kepada Darrel.

Keluarga Suwandi merupakan keluarga terpandang di dunia medis Kota Purgawa, dikenal berwibawa, terpelajar, dan terhormat.

Celine hanyalah orang biasa dari sebuah kota kecil di utara. Dia bekerja di sebuah lembaga penelitian biofarmasi.

Atasan sekaligus donaturnya kebetulan adalah pembimbing Darrel dan juga sahabat lama kakek Darrel.

Karena sebuah kebetulan, dia memperkenalkan Celine kepada Darrel.

Saat itu, tak seorang pun menganggap serius perjodohan itu. Belum lagi soal latar belakang keluarga, hanya karena Celine berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal saja, Keluarga Suwandi sudah tidak puas.

Celine sendiri tahu betul, pria seperti Darrel seharusnya sudah lebih dulu dipasangkan dengan wanita dari kalangan mereka sendiri. Kalaupun tidak, tetap saja bukan dirinya yang akan mendapatkannya.

Namun, yang tidak disangka semua orang adalah Darrel benar-benar menyetujuinya. Bahkan setelah berpacaran selama sebulan, dia langsung menikahinya secara kilat.

Celine hanya mengikuti arus. Dia merasa semua itu seperti mimpi.

Belakangan, setelah mendengar cerita dari rekan kerja Darrel, barulah dia tahu bahwa pada hari perjodohan mereka, Darrel baru saja putus cinta.

Cinta pertamanya, Althea Santoso, bertekad menjadi dokter bedah saraf terbaik di dunia, sehingga meninggalkannya dan pergi ke luar negeri.

Pada malam pernikahan mereka, Darrel mabuk berat.

Di ranjang mereka, dia berulang kali menyebut nama "Althea" dan berkata bahwa dia merasa bersalah kepadanya.

Melihatnya begitu tidak nyaman, Celine hendak membantunya membuka kancing kemeja, tetapi Darrel langsung menepis tangannya.

Pria yang biasanya begitu bersih, tenang, dan elegan itu pun menatapnya dengan mata memerah. Dalam pengaruh alkohol, dia mengatakan sesuatu.

"Celine, seumur hidup ini aku nggak akan pernah bahagia."

Dia begitu menderita, seolah nyawanya akan berakhir.

Padahal itu adalah malam pengantin mereka. Celine tentu saja merasa sedih. Dia tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Dia menghela napas dan hendak menghibur Darrel.

Dia ingin mengatakan, kalaupun Darrel menikahi Althea, belum tentu dia akan bahagia.

Namun, dia tidak mengatakannya karena Darrel menangis.

Mengingat kembali kejadian masa lalu, wajah Celine terasa basah dan hangat.

Dia diam-diam menghapus dua garis air mata di pipinya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Interior rumah ini mewah dengan sentuhan klasik, memancarkan wibawa keluarga yang begitu kuat hingga membuat siapa pun yang berada di sana merasa tertekan.

Anggota Keluarga Suwandi duduk tegak di sofa berbahan kayu zitan. Wajah mereka tampak muram.

Ibu mertuanya, Zafira Utomo, langsung ke pokok masalah.

"Celine, Darrel adalah satu-satunya putra Keluarga Suwandi. Kami nggak bisa membiarkan garis keturunan keluarga terputus. Anggap saja Keluarga Suwandi yang bersalah padamu. Kamu bebas mengajukan syarat perceraian apa pun."

Kedengarannya seperti dia bebas mengajukan syarat apa saja, tetapi perceraian ini bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Celine menggenggam hasil diagnosis dengan tenang. Momen ini sudah dia bayangkan ratusan kali di dalam hati.

Sejak saat Darrel berkata, "Seumur hidup ini aku nggak akan pernah bahagia."

"Alasan utama perceraian ini ada pada diriku. Saat menikah dulu, aku nggak membawa mahar atau harta bawaan sepeser pun. Mobil dan rumah yang kutempati bersama Darrel juga diberikan oleh Keluarga Suwandi."

"Uang seserahan 2 miliar itu sekarang nggak bisa kubayar. Aku akan membuat surat utang saja ...."

Dari belakang, terdengar sindiran dingin Darryn.

"Surat utang? Gaya banget bahasamu. Setelah bikin surat utang, memangnya kamu sanggup bayar? Tenang saja, seserahan yang awalnya disiapkan Keluarga Suwandi untuk kakakku sebenarnya 20 miliar. Hanya karena kamu, jadi ...."

Zafira memotong ucapan Darryn, "Darryn!"

Kemudian, dia berkata kepada Celine, "Nggak perlu. Seserahan itu memang seharusnya menjadi milikmu. Biaya rumah sakit ibumu juga akan ditanggung Keluarga Suwandi sampai tuntas."

Celine tidak menolaknya. Bagaimanapun, di zaman seperti sekarang, yang penting adalah bisa bertahan hidup. Dia dan ibunya harus tetap hidup, penyakit ibunya juga harus diobati.

Darrel kelak bisa menikah lagi, punya anak, dan tidak akan kehilangan apa pun. Dia bisa menjalani hidup dengan baik.

Di sisi lain, Celine tidak memiliki modal seperti itu. Setidaknya, dari pernikahan ini dia masih bisa mendapatkan sesuatu.

Zafira mengeluarkan sebuah dokumen yang terdiri dari beberapa lembar.

"Celine, tanda tanganlah."

Celine mengangguk dan menandatangani namanya dengan rapi di atas Surat Perjanjian Perceraian.

Semuanya selesai dalam waktu kurang dari 20 menit.

Tidak ada pertengkaran, tidak ada saling menyalahkan, tidak ada keributan.

Celine mengakhiri pernikahannya yang singkat, sementara Keluarga Suwandi sangat puas dengan sikapnya yang tahu diri.

Setelah meninggalkan rumah Keluarga Suwandi, langit sudah cerah. Cahaya matahari menyinari dengan cemerlang.

Dia mengembuskan napas lega dan membawa Surat Perjanjian Perceraian kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Darrel untuk membereskan barang-barang.

Rumah pernikahan itu adalah sebuah apartemen dengan luas 200 meter persegi. Suasana di sana dingin dan elegan seperti ruang pamer.

Dengan denah yang menyerupai dua naga yang mengapit mutiara, Celine dan Darrel masing-masing menempati satu sisi.

Bahkan setelah berhubungan intim seminggu sekali, Darrel akan tetap mengenakan pakaiannya setelah selesai, lalu kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi dan tidur. Tak peduli selelah apa pun dia.

Setengah jam kemudian, Celine pergi sambil mendorong dua koper.

Sekilas, tidak ada perubahan sedikit pun di rumah pernikahan itu.

Sama seperti kepergiannya yang tidak akan memberikan pengaruh apa pun kepada Keluarga Suwandi maupun Darrel.

....

Dua hari kemudian, Darrel masih belum membalas pesannya.

Dia memang terbiasa tidak menanggapi Celine.

Namun, soal perceraian ini, Keluarga Suwandi terus mendesaknya. Celine juga tidak ingin terus menundanya.

Karena itu, Celine pergi ke rumah sakit untuk menemui Darrel dan membicarakan kapan mereka akan mengurus prosedur perceraian.

Sesampainya di departemen bedah saraf, dia mengetuk pintu.

"Darrel ada?"

Setelah rekan kerja Darrel melihat sosok Celine, ekspresi mereka langsung jadi penuh arti.

Ketika kabar pernikahan Darrel dulu tersebar, begitu banyak wanita yang mengejarnya patah hati. Banyak tenaga medis dan pasien wanita bahkan menangis.

Kalah dari Althea, sang dewi bedah saraf, mungkin masih bisa diterima. Namun, jika wanita biasa seperti Celine saja bisa menikah dengan Darrel, mengapa mereka tidak bisa?

Rekannya menjawab, "Darrel sedang dinas ke luar kota. Kamu nggak tahu?"

Celine pun bingung. "Dinas?"

Edwin Kurnia menjawab dengan tidak sabar, "Ya, dia pergi ke Negara Mardia untuk menjemput Althea. Dia nggak kasih tahu kamu?"

Celine tersentak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status